IMAGINE BANGTAN WITH U

IMAGINE BANGTAN WITH U
Seven : Namjoon (2)


__ADS_3

"Aku pasti datang! Tenang saja." Yura menyahut senang. Dia baru saja pulang dari cafe untuk rapat dengan editor novelnya. Wajah lelah juga kantuknya mendadak hilang setelah menerima telepon itu.


Temannya 'kah?


Tapi seingatku, Yura tidak punya teman yang cukup dekat sampai ia bisa tertawa seperti itu lewat telepon. Denganku dulu juga tidak pernah.


"Iya-iya. Aku akan berdandan. Astaga iya, Taehyung! Kau ini menyebalkan sekali."


Hah?


Dia berhubungan dengan lelaki itu lagi?


Rahangku mengeras. Sorotan lembut yang tadi kuarahkan pada gadisku berubah tajam. Aku menatapnya geram.


"Baiklah-baiklah. Di taman 'kan? Oke. Aku akan datang pas jam delapan malam. Bye!"


Delapan malam? Apa yang ingin dia lakukan dengan Taehyung? Sekarang saja sedang gerimis. Biasanya Yura tidak akan keluar jika langit mendung, dia tidak suka sakit.


Tapi ini ...


Kepalaku berdenyut. Memikirkan segala kemungkinan yang bersarang di pikiranku nyaris membuatku gila.


Tidak boleh.


Tidak ada yang boleh mengubah Yura-ku.


Aku harus meninggalkan pekerjaanku sekarang. Tugas menumpuk di apartemenku kuabaikan begitu saja. Begitu sampai, aku langsung mengganti baju. Tak lupa mengambil mantel Yura yang tidak pernah ia ambil juga payung.


Aku tidak tahan lagi.


Semakin hari, gadisku semakin bertingkah beda.


Aku cukup menderita hanya bisa menatap dan menjaganya dari jauh. Perasaan rindu begitu membuncah setiap aku mendatanginya.


Selama ini aku menahan diri, tapi tidak kali ini.


Tidak untuk seseorang yang bisa mengambil tempatku di hidup gadisku.


***


Tidak jauh dari depan rumah Yura, aku mengetuk stir gugup. Dadaku bergemuruh hanya memikirkan apa yang akan Yura lakukan nanti. Lebih tepatnya, apa aku harus melakukannya sekarang? Aku tau Yura begitu membenciku. Dia selalu mengatakan itu tanpa memberiku alasan sedikitpun. Aku juga tidak bertanya.


Tidak seperti perkiraanku, Yura sudah ada di depan mobil. Setelah mengunci pintu, ia berbalik dan berlari kecil menyusuri jalan malam. Sejak tadi, gerimis memang berhenti. Mungkin itu sebabnya dia mengenakan baju terbuka sekarang.


Cantik.


Tapi, apa tidak berlebihan memakai dress hitam itu hanya untuk bertemu dengan rekan kerja? Dress itu juga terlalu terbuka. Dari sini aku bisa melihat setengah paha juga punggungnya.


"Bagaimana bisa dia memakai baju seperti itu? Ahh dasar!"


Pikiranku mulai panik. Tidak ingin kehilangan jarak, segera aku mengambil mantel dan payung, keluar dari mobil, dan diam-diam berjalan tidak jauh di belakangnya.


Tanganku mengepal melihat punggung terbukanya. Kenapa sih harus memakai baju itu? Dia akan bertemu pria lain lagi. Apa dia sengaja menggodanya?


Tidak-tidak. Gadisku tidak seperti itu. Lebih baik aku fokus mengawasinya dari sini.


Dia sudah sampai di taman. Karena sempat gerimis, kini tidak ada orang lain disini. Aku juga lebih nyaman mencari tempat sembunyi. Kulihat dia mendudukkan tubuhnya di bangku tanpa sandaran. Begitu duduk, Yura langsung membuka ponselnya. Menghubungi seseorang, dan menempelkannya di daun telinga.


