
Zavier terus melangkah menyusuri tanah berpasir dan sesekali menginjak kerikil. Di belakangnya, ada Alishka yang tak berhenti mengeluh sakit kaki sebab tidak memakai sandal.
"Berhenti dululah, kakiku sakit ini," rengek Alishka.
Seolah suara itu terbang bersama embusan angin, Zavier terus berjalan, menyingkap dedaunan yang beberapa kali menghalangi jalan.
"Zavier, sebenarnya kita mau ke mana? Dari tadi jalan terus, kakiku sakit, tahu!" oceh Alishka sekali lagi.
Tetap tidak ada tanggapan. Bodyguard Alishka itu terlalu fokus memperhatikan sekitar yang benar-benar gelap. Namanya juga pulau tak berpenghuni, satu pun, tidak ada penerangan yang menyala kecuali dari cahaya bulan.
"Setidaknya berikan dulu sepatu padaku! Aduhh, kakiku berdarah ini pasti," Alishka berhenti dan duduk di tempat untuk memeriksa kakinya.
Hanyut dalam keadaan tidak sadar, membuat sepatu di kaki Alishka dan juga Zavier entah menghilang ke mana. Alishka yang nyaris tak pernah melepas alas kakinya, terus mengeluh kesakitan walau nyatanya yang dipijak hanyalah hamparan pasir.
"Zavier!!" jerit Alishka karena pria itu terus berjalan tanpa memedulikannya.
"Apa?" Pria berwajah datar itu berbalik. Keningnya mengerut saat mendapati Alishka tertinggal jauh darinya. "Kenapa kau malah duduk di situ?" tanyanya dari kejauhan.
Alishka mendengkus. "KAKIKU SAKIT, BODOH! LIHAT, hampir BERDARAH!"
Karena kata 'hampir' yang sengaja Alishka sebut pelan, Zavier yang panik bergegas kembali menyusulnya.
"Mana? Mana darahnya?" Zavier membalik telapak kaki Alishka yang hanya berwarna kemerahan saja, tidak sampai berdarah.
Alishka menyengir. "Memang tidak berdarah, tapi sakit!"
Zavier mengembuskan napas kasar. "Naik!" titahnya sambil memunggungi Alishka.
"Hah? Naik apa?" Alishka tak mengerti atau entah pura-pura polos.
"Tidak usah pura-pura bodoh. Naik ke punggungku! Menunggumu mau jalan sendiri, keburu kita mati di sini tanpa dapat bantuan," tutur Zavier.
Alishka tersenyum lebar. Tanpa menunggu lebih lama lagi, dan pastinya dengan semangat, ia langsung naik ke punggung Zavier.
Zavier pun berdiri, kemudian berjalan pelan dengan Alishka yang tinggi menempel di punggungnya.
"Kan, keren, kalau kita mati bersama. Sehidup, semati," oceh Alishka—menanggapi kata-kata Zavier beberapa menit lalu.
"Keren apanya? Aku tidak mau mati konyol di sini. Aku masih ingin pulang," balas Zavier tak ramah.
"Dan menemui Arshia, ya, kan?"
"Hm, itu tahu."
"Tapi, Vier, coba kita membayangkan sebentar, sebentar saja. Bagaimana ... kalau kita ... tidak bisa pulang? Maksudnya, terjebak di sini selamanya. Bagaimana?" tanya Alishka yang lebih seperti memberi tebakan.
"Itu tidak mungkin terjadi," jawab Zavier datar.
"Kenapa tidak mungkin? Mungkin saja. Tidak ada yang mustahil di dunia ini," protes Alishka.
"Tidak akan, tidak mungkin."
"Akan, mungkin."
"Tidak!"
"Iya!"
"Tidak!"
"Iya! Iya! Iya!"
"Tidak mungkin, Alishka."
__ADS_1
"Mungkin, Zavier!"
***
Tidak tega melihat ibunya yang sangat mengkhawatirkan Alishka, Alisha memilih terjun sendiri ke lokasi untuk membantu mencari adiknya itu.
"Itu ada pulau, kita berhenti di sana saja."
"Baik, Nona Alisha."
Bersama dengan regu pencari, perahu berlayar ke sisi tenggara lautan sejak sore tadi. Sudah 2 pulau Alisha dan timnya datangi, tetapi hasilnya sama: kedua pulau itu tak berpenghuni.
Kini, rombongan itu telah sampai ke pulau yang dari kelihatannya tidak terlalu besar. Ada beberapa batu karang besar di sana, juga pohon kelapa yang banyak sekali jumlahnya.
"Melihat dari keadaan pulaunya, sepertinya tidak ada manusia di sini," ucap salah seorang pria rombongan Alisha.
"Kita lihat saja dulu," timpal Alisha.
Alisha berjalan mendekati sebuah pohon kelapa sambil terus mengarahkan senternya. "Sejauh mata memandang hanya ada pohon kelapa, mungkinkah pulau ini hanya berisi pohon kelapa saja?" gumamnya.
"Nona Alisha, makan dulu!"
Alisha berbalik ke arah suara pria yang memanggilnya. "Duluan saja!"
"Oke." Tim pencari yang kebetulan juga temannya itu menggelar tikar dan mengeluarkan beberapa box makanan cepat saji.
Kembali ke Alisha. Langkah kakak Alishka itu tak terhenti. Ia benar-benar penasaran dengan isi di sebalik pepohonan kelapa yang menjulang tinggi di hadapannya itu.
"Alishka ...!" Alisha coba berteriak, barangkali Alishka memang terdampar di pulau ini.
Tidak ada sahutan. Alisha menarik napas dalam untuk kemudian dikeluarkan lewat teriakan yang lebih keras.
