I'M A Girl

I'M A Girl
The Blue Crystal


__ADS_3

***Dua orang lelaki muda penuh luka terus saling pukul. Memperebutkan sesuatu yang begitu penting bagi mereka. Sebuah benda yang mampu merubah takdir menjadi lebih baik, asal jatuh ke tangan orang yang baik pula.


Mereka terus saling mengejar hingga ke jalan kota. Memanfaatkan kendaraan yang berlalu-lalang untuk bersembunyi sambil mencuri peluang untuk menyerang & merebut sesuatu yang berharga itu.


Kekuatan mereka seimbang. Tak ada yang bisa menang, tak ada yang bisa kalah. Mereka terlihat seperti bermain kucing-kucingan. Lari sana lalu bersembunyi, lari sini lalu bersembunyi lagi sambil memikirkan rencana bagaimana agar dapat merebut kembali benda itu.


Ketika satunya berhasil merebut sesuatu yang berharga itu, ia akan sibuk melarikan diri. Sedangkan satunya, ia akan sibuk mencari peluang merebutnya kembali. Tapi tanpa mereka sadari, taktik pemikiran mereka sama. Hingga tak ada yang bisa menebak siapa yang akan berhasil memenangkan sesuatu yang berharga itu***


🌹


Gunji dan Isshira masih menikmati sisa waktu sore di tepi pantai. Menikmati sunset yang begitu memikat mata. Tapi bagi Gunji, hanya Isshira yang mampu memikat matanya. Hanya Isshira yang membuatnya tak bisa memalingkan wajah.


Isshira mulai merasa canggung ketika menyadari bahwa sedari tadi Gunji memandangnya, bukan langit senja yang mekar di ufuk barat.


"Gu-Gunji... Berhentilah menatapku... Itu langitnya sangat indah..." tegur Isshira sambil mengibaskan tangan didepan wajah Gunji.


"Menurutku langit senja tak seindah wajahmu..." mendengar ucapan Gunji, wajah Isshira memerah.


Hening...


Isshira segera memalingkan wajah, sedangkan Gunji ia tak ingin memalingkan wajah dari Isshira.


Suasana yang begitu canggung bagi Isshira.


"Aaaaaah Gunji... Bagaimana dia bisa begitu..." gerutu Isshira dalam hati.


"Tapi Gunji tidak buruk juga... Ternyata dia baik, tidak seperti tuan muda sombong pada umumnya..." ucap Isshira dalam hatinya, ia mulai menyadari bahwa ia terlalu menilai buruk Gunji sebelum mengenalnya lebih dekat.


Hari sudah mulai gelap, Isshira segera bangkit.


"Gunji, hari sudah mulai gelap, aku akan pulang..." kata Isshira sambil mengambil sebuah cangkang keong unik yang ada didekat kakinya.


"Baiklah... Kau pulang duluan saja, aku akan meminta supir rumahku untuk menjemputku..." ucap Gunji mempersilahkan Isshira untuk pergi.


"Ahh tidak, aku yang mengajakmu... Tentu aku yang akan mengantarmu kembali... Ayo..." ajak Isshira sambil menarik tangan Gunji.


Gunji tak berkata-kata lagi, ia menghargai Isshira. Jika ia menolak Isshira mungkin tak apa, tapi itu bukan etika yang baik. Jangan menolak tawaran seseorang jika itu sebuah kebaikan baginya, terutama bagi kedua pihak.


Seperti tadi, perjalanan yang sunyi...


Tak ada yang berani membuka pembicaraan diantara mereka berdua...


Hingga sampailah pada saat yang berbahagia...


Emmmm salah...


Hingga sampailah mereka di kediaman Gunji.


"Terimakasih untuk hari ini Isshira..." ucap Gunji seraya turun dari mobil Isshira.


"Okay..." jawab Isshira.


Gunji pun turun dari mobil...


"Gunji, tunggu sebentar..." panggil Isshira sesaat sebelum Gunji berjalan terlalu jauh.

__ADS_1


"Iya ada apa?"


"Ini untukmu. Ini memang bukan apa-apa, ini cangkang keong yang aku pungut di pantai tadi. Ini kenangan pertama kita di pantai. Aku harap kamu bisa menjaga benda yang tak berharga ini. Jika kamu saja bisa menjaga dengan benar benda titipan aku yang tak berharga sekalipun, mungkin aku bisa lebih percaya padamu..." Isshira ingin memberikan sebuah amanah sebagai ujian kepercayaan pada Gunji.