"Oh? Kenapa dia tidak mengangkatnya?" Alis Yura menyatu. Kernyitan bingung mulai muncul di dahinya. Dia memilih diam. Menunggu, dengan sesekali berjengit kedinginan.


Sial! Aku ingin membawakan mantelnya sekarang. Tapi tidak bisa. Aku tidak boleh merusak malamnya.


Dua jam berlalu kuhabiskan menatap gadisku yang mulai kedinginan. Sesekali ia mengusap lengannya dan menggosok telapak tangannya berusaha menghangatkan diri. Jarinya juga tidak berhenti menelepon seseorang.


Empat jam berlalu. Raut wajah Yura mulai tidak nyaman. Pipinya memerah diikuti hidung kecilnya yang berkedut. Perasaannya tidak enak. Aku yang memerhatikannya disini semakin khawatir. Meski aku sempat emosi mendengar ia akan bertemu dengan Taehyung, tapi melihatnya begini juga tidak bagus.


"Kenapa kau belum datang?"


Lamunanku buyar begitu suara lirih gadisku terdengar. Tatapannya lurus, menatap pohon basah di depannya kosong. Ia terus memeluk dirinya sendiri. Bibirnya mulai bergetar kedinginan.


Aku tidak tahan astaga! Berani-beraninya pria asing itu membuay Yuraku tersiksa seperti ini!


Lima jam berlalu. Langit semakin menggelap. Sementara isakan pelan mulai terdengar. Aku mengepalkan tangan, menahan denyutan linu yang kurasakan melihat tetesan dari ujung mata Yura meluruh.


Kenapa tidak pulang saja?


Siapa memangnya dia sampai kau menunggunya seperti ini?


Apa dia sangat berarti bagimu?


Pertanyaan monologku keluar begitu saja. Aku mulai gemetar kedinginan saat hujan perlahan turun. Dengan dada berdetak hebat berusaha menahan diri.


Aku tidak boleh kesana.

__ADS_1


Aku tidak boleh melewati batas.


Tapi Yura sudah basah kuyup. Dress hitamnya yang cukup tipis dengan mudah membuat tubuhnya membayang. Perasaanku semakin tidak enak. Apalagi dia hanya terus memeluk diri dan terisak.


"Aku mohon datanglah ... Sampai kapan aku menunggu?"


Hujan kecil tadi tiba-tiba berubah deras. Menusuk kulit terbuka Yura yang tidak juga meninggalkan tempatnya. Hanya isakan yang semakin keras menggema di malam itu.


Aku benar-benar tidak tahan lagi. Dengan perasaan bergemuruh juga mata memerah, aku melangkah cepat ke arah Yura. Menenteng mantel dan membuka payung. Berhenti di sebelahnya, dan mengarahkan payung itu di atasnya.


"Pakai ini." Ujarku sambil mengulurkan mantel coklatnya. Bisa kulihat keningnya mengernyit bingung. Dengan wajah basahnya ia mendongak. Menatapku yang tidak berhenti menyorot matanya dalam.


Penuh rindu.


"Namjoon?! Kau, apa yang kau lakukan disini?!"


Dia langsung membentak. Meronta membuat payung di atasnya terlempar dari peganganku. Yura bangkit, mendorong mantel yang kusodorkan menjauh. Tangan kecilnya mendorong dadaku kesal meski tidak berefek apapun. Aku menatapnya dalam diam.


"Kenapa kau datang? Aku sudah bilang jangan menemuiku lagi. Dan bagaimana kau bisa tau aku ada disini? Kau, kau membuntutiku ya?" Tanyanya bertubi-tubi. Tapi aku hanya terpaku pada manik kelamnya yang menatapku marah.


Gadisku ini ... kenapa dia dengan mudah membentakku seakan aku orang asing yang mengganggunya?


