
Atas desakan Zareen, Agastya mengirim beberapa kapal ke perairan sekitar resort untuk mencari keberadaan Alishka, tentunya bersama pihak resort yang ikut bertanggung jawab atas hilangnya gadis itu.
Zareen sangat takut kehilangan putrinya itu. Entah di mana keberadaannya sekarang. Dan yang membuat ketakutan Zareen berlipat-lipat adalah: bagaimana jika Alishka mendarat di pulau tak berpenghuni? Akan bagaimana nasib putrinya itu nanti?
"Kapal-kapal itu sudah mendatangi beberapa pulau, tetapi tidak ada Alishka ataupun Zavier," ujar Agastya.
"Sebelum putriku ketemu, jangan biarkan kapal-kapal itu pulang. Aku ingin hari ini juga Alishka ditemukan," timpal Zareen.
Agastya hanya bisa mengembuskan napas berat. Sifat keras kepala istrinya yang luar biasa itu menurun pada kedua putrinya, terutama Alishka. Jadi, wajar. Saat Zareen Kecil hilang, Zareen Besar tak akan bisa tenang barang sedetik saja.
"Pa, tambah satu kapal lagi. Tidak usah yang besar, yang kecil saja biar bisa lebih cepat menemukan Alishka," pinta Zareen lagi.
"Semua kapal itu sudah cukup, Ma," balasnya. Pria itu sebenarnya lelah. Datang menyewa resort mahal untuk menuruti keinginan Alishka sekaligus berlibur melepas lelah. Alih-alih lelahnya hilang, beban baru malah datang dan membuatnya semakin kacau.
***
Alishka tidur nyenyak dengan tangan Zavier sebagai bantal. Zavier sendiri ... pria itu kembali ke sifat aslinya yaitu datar—menatap wajah terlelap gadis muda yang berada tepat di sampingnya nyaris tanpa jarak.
Mau menolak permintaan Alishka, Zavier tak sanggup. Di tempat yang sama sekali tak berpenghuni ini, Zavier tak bisa tahu apa yang mungkin terjadi. Sebagai bodyguard Alishka, memang sudah tugasnya menjaga gadis itu, kan?
Angin semakin bertiup dingin. Cahaya remang dari rembulan meredup setiap beberapa detik sekali sebab tertutup awan. Tidak tahu berapa lama lagi pagi tiba, dan Zavier memutuskan untuk tetap terjaga demi menjaga Alishka.
'Kalau saja perahu karet itu tidak hanyut, mungkinkah kami bisa pulang?' Zavier bertanya-tanya dalam hati.
'Apa pulau ini jauh dari resort? Tapi tidak mungkin. Perahu karet itu mustahil bisa membawa kami pergi jauh dari resort. Dan ... jika tidak ada yang menemukan kami di sini ... akan bagaimana nasib kami nanti?' Zavier terus membatin sendiri, tentu karena Alishka sudah tidur.
"Enghh ..." Lenguhan terdengar dari Alishka yang sedang mengubah posisi.
Matanya yang cokelat gelap mengedip pelan sebelum akhirnya terbuka lebar. "Kau tidak tidur?" tanyanya dengan suara agak serak.
"Tidak," Zavier menjawab dengan suara dinginnya. Ia hanya 'menghangat' saat teringat dan bersama Arshia.
"Aku mau pipis," rengek Alishka sembari mendudukkan dirinya.
"Lalu?"
"Antar," cicit Alishka.
Alis Zavier terangkat sebelah. "Ke mana?"
"Pipis!" jerit Alishka sebal.
Tangan Zavier terangkat otomatis menepuk keningnya. "Tidak malu, kau?"
"Maksudku, mengantarnya di kejauhan, jangan dekat-dekat. Ini tepi laut, bagaimana kalau tiba-tiba muncul hiu dan menelanku?" oceh Alishka asal. Oh ya, ini salah satu sifatnya yang menyebalkan selain ketus dan galak: bicara dulu, tidak usah dipikir kemudian.
"Baiklah, ayo." Zavier bangkit dan melompat turun lebih dulu dari karang setinggi 70 senti meter itu.
__ADS_1
Mereka berdua berjalan beriringan menyusuri pantai yang gelap. Sekitar 50 meter berjalan, Alishka berhenti mendadak yang untung saja Zavier awas hingga tak terjadi tabrakan.
"Pipis di mana?" tanya Alishka.
"Terserah. Di air situ, di balik karang sana, atau mana saja terserah," jawab suara galak Zavier.
"Ya sudah, kau tunggu sini. Aku mau pipis di balik batu karang itu. Dan ingat, jangan mengintip!" Alishka mengancam Zavier sebelum berlari kecil meninggalkan pria yang tak lagi ramah itu.
Mata tajam Zavier memandang sejauh-jauhnya ke lautan luas. Nihil, alih-alih terlihat lampu-lampu dari pulau lain, malah ombak yang sibuk saling mengejar.
"AAAAA!!!"
