
"Yoon," Panggilku berusaha menyamakan langkah di belakangnya. Ada yang ingin aku katakan padanya. Setelah memarkir motornya, aku mulai membuntutinya yang sedang melewati gerbang menuju lantai tiga kelasnya.
Berlari kecil, aku kembali memanggilnya lebih keras. "Yoongi!"
Dia berbalik. Membuka sebelah headset yang tersumpal di telinga sambil menungguku. Dengan cepat aku berlari ke arahnya bersiap bicara. "Aku mau ngomong."
"Penting?" Tanyanya dingin.
Satu kata yang sukses menohok wajahku. Merasa sedikit tercubit mendengar ucapan yang terasa sangat malas untuk ia ucapkan. Tidak sesulit itu 'kan meladeniku? Aku hanya, ah!
"Kayaknya satu bulan ke depan aku gak bisa nungguin kamu dulu deh. Aku baru dimasukin les sama Kak Jin."
"Kok tiba-tiba les? Kenapa gak ngasih tau aku dulu?" Tatapan malasnya seketika berubah tajam. Aku menggeram, menarik nafas agar tidak terpancing.
Yoongi itu butuh seribu kali lipat kesabaran jika berhadapan dengannya. Aku juga tidak mengerti kenapa dia harus sedatar itu?
"Kak Jin juga baru kasih tahu tadi pagi. Dia sendiri yang abis daftarin aku. Ya aku gak bisa nolak."
"Les privat atau bukan?" Tatapannya semakin memicing membuatku salah tingkah. Bukan salah tingkah kasmaran, aku malah gugup seakan telah melakukan kesalahan. Aku harus tenang. Tidak perlu ada perdebatan di pagi hari. Hariku tidak boleh rusak.
"Les privat. Ini profil tutornya." Ujarku sambil mengulurkan selebaran soal les bahasa inggris itu.
Melirik dan membaca profil tutor yang belum pernah kutemui itu, Yoongi menghela napas. Mengembalikan profil ke tanganku kasar.
"Kenapa?" Tanyaku mulai kesal. Dia tidak perlu bersikap seperti ingin memarahiku 'kan? Walau mungkin bagi Yoongi itu biasa saja. Tapi bagiku, dia mulai terlihat menakutkan sekarang. Aku menelan ludah tidak nyaman.
"Emang harus tutornya cowok?" Yoongi menunduk, menyorotku geram menuntut.
Astaga! Aku mengerti arah pembicaraannya kemana. Tapi, apa-apaan coba? Maksud dia aku akan dekat-dekat gitu dengan tutor itu? Dia pikir aku seperti apa?
"Kamu cemburu? Mau marah?" Dongakku dengan dengusan kesal. Sejak bicara dengannya kurasa dia memang tidak pernah tersenyum. Membuat moodku memburuk saja.
"Marah? Siapa yang kamu bilang marah? Kamu kira aku labil? Lagian aku nanya. Bukan marah! Gak bisa kamu bedain kata itu?" Tekannya kesal. Membuatku benar-benar naik pitam. Lihat itu! Dia bahkan menakan kata marah berkali-kali! Dia pikir aku bodoh apa? Aku juga tau kali! Aku sudah kelas tiga!
"Maksud kamu apa? Kamu mau nunjukin pemahaman kamu soal kata-kata? Bahasa? Perlu ya kamu nyindir aku?"
"Loh siapa yang nyindir? Aku tanya kenapa kamu milih tutor cowok? Kamu yang tiba-tiba marah dan ngomel! Ngeselin tau gak!"
"Ya mana aku tau tutornya bakal cowok! Kan aku udah bilang kalo lesnya Kak Jin yang daftarin. Kalo mau protes sama Kak Jin sana!"
Wajahku memerah menahan emosi. Benar-benar menyebalkan! Padahal aku baru datang ke sekolah, tapi dia sudah merusak hariku dengan mudahnya.
Yoongi membuka mulut bersiap membalasku. Tatapannya yang daritadi tepat menatap iris bulatku yang mulai memerah membuatnya diam. Menghela napas, dan kembali memasang headsetnya.
"Pulang bareng aku. Tunggu aku latihan sampe selesai. Baru aku anter ke tempat lesnya." Suaranya sedikit melunak. Aku sedikit tersentak merasakan elusan tangannya di bawah mataku. Menatapku dalam beberapa saat dan berlalu ke kelasnya tanpa menunggu jawabanku.
Menghentakkan kaki kesal, aku berbalik. Melangkah tergesa dengan hidung yang mulai terisak pelan.
