Ilandersland

Ilandersland
Lukisan Misterius


__ADS_3

Hari menjelang sore dan mereka masih berkumpul diruang tamu dengan kegiatan mereka masing-masing.


"Apa diluar akan turun hujan?" Annabeth melirik keluar jendela.


"Pasti air sungai akan naik besok pagi," lanjutnya yang membuat Stave menghentikan permainan caturnya.


"Kurasa kamu tidak perlu memikirkannya," sela Stave yang sedang duduk dilantai.


"Lagi pula bahaya bermain disana," lanjutnya yang membuat Peter meliriknya.


"Apa yang terjadi padamu Stave, baru kali ini aku mendengarmu mengatakan hal yang seperti itu," Peter menegakkan badannya saat Stave mengatakan hal itu.


"Tidak ada yang terjadi, semuanya baik-baik saja," Stave merapikan caturnya lalu menutupnya.


"Kalian lanjutkan saja aku akan kembali kekamar." Stave segera pergi dari sana dan berjalan menuju kamarnya yang berada dilantai dua.


Stave masuk kekamarnya lalu dia berbaring dikasur miliknya sambil menatap keatas langit-langit.


"Sepertinya aku salah liat, baiklah Stave jangan memikirkan sesuatu yang tidak penting!" Stave berbicara pada dirinya sendiri.


Saat hari menjelang malam Jouvalines bersaudara duduk diruang makan bersama untuk makan malam, mereka berempat makan malam didalam keheningan seperti biasanya.


"Aku selesai," sela Stave diantara keheningan mereka.


"Kamu hanya memakannya beberapa sendok?" tatap Phyllis dengan wajah yang bingung karena dia merasa aneh pada adiknya itu.


"Tidak masalah, kalian lanjutkan saja." Stave pergi dari sana lalu dia kembali kekamarnya untuk melanjutkan lukisannya.


Peter dan kedua adiknya saling bertatapan lalu mereka melanjutkan makan malam mereka.


"Peter apa menurutmu Stave menjadi aneh setelah dia keluar dari hutan tadi?" tanya Annabeth yang membuat Peter berpikir.


"Sepertinya dia hanya ingin melukis dikamarnya," Phyllis menatap mereka berdua.


"Kurasa dia mendapatkan ide yang bagus untuk lukisannya kali ini." jelas Phyllis yang diangguki mereka berdua.


Setelah selesai makan malam Phyllis dan Peter bermain tebak kata dari bahasa latin yang ada dikamus, tentu saja itu permainan yang sangat membosankan untuk Annabeth terutama bagi Stave, dia lebih memilih tidur dari pada mengikuti permainan mereka berdua.


"Kenapa kalian selalu bermain tebak kata seperti itu, kalian benar-benar membosankan," omel Annabeth yang menatap mereka sambil bersandar dikursi tua yang ada disana.


"Bukankah lebih bagus jika kita bermain tebak kata seperti ini, ini bisa menambah wawasanmu Anna," jelas Peter sambil tersenyum kecil pada adik bungsunya itu.

__ADS_1


"Kalian lanjutkan saja, aku ingin melihat Stave." Annabeth segera turun dari kursi dan berlari menuju kamar Stave yang tidak jauh dari sana.


Setibanya didepan kamar Annabeth melihat Stave dari cela kecil dan dia melihat Stave yang sedang fokus dengan lukisannya, Annabeth pun masuk dengan perlahan kekamar itu, kamar yang menurutnya sangatlah rapi akan tetapi menyeramkan.


"Ada apa Anna?" tanya Stave tanpa berbalik badan.


"Kamu tau jika itu aku," Annabeth segera duduk diatas kasur milik saudaranya itu.


"Peter dan Phyllis sedang bermain tebak kata itu sangat membosankan," jelas Annabeth sambil memperhatikan lukisan Stave.


"Bukankah lebih baik jika kamu belajar bersama mereka?" tanya Stave tanpa menatap Annabeth yang duduk disampingnya.


"Umurku masih 10 tahun kenapa aku harus belajar dengan keras seperti mereka?" Annabeth terus menatap saudaranya itu bahkan jika Stave tidak menatapnya sekali pun.


"Stave apa yang kamu lukis?" tanya Annabeth yang membuat Stave menghentikan kegiatannya itu.


"Aku juga tidak tau," jawab Stave sambil meletakkan kuasnya diatas kertas yang ada dilantai.


"Menyeramkan sekali," sela Annabeth yang memperhatikan lukisan Stave.


