Ilmuan Gila Di Dunia Kultivasi

Ilmuan Gila Di Dunia Kultivasi
Chapter 09


__ADS_3

"Tunggu, penatua. Bisakah anda memperlihatkan tinju dasar ini?"


Jajang menatap dengan harapan. Dia jelas jelas memahami cukup lengkap sehingga aneh bahwa Penatua sembilan tidak menganggap kemajuannya.


"Hmmm? kamu ingin melihat tinju dasarku?"


"Iya penatua sembilan, mohon bimbingannya," Jajang menangkupkan tinjunya.


"Hmm... Baiklah aku akan menunjukkannya sekali saja. Perhatikan baik - baik!"


Penatua sembilang langsung mengambil sikap dan menutup mata sembari menarik nafas.


Haa! wush~


Teriakan terdengar bersamaan dengan sebuah pukulan yang dilontarkan penatua sembilan.


"Bukankah ini lebih buruk dari milikku?"


Sebelum Jajang berbicara penatua sembilan lebih dulu berkata,"Pukulanmu mungkin lebih baik dari ini tapi itu bukan tinju dasar. Itu jelas sudah diubah olehmu. Mungkin kamu menggabungkannya dengan teknik lain atau semacamnya aku tidak peduli. Baiklah, teruslah belajar. Aku menantikan hasilmu bocah kecil."


"Tua bangka ini terlalu sempit!"


Jajang tanpa menjawab apapun mengambil sikap dan berteriak.


Ha! Wush~


Pukulan dilontarkan tanpa keraguan. Itu benar benar sama seperti yang dilakukan penatua sembilan. Jajang hanya sedikit menurunkan levelnya agar penatua sembilan tidak curiga.


"Apakah seperti ini, penatua?"


"Ka...ka.. kamu.... bagaimana bisa melakukannya dalam sehari ?" Kata penatua dengan mata terbuka lebar dan berusaha tenang.


"Hahaha aku pasti jenius! Jadi bisakah aku membaca buku?"


"Hahaha tidak buruk bocah kecil. Kamu bisa menjadi muridku! Dengan ini kamu bebas mengunjungi lantai 1 dan lantai 2 paviliun pengetahuan." Kata penatua sembilan melemparkan sebuah token.


"Tapi aku belum memutuskan untuk menjadi muridmu, dan jangan panggil aku bocah kecil!"


"Bocah sialan aku yang menyelamatkanmu jadi panggil aku Guru!!!"


"Tidak mau, tua bangka"

__ADS_1


"bocah sialan, begitukah kamu membalas kebaikanku!"


"Aku tidak meminta tolong pada orang yang bau tanah"


"Apa kau bilang? Dasar kecambah!"


Mereka berdua berdebat hingga terlihat seperti ayah dan anak bodoh yang saling bertengkar. Perdebatan terjadi beberapa menit sebelum keduanya kehabisan kata - kata.


"Sialan, kenapa kau keras kepala ingin menjadikan aku muridmu? Bukankah kau penatua? seharusnya kau bisa memiliki banyak murid dengan mudah, bodoh!"


Kata kata kasar keluar dari mereka berdua tapi tidak terdapat kebencian didalamnya. Itu hanya rasa kesal biasa tanpa permusuhan sedikitpun.


"Murid yang biasa biasa saja hanya akan menurunkan reputasiku! Kamu cukup pantas menjadi muridku, harusnya kamu bersyukur!"


"Tua bangka aku tau pasti bukan karena itu! Sialan kenapa kau sangat keras kepala. Baiklah bagaimana kalau beri aku waktu 3 hari untuk memutuskan?"


Jajang berkata dengan senyum tersembunyi didalam hatinya. Dia sadar sepertinya efek evolusi mengikutinya kendunia ini. Jajang akan dengan mudah menghafal semua buku asalkan dia memiliki waktu.


"Baiklah, kau harus menjadi muridku. Ini token murid, jika kau menggunakannya berarti kau mengakuiku sebagai gurumu"


"Hormat kepada guru" Jajang tiba - tiba bersujud tanpa rasa malu.


"Sialan, aku sangat butuh informasi untuk sekarang. Pergi ke kota mungkin akan lebih banyak menimbulkan masalah ketimbang menjadi murid seorang penatua. Seharusnya aku memiliki banyak keuntungan saat menjadi muridnya!"


Jajang juga keluar dari rumahnya. Murid seorang penatua akan otomatis menjadi murid inti yang akan memiliki sebuah pekarangannya sendiri. Tapi penatua sembilan tidak memiliki murid sehingga dia hanya memiliki sebuah rumah biasa untuk muridnya. Beberapa jenius sekte memiliki sebuah rumah, beberapa pelayan pribadi, dan binatang buas peliharaan pribadi mereka.


Jajang berjalan - jalan di sekte mendengar beberapa bisikan yang sangat mengganggunya.


