I Love You, Mr. Bodyguard!

I Love You, Mr. Bodyguard!
01 | Bencana Terindah


__ADS_3

"Sudahi marahnya. Itu hanya perahu karet, tidak ada untungnya apa-apa buat kita."


Gadis jangkung berambut sepunggung ini coba membujuk pria datar yang tengah merajuk dengan berdiri di batu karang, berjarak lima meter dari dirinya.


"Dengar, kita hanya terdampar di pulau yang tidak ada penghuninya, dan kau menganggap ini masalah besar? Oh ayolah, ini akan jadi sangat seru! Kapan lagi coba, kita bisa terdampar begini?" celotehnya lagi dengan sedikit berteriak, untuk menyaingi suara deburan ombak menabrak karang.


"Nona Alishka, apa kau sudah gila?!" Pria bertampang datar itu angkat bicara.


"Sejak dulu," balas gadis bernama Alishka itu santai.


"Dengar, kita berada di sini gara-gara kau, dan kehilangan satu-satunya harapan pulang juga karena tingkah konyolmu itu! Maumu apa sebenarnya?"


"Mauku? Sederhana saja. Tetap berada di sini, di tempat yang indah ini, tempat yang mana hanya ada kita berdua. Dan, ya, mari kita membuat peradaban baru?" Alishka menaik-turunkan alisnya, membuat pria itu bergidik ngeri.


"Zavier, jangan payah! Pulau ini hanya kekurangan penghuni, dan sekarang sudah ada kita berdua. Kau jangan sok merajuk di situ. Lebih baik turun dan carikan aku makanan, aku lapar sekali." Kini Alishka mendudukkan dirinya di hamparan pasir putih bersih yang kering.


Zavier ternganga. Selama setahun terakhir bekerja sebagai bodyguard gadis menyebalkan itu, rasa-rasanya ini puncak dari sifat Alishka yang teramat menjengkelkan.


Pertama, gadis yang Zavier panggil 'nona' itu merengek pada ayahnya agar diizinkan ikut pesta di kapal pesiar. Setelah diberi izin dengan syarat dikawal Zavier, gadis itu malah berdrama mengancam akan lompat ke lautan karena ingin pergi sendiri.


Lagi dan lagi, Zavier sebagai bodyguard harus mengejar dan membujuk anak nakal itu. Sialnya, gara-gara minuman yang sudah Alishka campur dengan obat tidur, membuatnya ikut terjatuh saat mencoba membujuk Alishka.


Tak cukup sampai di situ, Alishka juga ikut-ikutan pingsan karena kebanyakan meneguk wine—sebab penasaran akan rasanya.


Penyebab mereka terdampar di pulau tak berpenghuni ini sungguh keren, bukan? Dan perahu karet yang menjadi penyebab Zavier kesal bukan main, entah mengapa mereka berdua bisa jatuh ke perahu itu. Entah kebetulan atau apa, tetapi Zavier bersyukur saja—sebab kejadiannya akan lebih buruk jika mereka langsung terjun ke tengah laut.


Kembali ke masa sekarang, Zavier tak tahu lagi harus bagaimana. Perahu yang—mungkin—bisa dipakai mencari jalan pulang, malah Alishka hanyutkan saat Zavier lengah sedikit.


Sekarang, entah bagaimana mereka berdua akan pulang. Lihat saja gadis itu, seperti anak kecil tak berdosa, dia malah dengan riangnya bermain kejar-kejaran dengan ombak.


"Zavier, sini! Daripada kau marah-marah terus begitu, lebih baik bermain kabaddi dengan ombak, seperti di film!" Alishka sedikit berteriak mengajak Zavier.


Dan jelas saja, Zavier tak akan mau. Daripada bermain-main tak berguna yang bisa menghabiskan tenaga, akan sedikit lebih baik jika dia memikirkan bagaimana cara untuk pulang.


"Ah, andai aku bawa ponsel, aku akan selfie di sini, merekam untuk kutunjukkan ke kak Alisha, kak Alisha pasti iri. Mana pemandangannya bagus, lagi," oceh Alishka.


Zavier yang mendengar itu hanya bisa geleng-geleng kepala. Sesenang itukah Alishka terdampar?


"Apa buat bendera saja, ya? Siapa tahu ada kapal yang lewat sini dan bisa melihat kami, Tuan Agastya juga pasti sedang mencari putri nakalnya ini," gumam Zavier.


"Zavier! Jangan bicara sendiri seperti orang gila di situ! Buat hidupmu berguna dengan mencarikanku makanan!"


Teriakan cempreng Alishka lagi-lagi terdengar. Sudah cukup, lebih baik Zavier turuti kemauan gadis menyebalkan itu daripada telinganya sakit mendengar suara tak bermutu milik Alishka.


