
Matahari merangkak naik, menyalurkan sinar panas ke apa saja yang kebetulan terkena sinarnya. Termasuk dress Alishka, yang kini sudah mengering.
Tak hanya dress, lelehan bening yang tadi terus mengalir, saat ini juga sudah berhenti. Tinggal menyisakan beberapa bekas aliran.
Hal menyakitkan tadi, akan Alishka buang jauh-jauh dari otaknya, dipilah disisakan saja hal baiknya.
Disebutnya nama Arshia di tengah-tengah kegiatan romantis tadi, tak serta-merta membuatnya hancur. Masih ada tujuan yang sama di depan mata: Zavier. Ya, Alishka harus mendapatkan Zavier.
Alishka berjalan perlahan menghampiri Zavier yang tengah membenamkan wajah di balik lengan.
"Zavier ..." panggilnya pelan.
Pria itu mengangkat wajah menatap Alishka. "Alishka?" Ia lantas berdiri. "Maaf, aku sungguh tidak bermaksud melakukan hal memalukan tadi padamu. Maafkan aku, Nona Alishka, maaf ...."
"Tidak, tidak pa-pa. Aku juga minta maaf, tidak seharusnya aku melepas pakaian di hadapanmu. Bagaimanapun juga kau laki-laki normal, jadi ... itu bukan salahmu sepenuhnya," balas Alishka tertunduk.
"Padahal aku tidak pernah melakukan hal itu sebelumnya, bahkan pada Arshia yang sudah bertahun-tahun jadi kekasihku."
Alishka mengernyit masih dalam keadaan menunduk. Tidak pernah melakukan hal itu sebelumnya? Apa itu berarti ....
"Maksudmu ... itu tadi?" ulang Alishka sembari mengangkat wajah menatap Zavier.
Zavier mengangguk pelan, nyaris tak terlihat jika itu adalah sebuah anggukan.
Mulut Alishka terbuka tak percaya. Dia tidak salah dengar, kan? Sungguh? Jadi ... itu bukan hanya first kiss bagi Alishka, tetapi Zavier juga? Tidak bisa dipercaya!
Apa itu artinya Alishka harus senang, karena dia jadi yang pertama bagi Zavier? Lupakan sejenak soal Arshia, toh yang melakukan adegan itu adalah dirinya dan Zavier, bukan Zavier dengan Arshia.
"Sama," Alishka berucap setelah otaknya tak lagi terkejut dengan perkataan Zavier itu.
Kini giliran Zavier yang menatap tak percaya gadis di hadapannya itu. Meski tanpa kata, dari tatapannya mengaskan pria itu tengah bertanya.
Alishka mengangguk sangat pelan seperti yang Zavier lakukan.
"Astaga ..., itu artinya aku ... maaf, Nona Alishka. Aku sangat menyesal," sesal Zavier.
"Tapi kau juga sama, kan? Yang pertama?" tanya Alishka takut-takut.
"Iya. Jadi, kita saling memaafkan?" Zavier mengulurkan tangannya agak ragu.
"Saling memaafkan," Alishka menerima uluran tangan Zavier sambil melempar senyum tipis.
Zavier akhirnya bisa bernapas lega. Ia sangat kacau selama beberapa jam karena memikirkan Alishka, sifatnya yang kurang dewasa, bahkan pikiran buruk pun turut hadir menghantui. Akan tetapi, itu semua selesai tak sampai sehari. Zavier tak pernah menyangka Alishka yang kekanakan, akan bisa berbaikan semudah ini. Apa pun itu, Zavier bersyukur masalah ini selesai.
Tetapi, masih ada satu hal lagi yang mengganjal pikiran Zavier, soal 'itu' yang juga Alishka klaim pertama kali. Alishka dibesarkan di luar negeri, bahkan dalam sebulan gadis itu bisa ganti pacar sebanyak hari dalam bulan itu. Pada kenyataannya, Alishka tidak seburuk yang terlihat.
***
Sebagai istri yang baik, Rhea menuruti kata-kata suaminya untuk tinggal di rumah. Dan, ya, inilah enaknya, dia jadi punya banyak waktu untuk melakukan apa saja.
Setelah berhasil menyita ponsel sang adik, Rhea yang masih haus informasi soal kekasih adiknya, akan mencari lagi berita itu sampai puas.
"Alishka Akhtar," gumamnya.
Banyak sekali saran pencarian muncul, yang teratas adalah: Alishka Akhtar hilang.
Rhea pun mengkliknya. Dan ... ya, tak kurang dari 2 detik, berbagai berita muncul memenuhi layar. Mulai dari yang terlama 2 hari lalu, hingga beberapa menit lalu.
Berita teratas dengan judul 'Apakah Alishka Akhtar Kabur Bersama Bodyguard-nya, atau Hilang Sungguhan?' menjadi yang pertama Rhea klik.
Foto Alishka dan Zavier terpampang paling atas dari artikel. Karena sudah mengenal salah satunya, Rhea hanya memperhatikan lainnya, yaitu Alishka.
