
Gunji sudah mulai menyerang, Isshira hanya menghindar tanpa menjatuhkan pukulan apapun.
Sudah lewat 15 menit, tapi pukulan Gunji tak sedikitpun mengenai Isshira. Itu membuatnya sedikit kesal dan akhirnya ia mengerahkan semua kemampuan tercepatnya. Lagi-lagi pukulan beruntun dari Gunji pun tak bisa menyentuh Isshira. Dan itu cukup membuat penonton merasa takjub dengan kemampuan yang dimiliki Isshira.
"Kenapa tidak menyerang?" Bisik Gunji.
"Aku takut kau akan kehilangan harga dirimu karena kalah dariku..." jawab Isshira sambil tersenyum sinis.
"Hah... Bilang saja jika kau tidak memiliki tenaga untuk mengayunkan tongkatnya..." ejek Gunji sambil tertawa kecil.
"Baiklah... Kau yang memintanya..." ucap Isshira seraya menarik nafas dalam-dalam dan mengeluarkannya perlahan.
Seketika tatapan Isshira berubah sangat menyeramkan, seperti seorang pembunuh bayaran yang siap membunuh siapa saja yang menghalanginya.
Akhirnya Isshira pun mulai memberikan serangan.
TAKK! TAKK! TAKK! TAKK!
Sekali serang dengan 4 pukulan beruntun milik Isshira, Gunji pun kalah... Padahal Isshira tak menyentuh kulit Gunji sedikitpun, ia menahannya, karena Isshira yakin Gunji tak akan bisa menahan tenaga dalam yang dimilikinya.
"Kau kalah..." ucap Isshira sambil memberi salam.
"Mari bermain satu ronde lagi..." tantang Gunji yang tidak puas dengan pertandingan yang baru saja berakhir.
Isshira tersenyum sinis.
"Satu ronde saja kau tak bisa menang dariku, apalagi satu ronde lagi dan seterusnya... Aku takut aku tidak bisa menahan diri lagi... Sudah selesai, aku menang..." ucap Isshira sambil berjalan keluar arena.
Gunji tak bisa menahan Isshira yang berjalan menjauh darinya. Ia begitu ingin menahannya, tapi ia tak bisa meraihnya.
Para penonton sedikit kecewa karena Gunji gagal lagi mendapatkan Isshira.
Kali ini Gunji benar-benar kehilangan kesempatan lagi. Ia tak akan bisa mengganggu Isshira lagi.
"Apa aku benar-benar harus melepaskanmu? Apa aku bisa?" tanya Gunji dalam hatinya yang begitu sakit melihat Isshira pergi begitu saja tanpa menoleh kebelakang sedikitpun.
🌹
"Halo... Ini dengan siapa?"
"Gunji, ini aku Isshira..."
Mendengar nama itu Gunji langsung tersenyum begitu manis.
__ADS_1
"Kau ada dimana?" tanya Isshira.
"Aku ada di perusahaan ayahku..." jawab Gunji sambil menahan rasa ingin melompat karena begitu bahagia. Ini pertama kalinya Isshira menelponnya, bahkan menanyakan keberadaannya.
"Aku ada di lobi perusahaan ayahmu..."
"Be-benarkah?! A-aku akan segera kesana, tunggu aku!" jawab Gunji sambil berlari menuju lobi dengan perasaan bahagia yang meluap-luap.
Saat pintu lift terbuka, betapa rasanya ingin berlari dan memeluk seorang wanita berambut panjang warna abu-abu itu.
"Dari belakang saja ia sudah terlihat begitu cantik dan membuat orang ingin memeluknya, siapa yang akan menjadi pendamping hidupnya kelak yaaa?" ucap Gunji dalam hatinya sambil berjalan dengan tegap menuju tempat dimana Isshira menunggunya.
"Isshira?" panggil Gunji dengan lembut
"Gunji... Apa kau ada waktu luang?" tanya Isshira dengan nada yang begitu santai.
"Ya aku kebetulan hari ini tidak ada jadwal rapat atau pembelajaran lainnya..." jawab Gunji sambil berharap Isshira akan mengajaknya makan atau pergi ke taman hiburan atau semacam itu lah.
"Okee... Ayo ikut aku..." ajak Isshira sambil menarik tangan Gunji yang sedari tadi hanya diam memandangnya.
"Hei! Jika kau keberatan pergi bilang saja, jangan diam seperti itu..." ucap Isshira sambil melihat Gunji yang hanya diam.
"Ini pertama kalinya Isshira menggenggam tanganku begitu erat... Ku mohon jangan lepaskan..." ucap Gunji dalam hatinya, ia tak menyadari bahwa Isshira sudah memanggilnya berkali-kali.
"GUNJI!!!" panggil Isshira dengan begitu keras, membuat seisi orang yang berada di lobi mengalihkan pandangan padanya.
Tapi tiba-tiba seorang satpam mendekat.
"Maaf tuan muda, jika nona ini mengganggu tuan, saya bisa mengusirnya..." ucap satpam itu seraya menarik tangan Isshira.
Gunji memberi isyarat pada satpam tersebut untuk menghentikan tindakannya.
