
Setelah puas menjelajahi tujuan yang sudah mereka tentukan, kini tujuan terakhir mereka adalah cafe. Ya, cafe tempat biasa mereka nongkrong, berdiskusi dll. Aksa sengaja memesan cafe tersebut untuk malam yang spesial baginya untuk menyatakan perasaannya pada Bianca. Cafe tersebut di hiasi oleh lampu-lampu, bunga dll.
"Bi, aku boleh ngobrol sesuatu tidak padamu?" tanya Aksa
"tentu boleh, silakan saja."jawab Bianca
"Bianca, ingat tidak pertemuan pertama kita? Dan bagaimana cerita awal mula kita berteman sehingga bisa sedekat ini?" tanya Aksa
"tentunya. Tak terasa ya, Aksa sudah dua tahun kita dekat dan tak menyangka sekarang kita sudah bisa untuk membuka hati kita masing-masing. Dulu kita memiliki kesamaan yaitu sama-sama memiliki rasa trauma yang begitu berat. Tapi seiring berjalannya waktu, kita kini sudah bisa menghilangkan rasa itu. Kamu juga meyakinkanku untuk tetap berpikir positif akan semua hal yang akan datang terutama pada percintaan. Mungkin kalau kita tidak di pertemukan, kita tidak akan bisa seperti saat ini. Yang sama-sama saling menguatkan dan meyakinkan. Karna seseorang yang belum pernah merasakan hal yang sama seperti kita rasakan, ia tidak akan pernah tahu bagaimana rasanya untuk menghilangkan rasa itu. Mereka hanya bisa berkata tapi tidak bisa menerapkannya. Berbeda dengan kita, kita tahu bagaimana rasa sakitnya dan bagaimana perjuangan kita untuk menghilangkan rasa itu hingga kita bisa membuka kembali hati kita." jawab Bianca
"bener Bi." sahut Aksa
"Bi, terima kasih ya sudah mau membantuku untuk menghilangkan rasa itu dan sudah mau membantuku untuk membuka kembali hatiku sampai pada akhirnya aku bisa kembali mencintai seseorang, yaitu kamu." ujar Aksa sambil memegang tangan Bianca
"hah? M-m-maksudnya? Bisa tolong diulang? ujar Bianca
"Bianca, maukah kamu menikah denganku?" tanya Aksa dengan rasa cemas dan penuh harapan
"ka-ka-kamu serius mau menikah denganku?" tanya Bianca untuk lebih meyakinkan pendengarannya
"iya aku serius ingin menikahimu. Apakah kamu mau menikah denganku, Bi?" tanya Aksa
"iya, aku mau." jawab Bianca dengan rasa tersipu
"serius, Bi?" tanya Aksa
"i-iya" jawab Bianca
"yasudah, minggu depan aku akan ke rumahmu untuk bertemu dengan kedua orang tuamu" ujar Aksa
"minggu depan?" tanya Bianca dengan rasa kaget.
"iya. Kenapa? Salah kah?" tanya Aksa
"ee-enggak kok. Tapi apa tidak terlalu cepat?" tanya Bianca
"tidak. Selagi kedua orang tuaku juga minggu depan sedang tidak sibuk. Dan bukankah lebih cepat lebih baik?" tanya Aksa
"iya sih." jawab Bianca
Jam sudah menunjukkan pukul sembilan, dan kini mereka berdua harus kembali ke rumah masing-masing.
"Bi, ayo pulang sudah jam sembilan" ucap Aksa sambil melihat ke arah jam tangannya
"ayo" jawab Bianca
Sesampai di rumah, Bianca segera menelepon ketiga sahabatnya untuk memberi kabar bahagia
*via telepon*
"ada apa nona manis" ujar Aleshya
"iya nih ada apa, Bi? tumben telepon kita jam segini? Biasanya telepon jam 7" sahut Cia
"kalian tahu tidak" ucap Bianca yang belum menyelesaikan pembicaraannya
"kami tidak tahu nona manis" sahut Zefa yang memotong pembicaraan
"makanya di dengar dulu jangan langsung di potong begitu Zefa. Kamu kebiasaan sekali sih Zef" ucap Aleshya dengan sabar
"kan aku penasaran Shya." ujar Zefa
"walaupun penasaran tapi harus tetap di dengar sampai Bianca menyelesaikan pembicaraannya" jawab Aleshya
"sudah, sudah, kok kalian jadi bertengkar begini sih" ujar Bianca
Setelah memenangkan Zefa dan Aleshya, Bianca pun memulai topik pembicaraannya.
"Sudah bisa kita mulai ngobrolnya?" tanya Bianca
__ADS_1
"sudah" jawab Zefa
"oke. jadi begini, sebelumnya aku mau berterima kasih pada kalian terutama Aleshya karna sudah mempertemukan dan memperkenalkan aku dengan Aksa. Jadi, aku punya kabar baik untuk kalian semua" ujar Bianca
"kabar apa?" tanya ketiga sahabatnya dengan kompak
"Aksa ingin menikahiku. Dan minggu depan ia bersama orang tuanya akan datang ke rumah untuk menjumpai kedua orang tuaku" ujar Bianca
"hah? Serius?" tanya Cia
"iya serius" jawab Bianca
"kapan Aksa berkata seperti itu?" ujar Zefa
"baru saja" jawab Bianca
"selamat Bianca. Kami ikut bahagia mendengarnya" ujar Aleshya
"terima kasih teman-teman" jawab Bianca
"ya sudah teman-teman, aku tutup teleponnya ya. Kita harus tidur karena besok kita harus kembali bekerja" ujar Bianca untuk menunda pertanyaan demi pertanyaan yang akan di lontarkan oleh ketiga sahabatnya itu.
