Ilandersland

Ilandersland
Sang Phoenix


__ADS_3

Hari semakin siang dan Stave tertidur pulas dibawah sedangkan Annabeth sibuk akan lukisannya, lalu Peter dan Annabeth masih menikmati pemandangan indah yang bahkan tidak bisa dilihat oleh kedua adiknya. Tidak lama kemudian Peter tersadar dari rasa kangumnya.


"Bukankah kita tidak harus disini?" Peter menatap Phyllis yang duduk disampingnya.


"Terjadi sesuatu yang aneh pada Stave kemarin, apa hal aneh juga terjadi pada kita?" tanya Peter yang membuat Phyllis terdiam sesaat.


"Aku baru menyadarinya, bukankah kita memutuskan untuk tidak kehutan?" Phyllis menatap Peter dengan wajah yang sangat serius.


Ditengah pembicaraan mereka sebuah lebah datang menghampiri mereka, sebuah lebah dengan memegang tombak terbang diantara mereka, bahkan lebah itu menggunakan topi besi yang ada diatas kepalanya bahkan begitu juga dengan bajunya, melihat hal tersebut Peter dan Phyllis sangat terkejut sampai mereka hampir jatuh dari pohon.


"Phyllis aku mendapatkanmu!" Peter menahan tangan Phyllis supaya tidak terjatuh dari pohon.


"Apa yang terjadi pada kalian?" tanya Annabeth yang baru saja keluar dari rumah kayu itu untuk memastikan saudaranya.


Peter dan Phyllis hanya terdiam namun tidak lama kemudian mereka dikejutkan dengan kedatangan sebuah serigala putih yang sangat besar dan serigala itu mengendap-endap berjalan mendekati rumah pohon.


"Kita harus segera masuk dan menutup pintunya!" perintah Peter yang diangguki oleh Phyllis.


Dengan sangat takut dan cemas Phyllis pun segera turun dan melepaskan tangan Peter begitu juga dengan Peter yang langsung turun, setelah turun mereka langsung membawa Annabeth masuk dan menutup pintu bahkan mereka membangukan Stave yang tadinya tertidur nyenyak.


"Ada apa ini?" tanya Stave sambil mengerutkan dahinya karena saudaranya yang lain mendorongnya.


Peter dan Phyllis hanya bisa terdiam lalu mereka memperhatikan sekitar mereka dan benar saja lebah itu berdiri jendela, lebah yang cukup besar namun mereka tidak bisa menyebutnya lebah karena menurut mereka bentuknya sangatlah aneh.


"Apa yang terjadi?" tanya Annabeth dengan wajah yang bingung.


"Kami melihat sebuah serigala yang mengendap-endap kesini," jelas Phyllis dengan wajah yang sedikit takut.


"Mungkin saja karena ini adalah hutan, biarkan saja lagi pula kita berada diatas pohon." sela Stave sambil beranjak berdiri dari sana.


Stave membuka pintu tersebut lalu dia melihat kesekelilingnya dan ternyata dia tidak melihat apapun disana, Stave berbalik badan lalu dia menatap saudaranya yang lain.


"Sepertinya kalian benar-benar salah lihat," tatapnya sambil meletakkan kedua tangannya dipinggang.


"Kurasa kami tidak salah lihat?" tatap Phyllis dengan sedikit bingung.

__ADS_1


Disaat Stave akan masuk sebuah cengkraman datang padanya, mereka terdiam sesaat ketika hal itu terjadi, sebuah burung besar membawa Stave pergi dari sana.


"Stave!" teriak mereka bersamaan.


"Peter, Phyllis, Annabeth!" teriak Stave yang menggema disekitar hutan.


Mereka terus berlari mengejar Stave yang pada saat itu terbang terlalu tinggi dengan sebuah burung besar berwarna merah.


"Aku akan mengejarnya!" Peter berlari lebih cepat dari Phyllis dan Annabeth.


Jouvalines bersaudara berlari terlalu jauh sampai mereka tiba disebuah air terjun dan burung itu menurunkan Stave disana.


"Apa yang kamu lakukan!" teriak Stave dengan sangat panik.


"Stave!" teriakan Peter membuat Stave melirik kesekitarnya.


"Peter!" teriak Stave yang dapat didengar oleh saudaranya itu.


Peter sampai disana dan dia melihat bahwa Stave berada ditengah sungai dengan air terjun disekitarnya, dan tempat ini dipenuhi dengan cahaya yang sangat indah bahkan setiap akar yang bergantung, jika Annabeth menemukan tempat ini sebelumnya mungkin dia akan bergantungan disetiap akar.