Teriakan itu menyentak Zavier. Kelabakan, ia langsung bergerak mencari sumber suara.
"Nona Alishka ...?" panggilnya.
"TOLONGGG!" Alishka melompat dari balik bebatuan dan berlindung di belakang tubuh tegap Zavier.
"Ada apa?" Zavier jadi ikut gugup sendiri.
"Itu ... itu ..." Alishka menunjuk karang tempatnya buang air kecil barusan.
"Apa? Ada apa di sana?"
"Kepiting," cicit Alishka, suaranya sarat akan rasa takut.
Alishka mengangguk pelan, kepalanya menunduk, sementara bibirnya mengerucut.
"Makanya pipis besok saja. Syukurlah kepiting itu tidak menggigit," kata Zavier angkuh.
"O hallo! Pipis besok saja? Kau mau aku mati gara-gara menahan air kencing, ha?! Dan, ya, kepiting bukan menggigit, tapi mencapit," balas Alishka terkesal-kesal. Bagaimana mungkin dia bisa tahan sampai besok? Besok masih berapa jam lagi saja tidak ada yang tahu.
Gadis itu menyeret langkahnya kembali ke tempat awal, duduk di dekat karang sambil memeluk lutut dengan bibir cemberut.
"Tidur lagi sana," suruh Zavier.
"Mood tidurku hilang, gara-gara kau!" tunjuk Alishka pada pria bertubuh tegap itu.
'Dasar kepiting pengacau,' rutuk Zavier, tapi dalam hati. Pria itu lalu duduk persis di sebelah Alishka.
"Kau tidurlah," Alishka membuka suara.
Zavier menggeleng. "Kau saja."
"Aku sudah tidur. Kau juga pasti lelah 'kan, menjagaku? Aku tidak mau kau sakit, nanti aku lagi yang repot," celoteh Alishka.
Zavier bergeming.
__ADS_1
"Begini saja, kita buat perjanjian. Saat kau tidur, aku yang menjagamu, sebaliknya, saat aku tidur, kau yang menjagaku, mau?" Alishka mengulurkan tangan.
"Tidak," kata Zavier. "Aku bodyguard-mu, bukan kau yang bodyguard-ku. Tidak ada ceritanya pengawal malah minta dijaga yang dikawal."
Alishka terkekeh. "Sekarang keadaannya beda. Tanpa makanan dan air, kita harus bisa bertahan hidup hingga waktu yang tak ditentukan."
"Kelapanya masih banyak," Zavier menunjuk pohon kelapa tak jauh dari mereka dengan dagunya.
"Hm." Alishka membalas singkat, selanjutnya diam.
"Zavier, Zavier," Alishka menepuk-nepuk lengan Zavier.
"Apa?"
"Lihat itu," jarinya menunjuk sebuah arah, "ada cahaya jingga, itu artinya pagi sebentar lagi."
"Alhamdulillah," ucap Zavier. "Semoga akan ada kapal besar lewat sini, aku tak sabar ingin pulang."
'Kau kira hanya kau? Aku sebenarnya juga ingin, tapi ya ... bagaimana lagi? Pulang sama saja membuat kita tak bisa sedekat ini ... dan akan banyak orang pastinya,' batin Alishka. Matanya tak juga lepas dari Zavier yang kini tengah menyembunyikan wajah di balik tangan yang menumpang pada lutut.
'Aku ingin kita terus di sini, Mr. Bodyguard. Aku ingin kita menghabiskan waktu berdua ... karena aku mencintaimu,' jeda beberapa detik, 'aku berdoa, semoga tidak akan ada yang datang ke sini ... setidaknya sampai kau membalas cintaku.'
"Kenapa menatapku terus?"
Alishka terkesiap. Waktu telah berganti, dan ia tak sadar menatap Zavier selama itu. Memangnya sudah terlalu lama kah?
"Memangnya kenapa? Tidak boleh?"
"Tidak, nanti kau jatuh cinta, lagi."
Alishka tersenyum getir, 'Aku memang sudah jatuh cinta padamu, Mr. Bodyguard-ku.'
"Heh, jangan dilanjutkan, aku sudah ada yang punya," peringat Zavier.
Senyum getir Alishka dalam sedetik berubah jadi sinis. "Lalu kenapa kalau sudah ada yang punya? Kau kira aku tidak bisa merebut?"
Zavier terkekeh. "Bercandamu bagus," pujinya.
"Aku seri---"
"Iya, aku tahu kau bisa dapatkan segalanya," potong Zavier.
"Dan---kapal! Itu kapal!" Zavier bangkit dan berlari-lari sambil melambaikan tangan ketika melihat benda berbentuk mirip kapal yang bergerak di kejauhan. "Tolong! Kami di sini ... tolong!!"
"TOLONG! KAMI DI SINI! TOLONG!" Pria itu berteriak keras-keras.
"Sial!" umpat Alishka. 'Tidak, aku harus lakukan sesuatu, kapal itu tidak boleh datang ke sini,' lanjutnya dalam hati.
__ADS_1
***