"Zav---"


"Iya!" sahut Zavier geregetan.


***


Tak berkedip Zavier menyaksikan bagaimana si menyebalkan Alishka memakan kelapa yang ia bawakan. Dua buah, dan keduanya hampir habis.


"Mau?" tawar Alishka sambil menyodorkan potongan daging kelapa di tangannya.

__ADS_1


"Tidak, kau makan sendiri saja," Zavier mendorong tangan Alishka ke mulut gadis itu sendiri.


"Memangnya kau tidak lapar? Sudah semalam dan hampir malam lagi kita di sini," kata Alishka.


"Aku tidak penting, yang penting kau kenyang dulu," balas Zavier.


Alishka berhenti menyuapkan kelapa ke mulutnya; menatap Zavier tak berkedip.


"Kenapa begitu?"


"Aku ini bodyguard-mu, tentu saja aku harus mengalah, kan?" Zavier mengukir senyum teduhnya yang jarang-jarang keluar itu untuk Alishka.


"Baiklah, aku sudah kenyang, sekarang kau makan." Kelapa yang tinggal setengah itu didorong ke arah Zavier oleh Alishka.


"Tidak, kau hanya mengalah. Habiskan saja, aku bisa cari lagi nanti," tolak Zavier.


"Sudahlah makan saja, ini perintah tuanmu. Tidak lucu jika kau nanti kenapa-napa karena kelaparan. Rumah sakit bukan hanya jauh, tapi tidak ada," tutur Alishka.


"Baiklah, Tuan." Zavier meraih kelapa itu, kemudian memakannya. Meski tinggal sedikit, setidaknya itu lebih baik daripada tidak makan sama sekali.


"Menyenangkan, bukan, terdampar seperti ini?" ucap Alishka sembari memandang jauh ke lautan biru di depannya.


Kata-kata itu seolah mengingatkan Zavier akan keberadaan mereka yang berada di antah-berantah. Jika Alishka senang berada di sini, maka Zavier kebalikannya. Secepat mungkin pria dengan sorot mata tajam itu ingin pulang.


"Tapi aku ingin pulang," kata Zavier.


"Pulang atau tidak, apa bedanya? Pekerjaanmu sepanjang hari hanya menjagaku. Mau di sini, atau kita pulang juga sama saja, kau mengikutiku ke mana pun. Jadi, tidak ada bedanya, kan? Dan bukankah lebih baik di sini saja? Suasananya tenang, tidak ada gangguan," celoteh Alishka agak ketus. Ia sama sekali tak suka saat Zavier membahas soal pulang.


"Ada bedanya," Zavier berucap setelah sepersekian detik diam.


Zavier melempar kelapa yang sudah tak bisa lagi dimakan itu ke pepohonan di belakangnya. "Janji," ucapnya pelan dengan kepala tertunduk.


"Janji apa? Katakan yang jelas, aku tidak mengerti kode," pinta Alishka, tatapannya difokuskan pada tangan Zavier yang tengah menggenggam pasir.


"Aku harus pulang demi Arshia," ujar Zavier. Bersamaan dengan itu, pasir yang ia genggam terlalu erat keluar perlahan dari sela-sela jarinya.


"Siapa Arshia?"


"Cintaku."


Embusan napas berat Alishka terdengar. Ia kemudian memilih bertanya lagi, "Kenapa cintamu?"


"Ulang tahun. Aku janji akan datang di hari ulang tahunnya," jeda beberapa detik, "sudah satu tahun aku tidak pulang, dan satu tahun itu pula kami tidak bertemu sama sekali," paparnya.


Untuk pertama kali pria itu berbicara panjang dengan kalimat yang baik. Di bibirnya pun terukir sebuah senyum tipis, seolah membayangkan gadis bernama Arshia yang ia sebut sebagai cintanya.


"Oh," balas Alishka cuek. Sesungguhnya ia tak suka dengan semua ini. Arshia, siapa itu Arshia? Kenapa dia baru tahu bodyguard-nya itu punya kekasih?


Zavier mengalihkan tatapan pada Alishka yang kini mencoret-coret pasir dengan jari-jari panjangnya.


"Aku juga akan mengajakmu bertemu Arshia nanti. Dia sangat baik, dia pasti akan senang bertemu denganmu," tutur Zavier tersenyum.


"Tidak, terima kasih," sahut Alishka cepat.

__ADS_1


"Sayang sekali, padahal aku ingin sekali mempertemukanmu dengan Arshia-ku."


"Kubilang tidak perlu artinya tidak!" bentak Alishka.


