
Seminggu kemudian, Aksa dan Bianca mulai mempersiapkan segala sesuatu untuk pernikahan mereka. Aksa sibuk mencari WO, Bianca sibuk mencari referensi untuk undangan pernikahan mereka. Dengan kesibukan yang begitu padat, akhirnya mereka meminta bantuan kepada para sahabatnya untuk mencari fotografer untuk prawedding mereka.
*via telepon*
"hallo, Bi" ujar Cia
"hai, Cia" jawab Bianca
"Ci, aku dan Aksa akan segera menikah" ujar Bianca
"hah? Serius, Bi? Kapan?" tanya Cia dengan penasaran
"iya aku serius. 25 Mei kami akan segera menikah." ujar Bianca
"wah, selamat Bianca sayang" ujar Cia
"terima kasih Cia" jawab Bianca
"lalu, apa yang bisa aku bantu untuk pernikahan kalian berdua?" ujar Cia
"aku minta tolong, tolong carikan fotografer untuk foto prewedding kami." ujar Bianca
"kebetulan aku punya sahabat yang memang pekerjaannya sebagai fotografer. Dan sahabat aku ini sudah menjadi fotografer yang handal, Bi. Job dia sudah di mana-mana bahkan para artis sudah beberapa kali menggunakan jasa sahabat aku." ujar Cia
"kamu serius?" ujar Bianca
"serius, Bianca." ujar Cia untuk lebih meyakinkan Bianca.
"yasudah, nanti minta tolong hubungi sahabat kamu ya. Nanti cari waktu yang kosong untuk pertemukan aku, Aksa dan sahabat kamu untuk membicarakan masalah ini." ujar Bianca
__ADS_1
"beres" ujar Cia
Setelah menghubungi Cia, Bianca dan Aksa pun ketemu untuk membicarakan sekaligus mengukur baju untuk pernikahan mereka.
Setelah mempersiapkan segala sesuatu untuk pernikahan mereka, kini mereka segera pulang dan segera beristirahat.
"ayo pulang, Bi." ujar Aksa
"ayo. Sudah pukul 22.00 wib." jawab Bianca
Dua bulan kemudian, hari yang mereka tunggu-tunggu kini tiba. Rasa sedih, bahagia, deg-degan semua bercampur aduk menjadi satu. Hal yang mereka mimpi-mimpikan kini telah terwujud.
*Sa, aku deg-degan." ujar Bianca
"tarik nafas, keluarkan perlahan-lahan" ujar Aksa
Bianca pun segera mengikuti arahan dari Aksa untuk menenangkan dirinya.
*pemberkatan pernikahan pun sedang dilaksanakan*
Setelah pemberkatan pernikahan, mereka pun asyik berfoto ria bersama dengan para tamu, keluarga, dan para sahabatnya. saat sedang asyik berfoto, Bianca pun tidak menyadari kalau Deryl datang ke pemberkatan pernikahannya. Dan ia pun tak tahu siapa yang mengundang Deryl karena ia tidak merasa mengundang Deryl ke acara pemberkatan pernikahannya. Dan bagi Deryl, ia tak ingin melewati momenteum ini. Karena melihat Bianca di acara saklar ini adalah impiannya meskipun bukan ia yang berada di sampingnya untuk bersanding. Dan tanpa ia sadari, ia membiarkan air matanya untuk membasahi pipinya. Air mata yang membasahi pipinya merupakan air mata yang bahagia yang tak bisa ia cegah untuk mengalir.
"hai, Bi" ujar Deryl dengan tersenyum
"hai" jawab Bianca dengan rasa kaget
"selamat ya, Bi" ujar Deryl sambil mengulurkan tangannya
"te-terima kasih. Tahu dari mana kalau aku hari ini menikah? Siapa yang memberi undangan padamu?" tanya Bianca
__ADS_1
"kamu tidak perlu tahu aku tahu dari mana, yang paling penting aku ucapkan selamat padamu atas pernikahanmu." ujar Deryl
"istrimu di mana?" tanya Bianca
"aku gagal menikah." ujar Daryl
"k-kok bisa?" tanya Bianca
"oh iya, perkenalkan ini Aksa suamiku" ujar Bianca
"Deryl" ujar Deryl sambil mengulurkan tangannya
"Aksa" ujar Deryl sambil menyambut uluran tangan Daryl
"selamat ya Aksa atas kelancaran pernikahannya" ujar Deryl dengan mata yang berkaca-kaca
"terima kasih, Ryl" ujar Aksa
Dikarenakan para tamu sudah berbaris, Deryl pun segera berpindah tempat agar para tamu bisa memberi ucapan pada sang pengantin.
Dua jam kemudian, para tamu pun akhirnya selesai memberikan ucapan pada mereka. Dan dengan segala pertanyaan yang ada di dalam benak Bianca, ia pun segera menanyakan akibat kegagalan dari pernikahannya.
"oh iya, kenapa kamu kok bisa gagal menikah Ryl?" tanya Bianca dengan rasa penasaran
"tunanganku selingkuh, Bi. Sebulan sebelum pelaksanaan pernikahan, aku melihat dengan mata kepalaku sendiri Alifa sedang makan bersama lelaki yang sama sekali aku tak tahu lelaki itu siapa. Dan aku juga tidak ingin melepaskan mereka dengan rasa penasaranku, akhirnya aku bertanya dan meminta penjelasan kepada Alifa. Dan Alifa memberi penjelasan bahwa ia selingkuh dengan lelaki itu sudah lama dari sebelum kami tunangan. Dan bodohnya aku, aku melepaskan wanita yang benar-benar mencintaiku dengan tulus. Dan wanita itu kini sudah menikah dengan pria lain. Aku terlalu bodoh, Bi. Aku terlalu bodoh! Andai saja dulu aku lebih mengikuti kata hatiku pasti aku yang ada di sampingmu untuk melaksanakan ikatan suci ini." ujar Daryl dengan menyesali segala tindakannya
"yasudah, lagi pula itu semua sudah menjadi masa lalu. Mungkin ini sudah menjadi jalan Tuhan untuk kita berdua agar bertemu dengan jodoh kita masing-masing. Kita tidak berjodoh bukan berarti kita menjadi musuh kan? Kan kita masih bisa berteman dan menjadi saudara" jawab Bianca sambil tersenyum
"benar, Ryl. Sebelumnya aku berterima kasih sekali padamu karna dengan apa yang dialami oleh Bianca, akhirnya kami bisa bertemu dan bisa menikah. dan apa yang dikatakan oleh Bianca adalah benar, kalian masih bisa berteman dan teman Bianca adalah temanku juga. Kita semua berhak untuk berteman dengan siapa saja" sahut Aksa
__ADS_1
"apa kamu tidak punya pikiran negatif denganku jika sewaktu-waktu aku mempunyai pemikiran yang jelek untuk merebut Bianca darimu?" tanya Deryl
"tidak. Aku tidak akan berpikir seperti itu dan aku tidak ingin berpikir seperti itu. Dari awal aku sudah menganggap kamu seperti saudaraku sendiri, Ryl. kamu sudah seperti adikku sendiri." ujar Aksa sambil memegang pundak Deryl