"Ya baiklah... Akan ku jaga benda ini..." jawab Gunji sambil tersenyum menerima cangkang keong yang diberikan Isshira.


"Baik, hari ini sampai disini dulu... Sampai bertemu kembali..." ucap Isshira sebagai salam sebelum pergi.


"Ya sampai bertemu kembali... untuk esok dan seterusnya..." ucap Gunji sambil berbisik dalam hatinya.


Isshira pun pergi meninggalkan halaman rumah Gunji yang tak kalah megah dari rumahnya...


Kepergian Isshira menyisakan sebuah harapan dihati Gunji. Ia berharap ia akan bisa bersama Isshira seperti itu, untuk hari itu, esok dan seterusnya...


🌹


Hanya dalam sehari, kedekatan Gunji dan Isshira menggemparkan seisi SMA. Berita yang juga membuat keluarga dari kedua belah pihak merasa senang. Karena dikantor ayah Gunji, tersebar berita bahwa Gunji adalah seorang gay. Sedangkan Isshira yang dikenal dengan seorang wanita yang lebih dingin dari gumpalan es di Kutub.


Lagi pula keduanya sama berasal dari keluarga terpandang. Tak mungkin ada yang menolak hubungan mereka berdua.


🌹


Suatu malam, sekitar pukul 8 malam. Isshira berjalan-jalan seorang diri, ia begitu ingin menikmati udara malam sambil mencari toko kue. Ia sangat ingin mencari ketenangan yang sudah lama tak ia rasakan.


Ia ingin memastikan bagaimana perasaannya pada Gunji. Bagaimana perasaannya setelah mulai menerima Gunji. Ia ingin merenungkannya dan merasakannya baik-baik. Ia tak ingin salah mencintai lelaki.


Menurutnya jatuh cinta itu hanya sekali dan berlaku untuk selamanya...


Tiba-tiba ia dikejutkan oleh suara teriakan seorang wanita. Isshira diam dan memejamkan matanya untuk memfokuskan pendengaran. Setelah ia mendengar jelas dari mana asal suara teriakan tadi, Isshira segera berlari mendatangi tempat tersebut.


Isshira memasuki lorong tersebut tanpa ragu.


Semakin ia terus kedalam, semakin jelas suara seorang wanita yang meringis kesakitan minta ampun. Dan terdengar suara ribut lelaki. Bukan hanya satu atau dua lelaki, mereka segerombolan lelaki entah berapa jumlahnya. Bisa jadi belasan, bahkan puluhan.


Tak ada rasa takut sedikitpun yang menyergap Isshira. Ia tenang-tenang saja. Ia tak bisa membiarkan seorang wanita ditindas begitu saja. Sebagai sesama kaum wanita, ia rela mengeluarkan banyak tenaga, asal wanita itu selamat.


Setelah dekat dengan mereka, Isshira bisa melihat dengan jelas apa yang mereka perbuat dengan wanita itu. Isshira merasa sangat jijik dan marah. Berani-beraninya mereka melecehkan seorang wanita didekat rumahnya. Isshira mengepal tangannya, siap-siap untuk menghajar mereka semua.


Isshira bisa melihat dengan jelas karena lampu motor yang mereka nyalakan untuk memberikan sedikit penerangan.


"Hentikan kelakuan menjijikkan kalian!" teriak Isshira tanpa ada ragi sedikitpun.


Pandangan mereka langsung tertuju pada Isshira.


"Hei yo kau! Siapa kau berani-beraninya menyuruh kami berhenti..." ucap seorang diantara mereka.


"Hentikan saja, jika kalian ingin keluar dari sini dengan selamat..." ucap Isshira dengan santai.


"Wah Wah... Berani sekali... Apa aku tidak salah dengar? Yang benar itu begini nona, apakah kau yang bisa keluar dengan selamat setelah membuat kami marah..." ucapnya yang disusul dengan tawa yang memekakkan telinga.


