Harga Untuk Satu Malam

Harga Untuk Satu Malam
Semoga Beruntung


__ADS_3

Alexa sudah selesai dengan kartu kamar itu, dia kini sedang bergegas kembali ke rumah. Tidak lupa dengan membawa beberapa peralatan yang baru saja dia beli untuk meyakinkan ibunya, jika tidak sudah pasti dia akan di curigai oleh ibunya.


"Ibu aku kembali," ucap Alexa sambil meletakkan setumpuk barang di atas meja. Terlihat beberapa buah kertas dan alat-alat tulis bermunculan.


"Ya sudah, bergegas keatas kemudian pergi ke kampus." jawab ibunya santai.


"Oh iya ibu, bagaimana dengan penampilan Karlina? apakah dia cantik seperti Dewi? atau justru seperti bawang merah?" tanya Alexa sambil celingak-celinguk mencari Karlina.


"Dia sedang bersiap, sudahlah cepat kamu juga pergi bersiap untuk ke kampus."


Alexa dengan gontai melangkahkan kakinya menaiki anak tangga, dia juga memasukkan tangannya kedalam saku celana untuk memastikan kartu kamar itu masih berada pada tempatnya. Dengan langkah kaki pelan Alexa masuk ke kamar ibunya, dia mengembalikan kartu itu ke tempat semula. Namun saat dia hendak keluar dia juga mendapat ibunya hendak masuk ke dalam kamar.


“Alexa, apa yang kamu lakukan di kamar ibu?” tanya Jihan dengan emosi dia lupa jika Alexa memang sudah terbiasa keluar masuk ke kamarnya untuk mengambil sesuatu tanpa perlu izin terlebih dahulu, untung saja Alexa cerdas.


“Sebenarnya aku hendak mencari pengering rambut, dan sekarang ingin bertanya kepada ibu dimana ibu meletakkannya? Tapi ibu, aku sudah terbiasa keluar masuk seperti ini terus apa yang membuatmu marah?” ucap Alexa sambil pura-pura bingung karena tentu saja alasan ibunya adalah takut ketahuan semua rencananya.


“Pengering rambut ada di laci bawah meja rias ibu. Tidak apa-apa Alexa ibu hanya sedikit pusing saja.”


Jihan mulai berdalih sementara Alexa acuh tak acuh, dia mengambil pengering rambut di tempat yang di sebut ibunya setelah itu dia kembali ke kamar dan pergi membersihkan diri.


“Semoga beruntung Karlina.”


Sementara itu seorang pria dengan topeng peraknya sedang mengelap tangannya dengan sebuah kain, dia baru saja memenangkan sebuah tender yang sangat besar namun laki-laki itu terlihat biasa saja tanpa ada sedikitpun senyum atau kebahagiaan di wajahnya. Menurutnya memenangkan tender sebesar apapun sudah biasa saja.


“Tuan R, selamat untuk kerjasama kita.”

__ADS_1


Sosok misterius dalam dunia bisnis, orang-orang tidak pernah tau siapa namanya namun dia selalu di panggil dengan panggilan tuan R. Menjadi seorang presiden direktur di usia muda, bertubuh tinggi dan six-pack namun sangat misterius siapa yang tidak mengenal laki-laki itu. Laki-laki yang selalu mengenakan topeng kemanapun dia pergi seorang penguasa yang tidak bisa di saingi oleh siapapun.


“Tuan R, hotelmu sudah siap.” Ucap seorang laki-laki yang tidak lain adalah asisten tuan R sambil menyerahkan sebuah kartu dengan nomor 1135.


"Daniel, bukankah aku sudah menyuruhmu untuk mengambil kamar 1122. Mengapa nomor 1135 Ambilkan aku kamar itu." ucap tuan R dengan dingin.


"Baik segera tuan."


Seorang Asisten yang bernama Daniel itu terlihat memegangi kartu kamar tersebut, kenapa bisa salah bukankah kartu yang dia dapatkan adalah nomor 1122 kenapa bisa berubah menjadi 1135, apakah jangan-jangan tertukar dengan wanita yang bertabrakan dengannya. Jika iya, bagaimana caranya dia menjelaskan itu kepada tuan mudanya tersebut.


