
Dev murka saat salah satu anak buahnya memberinya kabar bahwa Alina di culik dan di bawa kabur oleh Exo, Adik sepupu nya sendiri yang sudah sangat dia percayai.
Mike pun kini sudah mengerti kenapa sikap Alina sangat berbeda saat ada Exo di sekitarnya.
" Kau salah karena sudah mempercayai Exo selama ini, Dev."
Dev menoleh dengan mata tajam nya pada Mike yang kini berdiri di belakangnya. Dia membalikkan posisi tubuh nya hingga menghadap kearah Mike.
" Ini juga salah mu karena kau tak becus menjaga adik ku, Mike!" sahut Dev kesal.
" Heii ... kau tahu kita semua sibuk dengan pekerjaan kita masing-masing. Dan kau tak memberi tahu ku bahwa kau sudah tak memberikan bodoh lagi untuk Alina!" sanggah Mike yang juga kesal.
CEKLEK
Pintu ruangan itu terbuka dan dua pria yang tengah berdebat itu menoleh secara bersamaan kearah pintu.
Mereka menatap dengan mata tajam nya pada seorang wanita yang tengah berdiri di ambang pintu.
" Heii ... kenapa kalian menatap ku seperti itu?" tanya Zea dan langsung menarik tangan Nina untuk masuk kedalam ruangan itu.
Zea berjalan menuju sofa dan menyuruh Nina untuk duduk di sofa ruangan Dev. Lalu dia berjalan menghampiri Dev dan Mike yang masih saling menatap dengan tatapan bengisnya.
" Ini bukan waktu nya kalian berdebat atau saling menyalahkan. Kita harus bertindak tegas dan membawa Alina kembali pada kita," ucap Zea menjadi penengah dan menarik lengan kekar sang suami kearah sofa.
__ADS_1
Kini semua duduk di sofa dan menjelaskan cerita dari Nina yang memang sudah menaruh curiga pada Exo sejak lama.
" Kenapa kau beru mengatakan hal ini sekarang?" kata Dev dengan menahan kekesalan nya.
" Maaf, Tuan. Aku kira Tuan Exo akan berhenti setelah Nona Alina bertindak dengan Tuan Mike. Tapi ternyata dia malah bertindak seperti ini hingga nekat membawa nya kabur," sahut Nina dengan kepala yang tertunduk.
" Apa yang sebenarnya terjadi pada mereka di masa lalu? kenapa Alina tak menceritakan hal itu pada kita," gumam Zea.
" Maaf jika aku ikut campur. Tapi menurut ku Tuan Exo sangat terobsesi pada Nona Alina hingga obsesi nya itu membuat Nona Alina tak nyaman dan merasa takut. Itu yang aku baca dari setiap tingkah Nona Alina ketika Tuan Exo berada di sekitarnya," sahut Nina.
Semua tampak saling menatap dan kini mereka yakin bahwa Exo memiliki niat jahat agar segera mendapatkan apa yang dia inginkan. Yaitu memiliki Alina seutuhnya.
" Kita akan menyusul nya bersama, Dev."
Mike menatap kearah Dev yang masih tampak berpikir keras kemana Exo akan membawa Alina pergi.
.
.
Sementara itu. Di dalam sebuah jet pribadi milik Exo.
Alina tampak menatap kearah luar jendela pesawat dengan pikiran yang kalut dan rasa takut yang kembali menyelimutinya.
__ADS_1
Exo masih berada di sana sambil fokus dengan laptopnya dan membiarkan Alina yang masih duduk di ranjang.
Sudah 3 jam penerbangan yang mereka lewati, namun tidak ada tanda-tanda jika pesawat akan mendarat.
' Apa yang harus aku lakukan?' batin Alina.
Tok tok tok
Suara ketukan di pintu membuyarkan lamunannya hingga dia menoleh kearah pintu yang kini mulai terbuka.
Muncullah dua pramugari cantik yang akan menghidangkan makan malam di kabin pesawat itu.
Mereka masuk kedalam kabin pesawat sambil mendorong sebuah troli yang di penuhi makanan karena Exo yang menyuruh mereka membawakan makanan itu kesana.
" Selamat menikmati makan malamnya, Tuan, Nona."
Exo hanya berdehem dan dia pramugari itu langsung keluar dari kabin pesawat itu. Exo menutup laptop nya dan bangkit dari kursinya.
Dia berjalan kearah ranjang dan mengajak Alina untuk makan malam bersama.
" Aku tidak lapar," sahut Alina tanpa menoleh kearah Exo.
Pria itu menghela nafasnya lalu mendarat kan bokongnya di tepi ranjang. Dia menatap kearah Alina yang masih menatap kearah luar jendela.
__ADS_1
" Maaf. Jika obsesi ku membuat mu takut, atau sikapku dulu membuat mu kecewa pada ku."
Alina menoleh dan menatap wajah tampan Exo yang tampak lesu dan tulus saat mengatakan permintaan maaf nya.