"Siapa dia? kenapa ada bayi disini!"


"Aku dengar dia murid penatua sembilan!"


"Oh,,, penatua sampah itu"


"Aku kasihan dengannya mungkin dia dijebak oleh penatua itu?"


"Mungkin! sungguh tercela"


Tetapi Jajang hanya mengabaikan mereka dan terus berjalan mencari Paviliun Pengetahuan yang penatua sembilan bicarakan. Sekte ini ternyata berada di sebuah gunung. Jalan - Jalan yang ada dibuat dari batu halus datar. Itu cukup nyaman untuk dilewati. Tapi beberapa kabut yang entah berasal darimana, selalu ada di setiap tempat.


"Apanya yang pedang biru. Ini adalah Sekte Gudang Asap!"

__ADS_1


"Aih,,, aku lupa menanyakan namanya" Penatua sembilan menepuk dahinya sebelum dia memasuki sebuah ruangan 'Aula Pertemuan'


Jajang terus berjalan ditemani kabut putih.


"Adik manis, kamuu sedang apa?" Tiba-tiba seorang wanita cantik dengan kulit putih bersih. Dia seperti dewi yang turun dari surga ke dunia ini.


Jajang terpana sesaat sebelum dia kembali pada kenyataan.


"Oh kakak, aku sedang mencari Paviliun Pengetahuan. Apakah Kakak tahu dimana itu? Kabut ini sangat menggangguku." Kata Jajang dengan polosnya memerankan peran sebagai anak berusia 5 tahun.


"Hahaha kamu menemukan orang yang tepat, Kakak Cantik ini tahu semua tempat di sekte ini. Ayo ikut dengan kakak perempuanmu ini!"


Jajang sekarang berada di wilayah dalam sekte. Murid inti dengan Murid dalam sebenranya tinggal di wilayah yang sama. Hanya saja, murid inti memiliki sebuah rumah sedangkan murid dalam hanya memiliki kamar.


"Jadi adik kecil, siapa namamu?"


Jajang terdiam sejenak sebelum menjawab, "Namaku Si Jajang, Bagaimana dengan kakak perempuan?"


"Hahahaha apakah adik seperguruan bercanda? Tidak apa jika kamu tidak ingin memberitahukan namamu. Aku Xu Roufeng, xixixi semua orang mengenalku. Jika ada masalah di masa depan, kamu bisa mencariku!"


"Haha baiklah kakak Xu, tapi namaku benar benar Si Jajang! Jangan jadikan itu lelucon!" Jajang berkata sambil pura pura menggembungkan pipinya.


"Hahaha baiklah adik imut,,, kita sudah sampai. Kamu bisa masuk dengan token murid inti!"


Xu Roufeng tentu tahu siapa anak kecil itu. Sebagai bunga sekte sekaligus murid penatua ketiga, dia mudah sekali mendapat informasi.


Paviliun Pengetahuan tentu saja terbuat dari kayu dengan tirai di beberapa bagian. Itu benar benar indah. Paviliun ini memiliki 4 lantai didalamnya. Murid luar bisa memasuki lantai 1 dengan poin kontribusi sekte. Murid dalam bebas memasuki lantai 1 tetapi harus membayar poin kontribusi saat ingin ke lantai 2. Murid inti bebas memasuki lantai 2 tetapi tidak bisa memasuki lantai 3 tanpa seizin master sekte. Biasanya hanya penatua dan jenius sejati sekte yang bisa memasukinya. Sedangkan lantai 4 hanya dimasuki oleh master sekte dan penerusnya.


Jajang terkagum sejenak sebelum mengikuti Xu Roufenng menemui penjaga paviliun. Penjaga paviliun terlihat tua dengan rambut dan janggut putih. Tentu saja dia sangat kuat untuk menjaga teknik teknik yang ada di dalam paviliun.


"Penatua Bo, adik ini ingin memasuki paviliun." Xu Roufeng memperkenalkan Jajang.


Penatua Bo menatap Jajang secara intens. Jajang lalu sadar dan mengeluarkan token murid intinya. Penatua Bo tidak terkejut sama sekali mengabaikannya dan kembali duduk di kursinya sambil membaca buku.


"Baiklah kau boleh masuk" Kata penatua Bo sambil tetap membaca buku acuh tak acuh.


"Baiklah kakak ada urusan lain, kamu bisa belajar di dalam dengan sungguh sungguh. Ingat hanya boleh menetap 1 Jam setiap harinya atau kamu akan mendapat penalti!"


"Aku mengerti, Terimakasih kakak perempuan,"


Xu Roufeng akhirnya pergi menjauh dan Jajang pun berbalik mematap pintu masuk besar yang tingginya mungkin sekitar 5 meter.

__ADS_1


"Baiklah, mari kita mulai" Jajang bergumam dengan semangat.


__ADS_2