
Tenshi mendatangi hutan dibelakang rumah keluarga angkatnya. Hutan dimana ia ditemukan seorang diri.
Ia sudah beberapa kali mendatangi hutan itu, lalu berkeliling. Untuk mencari ingatan sebelum ia diadopsi oleh keluarga kaya raya tersebut. Tapi ia tak bisa mengingat apapun.
Ia berharap, meskipun ia telah menjadi lelaki, ia tetap ingin tau siapa kedua orang tuanya dan mengapa mereka meninggalkannya dihutan itu. Jika saja mereka tidak mengakui Tenshi sebagai anak mereka karena ia telah menjadi lelaki, itu tak masalah, yang terpenting ia sudah tau bahwa ia memang dilahirkan ke dunia dengan kedua orang tua.
Tenshi kembali mengelilingi hutan itu. Mencoba mengingat mengapa ia sendirian menangis disana. Terutama dibawah pohon besar yang pernah ia retakkan. Karena pelayan pernah mengatakan bahwa kurang lebih usia 5 tahun ia ditemukan dibawah pohon besar itu sambil menangis tersedu-sedu.
Sudah beberapa menit ia memandangi pohon besar itu, tapi tak ada ingatan apapun yang muncul. Akhirnya ia menyerah.
Lalu Tenshi duduk dibawah pohon tersebut sambil menggerai rambutnya. Ia merasakan sosok Isshira yang masih melekat. Ia sengaja tak memotong rambut panjangnya agar ia tetap mengingat bahwa ia pernah menjadi seorang perempuan yang sangat cantik.
Rambut abu-abu panjangnya tertiup angin...
Tampan...
Tapi juga terlihat cantik...
Tebia-tiba seseorang mengejutkannya. Seseorang yang tak asing lagi bagi Isshira, bukan untuk Tenshi...
"Isshira!" Panggil seseorang yang melihat Tenshi dari belakang yang sedang duduk dibawah pohon.
Setelah seseorang yang memanggilnya itu berada di dekatnya, ia langsung memeluk Tenshi...
Betapa terkejutnya Tenshi...
Seorang lelaki yang tak asing lagi memeluknya begitu erat. Tapi ini tak bisa dibiarkan, karena Tenshi bukan lagi Isshira. Isshira telah menghilang...
Dan ia telah menyadari, kehilangan Isshira itu karena ada kaitannya dengan Kristal es Biru yang ia pungut dipinggir jalan waktu itu. Malam terakhir saat ia masih menjadi Isshira.
Kristal es Biru itu pasti memiliki kekuatan magis yang tak ia ketahui. Dan ia juga ingat pernah melihat ada dua lelaki berjas orang yang tengah saling nengejar disepanjang jalan yang ia lewati, sepertinya sedang memperebutkan Kristal es Biru itu. Karena Kristal es Biru itu ia temukan sesaat setelah ia ditabrak oleh salah satu dari mereka yang berhasil melarikan diri.
Entah apa yang harus ia lakukan dengan kristal es Biru ditubuhnya itu...
"Ekhem! Maaf tuan, saya bukan Isshira..." ucap Tenshi yang hampir tercekik gara-gara pelukan erat seseorang yang mencari Isshira tersebut.
Mendengar suara lelaki yang berbicara, seseorang itu pun terkejut dan melepaskan pelukannya...
Tenshi ingin tertawa sekaligus terharu melihat Gunji yang ternyata selalu mencari dirinya yang dulu...
"Ekhemm... Maaf, kupikir kau adalah wanita... Rambutmu panjang dan begitu sama dengan wanita yang aku cari..." ucap Gunji menahan malu, lalu duduk disamping Tenshi.
Tatapannya penuh kesedihan dan kelelahan...
"Sudah berapa lama ia mencariku... Seperti nya ia sangat lelah karena mencariku... Tapi maaf Gunji, Isshira sudah tiada..." ucap Tenshi dalam hatinya.
"Sepertinya kau lelah bung... Siapa yang sedang kau cari?" tanya Tenshi sekedar basa-basi.
"Seorang wanita cantik bernama Isshira..." jawab Gunji dengan nada yang terdengar begitu menyedihkan.
__ADS_1
"Kata ayahnya dia pergi dengan seorang temannya, sepertinya lelaki. Karena pelayan yang waktu itu membangunkan Isshira, mendengar suara lelaki yang menyahut nya. Saat pintu berhasil didobrak, mereka sudah pergi. Isshira pun tak membawa sepeser uang pun. Entah bagaimana dia sekarang." lanjut Gunji dengan penuh rasa sedih.
Tenshi semakin terharu melihat Gunji yang begitu peduli pada Isshira...
"Memang kenapa dia melarikan diri dengan temannya?" tanya Tenshi, berpura-pura tidak mengetahui segalanya. Padahal dialah orang yang dicari.
"Menurut surat yang ia tulis, Isshira pergi mencari keluarga kandungnya. Aku memang mengetahui dari dulu jika ia bukan anak kandung Keluarga Tsuki." jawab Gunji sambil menengadahkan kepalanya.
"Emmm begitu... Apa tidak apa aku mengetahui masalah ini? Kau kan baru saja bertemu denganku?" tanya Tenshi.