Gadis berperawakan tinggi kurus itu langsung bangkit dan menjauh dari Zavier. Ya, ya, Alishka tahu Arshia itu cintanya, miliknya, tetapi haruskah diperjelas? Arshia-ku. Cih, menyebalkan!


"Memang secantik apa si Arshia-Arshia itu, sampai bisa merebut hati Zavier? Dan baik, apa aku kurang baik? Sebenarnya bagaimana tipe gadis yang pria datar itu cari? Kurang sempurna apa coba aku?" gerutunya sambil memandang Zavier yang kini malah berbaring di hamparan pasir.


"Tidak, bagaimanapun caranya, aku harus mencegah Zavier untuk pulang. Zavier tidak boleh menemukan jalan pulang, tidak boleh! Dia harus di sini saja bersamaku." Tatapan tajam Alishka tak teralihkan dari Zavier, yang kini terlihat hendak membuat bendera dari jas hitam yang pria itu pakai.


"Nona Alishka, maafkan aku, kalau kau tidak mau, tidak apa-apa," bujuk Zavier yang mendadak jadi ramah plus ceria setelah mengingat kekasihnya.


Oke, Alishka tidak boleh terlihat marah. Dia harus menyesuaikan dengan keramahan Zavier yang jarang-jarang terjadi.


Alishka pun menyeret kakinya ke arah Zavier. "Maafkan aku, ya. Aku sudah membentakmu," tutur Alishka.


"Tidak, tidak, tidak masalah, biasanya aku juga tidak pernah ramah padamu," timpal Zavier. Nah, lihat, dia mengaku sendiri tidak pernah ramah.


"Dan itulah yang membuatku menyukaimu, Mr. Bodyguard," gumam Alishka, pelan nyaris tak terdengar.


"Kau mengatakan sesuatu?" Zavier menatap Alishka.


Alishka menggeleng dan tersenyum. "Aku cuma bilang, sebentar lagi malam. Lihat, mataharinya sangat indah, kan?" tunjuknya pada sang mentari yang tampak hampir tenggelam di lautan. Cahaya jingganya menyinari apa saja. Menyilaukan, tetapi indah.


"Benar," Zavier meletakkan kayu yang tadi akan ia jadikan tiang bendera. "Buat benderanya besok saja."


"Kira-kira di sini dingin tidak, ya? Kalau iya, bisa mati kedinginan aku," Alishka memandangi tubuhnya yang hanya mengenakan gaun selutut tanpa lengan, karena semalam ia memang berada di pesta. "Tahu akan terdampar begini, aku akan siap sedia jaket tebal, selimut, tenda, makanan yang banyak, ponsel, semuanya," lanjutnya mengoceh seperti biasa.


"Tenang saja, kita bisa berdoa agar Tuhan mengirim seseorang untuk menyelamatkan kita. Ayahmu juga pasti sudah mencarimu sekarang. Aku yakin, kita tidak akan lama berada di sini," tutur Zavier.


"Kalau begitu doa kita bermusuhan. Aku tidak mau pulang cepat, Zavier! Aku ingin di sini saja!" Alishka menekan setiap kata-katanya kesal.


Apa pria itu tidak bisa mengerti? Alishka ingin menghabiskan waktu berdua dengannya. Haruskah Alishka berteriak agar pria itu tahu?


Zavier duduk dengan jasnya yang ia taruh di pangkuan. Untuk sekali lagi pria itu tersenyum. Kali ini sambil memandangi matahari yang beberapa menit lagi akan hilang dari pandangan.


"Arshia sangat menyukai matahari terbenam. Andai dia di sini, dia pasti sangat senang."


Dan dengar, pria yang sebelum ini sangat dingin sampai tak bisa berbicara lebih dari 5 kata, kini sekalinya bicara malah membuat telinga Alishka panas rasanya.


"Kurasa semua gadis menyukai matahari terbenam. Aku, kak Alisha, bahkan Mom dan Dad pun suka matahari terbenam. Apa seharusnya kuajak mereka ke sini juga?" sindir Alishka.


"Haha, tidak. Bukan begitu maksudku. Aku hanya teringat Arshia setiap kali melihat matahari terbenam. Bagaimana lagi, kami sudah lama tidak bertemu, aku sangat merindukannya, dan mungkin dia juga merindukanku."


Alishka mendengus. Berapa kali saja ia mendengar kata Arshia-Arshia terus hari ini? Pokoknya, dia harus mencegah itu semua berlanjut.


"Zavier, boleh aku minta sesuatu padamu?"


Zavier memandang gadis yang terduduk 30 senti darinya itu. "Apa itu?"


"Tolong jangan kau sebut nama Arshia terus-menerus."


Zavier mengernyit. "Kenapa?"

__ADS_1


"Karena aku tidak suka."


...*****...


__ADS_2