"Benar, kurasa aku tidak harus melanjutkannya," Stave berdiri dari sana sambil merapikan alat-alatnya yang berada dilantai.


Setelah merapikan semua barangnya kini Stave dan Annabeth berjalan menuju ruangan dimana Peter dan Phyllis masih bermain tebak kata.


"Apa permainan itu tidak membosankan?" tanya Annabeth saat masuk keruangan itu.


"Kamu harus bergabung Anna," ajak Phyllis sambil tersenyum pada adiknya itu.


"Tidak, terima kasih atas tawaranmu," Annabeth duduk kursi tua yang mana dia duduki sebelum dia pergi kekamar Stave tadi.


"Apa lukisanmu sudah selesai?" tanya Peter yang melihat Stave duduk dengan tenang didekat jendela.


"Stave mengatakan padaku jika dia tidak ingin melanjutkannya," sela Annabeth yang membuat Peter menatapnya.


"Kenapa?" kini Phyllis menatap Stave yang ada didekat jendela sana.


"Lukisannya terlalu menyeramkan bahkan Stave sendiri tidak tau apa yang dia lukis," seperti biasa Annabeth akan menjelaskan semuanya pada Peter dan Phyllis disaat Stave tidak ingin bicara.


"Peter kurasa diseberang sungai itu ada sesuatu," perkataan Annabeth membuat Stave meliriknya.


"Sesuatu?" tanya Peter dan Stave bersamaan.

__ADS_1


"Kurasa peri hutan ada disana!" teriak Annabeth dengan semangat namun semangatnya hanya ditatap datar oleh Stave.


"Baiklah kita akan menjelajah lagi besok," Peter tersenyum ketika Annabeth menjadi sangat semangat karena penjelajahannya.


"Apa kita harus piknik dihutan besok?" tawar Phyllis yang membuat mereka semakin semangat.


"Tentu saja Phyllis, ayo kita lakukan!" teriak Annabeth dengan semangat yang membara.


Malam pun berlalu begitu cepat kini matahari pagi pun terbit dan cahayanya perlahan memasuki ruangan. Pagi ini Stave bangun lebih cepat dan saat ini dia melihat Peter yang sudah mulai olahraga didepan rumah.


"Apa kamu ingin lari?" tanya Stave yang membuat Peter berbalik badan dan menatapnya.


"Tentu saja, apa kamu ingin bergabung?" tawar Peter yang diangguki oleh Stave.


Mereka berdua pun mulai berlari bahkan rute mereka terhubung kehutan, karena berlari disekitar hutan sangatlah bagus. Mereka berdua berlari cukup lama, setelah melewati peternakan sapi mereka berakhir dihutan dan mereka berdua terus berlari tanpa henti.


"Apa kamu lelah Stave?" tanya Peter yang menyamakan langkahnya dengan Stave.


"Bohong jika aku mengatakan tidak," balas Stave yang berlari kecil karena sudah tidak kuat.


"Kita bisa istirahat lagi pula rumah pohonmu tidak jauh lagi dari sini." saran Peter yang hanya ditatap Stave.


Setibanya dirumah pohon Stave berbaring karena dia sudah kehabisan tenaganya disana, sedangkan Peter berada dibawah dan masih melakukan olahraga.


"Sepertinya kamu tidak lelah Pet," sela Stave sambil duduk dirumah pohonnya.


"Aku sudah terbiasa, sepertinya kamu harus membiasakan diri Stave." balas Peter pada adiknya itu.


Stave terdiam lalu dia melamun sebentar untuk memulihkan energinya lalu tidak lama pandangannya teralih pada sungai yang terlihat dari atas rumah pohonnya. Stave membulatkan matanya setelah dia melihat sosok hitam berdiri dipinggir sungai, sosok hitam dengan menggunakan jubah, tangan dan wajahnya terlihat seperti tengkorak.


"Apa aku salah lihat?" tanya Stave yang didengar oleh Peter.


"Lihat apa Stave?" tanya Peter dengan wajah yang bingung karena adiknya itu melihat kearah lain.


"Kamu melihat sesuatu?" Peter pun menaiki pohon itu untuk mendekati Stave.


"Peter apa kamu melihatnya?" tanya Stave yang tak mengalihkan pandangannya.


"Apa, aku tidak melihat sesuatu?" tatap Peter bingung sambil memperhatikan apa yang diperhatikan oleh Stave.


Bayangan itu pun mengarahkan pedangnya yang tajam pada Stave lalu dia menghilang setelah menunjukkan hal itu.

__ADS_1


__ADS_2