Aku memiringkan kepala bingung. Sementara disini dia kehujanan bahkan kedinginan demi menunggu pria yang baru dikenalnya tiga bulan yang lalu?


"Aku tidak ingin melihatmu. Pergi sana! Menjijikkan! Jangan merusak pikiranku karena melihatmu."


"Kenapa?"


Omelan Yura terhenti. Ia mendongak. Menatapku bingung dengan mata merahnya. Aku menyorotnya datar.


"Kenapa kau menyakiti dirimu untuk orang lain? Apa kau mencintainya?" Aku berusaha menyelesaikan kalimatku. Meski aku sangat tidak ingin mendengar jawabannya, tapi sikap Yura yang sangat berbeda membuatku gila.


"Kau ... tahu? Bagaimana bisa?" Yura tergagap. Dia menatapku gugup. Pancaran kemarahannya mendadak hilang.


Hatiku mencelos. Tatapan malu juga kecewa yang begitu besar membuatku mengerang tertahan.


"Kau mencintainya? Itu sebabnya kau duduk berjam-jam disini hanya untuk menemuinya. Bahkan tubuhmu menggigil sedingin es begini kau masih tetap menunggunya? Yura, kau mau membunuhku?!" Aku tidak terkontrol. Benar-benar tidak mengerti dengan arah pikirannya. Bagaimana bisa dia bersikap seakan dia sangat mencintai lelaki itu hanya dalam waktu tiga bulan sementara aku sangat memujanya selama lima tahun?


"Aku berusaha baik-baik saja ketika aku tahu kau menyukai pria itu. Meski rasanya aku ingin menghajarnya, aku menahannya. Tapi melihatmu seperti ini, aku tidak percaya."


Yura menatapku tidak mengerti.


Menyorot dalam iris kelamnya yang mematung, aku mencengkeram kedua lengan Yura. Menyorotnya dalam, memberi ultimatum keras.


"Kau gila!" Yura meronta. Berteriak sekuatnya. Tatapan benci juga emosi terpancar jelas di irisnya. Ia menatapku garang.


"Kenapa kau membunuhnya? Kalau kau tahu aku mencintainya, kenapa kau berkata seperti itu? Tidak cukup kau merusak hidupku, kini kau juga ingin menghancurkan apa yang mulai membuatku bahagia?"


"Bahagia?" Aku mendecih. Menatapnya tajam. Mendekat, mengikis semua jarak hingga ia bisa merasakan deru nafasku.


"Kau pikir semudah itu mempercayai pria lain yang baru kau kenal? Kau yakin dia bisa membuatmu bahagia? Dia bahkan tidak datang padahal kau menunggunya seperti orang bodoh disini. Itu yang kau bilang bahagia?"


Yura tidak bisa menjawab. Ia terpaku. Tubuhnya menegang melihat kedua mataku yang terus menyorotnya dalam.


"Aku mencintaimu. Aku yang seharusnya membuatmu bahagia. Sampai kapan kau akan mengabaikanku seperti ini?"


"Berhenti mengatakannya karena kau tidak tau apa arti perkataanmu itu." Yura mendesis. Berhasil mengumpulkan kesadaran yang sempat hilang. Binar kecewa ia kirimkan dari sorot matanya. Jarinya bergerak. Menunjuk dadaku dibalik kaos basahku.


"Kau bahkan tidak punya hati. Bagaimana kau tau apa itu cinta?"


Yura terkekeh. Berusaha keras mendorong tubuhku menjauh. Ia terus menyorotku tajam.


"Berhenti menggangguku. Anak kecil sepertimu memang tidak pernah pantas untukku. Dasar bodoh. Aku tidak percaya dulu aku sempat mene--


Ucapannya terputus. Langkah cepatku ke arahnya yang langsung menarik tangannya mendekat. Menarik belakang lehernya dan menyatukan bibirnya denganku. Dalam. Memaksa.


