Hello, My Heart

Hello, My Heart
Chapter 3


__ADS_3

Saat itu juga kelas XI Ipa 1 langsung sunyi senyap. Semua mata tertuju pada Gea.


Krik..... Krik.. Krik..


Yang ditatap oleh satu kelas hanya bisa tersenyum terpaksa. Dan Gea hanya bisa merutuki kebodohannya dengan ulahnya tadi. Semua siswa di kelas tahu siapa yang baru saja membuka pintu. Siapa lagi kalau bukan Pak Rangga. Guru terganteng dan terkiller pertama. Posisi kedua ditempati Pak Sam karena masih ada manis-manisnya sedikit. Inget sedikit. Kalau Pak Rangga itu pokoknya ter dari segala ter. Tergalak, terdingin, terjutek, terdatar ya sudahlah.


"Selamat siang anak-anak. Hari ini saya akan mengadakan tes matematika. Dipersilahkan memasukkan semua buku ke dalam tas. Di meja hanya ada alat tulis. Mengerti? “jelas Pak Rangga.


" Iya Pak! “jawab para siswa dengan lemah.


"Yah elah ini mah nyokap gue ketambahan telor ayam dari Pak Rangga buat di rumah. Tapi nyokap pasti marah telornya dari kertas begitu. Warna merah lagi. Nasib.. Hu.. Huh.. Hu.." batin Vika


"Njir ganteng-ganteng kejam. Coret lah dari daftar calon imam." batin Gea.


"Udah lah nyerah. Stok yang ganteng pada killer." batin Arline.

__ADS_1


Saat itu juga tes matematika dimulai. Suasana di kelas menjadi hening.


Ya guru matematika tadi adalah Rangga Winata. Anak dari Yohan Winata dan Vina Winata pemilik Wcorp. Rangga saat ini memang sedang menyalurkan hobinya pada matematika sambil membantu mengurus WCorp.


Di dalam kelas XI IPA 1 masih mencekam. Bulir keringat membasahi kening masing-masing siswa. Tersisa waktu 45 menit tapi lembar jawaban masih menunggu keajaiban untuk terisi.


"Soal apa hati cewe sich susah banget buat dimengerti."gerutu Veroland.


" ulangan apa ujian hidup ini berat banget. "batin Vika.


" Oke class. Sekarang kumpulkan!. " tegas Pak Rangga.


Para siswa hanya bisa pasrah. Satu per satu siswa mengumpulkan soal. Setelahnya mereka masih diberikan soal untuk latihan di rumah. Pelajaran matematika berakhir dan siswa diperbolehkan pulang.


Arline, Vika dan Gea tidak segera keluar dari kelas. Mereka masih ghibah soal matematika tadi.

__ADS_1


"Guys gimana nich ulangan matematika gue pasti jelek lagi aja. Ga keren banget. Masa iya gue dihukum lagi." ucap Vika. Memang dirumah Vika jika dia mendapat nilai jelek pasti dihukum oleh orang tuanya yg notabene papanya dosen dan mamanya guru TK.


"Sabar ya Vik. Gue juga lagi meratapi nasib gue. Gimana klo bokap gue ga mau biayain sekolah gue lagi. Nasib emang." ucapan diiringi helaan nafas panjang terdengar dari mulut Gea.


"Guys semangat ya. Gue juga klo pak Sam tau nilai gue jelek paati diceramahin panjang kali lebar.!" ucap Arline yg tidak menyadari kesalahan perkataannya.


"maksud lo apa Line. Kenapa Pak marah sama lo?" curiga Gea.


"Mak... Maksud gue klo nilai kita jelek pasti dipanggil guru konseling kan supaya tau masalah kita dimana. Gitu maksud gue." sela Arline.


"Oh gitu.. Ya udah yuk balik. Dah sepi guys. Sekolah apa kuburan sepi bener.?" merinding Vika.


"Ya udah yuk. Makanya ghibah mulu sich lo. Tar kesambet baru tau lo." ucap Gea


"Geaaaaaa gue kutuk jadi baso lo ya.!! “teriak Vika. Sambil berlarian mereka kelur dari kelas dan pulang.

__ADS_1


__ADS_2