
Matahari belum terlalu tinggi, tapi Zavier sudah menjemur kemeja dan celana formalnya di batu karang. Ia sendiri hanya memakai celana pendek boxer dengan undershirt.
"Entah kapan itu akan kering," gumamnya malas.
"Titip," Alishka muncul tiba-tiba sambil menaruh jas milik Zavier yang semalam ia pinjam, dan kini dalam keadaan basah juga gara-gara tenggelam.
"Dress-ku juga basah, aku harus bagaimana?" Alishka kebingungan.
"Lepas, jemur," balas Zavier tanpa menoleh.
"Aku tidak bawa baju ganti, bodoh!"
"Kau pikir aku bawa?"
Alishka tersentak. Penyakit ramah Zavier sudah benar-benar hilang, sekarang hanya tinggal penyakit galaknya.
"Lepas, lalu jemur. Masih ada banyak tempat, kau bisa pakai yang lain kalau malu untuk kulihat, mengerti?"
"Hmm." Alishka beranjak ke sudut lain di pulau ini.
Pulau yang entah apa namanya ini mungkin saja kecil, tapi untuknya dan Zavier yang hanya dua orang, sudah lebih dari besar.
Tangan Alishka bergerak ke arah ritsleting gaunnya yang berada di belakang. Sejenak, ia berhenti. Bola matanya memutar seperti tengah berpikir.
Lima detik kemudian, senyuman lebar terbit di bibirnya. Bergegas ia melangkah ke sisi timur pulau ini—tempat Zavier duduk menunggu kemeja dan celananya kering.
"Zavier!" panggilnya setengah berteriak.
"Apa?" Zavier yang duduk mendongak menatapnya tanpa minat.
"Bisa bantu aku?" Alishka bertanya seramah mungkin.
"Bantu apa?"
Gadis itu pun duduk di hadapan Zavier, memunggungi pria itu.
"Lepaskan ritsletingnya," pintanya.
Dengan wajah yang masih sama datarnya, tangan Zavier bergerak ke arah di mana ritsleting itu terpasang. "Kalau tidak bisa melepas, seharusnya jangan pakai baju ini," ucapnya tak ramah.
"Lalu apa? Aku harus pakai baju ala-ala bodyguard sepertimu?" balas Alishka ketus.
"Yaa ... tidak juga," timpal Zavier. "Sudah. Sekarang pergi dari sini dan jemur gaunmu," lanjutnya.
"Tentu saja, terima kasih, Tuan Bodyguard~" Alishka berdiri sambil senyum-senyum.
Entah urat malunya yang juga terdampar di pulau lain lagi atau bagaimana, ia langsung melepas gaunnya tepat di depan Zavier. Akan tetapi, pria itu memilih tak melihat apa yang ada di hadapannya.
Selesai melepas gaun, Alishka hendak pergi dari situ untuk mencari tempat lain. Dia baru melangkah ketika mendadak muncul seekor kepiting yang membuatnya secara spontan berbalik arah dan menabrak Zavier yang tengah berdiri di belakangnya.
Takut, Alishka refleks memeluk Zavier—yang syukurlah tidak jatuh setelah ia tabrak. "Zavier aku takut ..." lirihnya.
__ADS_1
Kedua tangan Alishka melingkar erat pada tubuh tegap Zavier.
"Ti-tidak akan ter--jadi apa-apa," ujar Zavier terbata. Matanya memindai tubuh Alishka dari bawah hingga ke atas; pria itu menelan susah payah salivanya.
"Usir dia, Zavier, usir dia," pinta Alishka. Pelukannya itu semakin dieratkan, seolah-olah tak ingin melepas bodyguard-nya itu.
Detik demi detik berlalu. Sepasang kaki keduanya bagai tertancap di pasir. Kini bukan hanya Alishka yang seolah enggan melepas pelukan, tetapi Zavier juga. Tangan pria itu bahkan mengelus punggung Alishka yang tak terlapisi kain apa pun—selain dua potong pakaian dalam. Kepalanya membenam di ceruk leher Alishka, menelusup di antara surai hitam panjang milik gadis itu.
Semilir angin jadi saksi, dua insan yang tengah terbawa suasana. Sementara kepiting kecil yang membuat Alishka takut bukan main, rupanya hanya lewat saja.
Mata cokelat terang Zavier memandang tepat ke manik cokelat gelap milik Alishka. Tatapan keduanya terkunci. Perlahan tapi pasti, keduanya saling mendekat hingga bisa merasakan embusan napas satu sama lain.
***
Arshia tengah bertopang dagu di meja kerjanya. Pikirannya lagi-lagi berkelana entah ke mana. Meeting tadi hampir kacau jika saja Abhi—bosnya—tak segera menyuruhnya istirahat.
"Perasaanku dari tadi tidak enak, apa jangan-jangan terjadi sesuatu pada Zavier? Kak Rhea juga, kenapa harus menyita ponselku? Mengidam-mengidam, mengidam macam apa itu?" rutuknya.
"Minum ini."
Arshia mendongak ke sumber suara. "Pak Abhi?"
"Sudah ada kabar dari kekasihmu?" tanya Abhi.
Arshia menggeleng lemah. "Belum .... Kalaupun ada, aku tetap tidak bisa tahu karena tidak bawa ponsel."
Pria yang mukanya bercambang tipis itu menghela napas. "Mungkin kau bisa telpon bosnya dan tanyakan kekasihmu ke mana."
"Pakai ponselku," potong Abhi sembari menyerahkan benda pipih ber-casing hitam pada Arshia.
"Eh, Pak Abhi serius?" tanya Arshia polos.
