
Kelopak yang jatuh berguguran tidak mungkin bisa kembali menjadi indah seperti sedia kala. Malam ini seperti biasanya Karlina menyelesaikan pekerjaannya dengan baik tidak ada firasat apapun tentang apa yang akan terjadi kemudian hari , sama seperti hari biasanya dia pasti selesai bekerja menjelang pagi hari. Dia bergegas kembali ke rumahnya dengan rasa lelah yang melanda di
tubuhnya, sampainya di rumah dia segera membersihkan dirinya dengan air kemudian pergi beristirahat. Walau hanya bisa tidur satu atau dua jam lamanya tetapi itu sudah cukup bagus daripada tidak tidur sama sekali.
Sementara itu di sisi lain Alexa tidak bisa tidur dia
memikirkan bagaimana caranya untuk menolong Karlina, dia tidak bisa diam saja melihat Karlina dipermainkan oleh ibunya apalagi di jual kepada laki-laki tua bangka seperti itu dia merasa tidak rela namun jika langsung menegur ibunya itu akan berakhir tidak baik untuk dirinya sendiri. Entah apa yang harus di lakukan oleh Alexa hingga akhirnya gadis itu tertidur di ranjang besarnya.
Rintik gerimis hujan di luar sana, menerpa apapun yang ada di bumi entah itu, tumbuhan ataupun benda -benda lainnya. Karlina sedang berada di dalam mimpi indahnya, dia tidak sadar jika pagi sudah tiba bahkan Alexa yang biasanya berteriak-teriak membangunkannya pun diam. Kemana semua orang, biasanya ibunya juga akan drama jika dia tidak bangun untuk memasak dan mencuci di pagi hari.
Karlina terbangun, dia melihat jam yang ada di atas meja kecil di kamarnya. Sudah menunjukkan pukul 07.30 benar-benar sudah sangat siang untuknya. Karlina bergegas ke dapur tetapi dia justru melihat Jihan yang sedang memasak.
"Ibu maaf, aku bangun terlalu siang." ucap Karlina dengan gemetar, dia memegang ujung baju lusuh yang dia pakai.
"Oh tidak apa-apa, Alexa ingin makan masakanku." ucap Jihan dengan tenang.
Hah, hanya itu saja jawaban dari ibunya biasanya ibunya akan marah sambil memaki-maki dirinya namun hari ini Jihan sangat berbeda, wanita tua itu seakan-akan biasa saja bodoh amat dan cuek. Kemudian Karlina melihat Jihan membawa beberapa jenis masakan ke meja makan, dan disana sudah ada Alexa tanpa ada Ayahnya.
"Ayah dimana lexa?" tanya Karlina kepada Alexa yang tengah menikmati segelas susunya.
"Sudah berangkat kerja." ucap Alexa dingin.
Tidak ada ayahnya namun Jihan tidak marah, itu adalah hal paling mustahil yang pernah Karlina lihat. Kenapa? dan mengapa. mungkin itu ada hubungannya dengan pesan singkat yang dikirim ke Karlina melalui WhatsApp Messenger.
__ADS_1
"Alexa, seingat ibu. Kamu memiliki sebuah gaun yang di rancang oleh desainer dari paris. Berikan gaun itu kepada Karlina." ucap Jihan yang tentu saja membuat semuanya tercengang, sampai Alexa yang tengah menikmati makanan itu tersedak.
"Uhukkk... Uhukk... ibu bercanda kan? Gaun itu satu-satunya gaun termahal yang pernah ku beli. Karena itu desain khusus, ibu minta aku memberikan kepada Karlina? atas dasar apa ibu? kalau aku tidak mau bagaimana? toh biasanya kalau aku mau memberikan pakaian bahkan yang sudah usang ibu akan marah dan menyuruhku membuang daripada memberikan kepada dia."
Alexa menjawab dengan celoteh panjang kali lebar, dia tau tujuan ibunya namun dia lebih baik pura-pura tidak tahu dan membantah ucapan ibunya.
