I Love You, Mr. Bodyguard!

I Love You, Mr. Bodyguard!
08 | Makanan dari Langit


__ADS_3

Zavier menjatuhkan tubuhnya ke hamparan pasir. Pencariannya ke sekeliling pulau tak membuahkan hasil sama sekali. Bukannya bantuan atau jalan pulang yang ia dapat, melainkan rasa lelah karena menggendong Alishka.


"Sudah kubilang 'kan, pulau ini tak berpenghuni. Dasar keras kepala!" cibir Alishka.


"Namanya juga usaha, jika kita diam dan tidak melakukan apa pun, bisa-bisa kita jadi penghuni pertama pulau ini," timpal Zavier dengan napas terengah-engah.


"Baguslah, kita bisa buat peradaban baru, sekalian juga negara baru." Alishka mengoceh sambil berjalan mendekati lautan. Sengaja ingin mencuci kaki.


"Eh?" Alishka berkedip beberapa kali saat berada di perbatasan air dan pasir. "Box apa itu?" gumamnya.


Niat mencuci kaki seketika menguap. Ia berbalik menghampiri botol dan box yang tergeletak beberapa meter darinya.


Alishka memungut box yang bertumpuk 2 buah itu. "Box pizza?" gumamnya tak percaya.


Ketidakpercayaannya bertambah ketika mendapati beberapa botol minuman bersoda dan air di dekat box pizza itu.


"Bagaimana bisa ada pizza dan minuman di sini? Turun dari langitkah?" Alishka garuk-garuk kepala.


"Zavier! Zavier, sini! Lihat ada makanan turun dari langit!!" teriaknya.


"Hanya karena kau lapar, kau melihat batu-batu itu sebagai makanan?" balas Zavier dari kejauhan—masih tak berminat bangun.


"Sini dulu, bodoh! Lihat ini!" teriaknya lagi.


Zavier bangkit, meski mulutnya tak berhenti menggerutu. "Apa?!"


Mata pria itu membelalak melihat apa yang Alishka bawa. "Beli pizza di mana kau?"


"Ini gratis, turun dari langit," jawab Alishka enteng. "Ayo kita makan, kau pasti lapar, kan?" Ditaruhnya satu box dan membuka box lainnya.


"Benar 'kan, ada isinya. Oh Tuhan, terima kasih kiriman pizzanya!"


Sementara Alishka sibuk makan, Zavier masih berdiri menatap bergantian pizza dan botol air itu tak percaya. Jelas tidak mungkin benda-benda itu turun dari langit. Lalu, dari mana asalnya?


"Hey, melamunnya nanti saja. Makan dulu, jarang-jarang Tuhan mau menurunkan makanan enak ke kita. Berhari-hari kita hanya makan dan minum air kelapa. Mumpung ada makanan enak, manfaatkan itu," celoteh Alishka dengan mulut penuh pizza. Wajar, karena tidak makan enak berhari-hari.


"Kau tidak berpikir sesuatu?"


"Sesuatu apa?" balas Alishka sembari menyeruput minuman bersoda.


"Ada yang habis datang ke sini," tebak Zavier.


"Siapa? Pengantar pizza? Mungkin saja," Alishka kembali melahap potongan pizza lainnya.

__ADS_1


"Bukan! Bisa saja ... orang suruhan ayahmu?" terka Zavier.


Alishka spontan berhenti mengunyah. "Eh, iya, ya." Ia memandangi pizza di tangannya yang tinggal setengah. "Tapi inikan turun dari lang---"


"Sekarang pikirkan, mana mungkin ada makanan turun dari langit? Yang mungkin adalah, ada orang datang ke sini sambil bawa makanan itu, dan orang-orang itu ... mungkin suruhan Tuan Agastya untuk mencari kita!"


Alishka melongo. "Dan bisa jadi, orang-orang itu datang saat kita berkeliling tadi!"


"Tepat sekali!" seru Zavier. "Oh astaga!" Pria itu mengacak rambutnya sedetik kemudian, "Kenapa tadi kita harus pergi? Seharusnya kita di sini saja, pasti sekarang kita sudah dalam perjalanan pulang."


Alishka melahap potongan pizzanya yang tinggal seperempat sambil menatap datar Zavier. "Salahkan usahamu itu."


Muka Zavier memelas, "Ini tidak adil ...."


Muka memelas Zavier tentu saja cocok untuk ditertawakan. Dan jelas, Alishka tertawa puas melihat itu. "Sudah kubilang, 'kan? Kita memang ditakdirkan menjadi penghuni pertama pulau ini dan membuat peradaban baru," katanya enteng.


***


"A-Arshia? K-kau di situ?" tanya Rhea terbata-bata. Wajahnya pucat, seakan yang berdiri di hadapannya adalah hantu.


"Iya, aku. Tadi kalian bahas apa? Kenapa aku tidak boleh tahu?" Arshia menyipitkan matanya menatap sepasang suami istri itu.


