
Tak terasa kini sudah tiga tahun aku belajar untuk melupakannya dan sudah tiga bulan aku dan Aksa berteman dekat. Sejauh ini, kami berteman baik dan aku sama sekali tidak melibatkan perasaanku karena aku sudah berjanji pada diriku sendiri untuk tidak melibatkannya dalam pertemanan antar lawan jenis. Dan untungnya perasaanku bisa diajak untuk berkompromi agar tidak tumbuh dan aku berharap untuk seterusnya rasa itu tidak akan tumbuh.
Aksa adalah seorang lelaki yang sangat tampan, manis dan memiliki pemikiran yang sangat dewasa. Tak hanya itu, ia juga sangat menyayangi keluarganya dan bisa menghargai wanita. Dan katanya, Aksa adalah salah satu mahasiswa paling favorit di kampusnya dan hampir seluruh mahasiswi menyukainya. Dia memang layak untuk di sukai oleh banyak orang karena memang dia memiliki wajah yang tampan dan memiliki bakat. Wanita mana sih yang tak menyukai seorang lelaki yang memiliki banyak bakat, menyayangi keluarga, memiliki pemikiran yang sangat dewasa, dan bisa menghargai wanita.
Aksa adalah mahasiswa S2 di salah satu kampus terfavorit di kota Jakarta. Ketika aku melihatnya, aku selalu berbicara pada diriku sendiri "kapan aku bisa sepertinya yang bisa melanjutkan S2? Ingin rasanya aku melanjutkan kuliahku sepertinya. Andai aku bisa melanjutkan studiku, pasti akan keren namaku Bianca Dealova Christabel, S.Pd. , M.Pd." ujarku dalam hati
Saat sedang asyik melamun, aku di kaget oleh Aksa dari belakang
"dooorrr!" ujar Aska
*Bianca pun kaget*
"ngapain sih kamu melamun gini. Apa yang buat jadi lu ngelamun gini? Hmm.... Aku tahu, jangan - jangan kamu lagi ada masalah ya? Ayo cepat cerita samaku" ujar Aksa
"gak kok, aku gak melamun. Aku hanya melihat kupu-kupu saja" jawabku untuk mengelak
"bohong! kamu bohong!" ujar Aksa
"gak Aksa. Sudah yuk, kita pergi saja. Sebentar lagi jam istirahat selesai. Aku harus kembali ke sekolah begitu juga denganmu" jawabku
Kami pun segera kembali ke sekolah kami masing-masing untuk melanjutkan pekerjaan kami.
__ADS_1
Malam harinya, tidak ada angin tiba-tiba Aksa menelponku
"Hallo" ujarku dengan lembut
"halo" jawab Aksa dengan lembut
"ada apa, Sa?" tanyaku
"kamu sibuk? Bolehkah kita ngobrol-ngobrol sebentar?" ujar Aksa
"oh tidak, pekerjaanku kebetulan sudah selesai kok. Tentu boleh dong. Memang apa yang mau kita bahas?" tanyaku
"Bi, aku boleh jujur tidak padamu?" ujar Aksa
"apakah kamu masih percaya dengan cinta? Apakah kamu masih percaya dengan lelaki?" tanya Aksa
"mengapa tiba-tiba kamu bertanya seperti itu padaku?" tanyaku
"aku memiliki trauma yang sangat besar, Bi. Aku sudah tidak percaya lagi dengan yang namanya cinta apalagi dengan lawan jenis." jawab Aksa
"kamu memiliki masa lalu yang buruk dengan seorang wanita?" tanyaku dengan penasaran
__ADS_1
"benar. Sebelum aku seperti ini, aku memiliki rasa trauma yang sangat besar pada seorang wanita selain mama dan saudara perempuanku." ujarnya
"trauma kenapa?" tanyaku
"Aku dulu pernah di selingkuhin oleh kekasihku. Awalnya aku percaya padanya bahkan bisa dikatakan aku percaya padanya 100% tapi ia membohongi. Dan ternyata ia melakukan hal ini sudah dua tahun" jawabnya
"lalu siapa yang memberitahu padamu kalau dia selingkuh?" tanyaku
"aku kemarin tidak sengaja bertemu dengannya bersama lelaki lain yang sama sekali aku tak tahu siapa lelaki itu." ujarnya
"apakah kamu yakin kalau itu selingkuhannya? Bisa saja itu adalah sepupunya" jawabku
"aku yakin 100000%, Bi. Aku mendatangi mereka dan bertanya padanya lelaki tersebut siapa. Dan dia menjawab bahwa lelaki itu adalah pacar barunya. Dan dari situlah aku sudah tidak percaya dengan wanita selain mama dan saudara perempuanku." ujarnya
"kalau begitu, lantas mengapa kau mau menerima pertemuan ini?" tanyaku
"Aleshya meyakinkanku bahwa tidak semua wanita sepertinya. Dan Aleshya juga meyakinkanku bahwa aku bisa keluar dari rasa trauma itu. Dan ternyata...." ujarnya
"ternyata apa?" jawabku
"ternyata benar apa yang dikatakan oleh Aleshya. Setelah setahun proses melupakannya, dan ketika Aleshya meyakinkanku bahwa kamu adalah wanita yang berbeda, ntah mengapa hatiku langsung menerimanya dan seperti ada rasa yang sangat besar untuk mengenalmu lebih dalam. Apakah kamu juga percaya dengan cinta, Bi?" ujarnya
__ADS_1
"sebenarnya aku juga memiliki rasa trauma. Aku pernah menaruh rasa yang besar pada seorang lelaki. Namun ketika ia mengajakku menikah dan aku menolaknya, sikapnya langsung berubah 10000%. Dan dari situlah aku sudah tidak percaya dengan lelaki dan cinta. Aku takut, ketika aku mengenal lelaki untuk kesekian kalinya, keberuntungan itu terjadi lagi. Itulah sebabnya aku mengendalikan perasaanku." jawabku
"berarti kita memiliki peristiwa yang sama, Bi. Aku berharap semoga kamu ataupun aku tidak akan seperti masa lalu kita. Dan semoga kamu adalah wanita terakhir yang aku kenal untuk seumur hidupku." ujarnya