IMAGINE BANGTAN WITH U

IMAGINE BANGTAN WITH U
Six : Namjoon


__ADS_3

Dia pergi. Karena kebodohanku, dan kelemahanku yang tidak bisa menjaganya.


Apa aku semembosankan itu?


Sampai Yura muak dan memilih meninggalkanku.


Sudah empat bulan sejak Yura memutuskan hubungan ini. Selama itu, aku tidak pernah menghubungi atau mengejarnya jika aku tak sengaja berpapasan dengannya.


Aku takut. Aku takut jika aku agresif, aku bisa mengekangnya dan menghancurkannya. Aku tidak ingin itu terjadi. Itu sebabnya, ketika aku menemuinya pertama kali setelah satu tahun sendiri, aku menguatkan tekad. Tidak akan pernah mengekang gadisku lagi.


"Aku juga berpikir begitu. Bagian ini memang agak kurang. Apa aku harus mengubah semuanya?" Bibirku berkedut. Sudah sejam aku duduk disini, memerhatikan gadisku yang sibuk merevisi novel karyanya dengan editornya. Kerutan di dahinya terlihat jelas menggambarkan kerumitan pikirannya.


"Baguslah. Jadi rapat hari ini selesai?"


Editor itu mengangguk.


"Kalau begitu aku duluan, ya. Aku ada urusan. Lagipula, aku harus segera melanjutkan ini 'kan?" Yura bangkit. Menyampirkan tas selempangnya ke bahu dan tersenyum kecil.


"Tunggu dulu, Ra. Editor covernya ingin mengubah janji temu. Dia bilang, dia bisa datang sekarang. Sebaiknya kau menunggu dulu."


Yura terlihat ragu. Hanya sesaat, sebelum kerutan di dahinya muncul lagi.


Seperti biasa, pekerjaanya itu memang sangat penting baginya.


"Yasudah. Dia akan cepat 'kan?"


"Dia sudah dekat katanya."


Yura menghembuskan napas lega. Melirik es coklatnya yang masih tersisa setengah, lalu mendorongnya menjauh. Pasti rasanya sudah tidak enak. Dia mendiamkannya sejam penuh.


Pandanganku beralih. Mengulurkan tangan, memanggil pelayan dan berbisik tajam.


"Bawakan dia es coklat seperti pesanannya tadi. Jangan katakan kalau aku yang memesannya."


Pelayan itu mengangguk. Setelah aku memberinya uang, ia segera berjalan ke dapur. Menyiapkan pesananku.


Menarik kulup hoodie hitamku agar lebih dalam menutupi wajahku, aku melirik kembali ke arah meja Yura. Dan terpaku.

__ADS_1


"Hai, senang bisa bekerja sama denganmu. Aku Taehyung."


"Ah iya. Aku Yura."


Senyum Yura melebar. Mengaitkan tangannya pada lelaki berjaket denim di depannya. Saat Taehyung menunjukkan senyum kotaknya, Yura sedikit terpana.


Apa-apaan itu?!


Kenapa gadisku bereaksi seperti itu. Padahal dia sering bertemu pria lain untuk pekerjaannya. Tapi selama ini, dia tidak pernah senyum selebar itu bahkan di awal pertemuan mereka.


Ini tidak benar.


Aku mengepalkan tangan. Gigiku bergemelatuk melihat lelaki itu tak kunjung melepaskan tangannya.


"Dasar brengsek!"


"Permisi. Pesanannya."


"Oh, siapa yang pesan?" Tautan jari Yura terlepas. Memilih kembali duduk dan menatap bingung es coklat di pangkuan pelayan itu.


"Ini hanya hadiah kecil, karena Anda sangat sering berkunjung ke cafe kami. Silahkan."


Sudut bibirku tertarik. Amarahku langsung mereda melihat Yura tersenyum karenaku. Kepalan tanganku terlepas. Aku mengerakkan kursi yang sempat menjauh, menyamankan diriku. Sepertinya aku harus menunggu sejam lagi.


Benar saja, setelah sejam menunggu dengan memerhatikan gerak-gerik Yura, akhirnya rapat itu selesai. Mereka kini berjalan ke arah pintu cafe. Dengan tawa kecil Yura dan Taehyung.


Tunggu, apa aku melewatkan sesuatu?


Sepertinya aku tidak terlalu memerhatikan pembicaraan mereka. Bagaimana bisa Yura seakrab itu padahal mereka baru saja bertemu?


Aku menggeram tertahan. Semakin menjadi melihat Taehyung membukakan pintu untuk Yura. Dan kekehan Yura yang menggumamkan terima kasih membuatku nyaris tidak bisa menahan diri.


Tahan Namjoon. Aku tidak bisa seperti ini. Kalau Yura sampai tau kalau selama ini aku mengawasi setiap gerak-geriknya, dia pasti akan marah. Karena itu, dengan emosi aku kembali duduk. Berusaha meredam amarah dan membiarkan Yura pergi.


Baiklah, itu hanya pertemuan pertama. Itu wajar untuk bersikap baik pada rekan kerja.


Ya, aku tidak boleh gegabah.

__ADS_1


Tidak boleh.


***


Aku tersenyum tipis. Dalam mobil berkaca gelapku, aku memerhatikan Yura yang tengah duduk sambil mengetik di laptopnya. Seperti biasa, kerutan di dahinya menunjukkan bahwa ia sedang tidak bisa diganggu. Kaos abu terangnya tidak mampu menutupi lengan pucatnya yang bergerak cepat. Kacamata kecil bertengger pas di sisi hidungnya.


Manis.


Tentu saja.


Tidak ingin kehilangan kesempatan, aku membuka ponsel. Mengarahkan ke Yura lalu mengambil beberapa gambar. Senyumku melebar melihat fotonya yang kesekian. Setelah ini aku akan segera menyimpannya di folder khusus gadisku.


"Ah, Taehyung, kau dimana? Tadi kau bilang mau datang jam lima sore."


Dahiku mengerut. Senyumku luntur mendengar suara Yura.


Sudah sebulan sejak Yura ke cafe dan terakhir kali ia berkenalan dengan lelaki bernama Taehyung itu. Tapi, untuk apa dia meneleponnya saat sedang sibuk begitu?


"Berhenti mengomel. Aku sudah datang."


Rahangku mengeras. Gemelatuk gigiku bergema di dalam mobil. Aku mencengkeram stir kuat, menahan geraman melihat lelaki itu sudah berdiri di depan gadisku.


"Loh? Kau bilang akan terlambat tadi?"


"Tidak. Aku suka saja membohongimu." Taehyung tersenyum miring. Mengerling nakal ke arah Yura yang dibalas pukulan gemas di bahunya.


"Sudah-sudah. Ini, aku bawakan kesukaanmu."


"Wah, tumben sekali. Kau tidak akan minta balasan apapun 'kan?"


"Tentu saja aku akan. Tapi tidak sekarang."


"Ish menyebalkan!"


Sial! Sejak kapan mereka bisa sedekat itu? Apa pekerjaanku membuatku kehilangan banyak hal? Memang belakangan ini aku sangat sibuk sampai aku hanya bisa mendatangi rumah gadisku tengah malam. Menatapnya beberapa jam, lalu kembali pergi. Sepertinya aku kecolongan kali ini.


"Pria sialan! Awas saja nanti." Geramku mengawasi gerak-gerik mereka yang terus tertawa entah soal apa.

__ADS_1


***


__ADS_2