Cantik, adalah kesan pertama yang terlihat dari sosok Alishka. Bertubuh langsing, tinggi, juga kulit putih, dan senyum menawan. Dilihat sekilas saja tampak sangat sempurna.
Sekarang berpindah ke deretan kata-kata yang telah disusun rapi jadi berita.
__ADS_1
"Entah kata-kata apa yang pantas disematkan untuk keluarga Akhtar yang terkenal itu. Niat liburan, tapi malah dapat bencana. Alishka Akhtar, yang semua orang tahu adalah putri bungsu dari Agastya Akhtar—salah satu pengusaha terkaya—hilang Senin malam kemarin di salah satu resort di Maldives. Yang mengherankan, Alishka tidak hilang sendiri, melainkan bersama seorang bodyguard-nya yang diketahui bernama Zavier.
"Ada 2 dugaan kuat dari menghilangnya Alishka Akhtar. Yang pertama, Alishka diculik oleh orang yang mungkin tidak menyukai keluarganya, dan dugaan kedua, Alishka Akhtar memang sengaja kabur bersama bodyguard-nya itu. Keduanya memang diketahui cukup dekat, banyak juga yang mengatakan mereka memiliki hubungan khusus.
"Namun, baru-baru ini, Alisha Akhtar, kakak kandung Alishka Akhtar, membuat pernyataan bahwa adiknya itu tidak diculik ataupun kabur, tetapi hanyut di lautan bersama bodyguard-nya. Bahkan, Tuan Agastya beserta pihak resort juga sudah mengirim beberapa kapal untuk mencari keberadaan putrinya ke pulau-pulau di sekitaran resort. Akan tetapi, belum ada hasilnya hingga detik ini."
Rhea mengakhiri bacaannya pada artikel itu. Dugaan pertama, masuk akal menurut Rhea. Jangankan keluarga Akhtar yang terkenal, keluarganya saja belum tentu disukai semua orang. Maksudnya, entah satu atau dua, pasti ada orang yang tidak suka.
Lalu dugaan kedua, sangat menjengkelkan bagi Rhea. Bagaimana tidak? Bisa-bisanya si penulis berita menulis Alishka punya hubungan khusus dengan Zavier, calon adik iparnya. Itu jelas tidak mungkin, karena Zavier sangat setia. Buktinya, Zavier dan Arshia adalah sahabat sejak kecil, yang di kemudian hari persahabatan itu berubah jadi cinta. Hubungan itu bertahan puluhan tahun, dan masih meragukan kesetiaan Zavier?
Selanjutnya dugaan ketiga, sangat masuk akal. Hanya saja jika benar ... bagaimana bila keduanya tidak selamat? Atau ... karena terjebak di pulau asing berdua, keduanya bisa jatuh cinta seperti dalam film?
Tidak. Rhea tidak bisa membayangkan jika Arshia sampai tahu soal ini. Bagaimanapun caranya, Rhea harus membuat Arshia jauh dari benda yang berkemungkinan besar memberi informasi, seperti ponsel dan televisi.
"Kakak!"
Ponsel keluaran bulan lalu milik Arshia hampir terlepas dari tangan Rhea sebab terkejut dengan panggilan mendadak itu.
"Astaga, Shia .... Kau mau membuat kakakmu ini kena serangan jantung?" omelnya.
Arshia hanya senyum-senyum tidak jelas sambil berjalan ke arah Rhea.
"Kenapa senyum-senyum terus? Dan ... ya, ini masih sore, tumben pulang jam segini?" cecar Rhea.
"Bos Abhi memulangkanku lebih cepat, Kak," jeda beberapa detik, "Kakak benar, Zavier sangat sibuk. Dia ternyata diajak ke luar negeri oleh bosnya. Pantas saja tidak ada kabar sama sekali. Mungkin karena ada di negeri orang, jadi penjagaan untuk putri bosnya juga harus diperketat."
Yang Arshia katakan ini sesuai informasi dari sekretaris bos Zavier. Abhi langsung menelpon ke kantor Agastya tadi, dan mendapat info ini dari resepsionis di kantor ayah Alishka itu.
"Oh, syukurlah," respons Rhea. Rasanya tak ada kata-kata lain untuk tanggapan berita dari Arshia.
"Sudah selesai mengidamnya? Bisa kembalikan ponselku?"
Rhea langsung mendekap ponsel milik Arshia sambil menggeleng. "Belum," ucapnya seperti anak kecil yang takut mainannya direbut.
***
Dengan peralatan memancing seadanya, Zavier berhasil menangkap 2 ekor ikan yang lumayan besar—tentu setelah berjam-jam berjuang. Cukuplah untuk ia dan Alishka makan sore ini. Gara-gara drama tadi, hampir seharian mereka tidak makan apa pun.
"Lapar sekali aku," keluh Alishka sambil memegangi perutnya, yang kurus tambah kurus.
