Ilmuan Gila Di Dunia Kultivasi

Ilmuan Gila Di Dunia Kultivasi
Chapter 01


__ADS_3

Sekeras apapun Jajang mencoba membuka matanya, itu tetap tidak terbuka. Dia merasakan tubuhnya berada pada posisi seperti bayi di dalam rahim. Kulitnya terasa menyentuh selaput yang melindunginya dari guncangan. Dia benar-benar tidak bisa melakukan apapun bahkan tidak bisa berteriak. Lalu bagaimana dia bisa memohon pertolongan?


Dia awalnya mengira bahwa dirinya lahir kembali atau sedang koma di rumah sakit. Tapi kejadian itu terus berlanjut hingga 5 tahun lamanya. Jajang menghitung itu detik demi detik di dalam otaknya agar kecerdasannya tidak berkarat. Hingga suatu hari dia tiba tiba merasakan cahaya di kulit matanya. Karena matanya tertutup, terlihat jelas kulit yang tersorot cahaya matahari.


Tanpa berharap sedikitpun Jajang sekali lagi berusaha membuka matanya. Pertama kali membuka matanya Jajang merasakan silau yang membuat mata sulit terbuka lebar. Dari celah sempit diantara kulit matanya Jajang melihat dinding merah tua. Perlahan mata Jajang terbuka sepenuhnya.


Sekarang semua terlihat jelas tapi Jajang bahkan tidak tahu dimana dirinya ini. Cahaya yang menyorot mata tadi berasal dari sebuah retakan pada dinding. Dia tanpa pikir panjang menendang dan memukul di sekitar retakan dengan ceroboh.


crack, crack ~


Dinding itu akhirnya terbuka lebar dan Jajang dengan perasaan bersemangat di hatinya mulai bergerak keluar dari sana. Sesuatu yang dia pijak terasa elastis dan sangat empuk. Jajang merasa itu seperti selaput berlendir. Tapi dia tidak peduli, satu - satunya yang dia pikirkan sekarang adalah untuk bergerak menuju lubang.


Melewati lubang Jajang menyentuh tanah. Dia tentu tahu bahwa yang disentuhnya adalah tanah dengan rerumputan mengenai badannya. Dia tidak keluar dengan berjalan, tetapi dengan merangkak.


Matanya yang silau perlahan menyesuaikan dirinya dengan intensitas cahaya di dunia luar.


krash.... krash... ~


Didepan mata Jajang terlihat pepohonan yang daunnya tertiup angin hingga menciptakan suara yang sejuk.

__ADS_1


"Bagaimana aku bisa di hutan? bukankah aku sudah mati? apakah ini surga? Hahaha untuk sementara warna merah yang aku liat tadi membuatku takut bahwa aku berada di neraka!" Setelah 5 tahun berada dalam kegelapan, Jajang memandang indahnya pepohonan sembari bergumam


"Lalu dimana aku tadi?"


Dia memperoleh kesadarannya kembali setelah beberapa saat linglung oleh pemandangan sejuk di sekitarnya. Jajang membalikkan tubuh ke arah ruangan merah tadi.


"Bukankah ini telur? apa aku keluar dari telur? aku masih manusia kan?"


Jajang dengan panik melihat seluruh badannya takut bahwa akan ada rambut anjing atau ekor babi. Lalu dia meraba kepalanya takut ada tanduk di dahinya atau telinganya berbentuk runcing. Tapi semua itu hanya kekhawatirannya. Terakhir, dia melihat punggungnya. Memastikan dirinya tidak memiliki sayap, Jajang akhirnya duduk dengan rileks.


"Bagaimana aku bisa keluar dari telur? Jadi aku berada di dalam selama lebih dari 5 tahun?"


Crack... prak... ~


Retakan merambat hingga telur itu sepenuhnya runtuh. Jajang lalu bergerak mengamati setiap puing yang ada. Terdapat lendir dan selaput di dalam telur. Lalu terdapat tali pusar di sebuah bagian telur. Setelah mengamati semuanya Jajang yakin bahwa itu telur biasa.


"Ini seharusnya bukan reinkarnasi. Lalu sebenarnya apa yang terjadi padaku? Lupakan saja, setelah aku keluar aku harus menemukan sumber air dan makanan. Ini hutan, seharusnya itu akan mudah,"


Jajang mulai berjalan diantara pepohonan. Pohon - pohon ini jelas hanya berada di hutan liar yang tidak dihuni manusia. Tinggi pohon terlihat lebih tinggi dari pohon bringin biasa. Akar yang menjalar terlihat sangat kokoh. Pemandangan ini benar benar luar biasa. Udara yang Jajang hirup bahkan sangat segar hingga rasa nyaman mengalir dalam tubuhnya.

__ADS_1


Grrrr ~


Sedikit jauh berjalan tiba - tiba suara geraman terdengar. Anehnya Jajang tetap tenang, tidak ada kepanikan sedikitpun dalam dirinya. Dengan waspada jajang memasang kakinya dalam kuda - kuda lalu memutar tubuh dan lehernya untuk melihat sekitar.


Grawr ~


"Bodoh, Jika kau ingin memburu mangsa jangan keluarkan suaramu. Kau terlalu amatir! walaupun begitu, kawan bukankah kau terlalu besar." Jajang melihat Harimau yang menuju ke arahnya dengan ukuran yang tidak masuk akal. tingginya sekitar 4 meter!


Jajang dengan tubuh anak usia 5 tahun menghindar sebisanya. Dia menghindari setiap cakaran dan gigitan. Saat harimau itu menyerang dengan giginya Jajang melompat ke kepalanya dan mencengkram bulunya erat - erat.


Kelemahan semua makhluk hidup, Jajang memperkuat cengkraman kaki nya pada tubuh harimau dan satu tangannya memeluk harimau seerat mungkin. Lalu dia menggunakan 1 tangan tersisa untuk meraih mata harimau. Memasukkan Tangan ke lubang matanya jajang menarik bola mata keluar dengan cepat. Itu sangat sulit karena bola mata itu benar benar terikat oleh sesuatu yang kuat. Tapi pada akhirnya mata tercabut dan tergeletak di tanah.


Harimau meraung kesakitan menggelengkan kepalanya, melompat lompat, lalu mencoba berguling. Sesaat sebelum tubuhnya jatuh, kepala yang miring membuat Jajang melanjutkan rencananya. Lubang telinga harimau itu benar benar besar. Jajang dengan brutal memasukkan tangannya dan mengobrak abrik isinya. Entah apa yang dia raih tapi dia benar benar merusak apapun yang dia sentuh. Itu hanya terjadi sesaat sebelum jajang melompat dan melarikan diri.


Jajang tidak yakin apa yang dia lakukan bisa membunuh harimau itu. Bagaimanapun Jajang baru berumur 5 tahun jika dihitung secara kasar.


Jajang berlari meninggalkan harimau itu. Harimau adalah hewan buas sehingga dagingnya sulit untuk dimakan. Apalagi Jajang tidak memiliki peralatan apapun sekarang. Dengan semua usahanya Jajang mencari sumber air dan akan bagus jika itu sungai. Jajang bisa sekaligus mencari ikan.


Matahari sekarang masih naik sehingga itu bahkan belum tengah hari. Jajang berusaha agar sebelum malam dia menemukan sungai atau setidaknya danau air tawar.

__ADS_1


__ADS_2