"Bercanda." Abhi menarik lagi ponselnya. "Serius, Arshia ... kau ini seperti pada siapa saja." Dia menyodorkan lagi benda pipih itu.
Abhi sebenarnya pria yang cukup humoris, hanya terkesan kejam gara-gara cambangnya itu. Dia dan Arshia pun akrab selayaknya teman, karena sudah bertahun-tahun juga Arshia bekerja sebagai sekretarisnya.
"Sial, ada masalah," keluh Arshia.
"Apa?"
"Aku tidak tahu nomor bosnya Zavier."
"Dia bekerja untuk keluarga Akhtar, bukan?"
***
Angin bertiup, menerpa dan menerbangkan rambut Alishka. Namun, itu tak membuat tautan dua pasang bibir ini terlepas.
Sebagai yang pertama, Alishka hanya bisa mengikuti permainan Zavier. Tak bisa dipungkiri, gadis itu sangat gugup. Ia bisa merasakan detakan kuat dari jantungnya—yang mungkin juga bisa didengar Zavier—mengingat posisi keduanya yang menempel.
Zavier melepas tautan mereka. Mata terang pria itu memandang Alishka. Sebaris senyum manis terbit di bibirnya untuk Alishka. Mungkin jika terlihat, hati gadis itu sudah meleleh karenanya.
__ADS_1
Jantung Alishka lagi-lagi berdetak tak karuan saat Zavier mendekatkan kembali wajah mereka. Matanya memejam. Entah bagaimana rupa wajah Alishka saat ini. Ia hanya tahu, udara di sekitar rasanya memanas.
"Aku mencintaimu," bisik Zavier tepat di telinga Alishka, "aku mencintaimu, Arshia," lanjutnya.
Deg!
Bagai dihantam batu besar dari jarak yang sangat tinggi, tiga kata itu membuat dada Alishka sesak bukan main. Arshia? Zavier bilang Arshia?
"Pergi!" Alishka mendorong Zavier yang hampir menyatukan kembali bibir mereka.
Hampir saja pria tinggi itu terjengkang jika tidak bisa menguasai keadaan.
Sementara Alishka buru-buru meraih dress-nya yang tergeletak di pasir setelah tadi ia lempar—sekadar digunakan untuk menutupi tubuh bagian depannya.
Dada Alishka bergemuruh. Bukan rasa aneh yang menyenangkan seperti tadi, tapi lebih ke amarah bercampur sesak yang juga membuat napasnya naik turun tak karuan.
Lelehan air mata mengucur dari kedua sudut matanya secara bersamaan. Bodoh! Alishka merutuki apa yang terjadi barusan.
"Ma-maaf---maafkan aku, Nona Alishka ...." Suara Zavier terdengar bergetar.
Pria itu menatap ke mana saja selain Alishka. Raut menyesal begitu tampak di wajahnya yang tampan.
"Maaf, maaf, maafkan aku," ucapnya berulang-ulang.
Alishka ambruk ke pasir dan menangis sejadi-jadinya. Tangan panjangnya memeluk gaun yang masih sangat basah itu.
"Maaf, Alishka, maaf," Zavier terduduk di depan Alishka sambil menyatukan tangannya.
"Pergi kau! Pergi!" teriak Alishka berapi-api.
"Maaf, aku tidak sengaj---"
"Pergi kataku! PERGI!" Alishka makin histeris.
Mau tak mau, Zavier melangkah lunglai meninggalkan gadis itu. Sungguh, ia tak bermaksud melakukan hal itu pada Alishka. Entah bagaimana, matanya melihat Alishka sebagai Arshia. Dan itu ... terjadi karena ketidaksengajaan tersebut. Refleks, ditambah suasana yang seolah sangat mendukung.
Tak pernah terpikir sekali pun oleh Zavier, akan memanfaatkan keadaan dan melakukan hal yang memalukan pada putri bosnya. Bahkan dengan Arshia yang sudah menjadi kekasihnya selama bertahun-tahun pun, Zavier tak pernah melakukan itu. Dan pada Alishka ... bagaimana kalau Agastya sampai tahu?
Ia tak akan semenyesal ini, jika Alishka tidak menangis seperti itu. Entah mengapa matanya harus melihat Alishka sebagai Arshia. Padahal, kedua gadis itu sangat berbeda dilihat dari sisi mana pun. Alishka sangat tinggi, sedang Arshia bertubuh mungil. Warna dan gaya rambut keduanya pun berbeda. Bagaimana Zavier bisa sampai salah lihat? Serindu inikah dia pada Arshia sampai-sampai melihat orang lain sebagai kekasihnya?
"Kau bodoh, Zavier! Bodoh!" maki Zavier pada dirinya sendiri.
Di sisi lain, bukannya mereda, air mata Alishka justru bertambah deras saja. Kenapa? Kenapa ini harus terjadi padanya? Zavier melakukan hal itu hanya karena ... mengira dirinya adalah Arshia?
Kurang ajar! Sangat-sangat kurang ajar! Hanya dengan memikirkannya saja, rasa sakit di hati Alishka meningkat tajam.
"Aku tahu kau hanya mencintainya, tapi aku adalah aku, bukan dia! Aku bukan dia, Zavier!" isak Alishka.
Hancur. Zavier menyebut nama Arshia, itu adalah hal yang paling menyakitkan. Bayangkan saja, seseorang yang kau cintai, melakukan hal yang biasa sepasang kekasih lakukan hanya karena ... dia melihatmu sebagai orang lain yang dia cintai. Bagaimana perasaanmu? Itulah kira-kira yang Alishka rasakan saat ini.
"Arshia, tunggu dan lihat, akan kubuat Zavier tak pernah mengingatmu lagi bahkan dalam mimpinya sekalipun! Lihat saja!"
__ADS_1
***