Ilmuan Gila Di Dunia Kultivasi

Ilmuan Gila Di Dunia Kultivasi
Chapter 08


__ADS_3

Arrghhhhhhhh~


Jajang terbangun dengan cara yang norak. Dia langsung berteriak dan duduk tanpa aba aba.


"Oh.. Kamu sudah bangun?"


Orang yang berbicara adalah seorang pria paruh baya dengan kendi sake di tangan kirinya berdiri menatap Jajang. Dia tampak sangat bangga tetapi seperti brandalan. Dengan rambut panjang yang diikat, dia tampak seperti bandit gunung dengan baju bela diri hijau dan tinggi sekitar 170 cm atau lebih.


Dia adalah orang yang membawa Jajang pergi sekaligus orang yang membelah babi dengan 1 tebasan.


"Kamu pergi ke Pegunungan Monster saat hanya tahap 3 penyempurnaan tubuh. itu bukan keberanian tapi kebodohan. Umurnu berapa? biaar ku tebak mungkin 5 tahun. Aku tidak peduli alasanmu bawalah ini. Jika kamu mau pergi maka pergilah. Jika kamu mau tetap di sekte jadilah muridku. Tapi tentu saja pahami itu selama 1 pekan."


Pria itu memberikan sebuah manual tinju dasar. Tinju dasar diketahui semua seniman beladiri tapi teknik ini bisa digunakan untuk menguji kecakapan seorang kultivator. Jajang tiba tiba memaksakan diri untuk berdiri dan menangkupkan tinjunya sembari sedikit membungkuk sebisanya.


"Terimakasih tuan"


Jajang lalu perlahan mengistirahatkan tubuhnya kembali di ranjangnya. Tapi dia tidak dalam posisi tidur kali ini. Dia duduk memegang manual itu kemudian membukanya. Pria paruh baya itu juga akhirnya keluar dari ruangan entah dan pergi begitu saja.


"Aku tidak ingin mengakuinya sebagai guruku. Lagipula mengapa dia tiba tiba ingin aku menjadi muridnya? lupakan saja untuk saat ini"


Jajang membuka manual itu dan memahaminya. itu hanya ada 3 lembar dan Jajang dengan sekilas menyelesaikannya. Itu tidak sampai setengah menit sebelum Jajang menutup manual. Jajang lalu menutup matanya dan membaca berulang ulang di dalam otaknya. Jajang menghafal setiap huruf, tanda baca, dan gambar dengan sangat jelas. Jajang mengulang itu di otaknya sembari merasakan apa yang bisa dia pahami dari itu.


"Tinju adalah penghancur. Tinju sebagai senjata terbaik. Tinju sebagai pedang. Tinju sebagai tombak. Tinju sebagai petir. Tinju tak berwujud. Lurus jangan lupakan moral. Selaras dan kacau. Tinju sebagai dasar...."


Setelah 10× pengulangan Jajang entah bagaimana seperti merasakan tubuhnya memahami sesuatu dengan sendirinya. Jajang mengepalkan tinjunya dan melemparkannya ke depan.


Wush..


Rusuk yang patah dan sendi yang hancur kembali berderit. Jajang tanpa pikir panjang menutup matanya dan merasakan apa yang terjadi pada tubuhnya. Jajang merasakan kerusakan yang cukup merepotkan jika dia berada di bumi. Ini memerlukan waktu berbulan bulan untuk sembuh tapi tetap akan memiliki efek samping. Jajang tidak tahu bagaimana ada semacam kekuatan yang menyembuhkan lukanya.

__ADS_1


"Mungkin ini efek pil? ah aku jadi ingin segera meneliti mereka hahaha sangat menarik. Untuk sekarang aku harus fokus pada penyembuhanku"


Jajang entah bagaimana bisa menyembuhkan tubuhnya sedikit demi sedikit. Akhirnya hari mulai gelap tiba tiba terdengar suara ketukan pintu.


"Tuan mengutus saya untuk mengantarkan makanan."


