I Love You, Mr. Bodyguard!

I Love You, Mr. Bodyguard!
04 | Napas Buatan


__ADS_3

"KAPAL! PAK ... LIHAT KE SINI, TOLONG!"


Alishka semakin menggeram kesal, sementara kapal itu perlahan melintas di hadapan mereka berdua. Jaraknya cukup jauh, tapi suara Zavier juga keras. Tak bisa dipungkiri nahkoda kapal itu mungkin mendengar.


"Lakukan sesuatu, Alishka, lakukan sesuatu," gumam Alishka, ia semakin dibuat bingung demi mendengar suara minta tolong Zavier.


"Kapal ...! Tolong!" Alishka tiba-tiba berteriak sambil berlari-lari di perairan.


"Tolong!" Alishka semakin menjauh ke perairan, membuat Zavier yang berada di daratan melongo.


"KAP---AAAA!!" Alishka terjatuh saat ombak besar tiba-tiba menghantam dan menggulung dirinya ke tengah-tengah dengan cepat.


"Alishka!" teriak Zavier panik. Seolah lupa perihal kapal, pria itu berlari secepatnya mengejar Alishka, beradu cepat dengan ombak yang mulai menerpa Alishka lagi.


"Alishka!" Zavier berhasil meraih tubuh Alishka ke dekapannya. "Alishka, Nona Alishka, bangun ...." Ia menepuk-nepuk pipi Alishka, namun nihil, sepasang mata gadis itu tetap memejam rapat.


Sebelum mereka berdua yang hanyut, Zavier membopong tubuh tinggi Alishka ke daratan. Ombak yang datang tak bisa diprediksi. Bisa saja sebentar lagi mereka berdua yang tergulung ombak bersama-sama.


Ketika mereka tiba di daratan, kapal tadi sudah hilang tak berjejak. Alishka terseret arus cukup jauh, mungkin sekitar seratus meter lebih dari hamparan pasir.


Zavier membaringkan gadis yang tingginya hanya selisih beberapa senti saja dengannya itu ke pasir yang kering dan bersih tanpa bebatuan.


"Alishka ... Alishka .... Bangun, Alishka," Zavier berusaha membangunkan gadis itu dengan menepuk-nepuk pipinya.


Namun, hasilnya sama. Alishka tidak bangun. Zavier tidak tahu Alishka bisa berenang atau tidak. Yang pasti, gadis itu sempat terseret ombak yang lumayan besar, tempatnya pun cukup dalam. 'Alishka pasti kemasukan banyak air, ya, itu pasti,' pikir Zavier.


Zavier menatap kedua telapak tangannya. Kali ini ia akan berusaha mengeluarkan air dari dalam tubuh Alishka agar gadis itu bisa sadar.


"Bagaimana caranya? Seumur hidup, aku tidak pernah menolong orang tenggelam," gumamnya.


Keraguan mulai merambat, membuat tangannya yang tadi siap bekerja urung karena mendadak kebingungan.


"Coba dulu sajalah," putus Zavier pada akhirnya.


Seperti dalam beberapa adegan film yang pernah ia tonton bersama Arshia, Zavier menekan-nekan dada Alishka dengan kedua tangan.


Namun, sial. Lagi-lagi hasilnya nihil. Adakah cara lain selain ini? Tolong beri tahu Zavier segera!


"Nona Alishka ... bangun, buka matamu," panggil Zavier lagi, berharap kali ini berhasil. Namun, jelas tak ada reaksi dari si pemilik nama.


"Napas buatan, itu juga bisa menolong. Misal aku tenggelam nanti, kau mau 'kan, memberiku napas buatan?"


Perkataan Arshia dahulu tiba-tiba melintas dalam benaknya. Apa ... dia lakukan saja itu untuk membuat Alishka sadar?


"Arshia bisa marah saat tahu aku memberi napas buatan pada gadis lain, tetapi ... dia akan marah ketika dia tahu, bukan? Dan ... Arshia akan lebih marah lagi jika Alishka sampai tiada," Zavier bermonolog.


Pria itu bimbang. Ia harus memikirkan matang-matang akibat yang mungkin akan ia terima dengan memberi napas buatan pada Alishka—terutama jika Arshia sampai tahu.


