I Love You, Mr. Bodyguard!

I Love You, Mr. Bodyguard!
09 | Pulang


__ADS_3

Kicauan riang burung menyambut pagi. Senyuman Zavier merekah cerah, secerah mentari di ufuk timur. Tidak tahu apa yang habis pria itu lakukan, yang pasti ia kelihatan sangat senang.


Secercah sinar silau membangunkan Alishka. Berbeda dari Zavier yang tidak tidur, Alishka malah nyenyak sekali semalam.


"Selamat pagi, Nona Alishka~" sapa Zavier ramah.


Alishka mengubah posisinya menjadi duduk, matanya memicing menatap Zavier, "Pagi," balasnya ragu.


Iya, ragu. Kenapa pagi-pagi begini pria itu terlihat sangat senang? Apa akan ada helikopter yang menjemputnya nanti? Atau seseorang sudah datang ke sini untuk membawa mereka pulang? Oh tidak-tidak, jangan sampai ada orang yang datang kemari. Kalau iya, bahaya!


"Pagi ini kita sarapan ikan lagi, ya?" ucap Zavier.


"Tentu saja. Pizzanya kan sudah habis semalam," balas Alishka tanpa mengalihkan tatapannya dari Zavier yang sedang menenteng ikan.


Sekarang Alishka mengerti, pria itu kelihatan senang karena dapat ikan banyak?


"Nona Alishka, kau pernah mengirim surat lewat botol?" tanya Zavier sambil mengipasi ikan bakar dengan box pizza.


Alishka mengernyit. "Botol?"


Zavier mengangguk semangat. "Iya, botol."


"Hey, memangnya tidak ada ponsel? Kenapa juga harus pakai botol," Alishka tertawa.


"Memang tidak ada ponsel," kata Zavier.


"Hah?" Alishka berkedip-kedip tak mengerti.


"Iya. Memangnya di sini ada ponsel? Tidak, kan? Makanya, semalam aku buat surat dari kertas bungkus pizza, lalu memasukkannya dalam botol minuman soda, dan mengirimkannya lewat ombak. Siapa tahu, surat itu nantinya diterima ayahmu, ibumu, kakakmu, atau siapa saja, yang akhirnya ke sini dan menolong kita," jelas Zavier enteng.


Alishka melongo. Jadi ini penyebabnya pria itu terus-menerus tersenyum? Licik sekali. Tapi ... tidak mungkin juga botolnya akan sampai ke tangan orang-orang. Bisa saja ombak membawanya ke tengah laut yang jauh, atau malah tenggelam. Ingat, tidak ada yang mustahil di dunia ini.


Tunggu, jika tidak ada yang mustahil, artinya mungkin juga surat botol itu akan sampai ke tangan ayah, ibu, atau kakaknya? Sial!


"Kapan kau buat surat itu?" tanya Alishka tak suka.


"Semalam, saat kau jalan-kalan ke alam mimpi," jawab Zavier santai.


Alishka mencebik. Tahu Zavier akan memanfaatkan sampah-sampah itu, sebelum tidur Alishka akan menghanyutkannya ke lautan, sama seperti perahu karet beberapa hari lalu.


"Lautan ini luas. Yakin sekali kau, suratmu itu akan sampai ke tangan Dad?" ejek Alishka.


"Aku yakin, karena ada seseorang yang bilang padaku, katanya 'tidak ada yang mustahil di dunia ini'. Jadi, meski hanya 0,05 persen, aku yakin, suratku bisa diterima orang," tutur Zavier santai.


Alishka mendengus, seseorang yang bilang padaku, langsung saja bilang kalau itu kata-katanya kemarin.


***


Arshia yang murung telah kembali ke Arshia yang semula, yang ceria, dan seperti tak punya beban hidup. Meski masih tidak ada kabar, paling tidak ia sudah tahu keberadaan Zavier.


Rhea dan Aditya turut senang. Meskipun didasari kebohongan, setidaknya keceriaan adik mereka telah kembali. Biar sisanya dipikirkan nanti, toh Zavier juga pasti ketemu, kan?


"Kakak, jangan lupa perbaiki ponselku, ya," ucap Arshia di sela-sela mengunyah sarapan.


"Ya, tentu saja. Tapi kalau jadinya lama, jangan salahkan aku," balas Aditya.


"Yang penting bisa diperbaiki," kata Arshia santai.


"Oh ya, Arshu, besok kan ulang tahunmu, kau mau pesta yang bagaimana?" tanya Rhea.


Arshia spontan menghentikan kegiatan mengunyahnya. "Tidak usah pestalah, Kak. Lagi pula tidak ada Zavier."


"Seharusnya dia akan melamarmu besok, kan?"

__ADS_1


"Ya, seharusnya, tapi kenyataannya dia malah menghilang. Oke, tidak masalah, masih ada tahun depan. Sekalian langsung menikah saja seperti kalian, pernikahan kilat," Arshia tertawa. "Oke, Kakak-kakakku, aku berangkat dulu."


