Harga Untuk Satu Malam

Harga Untuk Satu Malam
Serba Serbi


__ADS_3

Malam itu juga tuan R memilih untuk pindah dari kamar itu. Dia tidak ingin terlibat lebih jauh lagi dengan gadis tersebut. Gadis yang bersamanya menghabiskan malam, gadis yang tidak dia ketahui namanya namun memeluknya dengan erat bahkan sempat mencakar punggungnya.


Tuan R tersenyum di samping asisten pribadinya, Daniel yang tidak tahu apa-apa dan tidak berani bertanya apapun dia hanya menatap tuan mudanya. Momen langka itu diabadikan dalam kenangan Daniel, orang yang sudah bersamanya selama lima tahun namun tidak pernah melihat dia tersenyum seperti hari ini.


"Daniel, apakah kamu terlalu senggang?" tanya tuan R yang membuyarkan bayangan-bayangan Daniel.


"Tidak tuan pekerjaanku cukup banyak." jawab Daniel bergidik ngeri melihat tatapan mata sang penguasa


"Jika terlalu senggang, kamu bisa mengerjakan projek kita yang di afrika selatan." ucap tuan R sambil mengalihkan pandangan matanya.


Daniel yang merasa ketar ketir memilih untuk pamit dia tidak lagi ikut serta dalam senyuman tuan R. Dia memilih pergi daripada harus di kirim ke Afrika selatan seperti kata tuan R. daniel bergegas untuk pergi, dirinya hendak kembali ke kamarnya dengan mengesampingkan rasa penasaran nya dia kembali ke dalam kamar yang sudah dia pesan untuk dirinya sendiri. daripada mengkhawatirkan orang yang tidak perlu dia khawatirkan Sebaiknya dirinya memikirkan tentang pekerjaannya besok masih banyak berkas yang harus dia selesaikan jika tuannya bilang untuk jangan ikut campur sebaiknya dia menurut untuk tidak kut campur.


malam sudah semakin larut mungkin sebentar lagi fajar akan menunjukkan dirinya namun tuan R masih tidak bisa tidur, laki-laki bertubuh kekar itu tengah duduk dengan sebatang rokok di tangannya dia masih memikirkan tantang gadis itu walaupun dia tidak ingin terlibat lebih jauh lagi dengan wanita itu namun se jujur-nya dalam hatinya masih penasaran kenapa dia bisa merasa tidak jijik bergumul dengan wanita itu, wanita liar yang perlu banyak pelajaran benar-benar pengalaman pertama yang indah.


Karlina sedang tidur dengan tubuh mungilnya di atas ranjang besar tersebut, tubuh yang sudah tidak suci lagi tubuh yang penuh dengan tanda-tanda cinta mereka malam itu. Sehelai selimut tebal menyelimuti tubuh yang ternoda itu, malam yang panjang atau malam yang panas menggairahkan.


sedangkan Jihan dia meringkuk di atas lantai kamar yang dia sewa sendiri, dalam kamar itu juga ada seorang laki-laki tua yang tengah tersenyum sembari menikmati Segelas anggur dan juga menghisap batang rokok di tangannya, dirinya tersenyum puas merasakan malam yang menggairahkan lagi dan lagi dengan wanita yang berbeda-beda. Dia meneguk anggur itu perlahan bersama dengan dia menatap Jihan yang meringkuk kelelahan dan kedinginan padahal disana ada sebuah ranjang besar namun dia tetap terkapar lemas di lantai dengan air mata yang membanjiri wajah dan tempat dia meringkuk menahan lelah di tubuhnya.

__ADS_1


"Sudah tau bagaimana akhirnya jika berani bermain-main denganku. Lain kali jangan bertransaksi denganku jika tidak sungguh-sungguh."


Tuan Will berbicara sambil menghisap rokoknya, dia masih duduk di atas kursi yang berada di dalam kamar itu tanpa memperdulikan Jihan yang kedinginan di lantai, dia bangkit berdiri kemudian menuju ke kamar mandi untuk bersih-bersih kemudian pergi dari tempat itu. Sebelum pergi dia sempat mentransfer sejumlah uang untuk Jihan,


"Tubuhmu memang berharga, tapi sayangnya kamu tetaplah wanita tua." bisik tuan Will.


