
Sekitar lima menit Zavier terdiam usai mendengar perkataan Alishka. Tidak menyukai Arshia? Tapi kenapa? Alishka tidak tahu saja, Arshia-nya yang terbaik. Bahkan saat tahu Zavier akan bekerja sebagai bodyguard seorang gadis, Arshia tak keberatan sedikit pun.
Akan tetapi, apa pun itu, hak Alishka mau suka atau tidak. Bukankah sifat Alishka memang begitu? Mudah kesal dengan segala hal, terlebih lagi jika sampai dibandingkan. Padahal, Zavier tak pernah membandingkan Arshia dengannya. Hanya refleks menyebut, karena terlalu rindu mungkin.
"Baiklah, tidak akan kusebut lagi nama Arshia di depanmu," ujar Zavier masih lembut. Arshia pernah bilang padanya: 'Jadi orang jangan dingin-dingin, bicara yang normal seperti manusia lain. Karena apa? Karena aku suka itu'.
Sekali lagi senyum Zavier merekah bak disetel otomatis. Meski ia sudah berusaha normal seperti kata Arshia, tetap saja Zavier tanpa sadar selalu bersikap dingin pada orang-orang yang dianggapnya tak terlalu akrab.
Di sisi lain, Alishka mengerling tak suka pada pria di sebelahnya itu. Tidak menyebut-nyebut Arshia, tapi malah senyum-senyum sendiri sambil mengingatnya, bukankah itu sama saja?
Zavier tidak tahu saja, seberapa dongkol hati Alishka ketika mendengar nama orang lain disebut-sebut di depannya, apalagi sampai membuat senyuman Zavier yang mahal seolah sedang ada diskon 99 persen.
***
Jarum jam yang terus bergerak cepat, disusul gelapnya langit karena malam tiba, membuat keresahan wanita ini semakin menjadi. Jangankan duduk tenang, bernapas dengan baik saja ia seolah lupa.
Seorang gadis berambut cokelat gelap, pakaian modis, dan make up tipis, menghampiri wanita itu dan menepuk pelan pundaknya. "Mom, tenang. Alishka pasti akan kembali. Orang-orang suruhan Dad tengah mencarinya, bukan?" ucapnya.
"Bagaimana Mom bisa tenang, Alisha? Adikmu Alishka ... entah bagaimana keadaannya sekarang. Dan lihat, sudah malam. Entah dia sudah makan atau belum ... baik-baik saja atau tidak, Mom sangat khawatir, Alisha," resah Zareen, ibunda Alisha dan Alishka.
"Alishka akan baik-baik saja. Aku juga sudah mengubungi semua teman-temannya, Alishka pasti menginap di rumah salah satu dari mereka."
"Ya, itu mungkin saja, jika Alishka tidak mengancam akan lompat ke tengah laut. Jika dari awal Mom tahu akan begini, Mom tidak akan pernah setuju untuk berlibur ke sini," sesal Zareen.
Harusnya semalam, ia sendiri yang mengejar Alishka, bukannya menuruti suaminya agar menyuruh Zavier saja. Zareen hafal dengan sifat Alishka, saat kemauannya tidak dituruti, gadis berusia 20 tahun itu akan melakukan segala cara—termasuk kabur dari rumah—hingga sesuatu yang menjadi keinginannya dituruti.
Alisha beranjak menjauh saat merasa ponsel dalam genggamannya bergetar.
"Halo, Dad, bagaimana? Alishka sudah ketemu?"
"......"
"Apa?"
"......"
"Oh, oke." Alisha beranjak kembali pada ibunya yang kini sudah berdiri di dekat jendela.
"Mom," panggilnya pada sang ibu.
"Bagaimana? Alishka sudah ketemu?" cecar Zareen.
__ADS_1
Alisha menggeleng lemah. "Barusan Dad menelpon, polisi yang sudah memeriksa seluruh sudut resort, menemukan ponsel terjatuh di dekat pagar yang langsung berbatasan dengan laut. Setelah dibuka, ternyata itu ponsel milik Zavier. Lalu, perahu karet atau pelampung yang terpasang di bawah pagar juga hilang. Jadi kemungkinan ... Alishka dan Zavier jatuh ke lautan, lalu hanyut bersama perahu itu."
"Jatuh ke laut?"
Alisha mengangguk pelan tanpa berani menatap mata sang ibu.
Zareen memegangi kepala. Semua yang berada di sekelilingnya serasa berputar-putar. "Alishka ...," sebut wanita itu sebelum akhirnya jatuh pingsan.
***
Gelap. Tidak ada penerangan selain bulan cembung di langit sana dan jutaan bintang di sekelilingnya. Sepi. Hanya ada deburan ombak atau suara burung sejauh telinga mendengar. Dan dingin. Semilir angin pantai di malam hari terasa sangat dingin hingga merasuk ke tulang.
Zavier duduk di bebatuan karang yang cukup tinggi bersama Alishka. Sudah sekitar dua jam mereka diam-diaman di situ. Seolah tak ada yang bisa dibicarakan, Alishka hanya memeluk dirinya sendiri sambil menatap lurus ke depan. Pun sama dengan Zavier, yang berbaring dengan jas menggantikan peran bantal.
