Heart Breaker - Hope & Future - [ SEASON 2 ]

Heart Breaker - Hope & Future - [ SEASON 2 ]
Heart Breaker ~ Hope & Future ~ CH. 3


__ADS_3

Yuiji mengajar selama 3 jam di kelas 2 - C, setelah jam mengajarnya selesai, guru yang mengajar ke jam berikutnya memasuki kelas tersebut.


Dia berjalan sepanjang koridor sambil memandangi keluar jendela sekolah, pemandangan yang sangat indah terlihat dari sini. Dia melanjutkan pengajaran kembali ke kelas lainnya, begitu juga dengan Melodia.


Di kelas 3 - B, guru yang mengajar mereka hari ini kebetulan memang Melodia sendiri. Anak-anak kelas 3 - B hening sekali selama pembelajaran berlangsung, mereka semua pada takut dengan beliau.


Melodia dikenal guru killer jika lagi mengajar, maka dari itu mereka menghindari kemarahan beliau, kalau beliau marah, bisa-bisa mereka di lempar ke luar jendela.


Waktu pas di pukul 12.00, bel istirahat berbunyi. Mereka semua keluar dari kelas masing-masing untuk beristirahat di kantin.


Kaito, Tatsu dan juga Okita, mereka bertiga pergi ke kantin bersamaan.


" Bu, minta mie ramen pakai kuah miso satu, level 5 ya ".


Kaito memesan 1 mangkok mie ramen dengan kuah miso ke ibu kantin.


" Kalau saya, Yakinikunya satu ya bu, Okita mau apaan? ".


" Samaain saja dengan punyamu ".


" Baiklah, Bu Yakinikunya 2 ".


Ibu mencatat pesanan 3 cowok ini di buku catatan dan segera memasak makanan yang telah dipesan mereka.


Kaito, Tatsu dan juga Okita berjalan untuk mencari tempat duduk untuk mereka.


Kemudian, duduk di bangku yang telah mereka temukan. Ketika mereka menunggu makanan datang, ditayangkan siaran berita di layar hologram berada di kantin itu.


" Selamat siang permisa, ada sebuah insiden mengenaskan di pusat kota, tepatnya di salah satu gang ditemukan banyak sekali bercak darah dimana-mana dan kepolisian juga menemukan cakaran di tembok. Cakaran ini seperti cakaran yang kita familiar selama ini, tapi karena belum pasti apakah itu. Kepolisian masih tetap terus menyelidikinya ".


Mereka bertiga langsung berubah ekpresi menjadi serius seketika setelah mendengar berita tersebut.


" Jangan bilang... ".


" Benar, kalau dari cakarannya memang tidak salah lagi ".


" Kami mikir yang sama juga, Okita ".


" Secara logika begitu, sebab cakaran mana yang mempunyai sebesar itu? ".


Mereka bertiga memikirkan hal yang sama dan mereka saling melontarkan pikiran masing-masing.


Mereka menduga kalau ada sesuatu yang telah terjadi, tapi masih belum jelas apa itu sebenarnya.


Beberapa saat kemudian, makanan mereka sampai.


Lalu, mereka semua memakannya sangat lahap sampai tidak ada sisa satu pun. Setelah makan, mereka duduk sebentar disana dan beranjak dari tempat duduknya untuk balik ke kelas.


Mereka tidak lupa bayar terlebih dahulu sebelum balik ke kelas. Uang mereka kumpulkan ke Okita, dia yang membayar semua ke kasir.


Kemudian, mereka berjalan sepanjang lorong sambil membahas yang di beritakan barusan.


Bagi mereka sungguh aneh jika monster itu masih ada, sebab semua sample sudah disita dan dihancurkan oleh polisi.


Di tengah perjalanan, mereka bertiga bertemu dengan Yuiji yang hendak ingin naik ke lantai atas.


" Kak Yuijiii ".

__ADS_1


Tatsu memanggilnya dari jauh sambil melambaikan tangannya, Yuiji mendengar dirinya dipanggil menengok ke samping kirinya.


" Kalian, sedang apa kalian disini? ".


" Kami baru saja habis dari kantin, kamu mau kemana Kak Yuiji? " .


" Hmm.. begitu ya... aku? aku mau balik ke ruangan guru, tadi sempat bertemu sebentar dengan Pak Kepala Sekolah ".


Mendengar Yuiji menyebut Pak Kepala Sekolah, mereka tiba-tiba mempunyai inisiatif untuk menanyakan hal ini ke Yuiji.


" Kak, ada waktu untuk bicara sebentar? ".


Melihat wajah ketiga orang ini begitu serius, Yuiji menganggukk setunju dan mengarahkan mereka untuk mengikuti dirinya ke ruang kerja dia.


" Silahkan masuk.. "


Yuiji mempersilahkan mereka bertiga untuk masuk ke dalam ruangannya. Menyiapkan teh hangat untuk mereka minum selama melakukan perbincangan.


" Kalian mau tanya apa ke saya? ".


Mereka bertiga saling bertatapan satu saka lain.


" Jadi barusan kami menonton berita di televisi mengenai ada kejadian di pusat kota... Kami menduga kalau pelakunya itu adalah Chimera, benerkah? ".


Yuiji mendengar pertanyaan dari Tatsu, dia jadi sedikit bingung untuk menjelaskannya padahal dia sendiri pernah di berikan amanat oleh Kepala Sekolah untuk tidak memberitahukan ke siapa-siapa.


