Ilandersland

Ilandersland
Jouvaline's


__ADS_3

Frankie Jouvalines dia seorang jurnalis yang terkenal di London bahkan dia bekerja dengan banyak pejabat tinggi yang ada disana. Frankie berusia 48 tahun saat ini dan dia memiliki beberapa anak dengan Petunia Issabelle yang bekerja sebagai reporter. Malam ini salju turun menghujani London, malam natal telah tiba dan kini seorang remaja berusia 17 tahun bangun dari tidurnya lalu dia berjalan keluar dari kamarnya dan menuruni anak tangga dengan kondisi yang masih setengah sadar.


“Peter sebaiknya kamu membuka matamu jika kamu tidak ingin menabrak pintu ini,” suara perempuan membuat Peter membuka matanya dengan lebar.


“Terima kasih Phyllis.” Peter berjalan dengan cepat dari sana.


Peter Jouvalines anak pertama dari Frankie dan Petunia, seorang anak yang ada diramalan dan juga incaran dari penyihir hitam, kini dia tumbuh dengan baik sebagai anak manusia. Peter memiliki rambut hitam dan juga mata berwarna biru, tidak hanya Peter bahkan Phyllis Jouvalines anak kedua Frankie dan Petunia pun sangatlah cantik. Phillys memiliki rambut panjang berwarna gold dan juga mata berwarna coklat.


“Hai Phyllis, hai Peter!” sapa ibu mereka yang baru saja tiba disana.


“Dimana ayah?” tanya Phyllis yang tidak melihat ayahnya disana.


“Kurasa dia akan pulang terlambat, ayah menyuruh kita untuk merayakannya lebih dulu,” Petunia tersenyum saat melihat kedua anaknya itu.


“Dimana Stave dan Annabeth?” tanya ibu yang tidak melihat kedua anaknya yang lain.


“Aku disini ibu,” sela Stave yang duduk santai dikursi yang ada diruang tamu.


“Jangan menatapku seperti itu, kalian semua terlihat membosankan,” lanjut Stave yang membuat Peter hanya menghela nafas.


“Stave aku mencarimu dari tadi, apa kamu melihat buku Yunani yang diberikan ayah padaku semalam?” Annabeth tiba disana sambil mencari barangnya yang hilang.


“Aku baru selesai membacanya.” Stave memberikan buku itu pada Annabeth.


Stave Jouvalines anak ketiga dan juga Annabeth Jouvalines anak keempat, mereka adik kakak yang tidak pernah akur, tidak hanya mereka bahkan Peter dan Phyllis pun seperti itu. Stave memiliki sifat yang dingin bagaikan es namun Annabeth adalah kebalikan dirinya. Keempat anak-anak Frankie memiliki warna rambut dan mata yang berbeda maka dari itu tidak banyak orang yang mengetahui jika mereka bersaudara. Stave memiliki rambut hitam bercampur biru laut dan juga mata berwarna hitam lalu Annabeth memiliki rambut dan mata berwarna coklat.


“Kalian semua kemarilah ibu sudah membeli kue untuk merayakan ulang tahun Peter!” teriak ibu dengan sangat gembira.


Malam ini usia Peter 17 tahun dan mereka merayakannya tanpa Frankie seperti biasanya.

__ADS_1


“Peter berdoalah,” perintah ibu yang diangguki oleh Peter.


“Aku harap,” Peter memejamkan matanya sambil menghentikan kalimatnya.


“Aku harap kamu menghancurkan Ilanders, Peter Jouvalines,” bisik seseorang yang membuat Peter membuka matanya.


“Hancurkan Ilanders dan duduklah disampingku.” lanjut bisikkan itu yang membuat Peter terdiam.


“Peter ada apa, apa kamu sudah selesai berdoa?” tanya Annabeth yang duduk disamping saudara tertuanya itu.


“Tentu.” Peter tersenyum lalu meniup lilin yang ada didepannya.


Malam natal yang menyenangkan dan mereka merayakannya dengan sangat bahagia, namun dibalik kebahagiaanya Peter memilikirkan kata-kata yang menghantuinya saat ini.


“Peter apa yang kamu pikirkan?” sela ibu yang berdiri disamping Peter saat itu.