"Sudah jangan membantah, berikan saja gaun itu kepada Karlina. Aku ingin dia bertemu dengan rekan bisnis keluarga, siapa tahu dengan begitu dia bisa belajar bisnis. Tidak perlu mengantar makanan dan tidak perlu lagi pergi belajar di luar negeri." ucap Jihan dengan lembutnya dia tidak pernah bersikap kasar kepada Alexa karena menurutnya Alexa adalah berkah, setelah penantian panjang pernikahan nya.
Deg... Jantung Karlina seakan-akan berhenti berdetak, ternyata tujuan ibunya adalah menghalangi dirinya melanjutkan belajar. Mungkin memang benar jika dia memiliki pekerjaan dia tidak perlu melanjutkan sekolahnya, namun jika itu terjadi dirinya benar-benar harus melepaskan cita-citanya. Padahal ayahnya sudah setuju, kenapa ibunya justru seperti itu.
"Ibu bermaksud menghalangi niat Karlina? Demi apa ibu. Ibu aku juga ingin kuliah di luar negeri, jika tidak ada Karlina siapa yang akan menjagaku?"
Alexa meletakkan sendok dan garpu di tangannya, dia berucap dengan nada marah. Hal itu membuat Jihan dan Karlina menatap nya secara bersamaan, sejak kapan Alexa Memiliki rencana untuk kuliah bersama dengan Karlina. Apakah kata -kata itu hanya sebuah candaan.
Alexa beranjak dari tempat duduknya dengan wajah manyun, sebenarnya bukan karena gaun itu yang membuat dirinya seperti itu namun karena dia belum menemukan cara untuk menolong Karlina. Tangga demi tangga di naiki, wanita itu hendak pergi ke kamarnya mengambil gaun yang di inginkan ibunya. Saat tiba di depan pintu kamar ibunya, Alexa melihat pintu kamar itu terbuka sebagian dan tepat di atas meja dia melihat sebuah kartu kamar.
"Kartu kamar!"
Alexa perlahan membuka pintu kamar itu, dia masuk ke dalam secara perlahan mengendap-endap seperti seorang pencuri. Kemudian dia melihat kartu itu.
"Kamar Presiden Suite! mungkin ini kamar yang di pesan ibu untuk Karlina. Aku akan mencoba peruntunganmu Karlina." ucap Alexa, Alexa mengambil kartu itu kemudian dia bergegas keluar dan kembali ke kamarnya untuk mengambil gaun dan menyerahkan kepada ibunya.
Setelah gaun itu berada di tangan, dia bergegas keluar untuk melihat ibunya bersama dengan Karlina.
__ADS_1
"Ibu aku ingin membeli beberapa perlengkapan kuliah, aku akan segera kembali." ucap Alexa dengan tergesa-gesa.
"Kenapa tergesa-gesa sekali kamu?" tanya Jihan.
"Masalahnya aku lupa ibu, aku butuh benda-benda itu. Setelah mendapatkannya aku akan segera kembali." ucap Alexa.
Ibunya hanya mengangguk karena tabiat Bram juga begitu jika terlupa sesuatu maka mudah panik jadi menurutnya sangat wajar jika anaknya mengikuti tabiat ayahnya.
"Karlina, mandilah kemudian pakai gaun ini." ucap Jihan sambil menyodorkan sebuah gaun mewah.
"Ibu ini hanya bisnis kenapa se mewah ini. Gaun ini berharga ribuan dolar, aku tidak bisa memakainya."
"Ini pertemuan bisnismu yang pertama, tentu saja kamu harus tampil yang terbaik."
Karlina hanya mengangguk mungkin jika dia menyia-nyiakan kesempatan itu seumur hidupnya dia tidak akan bisa memakai sebuah gaun mewah lagi.
Karlina bergegas membawa gaun itu ke kamarnya, kemudian dia mandi dengan bersih dan memakai gaun itu. sementara Alexa dia datang ke sebuah hotel mewah dengan kartu yang ada di kamar ibunya.
Kemudian dia melihat sekeliling dan brak dia bertabrakan dengan laki-laki asing dan tampan dengan kartu kamar di tangannya. Kartu itu berhamburan dan dengan sengaja Alexa menukarnya, berharap pria tampan itu adalah laki-laki yang akan menempati kamar itu. Tentu saja dengan begitu Karlina tidak akan terlalu di rugikan.
.
.
__ADS_1