Ilmuan Gila Di Dunia Kultivasi

Ilmuan Gila Di Dunia Kultivasi
Chapter 03


__ADS_3

Dengan penuh kekecewaan, Jajang duduk bersila sambil mengatur nafasnya yang terengah - engah. Dia merasa ini tidak mungkin seperti bumi. Makhluk hidup, geografis, bahkan udaranya terasa berbeda. Dengan harapan terakhirnya Jajang akhirnya memejamkan matanya dan merasakan udara di sekitarnya. Mencoba membayangkan sihir, Qi, Aura spiritual apapun yang mungkin.


Jajang benar - benar tenggelam dalam impiannya. Hingga dia akhirnya merasakan rambut - rambut bercahaya ada di sekitarnya. Menahan rasa senangnya karena takut kecewa jajang mencoba memasukkan untaian energi ke dalam tubuhnya. Ya itu adalah nama yang Jajang berikan karena dia belum tahu apapun tentang dunia ini.


Untaian energi secara mengejutkan terserap saat dia bernapas. Untaian demi untaian terserap secara acak. Saat itu terserap tubuhnya terasa lebih hidup. kekuatan misterius yang samar terasa mengalir dalam tubuhnya.


"Jadi aku ada di dunia kultivasi? Baiklah untuk beberapa hal, aku mengerti bagaimana cara menyerap energi ini. Tapi kenapa itu warna warni dan seolah memiliki karakternya masing - masing? hmm... mungkinkah atribut?"


Jajang kembali memejamkan matanya kembali dan kali ini dia menyerap hanya 1 warna setiap 1 menit durasi. Setelah 5 menit, dia akhirnya membedakan warna - warna yang berbeda dengan efek yang berbeda.


"Bisakah aku membuat setiap untaian energi memperkuat bagian tubuh tertentu?"


Jajang lalu mencoba mengendalikan penyerapan yang terjadi. Semua sangat sulit, mentalnya benar benar terkuras. Tapi setelah sekitar 1 jam mencoba, jajang akhirnya bisa mengendalikan untaian energi agar terserap di organ tertentu.


Jajang lalu memutuskan untuk "memodifikasi" tubuhnya sendiri. Jajang benar benar ahli dalam bidang sains di kehidupan sebelumnya. Jika dunia mengakuinya sebagai ahli mungkin dia akan mendapat julukan jenius nomor 1. tapi karena dia tidak disukai banyak orang, gelar itu hanyalah mimpi kosong.


Setelah memikirkan banyak hal dan detai tubuhnya Jajang memulai memperkuat tubuhnya dengan energi itu. Awalnya hanya fokus pada setiap organ. Lama - lama jajang tidak puas dengan itu hingga dia benar benar merinci hingga jaringan jaringan kecil. Energi diedarkan dengan teliti, setiap bagian tubuh memiliki komposisinya masing masing. Itu semua dibuat oleh Jajang dalam 15 menit.


Tak terasa kulit mata Jajang mulai bersinar menandakan matahari telah terbit. Jajang membuka matanya dan meregangkan tubuhnya. Dia tidak mengantuk ataupun lelah.

__ADS_1


Dia lalu terjun ke danau dan menyelam beberapa waktu. melihat lihat beberapa menit, tidak ada yang spesial dengan danau ini. Jajang akhirnya terbaring mengambang di permukaan danau. itu adalah teknik dari bumi agar tubuh mengambang di atas air tanpa mengeluarkan banyak tenaga.


"Mungkin aku sudah mahir mengedarkan untaian energi itu. Meskipun hanya dalam semalam tubuhku terasa lebih kuat dan lebih ringan daripada kemarin. Tapi bisakah aku mempercepat penarikan energi, itu akan luar biasa. sekarang aku hanya menggunakan energi yang ada pada udara pernapasan yang masuk ke paru - paru."


