
"Rum"! panggil Arya ketika tak sengaja bertemu Ningrum di balai pertemuan.
"Mas Ar...ya"! Dengan sedikit gagap karna terkejut, ia tak menyangka akan dipertemukan dengan sosok Arya, seseorang yang berusaha keras ia lupakan.
"Assalamualaikum rum, bagaimana kabarmu? lama tak mendengar kabarmu."
"Wa'alaikumsalam mas, alhamdulilah senantiasa dalam keberkahan nikmat sehat."
Tak berselang lama ketika mereka bertanya kabar terdengar suara MC pemandu acara sudah membuka acara dalam memperingati Hardiknas yang akan diisi dengan materi pentingnya pendidikan bagi generasi Dusun Waru, guna membangun dan mengembangkan Dusun Waru ke arah yang lebih unggul. Materi akan disampaiakan oleh penggerak pendidikan Dr.Ayu Asih Setia Ningrum.
"Assalamualaikum bapak/ibu Dusun Waru." Setelah mengawali dengan pembukaan Ningrum lanjutkan dengan motifasi dan pentingnya pendidikan untuk generasi Dusun Waru, juga menyampaikan dampak posif jika anak-anak melanjutkan sekolah dan dampak negatif dari putus sekolah. Ningrum menyampaikan dengan begitu semangat, namun disisi lain ada sepasang mata yang tak lepas memandang Ningrum dengan penuh kekaguman, dia tidak apa yang disampaikan Ningrum namun mengingat dan menyesali masa lalu nya
flash back
__ADS_1
Dipesisir pantai yang hening hanya terdengar desiran ombak menemani kebisuan 2 insan yang sedang dilanda gulana
"Rum," sambil memberikan amplop coklat bertuliskan undangan walimatul'ursy ke tangan Ningrum.
"Ku harap engkau bisa hadir rum, maafkan aku yang dengan sengaja menyakiti dan melukaimu. Suatu saat engkau akan paham kenapa aku melakukan ini. Ku harap engkau menemukan calon imam yang jauh lebih sempurna, baik dan pastinya syg denganmu rum, walau mungkin cinta dan sayangku jauh lebih besar tapi takdir belum berpihak kepada kita."
Setelah memberikan undangan Arya bergegas pergi karena tak mau melihat air mata Arum dan tak mau Arum mengetahui air matanya yang sudah hampir jatuh. Andai boleh dan bisa ia ingin sekali memeluk Arum walau sesaat sebelum dia pergi, namun apalah daya ada sepasang mata yang sudah siap menerkamnya sedang mengintai dari jarak kurang dari 10 m.
"Ya Rab! apa maksud dari semua ini. kenapa dia harus hadir jika pada akhirnya akan pergi. salahkah aku merasakan sakit ini."
Ingin rasanya dia berteriak, menangis sekuat-kuatnya, ingin menyalahkan tapi pada siapa? ingin mempertanyakan ketidak Adilan tuhan padanya, namun apalah daya. Ia bersimpuh di hamparan pasir pantai, ingin melupakan segalanya namun bayangan berkelebat di pikirannya masa-masa indah bersama Arya, lelaki yang hampir 2 tahun ini mengisi hari-hari dan hatinya .
Walau tak ada kata pasti hubungan mereka tapi semua tau kalau mereka berdua saling mencintai dan merupakan pasangan yang membuat iri orang yang melihatnya.
__ADS_1
Mulai dari berangkat ke kampus, di kampus, di kantin, di musholah kampus bahkan weekend mereka selalu menghabiskan waktu bersama.
Benar kata pepatah orang Jawa WITNO alias Witing tresno jalaran Soko kulino, yah kebersamaan lah yang menumbuhkan cinta dan rasa syg di hati mereka, hingga dunia pun rasanya tak percaya jika yang tertera di undangan bukanlah nama mereka berdua, bahwa yg bersanding di pelaminan bukanlah mereka berdua.
Air mata, penyesalan, kekecewaan juga amarah Ningrum luapkan diatas sajadah di musholah Pinggir pantai, hingga kelelahan membawanya pada rasa kantuk yang amat dalam dan ia pun terlelap.
Di tempat yang berbeda tampak Arya dan Anggun tengah disibukkan dengan persiapan menjelang hari H.
"Mas! kenapa bengong trus sih dari beberapa hari ini?" kesal Anggun sambil melempar baju pengantin yang ia pegang ke wajah Arya.
flash back of
Arya pun tersentak dari lamunannya, kembali ke alam bawah sadarnya ternyata bukan Anggun istrinya yang berada dihadapannya tetapi Ningrum yang sedang memperhatikannya.
__ADS_1