
Winter tersenyum lebar lalu dia melirik kearah yang raja dan ratu yang berdiri tepat dibelakangnya.
"Yang mulia, selamat datang di Winterwoods," Winter menundukkan kepalanya dengan senyum yang terukir jelas diwajahnya.
"Indah sekali," puji Phyllis yang tak bisa memalingkan pandangannya atas pemandangan yang dilihatnya saat ini.
"Apa kita harus melewati sungai ini?" tanya Phyllis yang membuat Winter mengangkat kepalanya.
"Tentu yang mulia, karena sungai ini adalah lambang dari Winterwoods," Winter kembali tersenyum sambil melihat Jouvalines bersaudara secara bergantian.
"Tempat ini hanya bisa dilewati oleh para raja dan ratu Ilanders," lanjutnya yang membuat Jouvalines bersaudara menatap kearahnya.
"Benarkah, lalu bagaimana raja dan ratu sebelumnya?" tanya Stave dengan polosnya.
"Yang mulia, kalian adalah raja dan ratu pertama yang ada di Ilanders maka dari itu kami sangat menghormati kalian dan juga sangat berharap akan sebuah keadilan yang akan kalian datangkan," Winter tersenyum sambil mendekati Stave.
"Ah benarkah?" tanya Stave dengan wajah yang sedikit malu karena Winter sangat dekat dengannya.
"Baiklah aku akan membawa yang mulia kesana." tunjuknya pada sebuah pohon besar yang ditutupi oleh es.
Mereka pun berjalan mengikuti Winter, sungai beku dengan bunga biru diatasnya yang melambangkan bawa Winterwoods sangatah damai sama seperti Thalassa. Dari kejauhan mereka semua bisa melihat peri musim dingin yang menunggu mereka diujung jalan.
"Yang mulia kita sudah sampai, mereka semua peri musim dingin, peri Winterwoods," Winter tersenyum pada mereka semua.
"Luar biasa." sela Annabeth yang sangat kagum dengan apa yang dia lihat.
Mereka pun tiba disana dan semua peri menundukkan kepala pada mereka dan memberi hormat, senyum lebar pun terukir diwajah Jouvalines bersaudara.
"Senang sekali bisa melihat semua ini," perkataan Peter membuat mereka semua tersenyum bahagia.
"Selamat datang kembali yang mulia agung Peter, dan selamat datang yang mulia Stave, yang mulia Phyllis dan juga selamat datang yang mulia Annabeth," sapa seorang peri musim dingin yang menggunakan mantel puih yang terbuat dari bulu burung hantu salju.
__ADS_1
"Perkenalkan aku Leoviosa, pemimpin para peri Winterwoods yang mulia," sapanya yang diangguki oleh Peter.
"Leoviosa senang bisa melihatmu begitu juga dengan yang lainnya," sapa Peter yang membuat Leoviosa tersenyum kecil.
"Mari kutunjukkan jalan yang mulia." ajak Leoviosa pada mereka semua.
Tabir takdir pun terbuka kini Jouvalines berdiri ditengah penghuni Winterwoods yang mana mereka berdiri dibagian tengah sungai yang beku. Mereka berdiri saling membelakangi satu sama lain dan setelah itu sebuah cahaya keluar dengan melingkari mereka.
"Apa ini, apa ini sihir?" tanya Phyllis dengan tatapan kagumnya.
"Aku merasakan kekuatan yang besar disini." sela Peter sambil melihat kedepan.
"Yang mulia ini adalah tabir takdir, sebuah tabir yang akan memberi yang mulia sebuah senjata yang akan menjadi rekan sehidup semati," sela Leoviosa yang membuat mereka melirik kearahnya.
"Jika ibu tau kita memegang senjata tajam kurasa dia akan pingsan," bisik kecil Annabeth pada Phyllis yang berdiri disampingnya.
"Diam dulu Anna." jawab Phyllis santai sambil menatap Annabeth dengan tatapan yang datar.
"Luar biasa." kata mereka bersamaan.