"Andai kapal tadi pagi dengar," timpal Zavier. Pria itu tengah sibuk meniup api pembakaran ikan.
"Haus ...," Alishka mengeluh lagi.
"Minum saja air laut itu," suruh Zavier jengah.
"Ish!" Alishka mendengus. Drama tadi selesai, lalu mereka bermaafan, yang artinya kembali lagi seperti semula.
"Kau juga, katamu tidak mau pulang, tapi kenapa tadi malah teriak-teriak sambil mengejar kapal?" Zavier ingin menanyakan ini sejak tadi, tapi terus-menerus lupa.
"Ya ... aku ... aku ... ingin membantumu," cicit Alishka. Sesungguhnya dia belum punya jawaban, karena tak mengira Zavier akan bertanya soal itu.
"Berarti sekarang kau juga ingin pulang?" Zavier menatap Alishka yang malah tertunduk.
"Entah," jawab Alishka cepat.
"Melihat bagaimana keadaan di sini, bagaimana kita makan, kedinginan tiap malam, bahkan tidak ganti baju lebih dari 2 hari, masih tidak cukup membuatmu tidak ingin pulang juga?"
Alishka menggeleng dengan polosnya.
"Astaga," Zavier menepuk kening.
"Kenapa?"
Zavier mengedikkan pundak, kemudian mengangkat ikan-ikan yang telah matang ke atas daun kelapa. Mau bagaimana lagi, tidak ada piring.
__ADS_1
"Kita makan jadi satu saja, ya?" tanya Zavier. Alishka mengangguk.
Alishka yang kelaparan langsung meniup-niup ikan yang masih berasap itu, sedang Zavier diam menunggu ikannya dingin sendiri. Sudah 2 hari dia di sini, dan besok adalah ulang tahun Arshia. Jika dia tidak bisa pulang juga, janjinya akan menemui Arshia di hari ulang tahun gadis itu bisa gagal. Tidak, bukan hanya sekedar pertemuan biasa, Zavier juga ingin melamar Arshia. Hubungannya yang sudah bertahun-tahun harus segera terikat dalam janji suci.
"Kau mau makan lewat jalur batin? Kenapa cuma dilihat saja?"
Ocehan Alishka membuyarkan lamunan Zavier soal Arshia. Ia menggeleng memberi jawaban untuk gadis itu.
Alishka berhenti menyuapkan ikan ke mulutnya. "Masih memikirkan soal pulang?"
Zavier mengangguk lemah.
"Aku pernah baca buku soal takdir. Takdir itu ada 2, yang satu bisa diubah, sedang satunya lagi tidak. Mungkin kita terdampar di sini, itu termasuk takdir yang tidak bisa diubah. Tunggu saja, pada saatnya kita juga akan pulang," tutur Alishka dengan santainya sambil mengunyah ikan.
"Takdir yang bisa diubah itu, terjadi sesuai usaha kita. Jika kita saja tidak berusaha, kita pasti akan terus terdampar di sini," balas Zavier.
"Oho, jadi kau mau berenang sampai ke pulau-pulau lain? Lihat, sepanjang mata kita memandang, hanya tampak perairan, bukannya pulau lain," jelas Alishka gemas.
Zavier tak menjawab lagi. Kedua matanya malah menatap Alishka seperti mesin pemindai.
"Apa?!" sentak Alishka.
"Lepas gaunmu!"
"Apa katamu?! Enak saja memintaku lepas baju. Kau mau cari-cari alasan untuk menciumku lagi? Dasar mesum!" omel Alishka dalam satu tarikan napas.
"Kau yang mesum."
Alishka tersentak. "Memang aku memintamu lepas baj---"
"Kita buat bendera dari gaunmu!" sela Zavier.
"Tidak!" Alishka memeluk tubuhnya sendiri. "Kalau mau buat bendera, pakai saja jasmu itu!"
"Ck, jasku warnanya hitam. Tidak akan mudah terlihat."
"Tapi aku tidak mau melepas gaunku!" teriak Alishka.
"Harus mau!"
"Tidak!"
"Mau!"
"Tidak!"
"Mau!"
"Tidak!"
"Nona Alishka, kalau tidak, kita tidak akan bisa pulang. Siapa tahu ayahmu mengirim helikopter ke sini, kan? Sudahlah, lepas saja," pinta Zavier.
"Kubilang tidak artinya tidak! Jangan memaksaku, Zavier!"
Zavier mengembuskan napas kasar. Memang tidak pantas rasanya memaksa seorang gadis melepas gaun—walau akan ia ganti dengan jas atau kemejanya. Yang jadi masalah, jika misal ada yang mencari, orang-orang tidak akan tahu keberadaan mereka di sini kalau dia tidak membuat tanda.
"Cepat habiskan makananmu," titah Zavier setelah beberapa saat.
"Kenapa harus cepat?" protes Alishka.
"Setelah ini kita keliling pulau, siapa tahu pulau ini ada penghuninya, tapi kita yang tidak tahu."
"Baiklah."
***
__ADS_1