"Iya, hati-hati." Rasanya kosakata Rhea sudah habis selain itu. Keceriaan Arshia membuatnya khawatir saat kapan saja adiknya itu tahu yang sebenarnya.


"Semoga Zavier cepat ketemu dan bisa kembali ke sini," harap Aditya.


***


Pagi berganti malam, dan malam berganti lagi ke pagi. Bersama dengan harapan yang besar dari surat dalam botol itu, waktu terasa lambat dan mendebarkan bagi Zavier. Pria itu kini tengah berdiri di atas batu karang, menunggu keajaiban dari surat yang ia tulis.


Dua puluh meter dari Zavier berdiri, Alishka merengut menatap pria itu. Sepertinya Zavier mulai gila lagi—karena pria itu terus-menerus tersenyum seolah pria paling bahagia di seluruh alam semesta.


"Kenapa dia sebahagia itu? Suratnya sudah dapat balasan kah? Atau ... ya, ini pasti ulang tahun Arshia? Tapi ... kenapa dia sangat bahagia? Seharusnya kan sedih tidak bisa pulang. Apa jangan-jangan Zavier itu peramal? Dia sudah tahu hari ini akan ada seseorang yang datang menjemput kami?" gumam Alishka pada dirinya sendiri.


"Tidak, tidak mungkin. Lautan ini kan luas, mana mungkin surat yang dikirim Zavier lewat botol itu bisa sampai ke tangan orang-orang? Dasar konyol," Alishka tertawa sendiri.


Ombak bisa membawa botol itu ke mana saja, kalau misal terdampar di pantai, siapa yang berminat mengambil? Misal diambil pun, tidak mungkin juga orang yang mengambil akan repot-repot mencari sampai ke sini. Hanya ada satu kata: mustahil. Dan, oke, mulai sekarang, bukan lagi 'tidak ada yang mustahil di dunia ini', melainkan 'mustahil itu ada'.


Sekarang, dengan senyum yang lebih lebar dari Zavier, Alishka melenggang santai menghampiri pria itu.


"Zavier!" sapanya riang.


Zavier hanya membalas dengan senyumnya yang melelehkan hati Alishka.


"Sekarang Arshia ulang tahun?" tanya Alishka.


Zavier mengernyit sebentar. "Iya. Kenapa bertanya itu?"


"Melihatmu bahagia, aku jadi menebak hari ini ulang tahun Arshia," papar Alishka.


"Iya, memang benar hari ini ulang tahun Arshia. Rasanya ... aku tidak sabar untuk segera pulang dan memberinya kejutan, hadiah, semuanya," ujar Zavier yang tatapannya jatuh ke lautan luas, dengan senyum yang masih melekat di bibir.


Dua orang itu selayaknya bertukar ekspresi saat ini, Zavier senyam-senyum, sedang Alishka diam datar.


Alishka menatap Zavier, "Hujan?"


Zavier langsung menarik Alishka turun dari karang. "Pergi dari sini!"


Dalam sepersekian detik saja, hamparan pasir yang semula kering langsung basah. Buliran-buliran air yang besar menghujam bumi. Tidak ada tempat berteduh, selain di bawah dedaunan kelapa—yang semoga tidak akan ada drama pohon tumbang atau kejatuhan kelapa.


Kedua orang itu sibuk dengan dirinya sendiri-sendiri. Alishka memeluk tubuh berlapis gaunnya. Iya, dia tidak lagi mengenakan jas milik Zavier. Sementara Zavier, pria itu sedikit lebih beruntung daripada Alishka. Memakai kemeja sekaligus jas, dan bahkan celana panjang.


Sekitar 5 menit berlalu, Zavier seolah baru ingat ada sosok lain di sampingnya: Alishka. Ia lantas melepas jas, kemudian membentangkannya di atas kepala mereka sebagai payung.


Alishka mendongak, kemudian menatap Zavier. "Kurang romantis!" teriaknya.


"Apa?" Zavier mendekatkan telinganya pada Alishka, karena suara Alishka kalah besar dari hujan.


"Kurang romantis!" Kini Alishka berteriak tepat di dekat telinga Zavier.


Zavier menjauh lagi; wajahnya kembali ke ekspresi kesukaannya itu. Iya, datar.


Sementara itu, senyum jahil terukir di bibir Alishka. Dalam 2 detik, ia sudah berbalik menghadap Zavier dan membuat pria itu juga menghadapnya. Sedang jas Zavier tetap bertahan sebagai payung keduanya.


"Nah, sudah seperti RJ dan Aarohi di film Aashiqui 2," kata Alishka riang.


‘Lihat, mereka romantis sekali, kan? Aaaaa, kapan-kapan saat hujan pokoknya kita harus meniru mereka!’