Pelayan itu dengan santainya membuka pintu dan melihat anak 5 tahun yang duduk di ranjang dengan senyuman.


"Terimakasih, maaf merepotkan"


Pelayan itu lalu membungkuk sebelum pergi tanpa sepatah kata pun keluar dari mulutnya. Jajang menatap makanan untuk kakek kakek tak bergigi yang rentan oleh sakit perut. Ya itu benar benar bubur air.


Tapi Jajang tidak mengeluh sama sekali dan mulai memakan makanan yang mereka berikan. Suara sendok kayu bergema di malam yang sepi. Jajang tidak lama sebelum menghabiskan mereka semua. Dia lalu meneguk air minum tanpa curiga sama sekali.


Saat air memasuki mulutnya Jajang tiba tiba tersedak dan batuk.


"PAHIIITTTT SIALAAAANNN"


setelah puluhan menit akhirnya Jajang menyelesaikan minum santainya dengan wajah sedikit pucat menahan mual. Jajang meletakkan mangkuk dan gelas beserta nampannya di depan pintu rumah sebelum Jajang akhirnya kembali menutup matanya.


Sepanjang malam Jajang berfokus pada penyembuhannya. Malam berlalu dan Jajang sekarang pulih sepenuhnya dan Jajang merasakan tulangnya entah bagaimana menjadi lebih kuat dan kuat. Dia lalu bangkit dan melaksanakan tinju dasarnya.


Wush... Wush... Wush....


Setiap 10 menit jajang akan bersemedi untuk mencoba memikirkan bagaimana dia mengembangkan teknik tinjunya. Saat matahari sudah mulai tinggi menjelang tengah hari Jajang mendengar pintu terbuka. Jajang sedikit kesal karena dia tidak mengetuk pintu terlebih dahulu.


"Xixixi aku akan menasehatimu, saat kamu berani membantah xixixix ~"


Jajang dengan liur diujung bibirnya menatap pintu yang terbuka. Sebuah kepala pria muncul dari pintu.

__ADS_1


Putong...


Jajang terjatuh dengan wajah mengerikan. Bayangan wanita pelayan dihancurkan oleh pria tua yang sangat tidak tampan.


"Ohhh.. kamu sudah sehat? kenapa kamu tidur di lantai?"


Jajang menahan amarahnya menjawab


"saya hanya sedikit beristirahat hahaha taknperlu dipikirkan. Untuk keperluan apa tuan datang kesini?"


"Memangnya kenapa? tidak boleh?"


Jajang benar benar ingin memukul tua bangka itu 3 hari 3 malam agar ayahnya tidak mengenali sang anak. Jajang kembali tenang dan menjawab,


"Tentu tidak apa apa, saya berterimakasih anda menyelamatkan saya. Tapi boleh saya tahu dimana ini?"


"Kamu berada di Sekte Pedang Biru. Aku adalah penatua kesembilan. Sekte kami memiliki lebih dari 10.000 murid."


"Xixixi tuan, apakah disini ada buku? aku ingin membacanya!" Jajang bertingkah selayaknya anak kecil yang meminta permen.


"Hahaha jika kamu menjadi muridku aku akan mengizinkanmu mengakses 2 lantai di paviliun pengetahuan. Jadi bekerja keraslah dan pahami tinju itu sebaik mungkin!"


"Hahaha Guru lihatlah kemajuanku hari ini!"


Jajang tanpa menunggu jawaban dari penatua sembilan, menjalankan aktivitas tinju dasarnya. Dia mengeluarkan tinju dasar asli bukan tinju yang telah Jajang modifikasi.


Wugh.. Wugh...


Saat Jajang selesai melakukannya dia melihat ke arah penatua sembilan. Jajang berharap dia mendapat beberapa pujian sebelum Jajang terpukul dengan kata kata yang keluar.

__ADS_1


"Bodoh, Hahaha sabarlah baca dengan pelan pelan. Aku menunggu kemajuanmu 6 hari lagi."


__ADS_2