"Presdir, sebelumya aku bertabrakan dengan seorang gadis. Mungkin kartunya tertukar dengan wanita itu, jika iya mungkin kurang baik menempati kamar itu."


Daniel berusaha menjelaskan, namun tuan R tampak acuh tak acuh.


"Kamu bisa menyelesaikan itu kan? Aku memberikanmu gaji bukan untuk makan dan minum gratis. Aku ingin kamar itu, sementara untuk gadis itu? itu adalah urusanmu."


sudah bersiap dengan dandanan tipis-tipisnya  disana juga ada Alexa yang hendak berangkat ke kampus.


“Kamu hendak bertemu partner bisnis namun berdandan seperti hendak berkencan. Harusnya pakaianmu formal, bukan feminim.”


Alexa berkata sambil menghabiskan makanan ringan yang ada di depannya, Alexa memang hobi ngemil namun dia juga rajin berolahraga sehingga


tubuhnya juga terjaga dengan baik.


“Alexa kamu tau apa soal bisnis? Kalau engga tau sebaiknya jangan sok tau. Karena sudah biasa bagi anak-anak seorang pebisnis tampil seperti ini, siapa tau kan nanti ketemu jodoh.  Misal tuan R.” Jihan berucap sambil menghabiskan kopinya sementara Alexa hanya menatapi ibunya, kenapa ibunya bisa bersandiwara sesempurna itu.

__ADS_1


"Ibu kenapa tidak setiap hari kamu mendandaninya seperti ini. Dan jangan berkhayal terlalu tinggi untuk memiliki menantu seperti tuan misterius. Keluarga kita sangat jauh dibawahnya ibu." ucap Alexa sambil berjalan mengambil sebotol air dari dalam kulkas..


Alexa bergegas kembali untuk mengambil tasnya kemudian dia


hendak pergi ke kampus, dia meletakkan botol yang berisi air mineral tersebut


begitu saja di atas meja. Karlina hendak mengembalikannya namun ibu tirinya


mencegahnya.


“Biarkan saja minuman itu di situ. Ayo kita juga pergi.”


Karlina pun mengurungkan niatnya untuk mengembalikan botol air tersebut, dia mengikuti keinginan ibunya untuk segera berangkat. Hatinya berdebar-debar bagaimana bisa  tiba-tiba saja seperti ini, dia yang awalnya seperti pembantu namun kini berubah seperti ratu.


Bunyi dering suara ponsel, sebuah mail box masuk ke dalam benda pipih yang usang itu. Karlina mendapat pemberitahuan jika dia lolos beasiswa di salah satu universitas ternama di Inggris, tentu saja Karlina sangat bahagia untuk itu. Dia menatap ibu angkatnya yang duduk di sampingnya untuk mengatakan itu namun dia takut ibunya tidak suka dengan hal itu.


“Ibu, aku mau berbicara sesuatu.” Ucap Karlina yang membuat Jihan menghentikan menatap layar ponselnya.


“Ada apa?”


“Ibu aku lolos untuk beasiswa ini ada pemberitahuan.”


“Hah, sebenarnya aku tidak ingin kamu pergi ke luar negeri. Namun semua keputusan itu ada di tangan ayahmu.” Jawab Jihan dengan tenang.


Jika Karlina ke luar negeri sudah bisa di pastikan jika semua yang dia lakukan tidak akan ketahuan, karena Bram bukan orang yang tidak bisa berfikir jika terjadi sesuatu dia pasti akan memainkan logika jika terjadi sesuatu hal yang buruk dengan Karlina. Bram sendiri bukan sepenuhnya sayang

__ADS_1


kepada Karlina namun dia berusaha untuk terlihat sayang karena ingin menyelamatkan harga dirinya.


Karlina mengangguk, setidaknya dia merasakan kelembutan ibunya hari ini. Dia tidak di pukul dengan kasar atau disuruh mengerjakan pekerjaan rumah tanpa henti. Mungkin ini adalah sebuah keberuntungan.


__ADS_2