Sepenggal perkataan Arshia tiba-tiba terngiang di telinga Zavier. Arshia selalu ingin meniru adegan hero dan heroine di film itu. Namun, belum kesampaian hingga detik ini. Bagian konyolnya, dia malah menirukan adegan impian Arshia dengan Alishka, bukan Arshia yang adalah kekasihnya.


Zavier menggeleng menyadarkan diri. Tak mau ia sampai salah lihat lagi dan mengulangi kesalahan yang sama.


"Pakai sendiri saja," Zavier melepas tangannya yang ia gunakan untuk memegangi jas itu.

__ADS_1


"Ish," desis Alishka. Gagal sudah romantis-romantisan seperti di film.


***


Pagi berganti ke malam, malam berganti lagi ke pagi, hingga berkali-kali. Genap sudah satu minggu mereka berada di pulau asing ini. Sampai detik ini, tidak ada kapal atau apa saja yang datang. Alishka duga, surat yang Zavier buat dimakan ikan hiu atau piranha—karena tidak sampai ke tangan siapa pun.


Sekarang kondisi terbalik: Alishka yang kesenangan, dan Zavier yang sedih.


Satu minggu di tempat yang sama, dengan pakaian yang sama, makanan yang sama: kelapa atau ikan; tidak bisa tidur dengan nyaman, bahkan hujan pun kehujanan. Konyolnya, Alishka sangat betah, seolah tempat ini adalah surga.


Lihat, gadis itu sekarang tengah mencuci jas Zavier yang seolah sudah berpindah hak kepemilikan menjadi miliknya.


"Nanti kita pikirkan bagaimana cara membuat detergen, cara membuat baju, pokoknya semua. Kan, kita tidak mungkin selamanya pakai pakaian ini," oceh Alishka sambil memeras air di jas itu.


"Oh, ya, nanti malam, kita rayakan satu minggu berada di sini," lanjutnya.


"Terserah," kata Zavier jengah. Sudah cukup, biarkan saja gadis itu mau apa, dia tidak peduli.


Sekarang Zavier ingin berendam di perairan, mungkin itu bisa membuatnya lebih waras sedikit.


Tepat di perbatasan pasir dan air, Zavier berhenti. Mata tajam pria itu menyipit memandang ke kejauhan. Seperti ada sesuatu menuju kemari, dari bentuknya ... mirip kapal?


Apa?


Kapal?


Apa mungkin ... surat kertasnya sudah diterima oleh ayah Alishka? Atau mungkin orang yang mencari mereka? Kapal itu benar-benar berjalan ke sini, sepertinya itu memang bala bantuan.


"Alishka! Alishka!" teriak Zavier heboh memanggil Alishka.


"Apa?" Suara Alishka terdengar malas.


"Lihat itu, ada kapal datang kemari!" tunjuk Zavier.


Dalam dua detik saja Alishka sudah berada di samping Zavier. Terlihat jelas kedua mata gadis itu terbelalak lebar.


Zavier tersenyum miring. "Kehebatan surat botolku," sombongnya.


Alishka memberengut. "Bukan suratmu, tapi ayahku, itu pasti!"


"Apa pun itu, kita akan pulang," kata Zavier tak sabar.


'Bagaimana bisa ada kapal datang ke sini? Apa iya karena suratnya Zavier? Surat botol bodoh itu, bagaimana bisa diterima orang? Aku tidak mau pulang ...,' rengek Alishka dalam hati.


Detik demi detik terasa cepat. Sesingkat membalikkan telapak tangan, kapal itu sudah berhenti di depan Alishka dan Zavier.


"Tuan Agastya," sebut Zavier senang.


"Alishka ...!" Zareen langsung berlari menghampiri Alishka dan memeluk putrinya itu.


"Ya Tuhan, Sayang .... Kau baik-baik saja? Tidak ada yang luka, kan? Apa ada yang sakit? Kau baik-baik saja, kan? Baik-baik saja?" cecar Zareen penuh kekhawatiran.


"Mom, aku baik-baik saja," Alishka tampak kesal.


"Zavier, kau baik-baik saja?" tanya Agastya pada Zavier.


"Iya, Tuan, saya baik-baik saja," jawab Zavier. "Terima kasih sudah datang ke sini menjemput kami."


"Terima kasih kembali sudah menjaga Alishka. Satu minggu kalian berada di sini, aku tahu itu tidak mudah, apalagi Alishka ... kita tahu bagaimana sifatnya. Sekali lagi terima kasih, Nak," tutur Agastya.


"Tidak, Tuan. Nona Alishka sama sekali tidak merepotkan," balas Zavier sambil melirik Alishka sedikit, 'tapi sangat merepotkan,' lanjutnya dalam hati.


"Ya sudah, ayo kita kembali. Kalian pasti sangat lelah."

__ADS_1


***


__ADS_2