
Setelah kejadian tersebut, kami pun menjadi orang yang seperti tidak mengenal satu sama lain. Aku tak tahu mengapa ia menjauh dariku. Apakah karena aku tak menerima ajakan dia untuk menikah? Atau memang dia sudah ingin menikah? Atau mungkin karena ada wanita lain? Ntahlah aku tak tahu. Yang ku tahu, sampai saat ini aku masih menunggunya.
Dua minggu setelah dari kejadian itu, aku benar - benar tidak fokus untuk bekerja dan melakukan aktivitas yang lainnya. Jika saja ia bisa mengerti keadaanku dan bisa menerima jawabanku serta bisa menunggu dengan sabar, kami pasti kita akan seperti ini.
Delapan bulan setelah peristiwa itu, kini aku sudah baik - baik saja. Aku sama sekali sudah tidak mempedulikannya lagi. Dan bahkan nomor WhatsAppnya saja sudah aku blokir dan aku hapus. Dan kini saatnya kembali aku membuka hatiku untuk lelaki lain. Walaupun kenyataannya masih sulit untuk menerima orang baru lagi. Dan jenuh rasanya jika memulai semuanya dari awal. Kenalan - pdkt - pacaran - putus. Proses yang sangat membosankan.
Dan di sisi lain, aku juga masih trauma dengan semua ini. Aku yang sudah beberapa kali gagal dalam hal percintaan, apakah bisa untuk berhasil dalam hal ini? Ntah lah aku pun tak tahu. Apakah ini salah satu jalan dari Tuhan untuk memprosesku? Ataukah ini karma untukku? Jika memang ini karma, karma atas apa? Aku tidak pernah menyakiti seseorang apalagi dalam hal percintaan. Lantas apa yang aku terima saat ini? Ah, sudahlah aku benar - benar lelah dengan semua ini.
Setelah berhasil melewati proses untuk move on, di dalam mimpiku ia datang. Apa arti ini semua Tuhan? Mengapa Engkau masih mendatangkannya ke dalam mimpiku beberapa kali? Bahkan dua minggu berturut-turut. Apa maksudnya ini semua Tuhan? Apakah Engkau memisahkan kami hanya sementara untuk menguji kesetiaan kami? Atau ini adalah perpisahan untuk selamanya? Namun jika memang benar hanya untuk sementara, aku mohon pada-Mu, satukan kami kembali Tuhan. Aku sangat menyayanginya dan aku tak tahu lagi harus bagaimana Tuhan jika tidak ada dia. Hampa rasanya.
__ADS_1
Teman dan sahabatku juga mengenalkanku dengan teman dan sahabat mereka. Tapi aku takut jika dengan perkenalan yang tidak diinginkan ini membuatku semakin trauma dengan mereka. Aku tak mau jika rasa traumaku ini semakin mendalam. Dan karna itu aku memutuskan untuk menolaknya meski hanya perkenalan saja. Dengan keputusan yang aku ambil ini, teman dan sahabatku pun menjadi kesal karna menganggap bahwa semua lelaki itu sama saja dan bahkan kami pernah bertengkar hanya karena ini
"Bi, tolong buka sedikit hatimu. Tak semua lelaki sepertinya, Bi. Anggap saja pada saat itu kamu masih kurang beruntung. Dan untuk kali ini kamu harus bisa meyakinkan dirimu bahwa kamu akan beruntung, Bi" ujar Zefa sahabatku
"Benar Bi. Kami tak mau kamu seperti ini terus - menerus Bi. Dan kami yakin kamu juga tak menginginkan trauma ini berlarut terlalu lama." sahut Cia
"Kami sedih lihat kamu sedih, Bi. Kami hanya ingin kamu bahagia lagi seperti dulu Bi." sahut Aleshya
Sungguh aku tak tega melihat perjuangan mereka yang membuatku untuk kembali ceria seperti semula. Aku juga merindukan diriku yang dulu, yang ceria dan bahagia. Dan aku mencoba menerima perkenalan tersebut demi melihat mereka bahagia. Tapi aku juga harus pasang kuda - kuda untuk mempersiapkan diri siapa tahu yang kali ini sama seperti yang dulu. Dan untuk kali ini aku tak berharap banyak padanya agar aku tidak merasakan rasa sakit yang pernah ku rasakan kemarin.
__ADS_1
"Yasudah iya, aku mau kok di kenalkan dengan teman kalian itu. Tapi aku tidak mau terlalu berharap padanya dan aku juga tak akan menaruh hati padanya." ujarku
"Iya Bianca, kami paham kok. Yang penting kamu mau kenalan dan berteman dengannya. Untuk masalah cocok atau tidaknya itu adalah hak kamu. Kami sebagai sahabatmu hanya bisa mendukung, mendoakan dan memberikan yang terbaik untukmu." ujar Cia
"nah gitu dong Bi. Senyum dulu dong Bi, mana senyum manisnya Bianca sahabat kami yang dulu." sahut Aleshya
*dan aku pun tersenyum*
"manis banget. mari kita berpelukan" ujar Aleshya
__ADS_1
Berkat sahabatku, kini aku kembali seperti dulu. Tanpa mereka, mungkin aku akan sulit untuk kembali ceria seperti dulu