"Tak apa, aku bisa sekalian meminta bantuan mu, jika kau melihat wanita ini, tolong hubungi nomorku yang tertulis disana." jawab Gunji sambil memberikan selembar foto dengan beberapa angka dibawahnya(nomor telepon Gunji).
Hening...
Hanya terdengar suara jangkrik...
"Hei bro, siapa namamu...?" tanya Gunji pada Tenshi.
"Tenshi..." ucap Tenshi sambil mengulurkan tangannya.
"Aku Gunji..." sahut Gunji sambil menerima uluran tangan Tenshi.
Sesaat kemudian mereka berdua tertawa...
Entah apa yang lucu...
"Ya tak apa, aku tau kau juga sangat khawatir dengan gadismu..." ucap Tenshi. Ingin sekali ia mengakui bahwa ialah Isshira agar Gunji berhenti berharap padanya. Tapi itu tak mungkin, tak akan ada yang percaya bahwa ia Isshira si Princess itu.
"Kau bersekolah dimana?" tanya Gunji.
"Di SMA Hwang Ji."
"Kau tinggal dimana?"
"Dirumah keluarga Aoi..."
"Apa kau dari keluarga Aoi? Marga mu Aoi?"
"Bukan, aku bermarga Shi, dari keluarga Shiroi." ucap Tenshi.
"Keluarga Shiroi?" Gunji mengerutkan keningnya. Mengingat-ingat keluarga mana Shiroi itu. Tapi ia tak pernah membaca keluarga bermarga Shi dalam daftar keluarga besar yang ada.
"Sudah lah... Kau tidak akan tau... Keluarga Shiroi hanyalah sebuah keluarga kerajaan..."
"Waaah jadi kau seorang pangeran muda ya... Apa kau seorang yang akan naik tahta di pemerintahan selanjutnya?"
"Tentu saja..."
"Waah bagus sekali, dimana kerajaan kalian?"
__ADS_1
Tenshi tertawa...
Ia tak percaya bahwa ia benar-benar harus bergantung pada cerita dongeng itu...
"Kerajaan Shiroi ada di sebuah tempat yang tersembunyi. Tapi didalamnya ada banyak hal luat biasa yang satupun dari kalian tidak akan memiliki nya. Jika orang luar tau tentang keberadaan dan apa yang kami miliki, tentu kalian akan berebut untuk mengambil kerajaan kami. Oleh karena itu kami menyembunyikannya." jawab Tenshi.
"Emm begitu yaaa... Baiklah pangeran, mari kita berteman..." ucap Gunji sambil memberikan sambutan dekapan pada teman barunya.
"Okee kita berteman..." kata Tenshi sambil membalas dekapan Gunji.
"Aku harus pergi, ayahku akan mencariku di perusahaan Lin." pamit Gunji seraya berlari meninggalkan Tenshi yang masih duduk dibawah pohon besar itu.
"Karena aku tidak bisa kembali menjadi Isshira dan mencintaimu layak nya lelaki dan perempuan yang jatuh cinta, setidaknya biarkan aku menjagamu dengan menjadi teman mu..." ucap Tenshi dalam hatinya.
Sendiri lagi...
Ia telah lama terdiam hingga tertidur...
Tiba-tiba...ada sebuah suara yang membangunkannya...
Suara-suara yang tengah memperebutkan sesuatu...
Tenshi pun perlahan membuka matanya. Awalnya ia berpikir suara-suara itu hanyalah mimpi disiang bolong.
Tapi ternyata tidak...
Suara itu terdengar semakin jelas...
Tenshi pun mencoba mencari asal suara tersebut...
Setelah beberapa saat ia mencari, akhirnya ia menemukan asal suara ribut itu...
Percaya atau tidak, suara itu berasal dari dalam pohon besar yang ia gunakan untuk bersandar. Itu pohon yang pernah ia pukul hingga retak.
Tenshi berkali-kali memastikannya dengan mendekatkan telinganya pada pohon, terutama pada retakan yang ia buat.
Memang terdengar sangat jelas suara ribut orang-orang yang tengah memperebutkan sesuatu itu...
"Ahh mungkin aku hanya berhalusinasi, aku tak percaya dongeng dari nenek itu benar-benar membuatku menjadi memikirkan hal yang tidak-tidak. Mana mungkin pohon ini adalah pintu menuju Negeri Shiroi Kumo. Shiroi Kumo hanyalah dongeng, aku hanya berhalusinasi. Lebih baik aku kembali ke SMA Hwang Ji menunggu Mika." ucap Tenshi, berusaha menyangkal kenyataan bahwa pohon itu memiliki sesuatu yang luar biasa yang tak pernah diduga oleh manusia bumi.
Sebuah hal magis luar biasa yang bisa menggemparkan dunia jika mengetahuinya...
Tenshi meninggalkannya begitu saja...
Ia lebih mempercayai suara-suara itu hanyalah halusinasinya saja...
Tanpa memikirkan suara itu lagi, Tenshi pergi menuju mobil Mika yang ia parkir kan dipinggir hutan.
Lalu ia kembali ke SMA Hwang Ji, menunggu Mika disana...
__ADS_1