Jihan menangis tersedu-sedu, dering ponselnya sudah tidak terhitung lagi berapa jumlahnya. Telepon dari suami yang sangat dia sayangi, bagaimana jika Bram bertanya kemana dia semalam? Bagaimana jika dia ditanya darimana bekas ciuman itu, Entahlah Jihan tidak lagi tahu harus menjawab apa .


Pagi harinya Karlina terbangun dari ranjang indah itu, matanya terbuka sedikit dia menatap sinar matahari yang samar-samar masuk ke dalam kamarnya. Dimana dia? Dia teringat jika semalam disuruh ibunya menunggu di dalam kamar namun yang terjadi justru di luar dugaannya. Tubuhnya terasa sangat sakit, apa yang baru saja terjadi. Karlina membuka balutan selimut yang membalut tubuh indahnya, semalam!.


Karlina mulai menangis , air mata membanjiri pipinya kehormatan yang dia perjuangkan selama ini kini hilang sudah. Dimana laki-laki itu? siapa laki-laki itu? ingin dia tahu siapa laki-laki itu namun kamar itu kosong hanya ada dirinya sendiri di sana laki-laki picik yang meninggalkan wanita sehabis di pakai.


"Alexa, ibu. Ibu menjebak ku." teriak Karlina sambil menangis tersedu, Alexa yang sudah tahu itu mencoba untuk menenangkan Karlina dengan caranya sendiri.


"Tenang Karlina, jangan menangis! apa yang terjadi?" tanya Alexa.


"Aku kotor Alexa, aku sudah tidak suci." ucap Karlina dengan gemetar.

__ADS_1


"Halah gitu doang, lagian kan biasa kita dah gede Karlina. Kirimkan lokasi mu aku akan menjemput mu." ucap Alexa.


Apakah betul cara Alexa bersikap dia pura-pura tidak tahu padahal dia juga ikut terlibat karena belum tentu Karlina akan memaafkan nya karena tidak memberitahu dia sebelumnya.  Alexa memesan taxi dari situs taxi online, sambil menunggu taxi yang dia pesan datang Alexa berfikir bagaimana caranya menolong Karlina, sementara itu dia sediri juga tidak tahu kondisi ibunya. serba serbi kehidupan yang dia jalani membuat dirinya sangat lelah, kenapa mesti seperti ini kehidupan yang dia jalani. Harusnya dia memiliki kehidupan yang harmonis dan indah bukan kehidupan yang penuh drama seperti ini.


taxi yang dia panggil sudah datang, dia mengatakan alamat tujuan setelah itu duduk begitu saja di kursi belakang. Sebenarnya dia ingin mengendarai mobilnya sendiri namun dia tidak tahan dengan celoteh ayahnya sepanjang malam hingga pagi ini, jika Karlina mungkin sudah terbiasa pulang pagi namun berbeda dengan Jihan dia adalah ibu rumah tangga yang biasanya selalu berada di rumah saat Bram pulang dari kerja.


"Apakah ibumu sedang jual diri? Dia tidak pulang semalam, dia tidak menjawab telepon dan juga tidak izin mau hendak pergi kemana."


Kata-kata Bram yang seperti itu benar-benar terngiang-ngiang di kepala Alexa gadis itu mungkin saja murka ,namun apa yang dikatakan ayahnya tidak sepenuhnya salah. Bagaimana jika benar ibunya melakukan hal itu, dia sendiri juga tidak tahu.


taxi online yang dia naiki melesat menembus padatnya jalanan ibu kota, Alexa yang duduk tanpa sepatah katapun membuat supirnya merasa aneh. Namun supir tidak bertanya apapun dia hanya fokus mengemudi ke tempat tujuan.


"Nona kita sudah sampai di Hotel Internasional." ucap supir tersebut namun tidak ada tanggapan sama sekali dari Alexa.


Dengan sedikit enggan supir itu menepuk Alexa, hingga membuat gadis itu kaget.


"Maaf nona, kita sudah sampai." ucapnya sekali lagi.

__ADS_1


Alexa tersadar, kemudian dia berterima kasih kepada supir itu sekaligus meminta maaf karena telah membuang-buang waktunya.


__ADS_2