Seminggu kemudian, hari yang ditunggu-tunggu oleh Aksa dan Bianca pun kini tiba. Rasa bahagia, sedih, deg-degan semua bercampur menjadi satu. Kedua orang tua mereka pun bertemu untuk berkenalan sekaligus untuk membicarakan hubungan Aksa dan Bianca ke arah yang lebih serius.
*kring kriiiiiinggggg* bunyi bel rumah Bianca
"eh mas Aksa" sapa mba Lila
*Aksa hanya tersenyum manis pada mba Lila*
"mba, Biancanya ada?" tanya Aksa
"ada mas. Mari silakan masuk" ujar Mba Lila
Mba Lila pun segera memanggil Bianca dan memberitahu akan kedatangan Aksa dan kedua orang tuanya
"kenapa mba?" tanya mama Bianca
"eee itu nyonya ada tamu untuk non Bianca" jawab mba Lila
"siapa mba?" tanya Bianca
"mas Aksa mba" jawab mba Lila
"terima kasih ya mba. Oh iya mba, minta tolong buatkan minuman untuk mereka ya mba" ujar Bianca
"siap non" jawab mba Lila
"ma, pa, ayo ke depan" ujar Bianca
"iya sayang, sabar dong." ujar mama Bianca
*ruang tamu*
"eh Aksa, tante, om" sapa Bianca sambil mencium tangan kedua orang tua Aksa
"tante, om, perkenalkan ini mama dan papa aku. Ma, pa, perkenalkan ini mama dan papanya Aksa" ujar Bianca sambil
"hallo jeng, mamanya Bianca" ujar mama Bianca sambil cipika cipiki dengan mama Aksa
"hallo jeng. Sepertinya saya pernah melihat jeng deh." ujar mamanya Aksa
"masa sih Jeng? Di mana ya jeng? Jangan-jangan aku yang lupa jeng?" ujar mama Bianca
"aku juga luap jeng" ujar mama Aksa
"mari duduk jeng, Aksa, Pak Rifan" ujar mama Bianca
ketika kedua orang tua mereka sedang asyik bercerita, tiba-tiba mata mama Aksa terarah pada foto mama Bianca zaman SMA dan mama Aksa pun menghampiri foto tersebut lalu melihatnya dengan lebih dekat
__ADS_1
"jeng, jeng alumni SMAN 45?" tanya mama Aksa
"iya benar. kenapa jeng?" tanya mama Bianca
"jeng, saya juga alumni SMAN 45 loh." ujar mama Aksa
"serius jeng? jurusan apa jeng?" tanya mama Bianca
"iya jeng. Saya dulu ambil jurusan IPS jeng. Dan dulu kelas 11 IPS 2 jeng" ujar mama Aksa
"jeng, saya juga dulu 11 IPS 2" ujar mama Bianca
"berarti kita pernah satu kelas dong jeng kalau begitu" ujar mama Aksa
"di foto ini, jeng yang mana?" tanya mama Bianca
"saya yang ini jeng" ujar mama Aksa sambil menunjuk fotonya
"jeng, sebelah kanan jeng itu saya loh." ujar mama Bianca
"loh" ujar mama Aksa dengan kaget
"berarti kamu Anita?" tanya mama Aksa
"iya benar. Dan kamu, jeng Airin?" ujar mama Bianca
"wah, sudah lama ya kita tidak bertemu setelah sekian lama" ujar mama Aksa
"bener jeng. Dulu kita kemana-mana selalu bersama" ujar mama Bianca
"loh, jadi mama dan tante Airin sudah saling mengenal?" tanya Bianca
"benar sayang. Jadi, mama dan tante Airin ini bersahabat sejak SMA tapi pada saat kuliah kita berpisah. Tante Airin mendapatkan beasiswa untuk kuliah ke luar negeri" ujar mama Bianca yang sedang menjelaskan kepada Bianca
"oh begitu" ujar Bianca
"jadi begini jeng, tentu jeng dan pak Dareen sudah tahu maksud dari kedatangan kita" ujar mama Aksa
"iya jeng. Jadi kita langsung saja ya" ujar mama Bianca
"menurut jeng, pak Rifan dan papa kira-kira tanggal berapa kita pilih untuk pernikahan mereka?" tanya mama Bianca
"kalau papa dan pak Rifan ikut kalian saja para ibu-ibu" ujar papa Bianca
"ih papa jangan begitu. Ini kan acara yang sakral" ujar mama Bianca
"jeng, sudah biasa seperti itu para ibu-ibu yang menentukan" ujar mama Aksa
"nah benar apa yang dikatakan oleh Bu Airin, ma" ujar papa Bianca
"yasudah, saya punya usul. Bagaimana kalau pernikahan mereka kita buat di tanggal 24 April?" ujar pak Rifan
"hah? Bulan depan pa? Tanya Aksa dengan rasa kaget
"apakah tidak terlalu cepat om kalau bulan depan?" sahut Bianca
"menurut om tidak. Itu sudah waktu yang pas jika menurut om. Bukannya lebih cepat lebih baik?" ujar Rifan
"pa, itu terlalu cepat. bagaimana jika 25 Mei?" sahut Airin
"setuju! 25 Mei adalah waktu yang tepat. Tidak terlalu lama dan tidak terlalu cepat." sahut Anita
"baiklah, kalau begitu berarti tanggal pernikahan mereka kita buat di tanggal 25 Mei" ujar Airin
"ta-ta-tapi ma, itu terlalu cepat ma." ujar Bianca
"tenang sayang, mama, papa, om Rifan dan tante Airin akan membantu kalian berdua untuk mempersiapkan segala sesuatu." ujar Anita
"yasudah ma, tan" ujar Bianca dan Aksa dengan serentak
__ADS_1