Namun, berpikir lama-lama pun tampaknya ide yang buruk. Nyawa putri kesayangan bosnya itu bisa melayang jika Zavier terlalu banyak menimbang-nimbang tanpa segera bertindak. Apalagi hanya ada dirinya seorang di sini, gelar penjahat akan didapatnya lagi jika Alishka sampai tiada—meski nyatanya ia tak melakukan apa-apa.


"Arshia sangat baik, dia pasti mengerti aku melakukan ini untuk menyelamatkan nyawa," gumamnya.


"Arshia, maafkan aku, tapi aku harus melakukan ini demi menyelamatkan nyawa seseorang."

__ADS_1


Zavier mendekatkan wajahnya dengan wajah Alishka. Satu tangan menjepit hidung Alishka, satunya lagi memegangi dagu gadis itu. Sambil memejam, Zavier menempatkan bibirnya yang terkatup pada mulut Alishka, selanjutnya ia tiupkan udara secara perlahan ke dalam mulut Alishka.


"Uhuk!" Alishka terbatuk-batuk; air menyembur keluar tak kurang dari lima detik setelah pemberian napas buatan itu.


"Syukurlah kau sadar," Zavier mengusap dadanya—yang yang entah mengapa berpesta tak karuan ketika pemberian napas buatan tadi hingga detik ini.


Alishka masih sibuk terbatuk-batuk memuntahkan seluruh air yang sempat memenuhi tubuhnya.


"Sudah baikan?"


Alishka mengangguk pelan. Bibir merah muda gadis itu tampak pucat, mungkin karena dinginnya air di hari yang masih sangat pagi ini. Matahari saja belum terlihat wujudnya, tetapi sinar jingganya menandakan ia akan menampakkan diri sebentar lagi.


"Kau ... memberiku napas buatan?" Alishka bertanya sekitar lima menit kemudian, ketika ia benar-benar merasa baikan.


Zavier yang tertunduk mengangguk pelan. "Aku sudah berusaha mengeluarkan air dari tubuhmu, tetapi tidak berhasil. Akhirnya ... aku terpikir cara itu. Maaf, aku melakukan itu juga demi kau, untuk keselamatanmu."


Alishka refleks menyentuh bibirnya. Dia tidak bermimpi, kan? Tadi bibir Zavier menempel di sini? Hatinya menghangat; senyumnya merekah demi mengingat bagaimana kira-kira adegan tadi.


"Pasti sangat romantis," gumamnya tak sadar.


"Kau mengatakan sesuatu?" Kepala Zavier terangkat memandang Alishka.


Alishka buru-buru menggeleng. "Tidak, tidak ada. Aku hanya mau bilang terima kasih, terima kasih sudah menyelamatkan nyawaku," ujarnya tulus, 'dan membuatku serasa terbang tinggi, juga membuatku tidak tenggelam sia-sia,' lanjutnya dalam hati.


Sebenarnya Alishka bisa berenang, tetapi ia memanfaatkan ketidaktahuan Zavier soal kemampuan berenangnya, agar pria itu menyelamatkan dirinya dan lupa tentang berteriak memberhentikan kapal yang lewat. Ditambah lagi dengan ombak yang seakan mendukung dirinya. Ya, Alishka niatnya hanya mau pura-pura tenggelam. Tapi entah mengapa tiba-tiba ada ombak besar yang menerjang dan membuatnya tenggelam sungguhan. Dan, ya, tentu saja ini bukan masalah besar. Malah dia senang karena tenggelamnya tidak sia-sia.


Lalu soal napas buatan tadi ... senakal apa pun Alishka selama ini, bahkan meski puluhan kali gonta-ganti pacar, tak pernah ia lakukan yang namanya kontak bibir ke bibir. Ia tak mau saja bibirnya ternoda karena menempel ke sembarang orang. Lagi pula, kata ayahnya itu dosa. Jadi, ini adalah yang pertama untuknya.


Tetapi ini, kasusnya beda. Dan meski bibir ke bibir, namanya bukan mencium, melainkan pemberian napas buatan—yang jika tidak Zavier lakukan, mungkin ia sudah berada di alam lain saat ini.


"Hah? Oh, iya." Alishka jadi gelagapan sendiri akibat terlalu fokus memikirkan adegan napas buatan tadi.


