
"Jungkook! Tidak bisakah kau menungguku?" Geuya berteriak kesal. Mereka sedang bersiap meninggalkan hotel. Beberapa jam lagi penerbangan ke Hawai. Jungkook sudah siap dengan jaket hitam dan celana pendeknya. Dua koper berada di tiap sisinya yang sedang berjalan menuju lift.
"Hm? Ada apa?" Jungkook menoleh sebentar lalu kembali melangkah. Headset yang menutup kupingnya membuat dia asik sendiri.
"Issh aku susah jalan! Sakit! Kalau aku tau akan sakit begini, aku tidak akan mau melakukannya denganmu." Desis Geuya sambil tertatih berusaha menyejajarkan langkah Jungkook. Begitu ia hampir meraih lengan suaminya, Jungkook malah menggerakkan kakinya lebih lebar. Geuya mendecih malas.
"Sudahlah! Aku tidak mau pergi. Kau honeymoon sendiri saja sana!" Kesal Geuya akhirnya. Ia berbalik, berjalan lebih cepat lalu berhenti. Meringis menahan perih, lalu menoleh ke belakang.
"Jungkook!" Geuya langsung memekik kaget saat Jungkook menggendongnya cepat. Refleks lengan Geuya terulur melingkari leher Jungkook. Masih dengan keterkejutannya, Geuya mencebik. Mencubi dada Jungkook kesal.
"Jangan membuatku kaget begitu! Aku tidak suka!"
Jungkook tidak menjawab. Ia hanya melirik istrinya sekilas, lalu kembali berjalan. Dua tangannya sibuk menahan tubuh Geuya dan menarik koper.
"Jungkook!" Geuya memanggil. Kesal karena tidak diperhatikan. Memangnya apa sih yang suaminya itu dengarkan? Sampai dia diabaikan seperti ini.
Mengunyah bibir, Geuya mendongak. Menarik kabel headset yang langsung terlepas. Jungkook mengerjap. Menunduk, menatap netra gelap Geuya bingung.
"Kenapa? Kau butuh sesuatu?"
"Kau dengar lagu apa sih? Sepenting itu sampai kau tidak mendengar perkataanku daritadi?" Ujar Geuya setelah menggantungkan lengannya kembali. Bibir tipisnya mencebik. Mengingat sikap Jungkook yang begitu memanjakannya tadi malam, ralat. Lebih tepatnya suaminya itu yang ingin dimanjakan. Harusnya pagi ini Jungkook menaruh perhatian penuh padanya. Tapi ini?
"Aku sedang mendengar melodi yang kubuat minggu lalu. Pernikahan kita membuatku benar-benar sibuk sampai tidak pernah menyentuh pekerjaanku. Kau tau 'kan aku harus menyelesaikannya secepatnya?" Jungkook menjelaskan. Mata rusa besarnya menatap istrinya hangat. Sebenarnya dia tidak tega mengabaikannya sepagi ini. Tapi pekerjaannya terlalu mendesak.
"Kenapa tidak bilang? Kalau aku tau aku tidak akan mengganggumu. Turunkan aku. Aku jalan sendiri saja." Raut kesal Geuya berangsur hilang. Berganti perasaan bersalah meski matanya berkata lain.
"Jelas-jelas kau tidak mau diturunkan. Mumpung aku tidak melakukan apa-apa, katakan. Apa yang ingin kau bicarakan tadi?"
"Ah, itu ..." Geuya gelagapan. Ditanya dengan herpaan nafas Jungkook menyentuh lehernya membuatnya tidak bisa fokus. Ia mengerjap. Memutar mata ke arah lain.
__ADS_1
"Aku hanya, ah sudahlah."
"Apa? Jangan membuatku penasaran. Tadi kau bilang sakit. Dimana yang sakit? Nanti aku obati."
Pipi Geuya sontak memerah. Ia menutup mata, sama sekali tidak ingin menjawab pertanyaan Jungkook.
"Sakit dimana, Sayang? Apa sakit sekali sampai kau menutup mata seperti itu?"
"Lupakan. Aku baik-baik saja."
"Tidak bisa. Kau membuatku khawatir. Kita obati dulu. Masih ada dua jam sebelum penerbangan. Sepertinya kotak obatnya masih di dalam kamar." Jungkook berbalik. Melangkah cepat ke arah kamar. Mengabaikan sentakan Geuya yang minta diturunkan.