Sial! Masih saja! Setiap bertengkar dengan Yoongi, selalu saja seperti ini. Seakan dua tahun yang kulalui bersamanya terus terasa baru.
__ADS_1
Mengggosok bawah hidungku agar berhenti terisak, aku memasukkan profil tutor yang menampilkan wajahnya ke dalam tas dan memasuki kelas.
Yoongi menyebalkan!
***
"Halo, ini Yoona? Lesnya dimulai jam tiga sore. Kenapa belum datang?"
Aku menggeram kesal. Bagaimana coba tutor ini bisa tahu nomor teleponku? Dia malah meneleponku sekarang. Aku harus bilang apa dong? Yoongi masih latihan lagi di lapangan. Apalagi aku bisa merasakan tatapan tajamnya yang mengawasiku saat berbicara dengan tutor.
Jangan sampai Yoongi mulai lagi nanti. Hah!
"Iya, bentar lagi Kak. Aku udah dijalan kok. Maaf ya." Ujarku berusaha bersikap sopan. Soalnya tadi pagi Kak Jin terus mewanti-wantiku untuk bersikap baik selama les. Tentu saja aku tahu akibatnya jika tidak mendengar kata-katanya. Bisa-bisa dia mengurungku di kamar berhari-hari tanpa ponsel dan laptop. Menyebalkan.
Oh iya. Kak Jin juga menjelaskan beberapa hal soal tutor itu. Tentu saja aku tidak terlalu memedulikannya. Hanya saja, aku masih mengingat nama tutor yang katanya hampir seumuran denganku. Entah bagaimana Kak Jin mendaftarkanku ke tutor yang mungkin masih SMA. Sepintar apa memang dia?
Aku mulai mengingatnya lagi 'kan!
"Saya tunggu tiga puluh menit lagi kalo gitu. Kalo bisa tepat waktu ya Yoona. Saya masih punya banyak jadwal. Bukan cuma kamu."
Busett! Ternyata dia tegas juga. Aku jadi takut bagaimana dia akan mengajariku nanti. Huh..
"Siapa?"
"Astaga!" Sentakku kaget. Tahu 'kan bagaimana suara Yoongi yang datar itu. Dan dia memanggilku dengan keras padahal dia sudah dihadapanku. Langsung saja ponselku mendarat dengan mulus di lapangan basket yang mulus itu.
Bruu...k
Baru juga napasku lepas, aku kembali tercekat saat Yoongi membalik ponselku dan melihat layarnya menampilkan telepon tutor itu.
"Yoon, itu, tutornya-,
Belum sempat aku menjelaskan, Yoongi langsung menempelkan ponsel itu ke telinganya dan berkata ketus.
"Yoona sibuk! Bisa 'kan nunggu? Perasaan tutor les gak perlu nelepon-nelepon kayak gini!"
Tut! Dengan kasar Yoongi mematikan teleponku hingga mati membuatku menghentakkan kaki kesal.
"Yah Yoon! Kok dimatiin sih! Nanti susah nyalainnya. Dah tau hape aku gampang hang!" Kesalku sambil berusaha menyalakan ponselku kembali.
Nah kan! Tidak bisa.
"Tuh! Gak bisa nyala 'kan sekarang! Kamu sih. Ngeselin!"
"Apa kamu bilang? Ngeselin? Gak suka kamu aku matiin telepon dari tutor itu? Suka kamu teleponan sama dia?" Yoongi mulai lagi. Menatapku tajam dengan napas memburu. Keringat di wajah dan lehernya membuatku cemberut takut.
"Enggak. Bukan gitu. Abis kamu sih! Kan gak perlu sampe matiin hape aku! Nanti kalo Kak Jin telepon gimana?" Cicitku masih tidak terima. Dia terlihat lebih menyeramkan sekarang. Mau tidak mau aku harus mengalah jika tidak ingin mendapat bentakan darinya.
"Aku yang telepon dia nanti. Udah duduk. Aku mau ganti baju dulu. Jangan teleponan lagi!" Yoongi mulai melunak. Sedikit tidak suka melihatku mencicit. Mengelus bawah mataku seperti biasa lalu melangkah ke toilet.
__ADS_1
Aku menghela napas. Masih kepikiran soal tutor tadi. Hah pusing aku sekarang! Bagaimana kalau tutor itu memberitahu Kak Jin soal tadi? Bahaya kalo sampai ke Kak Jin hal ini. Tapi melihat Yoongi yang menahan amarah saat bicara di telepon terlihat lebih menakutkan.
Banyak sekali sih cowok menakutkan di hidupku ini!