Rhea yang tambah pucat menatap Aditya meminta pertolongan; Aditya balas menatapnya pasrah sambil menggeleng sangat pelan.


"Kak, ayolah jangan main rahasia-rahasiaan lagi. Ada apa? Katakan saja." Arshia mendekat, menuntut penjelasan dari kedua orang itu.


"Kak, ayolah bilang ada apa? Aku malah jadi khawatir ini," paksa Arshia setengah merengek.


"Ponsel," sahut Aditya. Pria itu menata posisi duduknya menjadi lebih tegak, "Rhea menjatuhkan ponselmu hingga rusak, dan dia takut kau marah jika memberitahumu. Jadi kami memutuskan untuk memperbaikinya dulu, baru kemudian memberitahukan padamu," jelasnya.


"Oh astaga," Arshia mengembuskan napas lega, "kukira kalian dapat berita Zavier selingkuh, makanya setakut itu."


Rhea dan Aditya terbelalak saling pandang. Dugaan yang hampir pas, tapi semoga tidak begitu.


"Ya sudah, aku mau lanjut tidur dulu. Tidak apa-apa rusak, asal kalian ganti," kata Arshia sambil beranjak keluar. Tidak ada raut curiga sama sekali di wajah gadis itu. Bahkan perkataannya terdengar biasa saja.


Rhea berkali-kali mengucap syukur, napasnya pun terengah-engah membayangkan reaksi Arshia tidak akan begitu tadi.


***


Satu kata yang Zavier alami saat ini: menyesal. Seharusnya, ia mendengarkan Alishka untuk tidak ke mana-mana; seharusnya, ia cepat kembali; seharusnya saat tidak menemukan apa-apa, dia tak perlu lanjut berjalan jauh-jauh. Ah sudahlah, mengingatnya membuat penyesalan Zavier serasa betumpuk-tumpuk.


"Jangan meratapi nasib, mungkin sudah takdirnya begini," celetuk Alishka tanpa dosa.

__ADS_1


Jangan meratapi nasib bagaimana? Jelas saja Zavier menyesal. Andai tahu akan begini, pastilah Zavier diam saja menunggu jemputan.


"Mungkin Tuhan memang menakdirkan kita untuk membuat peradaban baru di sin---"


"Diam!" gertak Zavier. "Tidak ada peradaban baru. Bagaimanapun caranya, kita harus pulang!"


"Oke, bagaimana caranya? Berenang? Kita bahkan tidak tahu kita ke sini dari arah mana," timpal Alishka.


Zavier menghela napas kasar. "Pasti ada caranya."


"Pasti, tapi bagaimana?"


Huh! Kata-kata Alishka membuat Zavier semakin kesal saja. Mana dia tahu bagaimana.


"Oke, Tuan Bodyguard, silakan pikir bagaimana caranya. Aku mau tidur dulu, bye~" Alishka melipat jas Zavier, kemudian menaruhnya di bawah kepala sebagai bantal.


Tidak sampai 2 menit, Alishka sudah tertidur pulas. Sedang Zavier masih bergeming, pikirannya benar-benar kacau gara-gara box pizza dan botol-botol minuman soda itu.


Tunggu sebentar, botol? Zavier memandang botol-botol yang bergeletakan tidak jauh darinya. Terbesit ide di kepalanya untuk memanfaatkan botol-botol itu.


Tanpa lagi menunggu lama, ia pungut botol-botol plastik itu dan memandanginya dengan seksama. Entah berhasil atau tidak, tapi tidak ada salahnya untuk mencoba, kan?


Bergegas Zavier mengumpulkan kayu dan batu untuk membuat api unggun. Mumpung Alishka juga masih tidur, tidak ada yang akan mengganggu rencananya.


Dua hari lagi ulang tahun Arshia, semoga dengan cara ini, Zavier bisa mendapat bantuan dan segera pulang.


Setelah berpuluh menit mencoba, akhirnya api unggunnya menyala. Sekarang ia tinggal menunggu kayu-kayu itu jadi arang, dan perjuangannya untuk pulang akan segera dimulai.


***


"Alisha, bagaimana? Sudah ada petunjuk tentang adikmu? Atau Alishka sudah ketemu?" berondong Zareen dengan berbagai pertanyaan saat Alisha kembali dari pencarian.


Alisha menggeleng lemah. "Belum, Mom."


"Kenapa belum? Kalian cari ke mana saja?"


"Kami sudah menyusuri 2 pulau, Mom, tapi tidak ada Alishka di sana. Mungkin Alishka ada di pulau lainnya, besok akan kami usahakan mencari dia lagi."


Zareen mengembuskan napas kecewa. "Besok Mom ikut kalian mencari Alishka."


"Tapi---"


"Tidak ada penolakan!"

__ADS_1


Sekarang Alisha yang menghela napas pasrah. "Baiklah."


***


__ADS_2