Empat gelembung salju terbang kearah mereka dan dengan sendirinya tangan mereka terangkat keatas sambil memegang gelembung tersebut. Peter pun bisa melihat sebuah pedang dengan ukiran petir dan naga kini berhasil digengamnya, pedang yang sangat tajam dan berbahaya begitu juga dengan Stave yang memegang pedang dengan ukiran singa, lalu Phyllis sebuah panah yang mana jika ditembakkan bisa berubah menjadi hujan anak panas dan terakhir Annabeth, dia sang ahli sihir dengan sebuah perisai ditangannya.
"Yang mulia aku tidak menyangka jika yang mulia Anna akan menerima sebuah sihir dari tabir suci ini?" Winter segera terbang mendekati mereka berempat.
"Apa itu hal yang buruk, semua kakakku menerima sebuah senjata sedangkan aku sebuah perisai?" tatap Annabeth dengan wajah yang murung.
"Yang mulia ketika semua saudaramu berperang kamu bisa melindungi mereka dengan perisaimu, bahkan kamu memiliki sebuah sihir yang bisa membantu mereka tetap terjaga," jelas Leoviosa pada Annabeth.
"Anna, ada baiknya jika kamu tidak memegang senjata tajam," Peter mengelus kepala Annabeth untuk membuatnya jauh lebih baik.
"Baiklah aku akan menerima ini." Annabeth memegang sebuah perisai dengan gambar naga hitam ditangan kanannya.
__ADS_1
Setelah berbicara cukup lama akhirnya mereka memasuki kerajaan yang mana setiap untaianya terbuat dari es, mereka semua senang namun Annabeth masih belum menerima jika dirinya menerima sihir dan sebuah perisai kuno yang bahkan tidak bisa dia pakai saat melawan musuh.
"Annabeth?" panggil seseorang yang membuat Annabeth berhenti dan melihat kesekitarnya.
"Apa ada yang memanggilku?" tanya Annabeth sambil melirik Winter yang berjalan disampingnya.
"Aku tidak mendengar seseorang memanggil namamu yang mulia," jawab Winter dengan sangat sopan.
"Benarkah, sepertinya angin yang berbicara padaku." Annabeth segera berjalan menyusul saudaranya yang lain.
Peter kini berdiri didepan jendela yang mana dia bisa melihat keindahan Winterwoods dari sana begitu juga dengan saudaranya yang lain, tidak lama setelah itu seorang dryad datang menghampiri mereka.
"Yang mulia," panggil seorang dryad dengan wujud salju yang beterbangan bagaikan angin.
"Clorian menyampaikan pesan jika yang mulia bisa tinggal dimana pun saat ini," lanjutnya yang menyampaikan pesan dari Clorian yang berada di Sanapollo.
"Baiklah terima kasih," jawab Peter dengan lembut seperti biasanya.
"Dan juga yang mulia, yang mulia bisa mulai berlatih menggunakan senjata bersama centaur ataupun seorang elf," lanjut seorang dryad sebelum dia pergi dari sana.
"Kami akan melakukannya, terima kasih untuk pesannya," jawab Peter dan tidak lama kemudian sang dryad ataupun roh pohon itu pergi dari sana.
"Aku masih merasa bahwa kita bermimpi," sela Peter yang membuat adik-adiknya segera menatap kearahnya.
"Seorang raja, kesatria bahkan beperang, tidak bisa dibayangkan bukan?" sela Phyllis yang membuat mereka terdiam.
"Kita hanya berperan didalamnya, jika tidak ingin mati dan terjebak disini maka kita harus melakukan peran kita dengan sangat baik bukan?" tanyanya yang melirik saudaranya secara bergantian.
"Benar apa yang dikatakan Phyllis, kita harus menyelesaikan semuanya supaya kita segera kembali kerumah dan juga jika bibi Natalie tau dia pasti akan membunuh kita," sela Stave yang mengingat bahwa bibinya itu tengah tidur siang dirumahnya.
"Kalian semua jaga diri kalian baik-baik, aku tau kita selalu bersama tapi kita berada didunia yang berbeda yang mana kita tidak tau apakah keselamatan kita benar-benar dijaga disini." Peter pun segera pergi dari sana setelah mengatakan hal itu.
__ADS_1