"Ti-tidak, Jungkook. Aku tidak papa. Kita ke bandara saja. Nanti kita terlambat. Jungkook!" Percuma. Meski Geuya terus meronta, Jungkook tidak mendengar. Suaminya itu fokus membuka pintu, meninggalkan koper dan membawa Geuya ke kasur. Membaringkannya hati-hati.
"Jungkook, aku tidak apa-apa. Benar! Kita berangkat saja sekarang."
"Nah. Sekarang, mana yang sakit?" Jungkook bertanya sambil membuka kotak P3K. Menaruhnya di meja kecil sebelahnya, lalu mulai menelisik tubuh Geuya teliti.
"Lehermu sakit? Apa aku terlalu kuat menciumnya?" Jungkook bertanya santai. Seakan tidak menyadari degupan jantung Geuya yang sudah ingin keluar saking paniknya. Dia gugup. Meski ia pernah membiarkan Jungkook melihat tubuhnya apalagi menyentuhnya, tetap saja dia malu. Tadi malam, baru pertama kali. Geuya tidak tau harus bagaimana.
"Bukan, bukan itu. Berhenti memperhatikan leherku! Menyebalkan." Geuya mengomel. Giginya bergemelatuk saat Jungkook hanya terkekeh dan mengelus lehernya pelan. Geuya langsung mengerang. Tubuhnya meremang padahal Jungkook hanya mengelus lehernya.
"Lalu, yang mana yang sakit? Aku tidak ingin kau kesakitan di pesawat. Apa kita tunda dulu honeymoonnya?"
"Tidak. Tidak perlu seperti itu." Cepat-cepat Geuya menahan lengan Jungkook yang akan membuka ponsel. Wajah merahnya semakin merah saat Jungkook memilih mendekat. Menggenggam tangannya. Menautkan jarinya.
"Katakan saja. Aku suamimu. Aku yang akan menjagamu. Kalau kau tidak mengatakan apapun, bagaimana aku bisa tau?"
"Itu ... " Geuya menelan ludah. Kepanikannya sedikit berkurang. Berganti detakan di dadanya begitu tatapannya bertubrukan dengan netra kelam Jungkook yang berbinar. Genggaman hangat suaminya seakan menekankan, bahwa dia tidak perlu merasa malu seperti ini.
__ADS_1
"Itu ... milikku sakit." Cicit Geuya sambil menyorot bagian perutnya. Jungkook mengikuti arah pandangnya, lalu berdecak kesal.
"Astaga, Sayang. Daritadi kau panik hanya karena ingin mengatakan itu? Yaampun." Jungkoon terkekeh tidak habis pikir. Padahal dia kira ada hal serius.
"Hanya? Kau kira gampang mengatakan hal ini? Lagipula aku tidak akan merasa nyeri jika bukan karenamu."
"Baiklah. Aku panggilkan dokter saja ya? Kau bisa lebih leluasa jika bersamanya." Saran Jungkook sembari membuka ponselnya. Mencari kontak dokter kenalannya.
"Kau gila? Bagaimana mungkin aku menunjukkannya pada orang lain?"
"Lalu bagaimana? Aku tidak ingin kau kesakitan. Mau aku saja?"
Geuya menggigit bibir. Pikirannya linglung. Ia menatap Jungkook ragu.
"Memangnya kau bisa?"
"Entahlah. Kalau aku bisa melakukannya semalam, kenapa tidak saat ini?"Jawab Jungkook lugu. Membuat Geuya benar-benar ingin mencubit wajah sok polosnya itu.
"Bukan itu maksudku! Kau akan membuatnya lebih sakit jika kau melakukannya lagi. Dasar bodoh!"
"Tidak, Sayang. Aku akan mengobatimu. Tenang saja. Kemari."
"Jungkook, jangan mempermainkanku."
"Iya. Aku hanya akan mengobatimu saja. Janji."
Merenggut, meski ragu, Geuya menurut. Membiarkan Jungkook memesan beberapa obat dan menunggunya.
"Huh, dasar."
__ADS_1
Suaminya itu, entah bagaimana Geuya harus menggambarkannya.
***