" Aku tahu kalau kamu sedang menutupi sesuatu, bilang saja, kami tidak akan bilang ini ke siapapun ".


Okita mendesak Yuiji untuk berbicara, semakin dirinya di desak, dia terpaksa memberitahukan yang sebenarnya terjadi.


Yuiji menghela nafas sebentar.


" Ada kemungkinan besar Profesor Yohi belum mati seutuhnya, tapi karena beliau tidak punya badan jadi dia merasuki tubuh Gilbert yang masih terselamatkan dan menjadikan dia boneka ".


" Tunggu, maksudnya yang melakukan hal ini adalah dia?! ".


Kaito kaget mendengar penjelasan dari Yuiji, sedikit tidak percaya tapi apa yang tidak mustahil.


" Lalu, apa yang harus kita lakukan untuk mencegahnya ".


" Kepala Sekolah belum melakukan perintah apapun, beliau hanya berpesan kepada saya untuk menutupi sementara dulu sampai polisi dan Profesor Tori telah memberikan informasi lebih lanjut ".


" Jadi untuk sekarang ini kami tidak perlu melakukan pergerakan apapun.... ".


" Benar, Tatsu.... untuk sekarang ini kita tidak perlu melakukan apapun, kita berfokus ke belajar saja ".


Bel istirahat berbunyi, anak-anak kembali ke kelas mereka masing-masing, begitu juga dengan mereka bertiga. Yuiji kembali untuk mengajar ke kelas lain. Mereka saling berpamitan.


Waktu terus berjalan dan tidak berasa mata pelajaran terakhir telah usai, suara bel pulang berbunyi.


Anak-anak yang melakukan piket hari ini, telah melakukan tugasnya, sedangkan yang tidak, segera pulang balik ke rumah masing-masing.


Hari ini kebetulan juga latihan sedang di liburkan, Kaito, Tatsu dan juga Okita sesuai kesepakatan mereka pergi bersamaan ke makamnya Arisa.


Tidak berasa juga sudah setahun kepergian Arisa, semenjak kejadian saat itu. Hal ini Okita tidak pernah lupa dengan insiden saat itu.


Sebelum mereka pergi ke makam, mereka sempat mampir dulu ke toko bunga.

__ADS_1


Kemudian, berjalan kembali menunju ke tempat lokasi. Awalnya mereka tidak menemukan keanehan, tapi di tengah perjalanan.


Ada seorang pria kantoran sedang berlari tergesa-gesa di depan mereka, beliau berlari berlawanan arah.


[ BRUK ]


Pria itu jatuh persis di hadapan mereka bertiga, reflek mereka menghampiri pria tersebut.


" Pak, bapak, pak, anda baik-baik saja? ".


Kaito berusaha memanggilnya dan membalikkan badan beliau untuk terlentang.


" Darah.. ".


Mereka bertiga melihat darah di sekujur jas kantoran beliau karena merasa ada yang tidak beres. Okita menyuruh Tatsu untuk menelepon polisi setempat dan beberapa menit kemudian, polisi datang.


Orang itu langsung dilarikan ke rumah sakit, sedangkan anak-anak itu sedang diinterogasi oleh seorang detektif.


Disaat mereka sedang diinterogasi, secara kebetulan ada Profesor Tori sedang bertugas dalam menangani kasus ini.


" Selamat sore anak-anak, sudah lama sekali kita tidak bertemu, kalian sudah pada besar ya sekarang ".


Profesor Tori muncul dan berjalan dari para kerumunan orang-orang. Beliau memakai jas putih panjang dan ********** kemeja kotak-kotak biru.


" Prof... ".


Profesor Tori mengambil alih seorang detektif untuk mencari tahu tentang kasus ini.


" Tuan, biar saya yang bicara dengan anak ini ".


" Baik, Pak ".


Detektif itu pergi meninggalkan mereka dan kembali berkumpul dengan para kepolisian, melanjutkan pencarian barang bukti.


" Tadi ... ".


" Tidak perlu, dijelaskan saya sudah paham kok... ".


Profesor Tori jadi salah fokus melihat bunga yang dipengang Okita.


" Kalian bawa bunga untuk siapa? ".


" Kami ingin pergi melayat ke makamnya Arisa, pas kami sedang berjalan malah menemukan kejadian seperti ini ".


Kaito mengeluh dihadapan beliau, dia hanya bisa tersenyum simpul.


" Cepatlah kalian melayat, hari juga makin sore, untuk hal ini biar saya tanganin dan juga saya lihat dari bercaknya, bukan punya dia, tapi melainkan orang lain. Dia berhasil kabur ".


Mereka bertiga lagi-lagi saling berpandangan, tapi karena hari makin sore, mereka harus bergegas untuk datang ke makamnya Arisa.


Mereka sempat kepikiran untuk bicara banyak ke Profesor Tori, tapi mereka sedang mengejar waktu jadi mereka berpamitan kepada beliau dan tidak lupa untuk mengucapkan terima kasih.


" Dasar anak-anak ".


Celetuk Profesor Tori melihat punggung mereka semakin jauh darinya sambil tersenyum.


Lalu, wajahnya berubah seketika menjadi serius dan dingin. Beliau kembali berfokus ke pekerjaannya dan kembali memikirkan kemungkinan besar Profesor Yohi masih hidup tapi di tubuh Gilbert.

__ADS_1


__ADS_2