
Sesampainya dikamarnya, tak henti-hentinya ia memandangi kristal es biru itu. Suhu kristal itu terasa sedingin es tapi tak meleleh sedikitpun. Akhirnya Isshira mencoba untuk mengambil segelas air dan memasukkan kristal es biru itu kedalamnya.
Ia menunggu lelehnya kristal es itu sambil merebahkan badannya diatas ranjang empuknya. Kristal es biru itu terlihat lebih mengkilat saat didalam air dan terkena cahaya bulan yang masuk dari jendela kamar yang ia buka.
Kristal es biru itu terlihat sangat berkilau. Membuat Isshira benar-benar terpukau.
Tapi beberapa saat kemudian, Isshira menyadari bahwa ukuran kristal es biru itu mulai mengecil.
"Yahh sepertinya memang hanya kristal es biasa... Kupikir jika itu kristal benaran, aku akan kaya..." ucap Isshira dalam hatinya.
Setelah kristal es itu larut dengan air, Isshira merasa kehausan dan meminumnya. Terasa lebih segar dari air es biasa.
Lalu Isshira kembali berbaring, bersiap-siap untuk tidur.
Seperti biasa, sebelum tidur Isshira selalu membayangkan jika saja ia dilahirkan sebagai seorang lelaki, ia pasti tidak akan susah seperti sekarang yang harus menjaga ini kek yang harus menjaga penampilan kek, keluar malam dibatasi, disekolah dilarang ekskul beladiri, haduuuh...itu terlalu rumit baginya. Isshira ingin bebas, ia ingin bebas menjadi dirinya sendiri yang memiliki sifat tomboy sedari kecil.
Ia merasa kesusahan menjadi seorang perempuan. Tapi bagaimana lagi, ia sudah dilahirkan menjadi seorang perempuan. Meskipun ia tau jika zaman sekarang sudah canggih, bahkan jika ia ingin melakukan transgender sekalipun itu akan berhasil dengan sempurna. Tapi menurutnya itu adalah hal yang menjijikkan dan ayahnya juga tak akan mengizinkan.
Hingga ia pun tertidur...
🌹
Keesokan paginya...
Sebuah ketukan pintu membangunkannya...
"Nona... Sudah waktunya bangun..." ucap seorang pelayan.
Ia yang masih belum sepenuhnya sadar pun mulai menyadari bahwa ada yang tidak beres...
"Nona Isshira... Sudah waktunya bangun..." ulang pelayan itu.
Akhirnya Isshira pun duduk untuk menyadarkan dirinya. Ia mulai merasakan sesuatu yang aneh dari tubuhnya. Tapi ia tak begitu memperhatikan karena ia belum. sepenuhnya sadar.
"Nona... Apa anda sudah bangun...?" tanya pelayan itu untuk memastikan.
"Ya aku bangun..." sahut Isshira agar pelayan itu berhenti memanggilnya, karena itu sangat mengganggu.
"Nona Isshira!? Kenapa ada suara lelaki didalam!? Nona!? Apakah nona Isshira didalam!?" pelayan itu terdengar panik setelah mendengar suara sahutan dari Isshira.
Isshira tak mengerti yang dimaksud pelayan itu...
"Suara lekaki? Dimana ada? Perasaan hanya ada aku disini..." seketika rasa kantuk Isshira menghilang ketika ia menggaruk dadanya yang terasa gatal.
"Tunggu! Apa aku masih didalam mimpi? Apa aku bermimpi? Kenapa dadaku rata?" tanya Isshira dalam hati.
__ADS_1
Akhirnya Isshira berusaha memastikannya dengan berkaca. Setelah berahadapan dengan cermin, Isshira terkejut bukan main. Pantas saja pelayan itu terkejut mendengar sahutannya. Dan sepertinya pelayan itu akan segera memanggil pengawalnya untuk mendobrak pintu kamar.
"Aaaah aku harus bagaimana ini? Aku harus pergi dari sini, tapi aku akan kabur lewat mana?" Isshira bingung kemana ia harus melarikan diri dari rumahnya sendiri. Semua orang pasti akan bingung jika melihatnya keluar dari kamarnya begitu saja.
Bagaimana tidak... Kini ia telah menjadi seorang lelaki... Keinginannya terkabul... Tapi ini malah semakin membuatnya bingung.
Benar ini memang keinginannya, tapi bukan dengan cara seperti itu yang ia maksud...
Dan yang ia herankan, kenapa bisa tiba-tiba menjadi lelaki? Apa semalam yang telah ia lakukan?
Dalam keadaan panik seperti itu, Isshira tak bisa berpikir jernih. Akhirnya ia memutuskan untuk melarikan diri dulu, baru setelah ia berhasil melarikan diri, ia akan memikirkan baik-baik apa yang telah ia perbuat hingga bisa membuatnya seperti ini.
Isshira berlari menuju jendela dan membukanya lebar-lebar... Ia tak mungkin melompat, karena itu akan membuatnya kehilangan nyawanya, karena kamarnya berada dilantai tiga...
Hampir saja ia melupakan pakaian yang ia kenakan...
Secepat mungkin ia mencari pakaian yang bisa dikenakannya. Pakaian lelaki yang sekiranya semua lelaki bisa memilikinya. Setelah beberapa menit berpikir dan pintu pun sudah mulai didorong paksa oleh para pengawalnya, ia memutuskan untuk memakai seragam beladiri nya yang kini pun terasa lebih kecil dari yang biasanya ia kenakan, lalu menulis surat kecil untuk membuat mereka sedikit tidak mencurigai kepergiannya.
Isi suratnya:
*Ayah...
Kakak-kakakku...