"Yang mulia." panggil burung besar itu yang membuat mereka berdua menatap kearahnya.


Peter dan Stave terdiam karena mendengar burung itu bicara dan disela lamunan mereka, Phyllis dan Annabeth tiba disana, bahkan mereka tekejut karena melihat burung besar yang duduk disamping saudara mereka itu.


"Stave?" panggil Phyllis yang membuat Stave melirik kearahnya.


"Yang mulia, maaf karena saya membawa yang mulia Stave begitu saja," lanjut burung itu yang membuat mereka diam membisu.


"Yang mulia aku Theo dan aku berasal dari kaum Phoenix," lanjutnya yang membuat Peter kembali berdiri tegak.


"Dia bisa berbicara?" tatap Annabeth dengan wajah yang bingung serta kagum.


"Aku tidak bermimpikan?" Annabeth mencubi legannya sendiri.


"Luar biasa," puji mereka bersamaan saat merasa kagum dengan Theo pada saat itu.

__ADS_1


"Yang mulia sudah saatnya kalian kembali ke Ilanders, karena tempat ini sudah tidak aman untuk kalian," jelasnya yang membuat Jouvalines bersaudara memasang wajah bingung.


"Ilanders, apa maksudmu dan siapa yang tidak aman?" tanya Stave yang berdiri disamping Theo.


"Akan kujelaskan semuanya saat kita tiba di Ilanders yang mulia," lanjutnya yang hendak mengajak mereka untuk segera pergi dari sana.


"Maafkan aku sebelumnya, tapi kami tidak bisa meninggalkan tempat ini karena kami lahir dan dibesarkan disini," sela Phyllis yang menolak untuk pergi dengan burung Phoenix besar itu.


"Benar yang mulia tapi tidak dengan yang mulia Peter, penyihir hitam sudah mengetahuinya bahkan wajahnya," jelasnya yang membuat mereka terdiam sesaat.


"Yang mulia mari pergi bersamaku dan kita kembali ke Ilanders karena itu tempat yang aman," ajaknya lagi yang membuat mereka saling bertatapan.


"Bagaimana jika tempat itu tidak aman untuk kami?" tatapan tajam keluar dari Stave.


"Sama halnya tempat ini yang mulia, kita tidak bisa mengganggap bahwa tempat itu sepenuhnya aman," jawab bijak dari sang Phoenix.


"Tapi aku akan memastikan bahwa kalian semua aman." tegas Theo yang membuat mereka berempat menatapnya lama.


Mereka masih bingung dengan situasi saat ini terutama mereka yang tiba-tiba melihat pemandangan yang hanya bisa dilihat Peter dan Phyllis lalu lebah dengan baju temput lalu serigala dan terakhir burung Phoenix yang sedang membujuk mereka untuk pergi bersamanya.


"Kurasa kami tidak bisa pergi begitu saja," sela Peter yang ingin mempertimbangkan semuanya terlebih dahulu.


"Yang mulia penyihir hitam sedang mengejar kalian," jelas Theo yang ingin membawa mereka segera pergi dari sana.


"Kenapa dia ingin mengejar kami dan juga kami tidak tau siapa penyihir hitam ini," bantah Phyllis dengan tegas karena dia lebih sependapat dengan Peter.


"Kalian adalah cahaya yang dibagi oleh Truffelhendrick dan kalian adalah pemimpin empat kerajaan di Ilanders, terutama yang mulia Peter dia lahir sebelum waktunya bahkan dia sudah duduk ditahtanya saat pertempuran Truffelhendrick dan penyihir hitam," Theo mencoba untuk membuat mereka berempat mengerti.


"Sepertinya dia benar-benar berusaha keras untuk membawa kita ketempat itu," sela Annabeth yang berjalan perlahan mendekati Theo.


"Jangan khawatir Theo semuanya akan baik-baik saja." Annabeth mengelus sayap burung itu.


Tanpa disadari mereka semua ternyata Annabeth berjalan diatas air, mereka semua terheran-heran bahkan bingung mengenai situasi saat ini.


"Apa kita harus memastikannya?" pertanyaan Peter membuat mereka semua menatap kearahnya.

__ADS_1


Peter sedikit penasaran dengan Ilanders yang dimaksud oleh Theo pada saat ini terutama Stave yang sudah menahan rasa penasarannya sejak Theo berbicara pada mereka namun Phyllis yang sedang memikirkan konsekuensinya jika mereka pergi ketempat itu bahkan Phyllis sangat ragu untuk percaya pada burung Phoenix merah ini.


__ADS_2