
Setelah lama mencoba sesuatu yang berasal dari hayalan Jajang, entah bagaimana dia menemukan bahwa kecocokan tubuhnya terhadap beberapa elemen meningkat. Itu membuat efek yang diserap dari setiap helainya menjadi lebih kuat. Itu lebih murni dan tubuh terasa lebih cocok dengan beberapa elemen.
Sekarang hari sudah gelap dan Jajang masih di tempat yang sama mulai memikirkan apa yang akan dia lakukan selanjutnya. Dia akhirnya memutuskan untuk mengembangkan teknik kultivasinya sembari meningkatkan kultivasinya.
Teknik yang dia kembangkan entah bagaimana akhirnya bisa lebih murni dalam menyerap energi. Walaupun kecepatannya tidak dipercepat tapi itu sudah cukup dan dengan kemurnian yang ditingkatkan sudah cukup membuat Jajang puas.
Sepanjang malam Jajang mengisi waktunya dengan berkultivasi sembari mencoba coba beberapa hal yang entah dia memiliki ide darimana. Tengah malam Jajang memiliki terobosannya ke tahap 2 Penyempurnaan tubuh dan menjelang pagi, Jajang menerobos ke tahap 3 penyempurnaan tubuh.
"Saat aku naik ke tahap 4 seharusnya akan mengalami 'pembersihan' jadi aku harus memiliki banyak inti binatang buas agar kecocokanku dengan alam semakin meningkat."
Jajang lalu bangun dan mencari beberapa daging dan buah untuk di makan. Kekuatan tahap 3 jauh lebih kuat. Tentu saja kecepatannya juga jauh lebih cepat. Hanya beberapa menit berburu sebelum Jajang mempunyai beberapa ekor ular dan babi. Setelah memasak Jajang bersiap untuk memasuki wilayah dalam gunung itu.
Jajang masuk dan seketika suasana dingin semakin meningkat. Belum jauh berjalan Jajang sudah dihadapkan pada beberapa ekor serigala. Jajang tidak tahu kekuatan mereka. Tapi Jajang tanpa ragu maju dengan keinginan besar untuk panen inti binatang buas hari ini.
Jajang bukanlah orang yang akan adu kekuatan mentah dengan hewan buas. Dia menggunakan otaknya untuk mengincar titik lemah, organ vital, memanfaatkan lingkungan sekitar, dan menggunakan taktik dalam bertarung.
Saat serigala menyerang dengan kaki depan, Jajang menyerang lehernya. Sebelum serigala menggigit , Jajang memukul dagunya. Sedikit kesalahan dari serigala akan menyebabkan mata mereka hilang. Cara bertarung seperti ini membuat lawan stress.
Hanya puluhan detik sebelum Jajang mengalahkan semua serigala malang itu. Jajang menggunakan kuku harimau untuk mengambil inti serigala. Jajang tanpa pikir panjang memecahkannya.
__ADS_1
Crack...Crack...~
Jajang terus berburu dengan lancar hingga pada sore hari dia akhirnya mencapai bagian puncak dari sebuah gunung. Disebutkan bahwa daerah ini hanya memiliki seekor bos. Itu akan menjadi buruan terakhir Jajang di gunung tak bernama ini.
5 Langkah telah di lewati oleh Jajang sebelum pekikan keras terdengar dari puncak. Itu adalah suara burung. Jajang berlari ke depan dan memanjat pohon yang paling rimbun. Tidak lama, seekor burung dengan tubuh hijau dan setiap ujung sayap berwarna putih akhirnya muncul. Dia memiliki paruh yang lebar melengkung.
Jajang menunggu di atas pohon memanfaatkan rimbunnya pohon untuk membatasi pergerakan burung itu. Jajang jelas jelas tidak pernah melihat burung seperti itu di bumi. Bahkan yang mirip dengannya pun dia tidak pernah lihat. Jajang dengan santai melemparkan kaki babi ke burung itu.
Jelas hal itu akan membuat burung marah. Tanpa berpikir apapun burung itu menyerang dengan ceroboh. Binatang buas tetaplah binatang, mereka mengikuti perasaan, insting, dan naluri. Kemampuan bertarung mereka umumnya lebih kuat dari manusia tapi mereka tidak memiliki taktik dan varian teknik. Manusia selalu mengembangkan teknik teknik baru untuk bertarung dan bisa menggunakan otak mereka untuk memikirkan taktik bertarung. Itu membuat manusia terlihat lebih unggul dari binatang buas.
Melihat burung mendekat jajang tetap santai bersandar pada batang pohon. Burung itu akhirnya memasuki permainan. cabang pohon yang membuat burung susah bergerak membuat Jajang dengan santai melompat ke punggung burung itu dan mematahkan sayapnya. Boss gunung benar-benar dibuat seolah itu hanya mainan anak anak.
Jajang berburu hingga langit gelap. Setelah langit gelap Jajang mulai memukul, menendang, menampar pohon yang tak bersalah. Pohon disini berdiameter minimal 1,5 meter. Butuh beberapa waktu untuk menumbangkannya. Jajang akhirnya merubuhkan setiap pohon dan hewan buas yang dia temui. malam berganti siang, siang berganti malam, malam berganti siang. Akhirnya Jajang tiba di wilayah Pegunungan Monster.
Pegunungan Monster adalah tempat bagi kultivator berburu dan berlatih. Disini kultivator alam penyempurnaan tubuh hanya bisa berburu di wilayah paling luar. Itu bisa dibilang cangkangnya wilayah pegunungan. Jajang akhirnya mencari monster yang ada disana. Baru juga dia memasuki wilayah pegunungan, Jajang dikejutkan oleh seekor babi. Tapi babi itu terlihat berkulit gelap dan tampak sangat padat.
"Hahaha mungkin bisa jadi bekal untuk makan siang nanti"
Jajang lalu maju dan tanpa basa basi meninju babi yang berlari maju membabi buta. Babi itu dengan mudah dibaca pergerakannya oleh Jajang. Tapi masalahnya sekarang adalah, Babi itu berat dan keras. Itu tidak bergerak sama sekali saat dipukul.
__ADS_1
"Sial, sepertinya akan sangat merepotkan."
Jajang memanfaatkan tubuh berusia 5 tahunnya untuk menyelinap di bawah kaki babi dan memukul ketiak mereka. Tapi tanpa Jajang duga babi itu melipat kakinya dan menjatuhkan dirinya tepat saat Jajang berada dibawah Babi.
"Eh..."
Jajang dengan panik mencoba menghindar tapi sudah terlambat.
Bamm~
Tubuh babi yang teramat berat menjatuhi tubuh mungil Jajang tanpa ampun.
Crack~
sendi peluru lengannya patah sehingga tidak bisa menahan berat babi itu dengan tangannya lagi. Akhirnya seluruh beban bertumpu pada dadanya.
Arghhhh~
Jajang memuntahkan seteguk darah dengan wajah yang tampak sangat pucat. Hanya beberapa saat sebelum mata Jajang mulai gelap dan Jajang akhirnya tidak sadarkan diri. Tepat saat Jajang kehilangan kesadarannya, Babi itu terbagi 2 dengan isi perut yang bercecer keluar. Karena Jajang berada di bagian kaki depan, dia hanya terkena genangan darah yang mengalir.
__ADS_1
"Haah~ Baiklah aku sudah menemukan murid"