Ilandersland

Ilandersland
Memasuki Perbatasan


__ADS_3

Seketika terjadi keheningan diantara mereka dan tidak lama kemudian Phyllis melangkah mundur karena dia benar-benar tidak percaya akan burung Phoenix yang dilihatnya saat ini.


"Phyllis?" panggil Stave yang membuat Phyllis meliriknya.


"Aku tidak akan pergi," jawab Phyllis yang membuat Theo sangat terkejut.


"Kita tidak boleh mempercayai situasi seperti ini, lagi pula tidak ada burung Phoenix dizaman ini," jelas Phyllis dengan logikanya.


"Yang mulia akan percaya saat kita tiba di Ilanders," jelasnya yang membuat Phyllis menggelengkan kepalanya.


"Yang mulia Peter dan yang mulia Anna sudah menemukan hutan blasteran dan juga yang mulia Stave sudah melihat penyihir hitam, kalian dalam bahaya," jelas Theo yang membuat Peter semakin berpikir keras.


"Hutan blasteran apa maksudmu dimana aku dan Anna menemukannya?" tanya Peter dengan bola mata yang gemetar.


"Sungai itu yang mulia bahkan yang mulia Stave melihat penyihir hitam disana." jelasnya yang membuat Stave terjatuh dalam sebuah lamunan.


Hening seketika namun dalam hitungan detik bola mata Stave berubah menjadi hitam bahkan dia tersenyum lebar dan pemandangan itu sangat menakutkan untuk mereka.


"Hahaha!!" tawa Stave yang mengejutkan mereka semua.


"Apa kalian akan melarikan diri dariku?" teriak Stave yang berjalan ketengah.


"Yang mulia!" Theo mencoba membantunya namun Stave saat ini berada diluar kendali bahkan dia bisa menggunakan sihir untuk menyerang Theo.


"Terima kasih atas sambutanmu burung yang malang," Stave tersenyum smirk sehinggah Annabeth yang berdiri didekatnya diam mematung.


"Sepertinya aku melihat ratu Sanapollo disini," tatapnya sambil berjalan mendekati Annabeth yang saat ini sedang ketakutan.


"Jangan sentuh dia!" teriak Peter yang berada diujung sungai.


"Raja agung Ilanders?" panggilnya yang menatap Peter sambil tersenyum.


"Senang bisa melihatmu disini, sudah lama sekali aku tidak melihatmu dan ternyata kamu sudah sebesar ini," lanjutnya sambil menggenggam tangan Annabeth dengan kuat.


"Anna!" teriak Phyllis saat melihat Annabeth kesakitan.


"Aku tidak menyangka si tua itu memasukkan cahaya pada kalian yang memiliki hubungan darah," genggamnya semakin kuat pada Annabeth.

__ADS_1


"Stave kumohon sadarlah!" pinta Annabeth yang harus menahan sakit karena genggaman itu.


"Stave sepertinya dia akan menjadi penghianat diantara kalian, kalian tau bukan setiap pemimpin Hartaros selalu berakhir pada penghianatan," jelasnya yang membuat Peter sangat marah.


"Keluar dari tubuh saudaraku!" pinta Peter dengan membulatkan matanya.


"Aku tidak sabar bertemu denganmu raja kecil, karena kamulah harta terbesarku." lanjutnya sambil tersenyum.


Seketika genggaman Stave pada Annabeth terlepas lalu Stave terjatuh sampai tidak sadarkan diri. Phyllis terdiam sesaat bahkan dia tidak bicara sepatah pun kata.


"Kenapa pria itu memberikan kami cahaya?" sela Peter sambil memandangi wajah Stave.


"Trufflehandrick percaya jika kalian akan membawa kedamaian pada negeri kami, yang mulia sudah berada di Ilanders sebelumnya lalu saat penyihir hitam datang seorang centaur membawa yang mulia pergi dari sana," jelasnya yang membuat Peter menatapnya.


"Apa itu alasannya?" tanya Peter yang membuat mereka semua terdiam.


"Alasan kenapa kami tidak memiliki kesamaan?" lanjutnya yang diangguki pelan oleh Theo.


Mengingat bahwa mereka bersaudara namun memiliki banyak persamaan disaat itulah Phyllis mencoba untuk percaya pada Theo, mereka memiliki warna bola mata yang berbeda dan juga rambut, bukankah seorang adik kakak harus memiliki persamaan.


"Dia akan baik-baik saja jika kita segera kembali ke Ilanders," tatapan Theo saat ini beralih pada Phyllis yang masih berdiri dibelakang Peter.