Aku pergi dengan temanku untuk mencari keluarga kandungku...
Aku harap ayah dan kakak-kakakku tersayang bisa mempercayaiku juga...
Aku bisa jaga diri, ayah...
Terimakasih telah merawatku selama ini...
Isshira*...
Setelah menulis surat itu, Isshira keluar melewati jendela kamarnya. Turun melewati pijakan seadanya, itu mudah karena ia memiliki ilmu beladiri yang luar biasa. Untung juga ia sudah begitu hafal dengan letak CCTV dirumahnya. Itu mudah baginya untuk melarikan diri dengan aman tanpa terekam CCTV sedikitpun.
Setelah berhasil turun dari gedung rumahnya, ia memilih terowongan kecil bawah tanah yang pernah dibuatnya untuk melarikan diri ketika ia bosan dirumah. Terowongan kecil yang ia buat dibalik semak-semak ditaman belakang rumahnya dan terowongan itu mengarah ke dalam hutan belakang rumahnya.
Ketika ia berhasil keluar dari terowongan kecil itu, ia merasa lega. Akhirnya ia bisa bebas juga dari keluarga angkatnya.
Tak ada seorangpun yang mengetahui bahwa sebenarnya Isshira bukanlah anak kandung keluarga konglomerat itu. Ia hanyalah anak pungut. Sebenarnya ia sangat ingin mencari alasan untuk memutuskan hubungan keluarga dengan mereka, karena ia merasa ia hanya menumpang saja.
Ia sangat ingin mencari tau siapa keluarga kandung yang sebebarnya dan mengapa mereka membuangnya, sangat ingin ia menanyakan itu pada mereka jika ia berhasil menemukannya. Tapi ayah angkatnya sangat melarang Isshira untuk mencarinya, dengan alasan agar kenyataan bahwa Isshira adalah anak pungut tidak diketahui oleh publik.
Walaupun dikeluarga angkatnya ia disayang seperti keluarga kandung sendiri, ia tetap merasa seperti seorang tamu yang hanya singgah sebentar dan pada waktunya ia harus pergi.
__ADS_1
Ya sekarang lah saat baginya untuk pergi...
Menemukan kehidupan baru...
Menjadi dirinya yang sebenarnya...
Tanpa ada batasan lagi...
Tanpa ada yang melarangnya lagi...
Tapi sesaat kemudian, ia kembali bingung. Dimana ia harus tinggal? Ia juga tak membawa sepeser uang pun...
Aaaahhh nama...
Ia juga harus memiliki nama...
Setelah beberapa menit ia berjalan di tengah hutan, ia berhenti sejenak dibawah pohon besar. Ia harus memikirkan baik-baik bagaimana kelanjutan hidupnya sebagai seorang lelaki.
Apa ini hanya sementara ataukah berlaku sepanjang sisa hidupnya?
Tapi ia mulai agak ragu lagi jika ia benar menjadi seorang lelaki. Akhirnya ia mencoba memastikan dengan membuang air kecil.
Seusai membuang air kecil, ia merasa sedikit tak nyaman dengan dirinya yang masih terbiasa dengan bagian tubuh wanita yang pernah ia miliki. Palagi ketika merasakan dadanya rata, perutnya yang membentuk tubuh lelaki sempurna (sixpack) dan bagian bawah pun terasa sangat mengganjal. Isshira merasa sedikit terganggu dengan itu.
Dan suaranya yang terdengar seperti suara lelaki yang ia impikan...
Oh ya...
Gunji? Bagaimana keadaan Gunji ketika mengetahui Isshira menghilang? Cepat atau lambat kabar itu pasti akan menyebar. Dan Isshira yang sekarang seorang lelaki tak mungkin mengakui pada Gunji bahwa ia sebenarnya adalah Isshira. Ia akan dikira orang gila.
Isshira merasa sangat ingin memastikan lagi tubuh lelakinya yang sekarang. Jadi ia melepaskan baju beladiri nya.
(Emmm gais mohon dimengerti itu hanya baju atasannya, bukan celananya ya😅jadi jangan dibayangkan dia melepas baju dan celananya)
Setelah ia telanjang dada, ia memperhatikan badannya baik-baik.
"Waaaah tubuh sempurna lelaki ini aku sangat menyukainya... Tapi memang tubuh perempuan ku yang indah itu jika diumpamakan tubuh lelaki yaa memang harusnya seperti ini..." ucap Isshira memuji tubuh athletisnya yang sempurna.
Ia pun mencoba menggunakan tubuh lelakinya untuk menguji kekuatan beladiri nya. Apakah bertambah kuat atau sama saja seperti dulu atau mungkin malah melemah.
Ketika ia mencoba beberapa jurus karate nya lalu menghantamkan pukulan tenaga dalamnya pada pohon dihadapannya, ia merasa sangat kagum pada kekuatan pada tubuhnya yang sekarang.
Ia merasa tubuh lelakinya kini lebih kuat tiga kali lipat dari tubuh perempuannya. Ia merasa sangat senang.
Tapi tak ia sadari, bahwa pohon besar yang ia pukul tadi mengeluarkan cahaya dari retakan yang ia buat. Ia hanya sibuk dengan perasaan bahagia karena bisa memiliki tubuh lelaki itu.
__ADS_1
Tanpa memikirkan retakan dipohon yang ia buat, ia langsung membawa baju beladirinya lalu berjalan keluar hutan. Perasaan bahagia itu membuatnya lupa bahwa ia sedang membutuhkan nama, uang dan tempat tinggal.
Akhirnya ia keluar hutan dengan perasaan bahagia tapi seketika juga membuatnya kembali bingung...