
Berawal dari bermain ke rumah teman, adalah awal perjumpaan kami. Dia adalah sosok pria yang bisa membuatku menyukainya sejak awal bertemu. Dia memiliki tampang yang sangat manis dan memiliki tinggi badan sekitar 160an cm.
Pada hari minggu tepatnya di pagi hari, ketika aku ingin pulang dari rumah temanku, dia datang untuk menawarkan tebengan kepadaku. Dan dengan terpaksa aku menerima tawarannya.
"mau aku antar?" ujarnya
"boleh" jawabku
Sesampainya di rumah, tiba-tiba saja tak ada angin, tak ada hujan ia meminta nomor WhatsApp ku. Dan aku yang dengan polosnya langsung memberikan nomor WhatsAppku padanya.
Sepuluh menit kemudian, handphoneku berbunyi yang menandakan ada pesan masuk. Aku segera membuka handphoneku dan melihat pesan tersebut dan ternyata pesan tersebut adalah pesan pertama darinya.
Enam bulan telah berlalu, rasa penasaranku padanya kini telah timbul. Akibat rasa penasaranku, setiap kali ia mengajakku untuk jalan aku menerimanya. Aku memang seorang wanita yang sulit sekali untuk terlalu cepat penasaran pada seorang pria. Bagiku, dengan waktu enam bulan untuk menumbuhkan rasa penasaranku pada seorang pria adalah waktu yang sangat singkat. Dan dia adalah orang pertama yang membuatku dengan singkat untuk menumbuhkan rasa penasaran pada seseorang terutama pada lawan jenis.
Setiap aku berada di dekatnya aku benar - benar merasa nyaman, dan aku benar - benar bisa menjadi diriku sendiri tidak seperti saat aku dekat dengan pria lain yang harus berpura-pura untuk menjadi orang lain.
Sejak teman dan sahabatku tahu aku dekat dengan pria itu, mereka banyak memberi nasihat padaku. Mereka takut kalau - kalau pria ini mendekatiku hanya karna menginginkan sesuatu saja. Tapi aku tetap mencoba berpikir positif padanya. Aku tak mau terlalu negatif thinking pada semua orang namun bukan berarti aku tak mendengar perkataan sahabat dan teman - temanku.
Setahun telah berlalu, aku merasa rasa suka dan rasa penasaranku ini semakin besar. Aku tak tahu apakah rasa ini kini sudah berubah menjadi rasa sayang? Atau bahkan hanya halusinasiku saja? Ntah lah, aku juga tak tahu rasa apa yang saat ini ku rasakan.
Selama satu tahun aku mengenalnya, dia sama sekali belum pernah mengenal keluarganya padaku. Bukan karena dia tidak ingin mengenalkannya padaku hanya saja dia sedang menunggu waktu yang tepat dan aku juga saat ini masih pada tahap menyelesaikan skripsiku.
__ADS_1
Pada tahap penyelesaian skripsi, aku yang masih kurang dalam menggunakan laptop, dia dengan sigap membantuku. Dan dia juga menemaniku dalam proses ini. Bersyukur bisa mengenal dia yang mau bersabar padaku untuk menyelesaikan ini.
Beberapa bulan telah terlewati, kini aku telah selesai menyelesaikan perkuliahanku dan kini aku harus kembali ke kampung halamanku. Aku memutuskan untuk bekerja sini sembari menemani mama yang di rumah sendirian. Sedih rasanya berpisah darinya, namun apa boleh buat semua harus dilalui untuk masa depan. Dan bukankah dalam hidup ini selalu dihadapkan dengan sebuah pilihan? Pilihan antara aku tetap berada di perantauan namun dekat dengannya, atau pulang ke kampung halaman dan bekerja di sini bersama dengan mama?
Tak terasa sudah enam bulan aku bekerja di kampung dan harus menjalani hubungan jarak jauh dengannya. Ingin rasanya aku kembali ke sana untuk melepaskan rasa rindu ini, namun pekerjaanku tidak bisa ditinggal.
Tepat di tahun baru, akhirnya dia mengenalkanku pada kedua orangtua melalui video call. Rasa senang, gugup dan grogi semua bercampur aduk. Momen ini benar-benar tak bisa ku lupakan. Dan sama seperti wanita lainnya yang deg - degan dengan respon orangtua pria terhadap sang wanitanya. Beberapa setelah video call dengannya dan kedua orangtuanya, aku memberanikan diri untuk meneleponnya hanya sekedar untuk menanyakan respon dari kedua orangtuanya
"Ryl, gimana respon kedua orangtuamu padaku?" tanyaku
"kamu penasaran ya?" godanya
"iya nih penasaran. Emang gimana respon beliau?" tanyaku yang semakin penasaran
"oh begitu" jawabku dengan lega
"cie yang sudah mulai dapat jalan dari mama" godanya
"jalan? Jalan apa?" tanyaku dengan penasaran
"ah sudahlah lupain saja. Oh iya, tadi papa kan minta kamu main ke rumah kan?" tanyanya
__ADS_1
"iya. Tapi tiket pesawat mahal Ryl" ujarku
"sudah tak usah dipikirkan untuk masalah tiket nanti aku yang belikan. Kamu tinggal datang saja ke sini" jawabnya
"aduh jangan deh Ryl. Kamu simpan saja uangnya, takutnya nanti kamu ada keperluan mendadak" jawabku
Saat sedang asyik mengobrol, tak ada angin dan tak ada hujan dia tiba-tiba mengajak ku untuk menikah. Aku benar - benar kaget mendengarnya dan aku pun terdiam sejenak dibuat olehnya
"Bi, menikah yuk" ujarnya
"Bi, kenapa? Kok kamu diam? Apa ada yang salah dengan perkataanku?" tanyanya
"eh, kenapa?" tanyaku berharap Deryl memperjelas pertanyaannya
"menikah yuk" ujarnya
"Ryl, bukan aku tak mau. Tapi kakak kita masih ada yang belum menikah, biarkan mereka dulu yang menikah baru kita. Dan sembari menunggu mereka, kamu berkenalan dengan keluargaku saja. Dan kamu juga pernah bilang padaku kalau kamu ingin sekali untuk melanjutkan kuliahmu di S1. Kamu lanjutkan S1-mu sambil bekerja, aku di sini juga menabung untuk biaya setelah pernikahan kita nanti" ujarku sambil tersenyum
"serius ya, setelah kakak kita menikah, kita yang menikah" ujarnya
"iya" jawabku
__ADS_1
Dan suasana pun menjadi hening. Dia berusaha untuk mencairkan suasana hening tersebut dengan memutarkan suaranya saat bernyanyi dengan mengubah menjadi suara anak-anak.