Ilmuan Gila Di Dunia Kultivasi

Ilmuan Gila Di Dunia Kultivasi
Chapter 04


__ADS_3

Jajang merasakan kehangatan dari Luo bersaudara. Itu membuatnya tenang, tidak ada jejak kecurigaan sedikitpun di hati Jajang. Dalam perjalanan, Jajang entah bagaimana semakin mengerti apa yang mereka bicarakan. Bahkan terkadang dia mengetahui beberapa susunan kata dengan baik.


Melihat gerak gerik meraka, situasi, ekspresi, nada bicara dan kegiatan saling merespon Jajang entah bagaimana benar benar semakin mengerti apa yang mereka katakan. Hanya dalam beberapa menit Jajang mengerti semua yang mereka katakan. Walaupun mengerti Jajang tidak bisa berbicara bahasa mereka. Itu benar benar sulit.


Perjalanan yang hanya beberapa menit menjadi pengalaman pertama Jajang bersama orang dari alam ini. Akhirnya mereka sampai di pintu masuk desa yang hanya ditandai oleh tiang kayu dengan papan nama.


Jajang tidak mengerti bagaimana membaca huruf itu. Dia benar benar berada di tempat yang asing. Setelah memasuki Desa lebih banyak percakapan yang Jajang temui. Ekspresi kaget, tersipu malu, aneh, jijik, simpati, banyak ekspresi berbeda dan respon berbeda dari setiap orang. Cara berbicara mereka pun berbeda beda. Lagi lagi Jajang benar benar mengerti apa yang mereka katakan walaupun dia benar benar tidak tahu terjemahannya. Itu terasa sangat aneh.


Keramahtamahan penduduk desa tidak diragukan lagi. Semua terjadi setiap mereka bertemu orang lain. Luo bersaudara benar benar terkenal. Semua terjadi hingga Jajang tiba di sebuah rumah dan mereka masuk ke dalam. Dimulai dari yang tertua, nama Luo bersaudara masing-masing adalah Luo Bo, Luo Bing, dan Luo chai. Mereka berumur 20 hingga 30 tahun. Tubuh mereka kekar dengan tinggi 180 cm atau lebih.


"Kakak pertama, Jadi bagaimana dengan anak ini?" Luo chai membuka suara.


"Sebelum itu beri dia makan dan pakaian. Aku tak percaya bahwa ada anak telanjang di tengah hutan. Kasihan, dimana orang tuanya. Mereka benar benar membuat anaknya menderita." kata luo Bo dengan tangan terkepal erat.


Luo Bing langsung bergegas ke sebuah ruangan yang terlihat itu adalah kamar. Lalu kembali dengan satu set pakaian. Sekarang Jajang benar benar yakin ini dunia kultivasi. Pakaian ini sangat familiar di ingatannya.


"Adik kecil, pakailah ini di sana. Kami akan menunggumu di belakang. Setelah ini kita akan makan bersama." Kata Luo Bing


Jajang hanya mengangguk. Dia mengerti apa yang Luo Bing maksud walaupun tidak tahu arti kata demi kata. Jajang lalu masuk ke kamar yang tampak sederhana, menutup pintu, dan memakai pakaian yang diberikan.

__ADS_1


Tidak tahu apa yang terjadi, Jajang merasakan lelah secara fisik dan mental. Jajang mencoba berbaring sejenak di tempat tidur yang keras. Tanpa terasa Jajang terlelap dalam tidurnya.


"Anak kecil tadi belum kembali?" Luo Bo bertanya pada kedua adiknya sambil meletakkan makanan yang ia siapkan di meja.


"Belum, Biar aku menjemputnya." Luo Bing berkata sebelum beranjak dari tempat duduknya.


"Hahaha aku akan makan duluan kalau begitu" Luo Chai dengan semangat menyantap makanan yang telah disiapkan oleh kakaknya.


Luo Bing mengetuk pintu kamar dengan santai. Tidak ada respon, Luo Bing lalu membuka pintu kamar dengan hati hati takut jika dia masuk saat pihak lain berganti pakaian. Tapi berbeda dengan kekhawatirannya, Dia melihat anak kecil itu terlelap dalam tidurnya di atas tempat tidur. Luo Bing dengan tatapan simpati akhirnya menutup kembali pintu dan berjalan kembali menuju ruang makan.


"Dia tertidur. Mungkin dia sangat lelah berjalan sendirian di hutan." Kata Luo Bing lirih


"Biarkan untuk saat ini. Sisihkan makanan yang tersisa dan biarkan dia memakannya saat dia bangun nanti. Selain kelelahan dia pasti kelaparan juga." Luo Bo berkata dengan tegas.


Percakapan Luo bersaudara terus berlanjut. Percakapan serius, candaan, dan suara sendok kayu saling melengkapi suasana makan bersama mereka. Saat selesai, Mereka kembali bekerja dengan satu orang bergantian menunggu Jajang bangun. Mereka bergantian setiap beberapa menit takut jika Jajang bangun dan kebingungan. Tapi Jajang tidak bangun hingga matahari mulai rendah pertanda sore hari tiba.


Jajang perlahan membuka matanya dan terbangun dari tidurnya.


"Eh.. aku ketiduran? ah aku harus segera keluar atau mereka akan mengkhawatirkan aku." Jajang dengan tergesa - gesa beranjak dari tempat tidurnya dan keluar dari kamarnya.

__ADS_1


Baru saja dia keluar, Jajang melihat Luo Bersaudara yang berkumpul di depan kamarnya dengan obrolan santai mereka.


"Oh,,, Adik kecil kamu sudah bangun. Makananmu ada di meja, itu sudah dingin karena kamu tertidur cukup lama hahaha. Kamu pasti lelah, bergegaslah untuk makan." Kata Luo Bo


"Maaf aku tertidur karena kelelahan. Aku pasti merepotkan kalian." Jajang berkata dengan sedikit membungkuk.


"Hahaha tak perlu dipikirkan." Tanggap Luo Bo mengakhiri percakapan mereka.


Jajang lalu pergi ke belakang rumah dan melihat 2 mangkuk sup daging tersedia di atas meja. Jajang dengan semangat bergegas duduk dan menyantap sup itu. Saat masuk ke mulutnya, Jajang merasakan sedikit rasa gurih. Itu sangat ringan sehingga terasa sangat segar. Jajang menghabiskan 2 mangkuk dengan cepat. Bahkan kuahnya tidak tersisa setetes pun.


Setelah Jajang selesai, Jajang menyandarkan tubuhnya pada sandaran kursi.


"Eh apakah aku tadi berbicara dengan mereka? aku bisa berbicara bahasa mereka? hah?"


Jajang tahu bahkan di bumi dia tidak bisa belajar bahasa asing hanya dalam beberapa menit perjalanan. Apalagi itu hanya melihat orang berdialog santai dalam perjalanan. Itu sangat tidak mungkin.


"Mungkinkah, karena evolusi? tapi aku kan sudah mati di bumi. Bagaimana bisa efeknya mengikutiku saat aku terlahir kembali?"


Jajang mengerutkan dahinya dengan rasa penasaran apa yang sebenarnya terjadi pada dirinya. Tidak menemukan jawabannya, Jajang melupakannya dan pergi untuk mencuci mangkuk yang dia pakai. Lalu Jajang dengan santai berjalan ke tempat Luo Bersaudara berkumpul.

__ADS_1


"Bagaimana, Kau sudah kenyang?" Luo Bo lagi-lagi menyambut Jajang dengan hangat.


__ADS_2