Jajang lalu melepaskan rasa capeknya dengan berenang hingga puas. Sekarang Matahari belum terlalu tinggi, Jajang ingin berjalan - jalan karena bosan. Jajang akhirnya mendaki tebing di depannya. walaupun itu lebih tinggi dari yang sebelumnya, tapi jalannya lebih mudah didaki.


Sampai di atas Jajang sudah tahu bahwa didepannya masihlah hutan. Jajang berjalan ke arah terbitnya matahari. Kali ini Jajang benar benar ingin segera makan. Perutnya lapar walaupun tubuhnya sedikit membaik karena mendapat air minum dan kultivasi semalaman.


beberapa menit berjalan Jajang hanya menemukan beberapa hewan buas yang cukup mengerikan. Tapi Jajang entah bagaimana berhasil kabur. Jajang lalu tidak tertarik lagi dengan hutan ini dan memilih untuk pulang dengan beberapa buah di tangannya.


Sampai di tebing, Jajang baru terpikirkan sesuatu.


Jajang akhirnya memutuskan untuk berjalan di tepi sungai sembari melihat - lihat. Dia melihat beberapa ikan kecil tapi itu terlalu kecil. Jika dia mencoba memakannya, itu hanya akan rugi usaha membuat api karena dagingnya sangat sedikit.


krokok...krash krash... ciu ciu~


Suara hewan liar dan pepohonan terus bersahut - sahutan. Hingga jajang melihat seekor ular yang sangat besar dan panjang.


"Woaah ular apa itu, besar sekali!" Jajang melewatinya tanpa mengganggu ataupun terganggu. Jajang sangat tenang bahkan dirinya sendiri merasa aneh kenapa dirinya sangat tenang.

__ADS_1


Tanpa ada masalah apapun Jajang terus melanjutkan perjalanannya. Dia melihat kadal dengan panjang 1 meter, buaya, bahkan dia melihat beberapa keong dan siput dengan ukuran yang tidak biasa.


tok... tok...


Tiba - tiba Jajang mendengar suara kayu yang dipukul dengan benda keras. Jajang berjalan ke arah suara itu dan akhirnya dia melihat 3 orang dengan pakaian biasa dengan banyak noda. Karena dia di hutan itu pasti sangat wajar. Jajang mendekati mereka dan terlihat ekspresi muka aneh yang mereka pasang.


Jajang menjadi waspada, takut bahwa mereka adalah suku terasing yang anti pada manusia dari luar.


"Anooo,,,, Apakah tuan-tuan memiliki makanan?"


Jajang menunduk dan menggosok rambutnya dengan wajah tersipu. Mereka bahkan baru bertemu tapi Jajang sudah meminta makanan. Itu sangat memalukan. Tapi Jajang tidak memiliki pilihan lain.


3 pria dewasa tadi tetap diam lalu berbicara sendiri satu sama lain. Indentitas mereka adalah sebagai tukang kayu. Jajang tidak mengerti bahasa mereka. Itu terdengar seperti bahasa tiongkok tapi berbeda. Jajang berkeliling dunia di bumi, Jadi dia tahu bahwa ini bukanlah bahasa negara manapun di bumi.


"Jika aku tidak mengerti mereka dan mereka tidak mengerti aku, Lalu bagaimana aku bisa meminta makanan?"


Berbeda dengan kekhawatiran Jajang, tukang kayu itu mendekatinya dengan ekspresi hangat lalu berbicara padanya. Jajang entah bagaimana perlahan seolah mengerti apa yang mereka katakan. Jajang menggelengkan atau menganggukkan kepala dan beberapa gerakan tangan sebagai isyarat.


Tukang kayu itu disebut juga Luo bersaudara. kakak tertua mereka bernama Luo bo. Luo bersaudara merasa kasihan dengan anak di depannya. Mengabaikan kenapa anak itu tidak berbicara, Luo bersaudara terus bertanya hingga akhirnya mereka mengajak Jajang berjalan ke desa.

__ADS_1


__ADS_2