"Jika itu yang terbaik untuknya aku setuju untuk pergi," sela Phyllis yang membuat mereka terdiam sesaat.


"Tunggu apa lagi Theo ayo segera kembali ke Ilanders," sela seorang serigala berwarna abu-abu yang tiba disana.


"Bukankah kita sudah tau bahwa meyakinkan ratu Phyllis bukanlah hal yang mudah?" selanya lagi yang membuat Phyllis menatapnya lama.


"Ayo pergi yang mulia." ajak Theo yang membuat mereka segera meninggalkan tempat itu.


Mereka pun segera mengikuti Theo yang berjalan melewati air terjun dan bahkan saat mereka melewati air terjun itu mereka tidak basah, seperti mereka melewati pintu pada umumnya, setelah tiba disana mereka merasa bahwa ada seseorang yang mendekat.


"Theo, Wolfy apa itu kalian?" tanya seseorang yang menggema disana.


"Oh benar itu kalian," seorang peri dengan menggunakan baju biru yang dilapisi es mendekati mereka.


"Winter kenapa kamu ada disini, jika kamu disini sayapmu bisa rusak," jelas Wolfy yang membuat peri bernama Winter itu tertawa kecil.

__ADS_1


"Oh apa mereka?" tanya Winter yang diangguki oleh mereka berdua.


"Winter kembalilah keperbatasan." perintah Theo yang diangguki Winter.


Winter menundukkan kepalanya lalu dia segera pergi keperbatasan dan teman-temannya pun berjalan menyusuri goa dan keluar dari sana, Winter yang menunggu mereka pun kini tersenyum saat melihat sang ratu dan raja tiba disana.


"Senang melihat yang mulia disini, kami semua sudah lama menunggu kehadiranmu yang mulia," jelas Winter sambil menundukkan kepalanya.


"Dia peri dari Winterwoods, tempat dimana yang mulia agung dilahirkan," jelas Theo yang membuat Peter tersenyum pada Winter.


"Senang bertemu denganmu Winter." Peter tersenyum manis saat melihat peri itu.


Winter sangat senang dan dia tersipu malu karena seorang raja agung menyebut namanya sambil tersenyum, Winter merasa bahwa dirinya sangat beruntung karena dipanggil oleh Peter pada saat itu.


"Dimana kita saat ini?" sela Phyllis yang mewakilkan pertanyaan saudaranya.


"Kita berada diperbatasan antara Winterwoods, Hartaros, Thalassa dan Sanapollo yang mulia," jelas Wolfy yang diangguki oleh mereka.


"Lalu dimana Ilanders yang kalian maksud?" tanya Peter yang membuat mereka bertiga saling menatap satu sama lain.


"Ilanders berada diantara empat kerajaan ini yang mulia, Ilanders adalah kerajaan dengan empat singgah sana, dan sekarang tempat itu sedang dikuasai oleh penyihir hitam," jelas Theo yang membuat Phyllis mulai khawatir.


"Tapi jangan khawatir yang mulia kita berada ditempat yang aman dan tempat ini tidak diketahui oleh penyihir hitam," lanjut Theo lagi saat dia merasa bahwa Phyllis mulai khawatir.


"Bagaimana dengan Stave bukankah penyihir hitam merasukinya tadi?" tanya Annabeth dengan polosnya.


"Kita akan melakukan ritual suci yang mulia." sela Winter dengan wajah yang sedikit khawatir.


Theo pun menuntun mereka untuk pergi ke Sanapollo tempat suci yang sangat sulit dimasuki oleh penduduk Ilanders, hanya keturunan Sanapollo murni yang bisa masuk kesana terutama Annabeth. Kini Jouvalines bersaudara itu memasuki gerbang Sanapollo yang diukir dengan gambar matahari.


"Panjang umur raja dan ratu Ilanders." teriak rakyat Sanapollo sambil menundukkan kepala mereka dan juga menekuk kaki.


Jouvalines bersaudara benar-benar bingung dengan kondisi saat ini namun mereka tersenyum pada mereka semua yang saat ini sedang memberi hormat pada mereka.


"Yang mulia ini adalah Sanapollo tempat suci dan tempat ini tidak bisa dimasuki oleh orang-orang yang tidak memiliki keturunan Sanapollo murni," jelas Theo yang membuat Annabeth menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Bagaimana dengan kami?" tanya Annabeth dengan polosnya.

__ADS_1


__ADS_2