"Udah. Ayo jalan." Saking sibuknya melamun aku tidak sadar kalau Yoongi sudah berdiri di depanku. Aku bahkan tidak sadar ponselku telah berpindah ke sakunya. Berdiri, aku menatapnya bingung.
"Hape aku mau kamu bawa pulang?"
"Iya. Mau liat kayak gimana kamu ladenin cowok-cowok yang ngechat kamu." Ujarnya sambil berjalan ke arah parkiran. Mendengus, aku berlari kecil ke sebelahnya. "Yee enggak ya! Aku gak ganjen sama cowok lain. Kamu tuh fans-fansnya dibiarin aja!" Ketusku mulai kesal. Mentang-mentang aku beda kelas dengannya, dia pikir aku tidak tahu dia terus menerima pemberian cewek-cewek yang selalu datang hanya untuk melihatnya itu? Cih!
"Emang aku ngapain? Aku sentuh? Enggak 'kan? Kurangin tuh kebiasaan kamu ngintipin aku dari jendela. Leher kamu bisa sakit kalo kelamaan dongak." Ujarnya menoleh ke belakang saat aku tertinggal lagi. Begitulah kaki anak basket! Apalah dayaku yang jalan ke minimarket aja harus minum berkali-kali baru sampai.
Aku mendengus saat ia berjalan mendekat ke arahku yang tertinggal jauh. Menarik tas dari bahuku, menimangnya, lalu memasangnya kembali. Aku semakin cemberut. "Mau dibawain apa enggak gak sih? Jangan pehape dong!" Omelku kesal. Padahal diam-diam aku sedikit senang saat ia mengambil tasku seperti di film yang kutonton tadi malam. Ternyata Yoongi tetap Yoongi yang menyebalkan.
"Gak berat tuh. Beratan tas aku. Udah sini, lambat banget sih jalannya." Ejeknya sambil mengulurkan tangannya melingkari bahuku. Menarikku mendekat ke tubuhnya dan kembali berjalan. Bisa kurasakan dia sengaja melambatkan langkahnya agar aku tidak kewalahan.
"Hehe, tumben baik." Balasku nyengir. Walau saat aku menoleh yang aku lihat hanya wajah datarnya, tetap saja aku senang saat Yoongi bersikap manis seperti ini.
"Emm tapi Yoon." Gumamku saat ia sedang mengeluarkan motornya dari parkiran. Aku mulai menatapnya takut.
"Hm?"
"Nanti.. kamu gak usah masuk ya ke cafe."
Yoongi berhenti. Dia langsung menoleh dan menubrukku dengan tatapan tajamnya. Aku menunduk gemetar.
"Kenapa?" Desisnya dingin.
"Itu.. aku gak mau kamu ketemu sama tutornya. Nanti kamu berantem lagi sama dia. Kalo kamu berantem, tutornya nanti lapor ke Kak Jin gimana? Aku dimarahin lagi nanti."
Mendongak takut, aku semakin gemetar melihat urat leher Yoongi menimbul. Menelan ludah, aku mendekat. Bersiap mendengar omelannya lagi.
Tapi yang kudengar hanya helaan napasnya menerpa lenganku. Cepat-cepat aku meminta maaf sebelum dia menyemprotku lagi.
"Maaf Yoon. Aku gak mau Kak Jin nganggep kamu gak baik nanti. Kamu tau 'kan Kak Jin ketat banget jagain aku? Tapi kalo kamu mau gak papa kok. Kamu masuk aja nanti. Aku gak bakal minta aneh-aneh lagi. Maaf." Cicitku kembali menunduk.
"Naik."
"Hah?"
"Naik. Pake helmnya." Tidak seperti dugaanku, Yoongi malah diam dan memasangkanku helm putih yang selalu dia bawa untukku. Dengan kening berkerut, aku naik. Melingkarkan tanganku ke perutnya bingung. Tanpa mengatakan apapun, Yoongo melanjalankan motor meninggalkan sekolah. Membelah jalanan yang mulai terkena gerimis.
"Maaf." Ujarku meremat kemeja putihnya gugup. Dia terlihat sangat berbeda saat diam seperti ini. Aku jadi tidak tahu apa yang ingin dia katakan dan membuatku semakin merasa tidak nyaman.
Yoongi tidak mengatakan apapun. Terus menjalankan motor ke cafe tempat tutor itu menungguku. Mau tidak mau aku ikut diam dan menyandarkan kepalaku ke punggung tegapnya kepikiran.
Hah.. aku harus siap entah akan disemprot Kak Jin atau Yoongi nanti.
Tamatlah aku.
__ADS_1
***