"Alishkaaa ...!!!"
Masih sama adanya. Tidak ada suara, selain beberapa hewan malam.
Alisha mengembuskan napas berat. "Mungkin Alishka memang tidak ada di sini," simpulnya.
Gadis yang tubuhnya tak setinggi Alishka itu beranjak menyusul rombongannya kembali.
"Aduh, astaga apa ini?" Alisha memungut benda yang membuatnya tersandung.
"Kelapa muda?" Ia menatap benda itu dengan alis bertaut. "Kenapa ada pecahan kelapa di sini?"
"Apa jangan-jangan ... Alishka memang terdampar di sini? Tapi ... kenapa dia tidak menjawab panggilanku? Dan kenapa dia tidak ada di sini?"
Pikir Alisha, jika memang Alishka terdampar di sini, pastilah adiknya itu berada di sekitaran pantai, dan jelas saja langsung menjawab saat ada panggilan.
"Nona Alisha, kau mau istirahat sambil makan dulu atau lanjut cari Alishka?"
Alisha memutar kepala ke temannya itu, lalu membuang kelapa di tangannya. "Kalau kalian sudah selesai, kita lanjut saja."
"Baiklah."
Perahu ditata—bersiap meluncur lagi. Rombongan Alisha yang terdiri dari 5 orang segera mengambil posisi, disusul Alisha yang berada paling depan.
Perahu mulai berlayar ke tengah laut. Alisha diam, pikirannya masih tertuju pada batok kelapa tadi.
"Astaga, pizza-ku ketinggalan di pulau itu!" pekik salah seorang pria.
"Dasar bodoh, kenapa harus kau tinggalkan di sana?" balas rekannya.
"Bukan kutinggalkan, tapi ketinggalan. Aku tadi langsung naik sampai lupa membawanya."
__ADS_1
"Biarkan sajalah. Nanti di darat beli lagi."
"Iya, kita lanjutkan saja pencariannya besok," imbuh Alisha.
"Jadi, kita pulang sekarang?"
Alisha mengangguk. "Ya."
***
Pelan tanpa suara, Rhea mengendap-endap di dinding menuju kamar Arshia. Ia ingin memastikan adiknya itu masih tidur, ada yang akan dia bicarakan dengan Aditya—dan tidak mau Arshia mendengar.
"Syukurlah, dia masih tidur." Rhea mengusap dada lega. Setidaknya semalaman ini, semua akan aman.
"Dia sudah tidur?"
Rhea berjingkat. "Adi!" pekiknya. "Kau mau membuat istrimu mati konyol karena terkejut?" omelnya agak berbisik.
"Maaf, Sayang, maaf," kekeh Aditya.
"Kita ke kamar sekarang, ada yang ingin kubicarakan padamu." Rhea melangkah lebih dulu meninggalkan Aditya.
"Hei, tunggu!" Aditya berlari-lari kecil mengejar Rhea yang entah mengapa terasa sangat cepat. Wanita itu sudah berdiri sambil memegangi pintu bersiap untuk menutupnya, terkesan seperti ibu-ibu yang siap memarahi anaknya karena pulang telat.
Rhea menengok ke sana-sini begitu Aditya masuk. Aman, ia baru menutup rapat pintu tersebut.
Aditya dibuat geleng-geleng dengan tingkah istrinya itu, persis seperti pembunuh yang menyembunyikan korbannya di dalam kamar.
Selesai dengan tingkah 'ala pembunuh'nya, Rhea duduk di sisi sang suami. Wajahnya disetel sangat serius, seolah-olah ia adalah mata-mata yang hendak membocorkan rahasia negaranya ke musuh.
"Kau mau bicara apa padaku? Serius sekali," Aditya terkekeh.
Rhea memilih tak membalas kekehan suaminya dengan cubitan seperti biasa. "Tahu, tidak?" bisiknya serius.
"Tidak," jawab Aditya.
"Zavier hanyut di laut, dan mungkin sekarang terdampar di pulau asing."
Aditya mengernyit. "Hanyut bagaimana?"
Rhea pun menyodorkan ponselnya. "Baca itu," titahnya.
"Oh, Sayangku, kau tahu, kan, aku ini tidak suka membaca." Aditya menyodorkan balik ponsel Rhea dan malah berbaring.
"Bos Zavier membawanya berlibur ke Maldives. Di sana, dia berdebat dengan putri bosnya, lalu mereka berdua jatuh ke lautan," jelas Rhea.
Aditya langsung mendudukkan dirinya kembali. "Tahu dari mana?"
"Akun berita, akun gosip, itu pernyataan dari kakak gadis yang dijaga Zavier."
"Tapi ..." Aditya tampak berpikir, "masa iya hanyut?"
"Ponsel Zavier ditemukan di dekat pembatas ke laut. Sebenarnya, ada 2 kemungkinan, 1) hanyut dan terdampar di pulau tak berpenghuni, 2) kabur dengan Alishka. Kemungkinan kedua itu tidak mungkin, kabur dengan Alishka maksudnya apa? Mereka saling suka? Jelas tidak mungkin, kan?" papar Rhea tak suka.
"Memang tidak mungkin Zavier kabur dengan putri bosnya, tapi kalau hanyut dan terdampar ... dramatis sekali?"
"Itu masalahnya. Sebelum mereka ditemukan, Arshia tidak boleh tahu. Kita harus berusaha merahasiakan ini, bagaimanapun caranya."
"Apa pun itu, aku mendukungmu," Aditya tersenyum seraya menggenggam tangan istrinya.
"Apa yang tidak boleh kuketahui?"
Deg!
__ADS_1
"Arshia?"
***