Bibirku bergerak liar. Mengecup dua buah bibir gadisku bergantian. Begitu kuat hingga ia tidak bisa bernafas.


"Kau, apa yang kau lakukan?!" Yura segera menjauh. Mendongak, menatapku tidak percaya.


"Ini yang kau bilang anak kecil? Berhenti bersikap seakan kau tau segalanya. Cinta? Memangnya kau tau itu apa?"


"Kau gila! Dasar bodoh! Kau hanya pria aneh yang terus mengatakan cinta di depanku!"


"Benarkah? Apa aku perlu membuktikannya sekarang?" Aku menarik pinggangnya. Menyatukan tubuh kami erat. Memaksa.


"Kau, apa yang mau kau--


"Aku bisa melakukan apa saja padamu. Apa aku perlu melakukannya sekarang juga agar kau sadar siapa yang anak kecil disini?"


"Ti-ti-tidak. Aku percaya. Lepaskan aku sekarang. Aku tidak akan memanggilmu anak kecil lagi. Lepaskan aku."


Aku tertawa kecil. Gadisku benar-benar gugup sekarang. Dasar! Ucapannya saja yang besar. Membuatku gemas saja.

__ADS_1


"Sekarang pakai mantelmu. Aku akan mengantarmu pulang." Ujarku setelah melepas pelukanku yang membuatnya cepat-cepat menjauh.


"Aku ingin menunggu Taehyung. Kau pergi saja."


"Kau masih saja menunggunya?" Tatapan hangatku berubah tajam. Yura gelagapan. Bahunya bergetar menatapku.


"Pakai mantelmu. Kita pulang sekarang!" Tekanku mutlak. Meski tidak ingin membuatnya takut seperti ini, aku harus tetap melakukannya agar dia menurut.


Benar saja, dengan muka sebalnya, Yura tetap menurut. Memakai mantelnya dan membiarkanku mendekapnya sambil jalan.


"Ini yang terakhir. Aku tidak akan pernah memaafkanmu kalau sampai kau mendekatiku lagi." Ancamnya kesal. Aku memilih diam. Berjalan pelan ke arah mobil. Berusaha melindunginya dari hujan.


Siapapun itu, aku tidak akan pernah membiarkannya merebut Yuraku.


Tidak akan pernah.


***


"Yura? Kau darimana saja? Aku menunggumu daritadi." Kekhawatiran terpancar jelas dari suara itu. Yura mengangkat dagunya, menatap lurus Taehyung yang sedang menunggu di teras rumahnya.


Lelaki ini ... Gara-gara dia gadisku bisa kedinginan begini.


Menggeram kesal, aku mempercepat langkah. Ingin sekali menonjok muka sok tampannya itu. Mulutku terbuka, siap menumpahkan sumpah serapah sebelum memukulnya. Tapi sebelum aku mendekat, Yura meronta. Melepaskan diri dari dekapanku dan berjalan cepat ke arah pria itu.


"Taehyung, kenapa kau tidak datang?" Tanyanya memelas. Wajahnya memerah menahan tangis. Saat mengantarnya pulang tadi, dia memang tidak banyak bicara. Ia terus diam. Sesekali menggosok hidungnya yang memerah kedinginan.


"Aku baru saja sampai. Kupikir kau sudah tidur."


"Aku menunggumu berjam-jam disana. Aku bahkan tidak berhenti menghubungimu." Yura mendekat. Berusaha mengikis jarak. Sementara aku hanya diam mematung tak jauh di belakangnya. Memerhatikan keduanya dengan tangan terkepal.


"Benarkah? Tadi Aria sakit. Aku harus menjaganya. Kau tau 'kan aku tidak bisa meninggalkannya? Dia hanya sendiri di apartnya."


"Tapi aku juga sendiri ... " Isakan tertahan Yura kembali terdengar. Gigiku bergemelatuk mendengarnya. Tapi aku memilih diam.