“Ibu disini, aku tidak memikirkan apapun,” Peter tersenyum kecil saat mengetahui ibunya ada disana.


“Tentu, lagi pula Phyllis bersamaku.” jawab Peter yang membuat ibu tersenyum lebar.


Keesokkan paginya ayah kembali kerumah itu dengan keadaan yang sudah rapi bahkan siap pergi bersama ibu, kini Jouvalines bersaudara duduk diruang keluarga bersamaan.


“Ayah baru kembali?” tatap dingin Stave seperti biasanya.


“Selamat pagi anak-anak, maafkan ayah karena ayah tidak ikut merayakan natal dan juga ulang tahun Peter, tapi ayah sudah menyiapkan hadiah untuk kalian semua,” jelas ayah sambil tersenyum lebar pada mereka.


“Ayah membawakan kami hadiah!” teriakan semangat dari Annabeth sambil berlari kearah ayahnya.


“Tentu saja ayah membawakan kalian hadiah,” balas ayah sambil mengeluarkan beberapa kotak kado yang sudah dia siapkan sebagai hadiah natal.

__ADS_1


“Apa ayah akan pergi?” sela Stave dengan wajah datarnya.


Seperti biasa pertanyaan Stave akan merubah situasi bahagia menjadi suasana canggung bahkan mencengkam, mereka sudah tidak heran lagi bahkan mereka sudah terbiasa menghadapi situasi itu.


“Ayah akan pergi bersama ibu ke Norwegia untuk beberapa minggu, ayah berjanji setelah itu ayah akan membawa kalian semua liburan,” jelas ayah yang bahkan tidak ditoleransi lagi oleh Stave.


“Ayah kembali ketika kami semua sudah masuk sekolah, tidak masalah batalkan saja lagi pula kita tidak pernah pergi liburan karena pekerjaan ayah dan ibu.” Stave pergi dari sana meninggalkan hadiah dan juga saudaranya yang lain.


“Ayah jangan khawatir, aku akan menjaga Stave.” ayah tersenyum kecil saat Peter mengatakan hal itu padanya.


Jam dinding kini menunjukkan pukul 10 pagi, ayah dan ibu kini sudah berada didalam mobil dan bersiap untuk pergi.


“Anak-anak jaga diri kalian baik-baik, bibi Natalie akan datang mengunjungi kalian nanti.” teriak ibu yang diangguki oleh mereka.


Frankie dan Petunia pun pergi dari sana meninggalkan anak-anak mereka dirumah, setelah mereka pergi seperti biasa Stave akan pergi kehutan karena dia merasa lebih damai saat berada dirumah pohon miliknya, dia merasa bahwa dirinya benar-benar menyatuh dengan alam jika dia disana.


“Peter apa kita akan melakukan sesuatu, dirumah saja seperti ini sangat membosankan,” Annabeth berjalan mendekati Peter yang pada saat itu sedang membaca buku diperpustakaan rumah.


“Dimana Phyllis apa dia tidak mengajakmu bermain?” Peter meletakkan bukunya diatas meja.


“Dia hanya duduk dikamarnya sambil membaca buku, Phyllis benar-benar sangat rajin bahkan dia membaca buku pelajaran disaat libur,” Annabeth menghela nafas didepan saudara tertuanya itu.


“Baiklah kita akan melakukan sesuatu, bagaimana dengan berpetualang dihutan belakang kudengar disana ada sungai?” tawar Peter yang diangguki Annabeth dengan sangat semangat.


"Apa tidak masalah mungkin saja Stave akan marah jika kita ada disana," khawatir Annabeth karena mengingat bahwa ada Stave dengan sifat dingin dan pemarah yang selalu ada disana.


"Tidak masalah kita hanya akan lewat, Stave akan mengerti," Peter memegang kepala Annabeth untuk memberinya kepercayaan.


"Sebaiknya kamu memberitau Phyllis, katakan padanya untuk berhenti membaca buku pelajaran disaat libur," perkataan Peter membuat Annabeth tertawa kecil lalu dia mengangguk.

__ADS_1


"Aku pastikan Phyllis akan keluar dari kamarnya dan pergi bersama kita kehutan!" teriak Annabeth dengan sangat semangat.


"Baiklah, pergilah dan temui dia." perintah Peter yang diangguki oleh Annabeth.


__ADS_2