"Zavier ..." panggil Alishka untuk pertama kali setelah dua jam.
"Iya, Nona Alishka?" Zavier menatap gadis itu meski masih dalam keadaan berbaring.
'Iya Nona Alishka-iya Nona Alishka, tidak berperasaan sekali kau membiarkan seorang gadis membeku di dekatmu,' omel Alishka dalam hati. 'Dasar tidak peka! Tapi ... ya sudahlah, yang penting dia tidak menyebut-nyebut Arshia lagi,' batin Alishka lanjut mengomel, tapi tanpa bisa didengar Zavier.
"Pinjam jas-mu, aku kedinginan sekali. Lihat, pakaianku tidak utuh begini," Alishka memandangi dirinya yang malang karena gaun selututnya itu.
"Oh, tentu saja," Zavier gegas bangkit dan menyerahkan jas berwarna hitam yang ia lipat kotak sebagai bantal.
Angin dingin tak begitu terasa lagi setelah memakai jas milik Zavier, dan berakibat mengantuknya Alishka. Melirik ke sekitar ... batu ini sebenarnya cukup untuk tidur dua orang. Meski namanya batu karang, tetapi batu ini cukup lapang untuk alas tidur.
"Zavier, aku mau tidur."
"Tentu saja, silakan tidur. Aku akan tidur di bawah," Zavier beringsut menyamping untuk pindah ke hamparan pasir.
"Tunggu," Alishka menggenggam pergelangan tangannya.
Terpaksa Zavier berhenti sejenak dan menatap putri bos-nya itu. "Kau butuh sesuatu?"
"Aku tidak berani tidur sendiri di batu ini. Tolong temani aku, please ...."
***
"Arshia ...! Makan malam sudah siap!"
"Iya, Kak, aku datang!"
__ADS_1
Arshia, gadis cantik bertubuh mungil, berambut hitam panjang, dan warna mata cokelat terang, bergegas memenuhi panggilan sang kakak dari ruang makan.
"Belum ada kabar dari Zavier?" Sang kakak, Rhea, muncul dari dapur sambil membawa makanan.
"Belum," Arshia menggeleng pelan.
"Itulah sulitnya LDR, syukurlah aku dan kakakmu tidak begitu," timbrung Aditya, suami Rhea.
"Pastilah tidak, kau terus-terusan mengejar kakakku, padahal dia tidak mau punya pasangan penjahat," timpal Arshia setengah menyindir.
"Hei, itu masa laluku, ya! Lagi pula Zavier dan aku satu pekerjaan, sebagai penjahat," Aditya terkekeh pelan.
"Sudah dulu mengobrolnya, Tuan Penjahat. Sekarang ayo kita makan malam," ujar Rhea pada suaminya, "dan kau, terus memikirkan Zavier tidak akan membuatmu kenyang. Lupakan sejenak Zavier dan makan yang kenyang. Lihat badanmu itu, kurus kering seperti tiap hari kerja rodi."
Arshia menghela napas berat. Nafsu makannya seolah ikut menghilang bersamaan dengan Zavier yang tidak memberi kabar sejak kemarin malam. Mereka memang sudah setahun penuh tidak bertemu, tetapi setiap malam wajib hukumnya bertukar kabar lewat telpon maupun video call.
"Kak ... kira-kira Zavier ke mana, ya?" Arshia menatap sendu Rhea yang tengah mengalas nasi untuk Aditya.
"Mungkin pekerjaannya banyak, Arshia. Tenang saja. Kau percaya 'kan, padanya?"
Sekali lagi napas Arshia berembus berat. Ditanya percaya, sangat, sepenuhnya dia percaya pada Zavier. Hanya saja ... entah mengapa perasaannya tidak enak sejak semalam.
"Tidak usah khawatir, Shia, mungkin kuotanya habis, jadi tidak bisa memberi kabar," celetuk seorang pria yang masuk tanpa izin lalu mencomot makanan di meja.
"Itu kan kau, katanya kerja, tapi minta hotspot tiap hari," nyinyir Arshia.
"Ck, itu juga untukmu. Begini saja ..., besok aku akan ke kota, kau mau ikut sekalian menemui Zavier?"
Alis Arshia bertaut memandang pria itu, Aryan. "Serius? Mau apa ke kota?"
Pipi Aryan bersemu, pria itu senyum-senyum sambil menggaruk tak gatal kepalanya.
"Jangan bilang penyakitmu kambuh lagi?" selidik Arshia.
"Ck, bukan. Aku akan ke kota untuk bisnis, Shia, bisnis. Aku ke kota untuk riset cerita terbaruku. Kalau kau mau ikut, dengan senang hati aku mengajakmu."
"Novel 'Menuju 100 Mantan', yang didasarkan pada kisah nyata sang penulis," ledek Aditya sambil tertawa geli.
Aryan merengut. "Terserah. Yang penting novelku best seller," sombongnya.
"Iya-iya, Tuan Penulis. Kapan-kapan buat juga kisah kami, tidak kalah menarik dari kisah ke-playboy-anmu itu," usul Aditya.
__ADS_1
"Bisa dipikirkan. Jadi, bagaimana, Shia? Mau ikut?"
***