"Dia adalah temanku... Tadi aku hanya melamun, hingga tak sadar bahwa ia sudah memanggilku berkali-kali..." penjelasannya itu lebih dari cukup untuk membuat satpam itu kembali ke tempatnya bekerja.
"Maaf Isshira, ayo pergi..."
Isshira hanya mengangguk, lalu mereka berdua pergi menuju sebuah tempat yang telah Isshira persiapkan.
🌹
Akhirnya 3 jam perjalanan sunyi yang baru saja terjadi dalam mobil Isshira telah sampai pada tempat tujuan.
Gunji memperhatikan sekitar...
__ADS_1
"Untuk apa kemari?" tanya Gunji sambil mengikuti kemana Isshira berjalan. Sepertinya Isshira memang sangat mengenal tempat itu.
"Ini kaki gunung Maoju... Disini adalah tempatku berlatih macam-macam beladiri dengan seorang guru legendaris..." jawab Isshira dengan sangat bersemangat sambil terus berjalan melewati semak belukar, bebatuan, tanjakan, dan masih banyak tanaman liar yang mereka berdua lewati.
Setelah sekian menit mereka mendaki, akhirnya terlihatlah sebuah gubuk kecil yang terlihat sangat tua.
"Bagaimana kau bisa menemukan tempat terpencil ini?" tanya Gunji dengan penuh rasa penasaran, karena tempat itu benar-benar tak akan ditemukan oleh peta.
"Beliau adalah seorang guru dari guruku dan karena aku telah menyelesaikan ilmu bela diri dari murid guruku yang juga guruku, beliau memberi tahukan tempat gurunya, ya begitulah, sekarang aku menjadi muridnya juga. Beliau juga titisan samurai legendaris, satu-satunya orang yang memiliki darah dan ilmu pedang para samurai sejati adalah beliau..." penjelasan rumit Isshira ternyata begitu mudah dipahami oleh Gunji dalam sekali dengar saja.
"Lalu bagaimana cara murid beliau yang menjadi gurumu itu menemukan tempat ini?" tanya Gunji yang memang begitu penasaran dengan tempat itu.
"Dari cerita beliau, katanya beliau dibuang di sungai Han oleh seseorang yang sangat membencinya, saat itu beliau sudah menyerah akan hidupnya. Tapi disana malah takdir mempertemukannya dengan guru Yin ini, dan dibawa kemari untuk menyembunyikan identitasnya. Dan setelah beberapa puluh tahun disini, guru Yin mempersilahkan beliau untuk keluar dari sana untuk memperbaiki dunia yang sudah rusak karena ulah orang-orang tak bertanggung jawab." mereka berdua berhenti sejenak dibawah pohon ekk yang hanya berjarak 5 meter dari rumah gubuk milik guru Yin itu.
"Lalu apa murid guru Yin itu mengetahui siapa yang berencana membunuhnya itu? Apa beliau kembali untuk membalas dendam?" tanya Gunji yang membuat Isshira mulai kesal.
"Ya makanya aku benci denganmu... Kau itu terlalu selalu terlalu serius dan tak bisa meninggalkan kejanggalan sedikitpun, harus sangat jelas... Kenapa tidak jadi detektif saja? Kau pasti bisa menyelesaikan banyak kasus..." ucap Isshira dengan ketus.
Gunji tertawa kecil...
"Apa yang kau tertawakan?" ucap Isshira dengan nada jengkel.
"Kau yang selalu marah denganku, itulah yang membuatku selalu merindukanmu lagi, lagi dan lagi..."
Tiba-tiba suasana menjadi sangat canggung...
Tanpa berkata-kata, Isshira berjalan mendekat pada gubuk itu, meninggalkan Gunji yang sedang memandangnya sambil tertawa kecil, entah apa yang ia tertawakan.
Didepan gubuk itu, Isshira membungkuk dan bersujud untuk memberi salam pada Gurunya, Gunji mengikutinya.
Setelah kembali berdiri, Gunji memulai lagi dengan sebuah pertanyaan.
"Mana guru Yin-mu?" tanya Gunji sesaat setelah merasa gubuk kecil tua itu tak ada satupun orang didalam.
"Beliau meninggal minggu lalu... Aku kemari karena aku sangat merindukan beliau, beliau sudah seperti kakekku sendiri..." hening, Isshira menatap gubuk itu. Pikirannya melambung pada masa lalu, saat disana masih ada Guru Yin yang tertawa bersamanya.
"Lalu kenapa kau membawaku kemari?"
Isshira menggertakkan giginya. Tanda bahwa ia sangat kesal.
"Aku sudah berniat ingin memberimu sebuah kesempatan untuk mendapatkan hatiku... Tapi sepertinya itu tidak perlu... Aku sudah slesai, aku mau pulang..." Ucap Isshira sambil berjalan cepat meninggalkan Gunji yang menertawakannya.
"Sifat pemarahmu itu yang aku sukai..." sahut Gunji sambil berlari mengejar Isshira yang sudah hampir tak terlihat.
__ADS_1
Setelah Gunji berhasil sampai disamping Isshira, tiba-tiba Gunji memeluknya sambil berbisik "terimakasih telah memberiku kesempatan, aku akan berusaha...".
Entah apa yang terjadi, waktu terasa berhenti begitu saja...