
"Ah sial, aku mulai pusing. Hutan ini setidaknya memiliki mata air kan? pohon disini sangat besar, kenapa aku tidak menemukan sumber air di sini. Eh tunggu...."
Baru saja Jajang mengeluh karena beberapa hal, Suara air terjun terdengar. Jajang Berlari santai ke arah suara itu dengan tenang. Semakin dekat, suara air itu benar benar menjadi dangat besar. Dia yakin bahwa itu air terjun.
Setelah beberapa saat akhirnya terasa sumber air berada sangat dekat dengannya. Tapi yang dia lihat hanya tebing batu disini. Jajang berjalan di sepanjang tebing itu sebelum akhirnya dia yakin suara itu berasal dari dalam tebing.
"Air terjun berada di balik tebing tapi aku tidak tahu bagaimana cara memasuki tebing. Sial, padahal aku sudah menemukan air."
Jajang duduk di bawah pohon sambil memikirkan bagaimana cara mendapatkan air. Matahari sudah tergelincir, artinya tengah hari telah berlalu. Jajang berlindung dari panas matahari sembari merenungkan apa yang bisa dia lakukan sekarang.
Berpikir tanpa menemukan jalan keluar, jajang akhirnya memutuskan mendaki tebing yang tingginya sekitar 20 meter. Dia berpikir bahwa jika dia menundanya, tubuhnya hanya akan semakin lemah. Tidak ada waktu untuk ragu, Jajang meletakkan seluruh fokusnya dalam memilih bagian yang bisa dipanjat.
Jajang mulai memanjat, pergerakannya tidak cepat tetapi juga tidak lambat. Penglihatannya entah bagaimana sangat detail. Fokus agar tidak jatuh akhirnya Jajang mencapai 80% hanya dalam 5 menit. Tanpa melihat kebawah Jajang melanjutkan perjalanan. Kali ini tebing diatasnya benar benar kurang dari 90 derajat yang berarti salah sedikit saja dia akan jatuh bebas.
Mencengkram batu dengan mantap, Jajang melanjutkan perjalanan. Tangannya terasa sangat basah karena keringat dan kakinya gemetar. Jika bukan karena Jajang memiliki fokus karena berada pada situasi hidup dan mati, dia mungkin akan membiarkan kakinya lemas. Tapi sekarang dia benar benar fokus bahkan tidak peduli dengan tubuhnya sendiri. Yang dia pikirkan hanya batu mana yang dia raih untuk naik.
Tak lama akhirnya jajang mencapai ujung dan semuanya akhirnya selesai. Jajang merebahkan Badannya yang lemas. Ketegangannya sekarang telah berkurang membuat tremor pada tangan dan kakinya perlahan terasa parah. Belum lagi rasa perih pada jari jarinya.
__ADS_1
Beberapa tarikan nafas jajang menutup matanya dan mengistirahatkan badannya. Setelah dirasa cukup akhirnya Jajang sadar. Di depannya terdapat cekungan. Saat dia melihat kebawah, disana terdapat air terjun dengan danau dibawahnya. Jajang dengan semangat berjalan turun.
Saat Jajang sampai di tepi danau dia menggunakan tangannya untuk mengambil air dan minum hingga perutnya kembung. Dia sekarang tenang sehingga tubuhnya melepaskan rasa lelahnya membuat Jajang akhirnya terbaring dan memejamkan matanya. Dia akhirnya tertidur dengan nyaman.
----------------
Masih di tepi danau Jajang akhirnya membuka matanya. Dia masih tetap berbaring melihat senja. Itu sangat indah, benar - benar indah. Pemandangan alam ini benar benar membuat Jajang takjub.
Jajang menikmatinya sembari mengenang kembali apa yang telah ia lewati.
Dulunya Jajang hanyalah anak yatim piatu yang berada di panti asuhan. Nasib baik yang dia miliki adalah dia bisa bersekolah dengan prestasi tinggi. Jajang memperoleh beasiswa penuh hingga dia menyelesaikan kuliah dibeberapa jurusan.
Setelah sebuah pulau akhirnya mati tak berpenghuni, Akhirnya Jajang menjadi buronan dunia. Negara bahkan dibantu banyak pengusaha elit yang bisnisnya terganggu oleh penemuan Jajang. Jajang akhirnya menciptakan sebuah teknologi yang memungkinkannya tinggal di kedalaman laut samudera. Di sanalah Jajang memulai penelitian barunya. Entah bagaimana Jajang bisa menciptakan metode yang bisa membuatnya hidup lebih dari 100 tahun. Dia akhirnya menyelesaikan menyelesaikan penelitian terakhirnya di Bumi sebelum dia berpindah ke dalam telur.
Itu adalah cairan evolusi. Jajang berniat berevolusi agar otaknya seperti komputer berteknologi tinggi. itu memungkinkan manusia menghafal setiap kata pada buku dengan sekali baca cepat. Dengan otak seperti itu tentu saraf juga akan memiliki evolusi sehingga Jajang bisa melanjutkan penelitiannya untuk mengubah tubuh manusia menjadi sangat kuat dan berumur panjang.
Tapi siapa sangka, setelah meminum cairan itu tubuhnya mati rasa. Jajang akhirnya mati tanpa rasa sakit. Dia hanya melihat tubuhnya menghitam dan akhirnya perlahan kesadarannya hilang.
__ADS_1
Begitulah bagaimana dia mati di bumi. Jajang yakin bahwa dirinya berpindah ke dunia lain saat bertemu harimau. itu bukan harimau yang berada di bumi. Ukurannya sangat tidak masuk akal. Belum lagi telur aneh tempat dia lahir, hutan dengan pohon yang tampak sangat besar, dan danau yang terlihat sangat aneh.
Melihat ke arah danau, Jajang mencermati apa yang ada di depannya. Danau ini tampak seolah surut karena cekungan di sekitarnya. lalu disisi lain ada tebing lagi yang mengeluarkan air terjun menuju danau.
Jajang mengerti situasinya saat ini. Tempat dia lahir adalah jurang besar yang dikelilingi tebing sekitar 50 meter. Tebing itu tak terlihat karena tertutup banyaknya pepohonan. Itu tampak seperti lubang besar berisi hutan. Benar - benar pemandangan yang aneh.
"Bagaimana semua ini bisa terjadi? oh iya aku di dunia lain. Mungkinkah disini terdapat sihir? atau ini dunia kultivasi? mungkiniah jurang ini disebabkan oleh immortal yang bertarung? hahaha tidak ada salahnya laki - laki sepertiku berharap. Tidak ada orang disini, Jadi aku bisa melakukan hal konyol sesukaku hahaha"
"Fire ball!!!" Jajang berteriak sambil ber pose kedua tangan lurus ke depan seolah akan mengeluarkan peluru api.
"Wind slash!!!" Jajang mencoba beberapa posisi berbeda sambil memejamkan matanya berusaha merasakan jika ada sihir dalam tubuhnya.
"Sialll, Chidoriii!!" Jajang mencengkram pergelangan tangannya sambil berusaha mengeluarkan petir di tangannya.
Masih tak menyerah, Jajang menengadahkan tangan kanannya lalu mencoba merasakan angin di tangannya dan membuat bola dari angin.
Lalu dia coba memanipulasi bayangan, memperbesar tubuh, terakhir dia mencoba berjalan di atas air. Tapi semuanya berakhir dengan sia - sia.
__ADS_1
Malam pertama yang indah diisi keputusasaan yang mendalam sebagai seorang "lelaki" normal.