"Maafkan aku. Aku panik sampai melupakan janji denganmu. Aku kesini hanya sebentar, aku harus segera kembali ke Aria. Sudah ya, aku buru-buru." Taehyung menepuk lengan basah Yura lalu berjalan melaluinya. Tergesa, raut khawatir terus tergambar di wajahnya begitu aku melihatnya sekilas.


"Kenapa kau jahat sekali? Aku menunggumu hingga larut hanya demi menemanimu. Kau bahkan tidak menanyakan keadaanku. Setidak peduli itu kau?!" Yura menggila. Pikirannya yang kalut membuatnya tidak bisa berpikir panjang. Teriakannya menghentikan langkah Taehyung. Ia berbalik, membalas tatapan Yura bingung.


"Yura, apa maksudmu? Aku sudah minta maaf. Aku tidak bisa lama-lama disini. Tolong mengerti."


"Mengerti? Aku yang seharusnya bertanya. Kenapa kau tidak mengerti? Aku tidak pernah meladeni pria lain sedalam ini. Aku selalu mengabaikan orang lain yang berusaha mendekatiku. Apa kau tidak sadar?" Amarah Yura membuat Taehyung bungkam. Raut di dahinya


semakin dalam.


"Yura, kau ... "


"Iya. Aku mencintaimu! Bagaimana bisa kau tidak sadar selama ini?!"


Mata Taehyung membola. Berbeda denganku, yang terus berusaha menahan diri.


"Yura, jelas-jelas kau tau aku punya Aira. Aku selalu membicarakan dia 'kan? Bagaimana bisa--


"Kau tidak pernah mengatakan apapun. Kau hanya menceritakan soal Aira yang bahkan tidak kuketahui dia siapa dan aku tidak peduli! Yang jelas aku menginginkanmu. Aku menunggumu dan kau membuatku gila!"


"Apa? Apa aku harus menjelaskan kalau Aira itu kekasihku? Kenapa kau berbalik menyalahkanku? Aku tidak pernah memintamu menyukaiku. Kita hanya rekan kerja."


"Hanya? Lalu semua yang kau lakukan selama ini apa?" Wajah Yura memerah. Ia mendekat, menarik jaket Taehyung tidak terima.


"Memangnya apa yang kulakukan? Aku hanya datang kesini untuk membahas pekerjaan. Bukan salahku jika kau menganggapnya berbeda. Hentikan! Aku tidak punya waktu untuk ini. Kita batalkan saja kerjasamanya. Kau aneh, Yura." Perkataan panjang Taehyung terhenti begitu ia berbalik. Memasuki mobil hitamnya dan melajukannya cepat. Meninggalkan pekarangan rumah Yura yang sepi.


"Aneh?" Yura mendesis. Tatapannya kosong. Ia terus menunduk. Tubuhnya bergetar bingung.


"Aku mencintainya dan dia bilang aku aneh?"


"Yura--


"Dasar brengsek. Berani-beraninya dia mengataiku setelah aku menunggunya berjam-jam. Namjoon? Dia bilang aku aneh." Yura mendongak. Menatapku bingung dengan manik gelapnya. Aku merangkulnya. Membawanya ke dalam dan mendudukkannya. Pandanganku memaku tepat ke iris kelamnya.


"Sudah lupakan. Aku sudah bilang jangan mempercayai pria semudah itu. Kau aman sekarang. Kau tidak perlu merasa sakit lagi jika kau membiarkanku disini." Menarik kepalanya mendekat, aku menyandarkannya. Menepuk belakang kepala juga punggungnya pelan.


"Namjoon ... ini sakit."


"Aku tahu. Maafkan aku sudah membiarkanmu kesakitan. Aku tidak akan melepaskanmu lagi."


Ya, tidak akan pernah.


Tidak boleh ada satupun yang menyakiti gadisku lagi.


"Sudah, tidurlah. Kau pasti lelah."


"Namjoon ... "


"Temani aku."

__ADS_1


***


__ADS_2