***


Arshia bersama kakak dan kakak iparnya mengantar Aryan ke stasiun. Hatinya bilang dia harus ikut, tetapi otaknya menolak sebab dirinya sangat dibutuhkan di kantor. Bosnya bahkan sudah mewanti-wanti agar Arshia tidak izin cuti sampai akhir tahun.


"Aku akan datang ke rumah bos Zavier, kau tenang saja, oke?" ujar Aryan pada Arshia.


Arshia mengangguk-angguk pelan. Bicara dengan Aryan tak membuatnya menatap pria itu. Dia adalah gadis yang ceria, sangat ceria. Namun, beberapa hari ini keceriaan yang selalu Arshia tunjukkan bagai lenyap ditelan bumi. Lupakan soal bicara banyak, senyum saja dia tak mampu.


"Sudahlah, Shia. Tidak cocok kau murung begini. Aku janji, nanti akan menyeret si Datar itu untuk pulang. Lagi pula, meski tidak mengabarimu, dia juga tidak akan selingkuh. Memang siapa yang mau jadi selingkuhannya? Kalaupun ada, gadis itu pasti sudah gila," celoteh Aryan.


Jika Arshia dalam keadaan baik alias tak terlalu memikirkan Zavier, dia pasti sudah mendebat pria itu, dan berakhir terjadi perdebatan tak berujung seperti dahulu.


"Siapa yang tahu dia selingkuh atau tidak," balas Aditya, "eh," pria itu menutup mulut setelah mendapat tatapan horor dari sepasang kakak beradik, Rhea dan Arshia.


"Mereka memang hobi selingkuh, Shia, tapi Zavier tidak. Zavier pria yang baik, percayalah," ujar Rhea—sengaja membela Zavier. Bagaimanapun, adiknya sudah sedih memikirkan Zavier, malah dipanasi dengan kata paling menyebalkan itu.


"Aku dengar, Zavier jadi bodyguard gadis gila sepertimu, Shia," Aryan kembali membuka suara.


"Baguslah, jadi Zavier tidak akan berminat selingkuh dengannya, karena sudah ada aku," timpal Arshia tertawa.


"Justru itu, bisa jadi dia teringat kau dan ... selingkuh," Aryan berbisik di kata-kata terakhirnya.

__ADS_1


Mendengar pembicaraan unfaedah itu, Rhea memutar bola mata jengah. Tapi biarlah, siapa tahu ke-unfaedah-an Aryan bisa membuat Arshia ceria lagi.


Drrrttt.


Ponsel di tas tangan Rhea terasa bergetar. Gegas istri Aditya itu menjauh sedikit demi melihat telpon atau pesan dari seseorang.


"Zoya menelpon?" gumamnya ketika melihat nama yang terpampang di layar.


"Halo?"


"Rhea, siapa nama gadis yang dijaga Zavier? Dia jadi bodyguard untuk siapa?"


"Kenapa kau menanyakan itu?"


"Aku punya berita, lihat, ya." Zoya, sahabat Rhea yang tinggal berbeda kota, memutus sambungan telponnya, kemudian mengirim sebuah foto pada Rhea.


"Dicari, Alishka Akhtar, putri Agastya Akhtar yang hilang Senin malam di resort luar negeri bersama bodyguard-nya," Rhea membekap mulut tak percaya usai membaca itu. Pandangannya langsung memutar pada Arshia, yang masih sibuk mengobrol dengan Aryan.


Ting.


Pesan masuk lagi dari Zoya.


[Baca halaman kedua.


Beritanya viral di sini.


Banyak akun gosip


membuat berbagai


spekulasi tentang


berita itu.]


Beberapa foto pun masuk beriringan dari Zoya.


"Adiii! Sini cepat!" Rhea setengah berteriak memanggil sang suami.


"Ada apa, Sayang?"


"Cepat ke sini!"


Aditya melangkah menghampiri sang istri yang hampir pucat usai membaca berita tersebut.


"Apa?"


"Lihat," Rhea menyodorkan ponselnya pada Aditya.


Aditya terbelalak; mulutnya ternganga. "Mereka kawin lari?"


"Hidungmu yang kawin lari! Mereka hilang, Adi ..." jelas Rhea geregetan.


Mata keduanya pun memutar pada Arshia dan Aryan yang masih saja mengobrol.

__ADS_1


"Shia tidak boleh tahu," gumam Rhea.


***


__ADS_2