"Mari kita buktikan saja. Jika aku menang, lepaskan perempuan itu. Jika aku yang kalah silahkan kalian mau berbuat apa saja padaku. Bagaimana?" penawaran Isshira membuat mereka terlihat sangat bersemangat, begitu juga dengan Isshira, ia sangat bersemangat untuk menghabisi sampah masayarakat seperti mereka.


"Okeee!" ucap mereka serentak.


Tanpa aba-aba, mereka langsung menyerbu.

__ADS_1


Seketika, raut wajah Isshira menjadi begitu menyeramkan. Hawa pembunuh mulai terasa.


"7 Lawan satu... Cuih! Ini Sangat mudah, apalagi cuma sampah seperti mereka!" ucap Isshira dalam hati. Ia sudah sangat siap untuk menghabisi mereka semua.


DUAAAKK DUAAKK DUAAKKK, lalu ia menghindar.


DUAAKK DUAAKK, menghindar lagi.


Kini Isshira mengincar perut mereka, yakk peluang sudah terlihat DUAAKKK DUAAKKK, dan tentu saja kena dengan tepat.


Pukulan mereka tak bisa mengenai Isshira sedikitpun. Dan sebaliknya, mereka tak bisa mengindari gerakan cepat Isshira.


Melihat mereka yang meringis kesakitan, ia merasa sangat puas. Sekarang tinggal satu, karena telah menyadari bahwa kawan-kawannya telah tumbang dengan mudah, ia menggunakan perempuan itu sebagai sandera nya.


"Percuma kau menggunakan perempuan itu untuk mengancamku..." ucap Isshira dengan sangat jengkel.


"Lihat, apalagi yang kau bisa..." ancam lelaki yang menyandera perempuan itu.


Perempuan itu mohon ampun pada lelaki itu agar tidak membunuhnya.


Isshira sudah tidak bisa menunggu lebih lama lagi. Ia melihat sekitarnya. Mencari sebuah senjata kecil yang bisa ia lemparkan. Tapi ia tak menemukan satupun.


Akhirnya Isshira teringat jika disaku jampernya ada satu koin. Hanya satu koin itu yang bisa ia gunakan untuk membuat lelaki itu untuk memecah fokusnya.


Isshira menggenggam koin itu erat-erat. Mencari titik yang tepat dimana ia harus melempar koin itu.


Setelah beberapa detik kemudian, Isshira menemukan titik lemah lelaki itu. Ia menemukan fakta bahwa lelaki itu tak bisa memegang pisau dengan benar. Akhirnya ia memutuskan untuk melempar koin itu pada punggung tangannya yang sedang memegang pisau.


"Kenapa diam saja! Kau....." belum sempat lelaki itu menyelesaikan kata-katanya, Isshira sudah melempar koinnya dengan sekuat tenaga hingga punggung tangan lelaki itu berdarah dan pisau pun terlepas dari tangannya.


Peluang itu pun tak bisa ia sia-siakan. Isshira berlari secepat mungkin sambil mengambil jurus untuk menendang lelaki itu hingga terpental jauh kebelakang.


Wanita itu menangis dan tak henti-hentinya berterima kasih pada Isshira.


Beberapa detik kemudian, suara sirine mobil polisi dan ambulance datang.


Memang sebelum Isshira memasuki lorong tersebut, ia sudah menelpon polisi & rumah sakit.


Dugaannya memang tepat.


Isshira mengenakan maskernya, lalu pergi. Ia tak ingin ada polisi yang mengenalinya sebagai putri dari seorang keluarga terpandang.


Setelah keluar dari lorong, Isshira melihat jam yang tertera dilayar handphone nya.


"Aaarghhh! Sudah waktunya pulang!" gerutunya dalam hati seraya berlari menuju rumahnya.


Tapi tiba-tiba seorang lelaki mengenakan setelan jas hitam yang tak rapi sedikitpun menabraknya.


"Maaf nona!" ucap lelaki itu lalu kembali berlari. Terlihat seperti dikejar sesuatu.


Isshira tak terlalu memikirkan lelaki itu. Ia kembali berlari menuju rumahnya. Tapi langkahnya terhenti saat ia melihat sebuah kristal es biru dihadapannya.


Terlihat sangat indah...


Ia memungut kristal es biru itu. Melihat dengan seksama. Setelah beberapa menit ia memandangi kristal es biru itu akhirnya ia memutuskan untuk membawanya pulang.

__ADS_1


...


__ADS_2