
Di tengah perjalanan untuk kembali ke perusahaan, Alina mengemudikan mobilnya dengan kecepatan sedang. Dia bahkan sambil bersenandung ria dengan jendela mobil yang terbuka.
Wanita itu tampak sangat menikmati hidup nya yang baru kali ini dia benar-benar bebas dari pantauan sang kakak yang sangat protektif pada nya.
Saat berada di lampu merah, Alina melihat sepasang kakek dan nenek yang sudah sangat tua sedang bergandengan tangan sambil menyebrang jalan.
Alina yang memiliki rasa solidaritas yang tinggi pun turun dari mobilnya dan membantu kedua pasangan itu agar cepat sampai di tepi jalan.
Dia membantu membawakan barang-barang yang di bawa oleh kakek itu dan ikut menggandeng kedua tangan kakek nenek itu.
Setelah selesai membantu pasangan itu, Alina kembali ke mobil dan langsung melakukan mobilnya karena lampu sudah berubah menjadi hijau.
Saat baru saja dia melajukan mobilnya, Alina dikejutkan dengan sebuah senjata api yang langsung menempel di kepala nya.
" Ikuti instruksi ku jika kau tak ingin peluru ini bersarang di kepala mu," ucap seorang pria yang sudah ada di belakang kursi kemudi Alina.
Alina merasa syok namun dia masih bisa menahan rasa ketakutan nya. Dia hanya menganggukkan kepalanya dan berusaha untuk tetap bersikap tenang meskipun sebenarnya dia sangat takut.
" Tutup kaca jendela mobil mu!" perintah pria itu dengan nada yang berbisik.
Alina menuruti perintah pria itu, dia berusaha melihat siapa pria yang sudah diam-diam masuk kedalam mobilnya dan mengancam nya seperti itu.
Apa dia perampok? atau dia suruhan dari seseorang, pikir Alina.
__ADS_1
" Sekarang ikuti semua instruksi ku, dipertigaan depan kau harus belok kiri," kata pria itu lagi.
Alina tak menjawab dan terus mengikuti semua instruksi dari pria itu. Sementara itu, pria tadi masih menodong kan pistol nya dan tangan satunya lagi mencari sesuatu di dalam tas Alina.
Pria itu mengambil ponsel milik Alina dan langsung menghancurkan benda pipih itu dengan cara menginjak nya berulang kali.
" Hei ... apa yang kau lakukan!!" tegas Alina sambil melihat kearah spion nya.
" Diamm!!! jika kau ingin selamat!" bentak pria itu hingga membuat Alina langsung terdiam.
Hingga satu jam berlalu, Alina masih saja mengikuti semua instruksi dari pria yang berusaha menyekap nya.
" Kau ingin membawa ku kemana? ini sudah sangat jauh!" kata Alina yang sudah merasa capek berkendara.
" Kita sudah ada di jalan x," kata Pria itu.
Alina tampak berpikir dan dia langsung mengerti apa yang terjadi padanya. Dia bukan di rampok melainkan ingin di sekap oleh seseorang.
Lalu pria tadi langsung menyuruh nya berhenti dan Alina pun menghentikan mobilnya di jalanan yang sangat sepi dan jauh dari permukiman warga.
Alina mulai mencerna semuanya dan dia berencana mengikutinya karena dia ingin tahu siapa dalang dari semua ini.
Alina melihat sebuah mobil yang terparkir di depan mobilnya dan ada beberapa pria berbadan besar keluar dari mobil itu.
__ADS_1
Saat tatapan matanya melihat kearah beberapa pria yang berjalan menghampiri mobilnya. Tiba-tiba mulut dan hidung nya di bekap oleh saputangan yang sudah di berikan obat bius.
Alina tak berontak hingga akhirnya dia tak sadarkan diri di dalam mobilnya.
.
.
Nina mencoba menghubungi ponsel Alina namun ponsel Alina tidak aktif. Jam sudah menunjukkan pukul 5 sore namun Alina belum kembali ke perusahaan.
Nina merasa cemas dan juga khawatir karena dia juga tahu bahwa hari ini Alina tak di ikuti oleh para bodyguard nya.
Lalu dia menghubungi Dev untuk memberitahu tentang Alina yang tak kembali ke perusahaan setelah menghadiri meeting di sebuah restoran.
Dia juga memberi tahu bahwa ponsel Alina mati. Dev langsung menghubungi anak buahnya yang sudah dia tugas kan untuk mengawasi Alina karena dia juga merasa khawatir tentang keberadaan sang Adik.
.
.
Alina mengerjapkan matanya setelah sekitar 3 jam dia tak sadarkan diri. Wanita itu mengedarkan pandangannya kesegala sudut di ruangan yang tampak nya seperti sebuah kabin didalam pesawat.
" Aku di pesawat?" gumam Alina sambil meraba keningnya yang masih merasa pusing.
__ADS_1
Lalu dia mendengar seseorang yang akan membuka pintunya, Alina pun langsung menutup kembali matanya dan berpura-pura untuk masih tak sadarkan diri.