
"Ikut sajalah hyung." Jungkook menarik-narik tanganku masuk ke kelas. Saat ini sedang jam kosong. Walau sebentar lagi pulang? kita tetap tidak diizinkan pulang sekarang. Jadilah Jungkook menarikku masuk entah ingin melakukan apa.
"Mau ngapain sih? Lagi ngantuk juga." Ujarku sambil mengucek mata. Sejam lalu aku menghabiskan waktu di perpustakaan. Tapi sepertinya buku-buku disana kurang menarik. Aku nyaris tertidur jika Jungkook tidak datang dan dengan nakalnya mengagetkanku. Menyebalkan.
"Jimin hyung mau cerita sesuatu yang seru katanya. Dia gak mau cerita kalo hyung gak dipanggil."
Hah ... apa lagi yang dia ingin ceritakan? Jimin itu memang selalu heboh.
"Hyung! Sekarang udah pada ada. Apa ceritanya?" Jungkook berlari tergesa ke belakang kelas. Menarik kursi cepat dan mendudukkan bokongnya di sebelah Jimin yang menyisir rambut asal-asalan setelah ketiduran saking bosannya.
Aku mendekat. Bersandar di dinding kelas dan menaikkan kakiku ke meja. Mengumpat saat perutko keroncongan. "Ada makanan gak?"
Aku melirik yang lain. Karena tidak ada guru, hampir semua orang memilih keluar kelas. Hanya beberapa yang memilih tinggal di kelas.
"Jin hyung?" Panggilku saat ia menoleh dengan ponsel di tangannya. Samar-samar kudengar musik gamenya.
Jin menunduk. Mengobrak-abrik tas dan laci mejanya lalu melemparkanku sebungkus permen karet yang langsung kutangkap. Membuka sekaligus lalu mengunyahnya lapar.
"Oy Tae! Makan bagi-bagi dong!" Teriakan Namjoon yang memekikkan telinga itu terdengar. Aku menoleh, ingin melempar beberapa permen tapi kutahan saat lolipop sudah bertengger di bibirnya.
"Habisin dulu kali tuh lolipop."
"Oh, lupa. Sibuk ngitung soalnya." Cengirnya dan kembali fokus menulis. Aku mendecih. Dengan mulut yang sibuk mengunyah, aku menoleh ke Jimin. Baru ingat tujuanku masuk kesini.
"Eh Jim, tadi mau cerita apa?"
Jimin menoleh. Mengangkat dagunya sombong dan menyugar rambutnya ke belakang. Membuatku semakin lapar saja.
"Mau cerita apa ngegoda sih? Kalo gak jadi mending balik aja."
"Eh jangan dong. Aku ada cerita bagus. Tadi itu ... " Ia sengaja menggantungkan kalimatnya. Melirikku dan Jungkook yang juga sedang mengunyah permen sok misterius.
"Jangan harap kita bakal heboh sambil bilang "apa-apa?" deh." Cibirku malas.
Nyengir, Jimin melanjutkan perkataannya. "Oke serius. Tadi 'kan aku kehabisan bus karena telat bangun. Aku jalan kaki 'kan. Nah disitu ada cewek yang menarik banget! Gimana kalo kita suit terus yang kalah deketin dia?" Tanyanya antusias.
Aku mengerutkan kening. Melirik Jungkook yang juga tiba-tiba diam.
"Cerita bagus yang kau maksud itu ini?"
Jimin mengangguk. Anggukan yang benar-benar menyebalkan. Aku mendesah malas. Kehabisan tenaga walau hanya sekedar menggetok kepalanya yang sedang puber itu.
"Kok soal cewek sih hyung? Males ah kalo soal gituan." Jungkook bersuara. Berdiri, dan melirik yang lain. Berpikir ingin menggganggu siapa?
"Mending main game sama Jin hyung." Tambahnya sambil melangkah ke arah Jin di meja depan.
"Eh eh, kok gitu sih? Tunggu dulu dong. Nanti yang kalah juga bakal traktir deh! Gimana?"
"Traktir apa dulu nih?" Tanya Jungkook yang mudah sekali terpancing. Aku terkekeh pelan melihatnya kembali duduk.
__ADS_1
"Jjajangmyeon mau?"
"Berapa porsi?"
"Satu lah! Emang mau makan berapa?" Jawab Jimin sambil menggeplak kepala Jungkook gemas.
"Yaa kan bisa ditambahin dua tiga mangkok hyung."
"Liat aja deh nanti. Gimana? Setuju?"
"Oke deh." Ujar Jungkook santai.
"Heh kau benar-benar gampang dirayu ya? Cuma gara-gara jjajangmyeon!" Cibirku yang tidak tahan melihatnya. Benar-benar tidak berpendirian. Walaupun dia maknae disini, tetap saja kan dia cowok. Harusnya dia lebih tegas. Hah.. aku mulai melantur.
"Gitu dong. Tae? Kau bagaimana? Ikut ya. Ini pasti bakal seru." Jimin menggerakkan dagunya mengajakku. Berpikir sejenak, aku mengangguk. Yaah tidak ada salahnya 'kan bermain sebentar?
"Nahh mantap! Kalo gitu besok pada janjian ya depan halte. Disana kita baru suit dan yang kalah langsung maju. Oke?"
"Oke!"
Hah ... semaumu saja lah Jim.
***
"Tae hyung! Disini!" Teriakan Jungkook membuatku menoleh. Dengan rambut yang masih basah karena baru mandi, aku mendekat. Mengancingkan bajuku sambil menatap mereka berdua. "Cepet amat datangnya."
"Iya dong. Biar bisa cepet-cepet makan jjajangmyeon!"
"Emang siapa sih Jim ceweknya sampai kau tertarik seperti ini? Biasanya juga kau tidak peduli." Tanyaku iseng. Soalnya Jimin itu cukup banyak yang menyukainya. Lihat saja laci mejanya selalu dipenuhi coklat dan makanan lainnya. Sayangnya hanya aku dan yang lain yang menikmatinya. Makanya aku penasaran saat dia tertarik bahkan ingin bermain seperti ini karena cewek.
"Tunggu aja. Dia bener-bener menarik. Aku yakin kalian berdua bakal kaget melihatnya. Terutama kau Jungkook. Jangan sampai meneteskan air liurmu nanti. Awas saja!"
"Yeee! Gak gitu juga kali hyung. Aku udah biasa liat cewek. Gak bakal berlebihan begitu."
Aku tertawa saat mereka malah saling menyikut dan bertengkar. Dasar! Padahal masih pagi. Tawaku semakin ngakak saat Jungkook terguling ke bawah bangku halte dan berteriak kesal. Hah.. dasar aneh.
Dengan tawaku yang mereda, aku menoleh. Melihat guguran bunga yang bertebaran di jalan dengan debu halus yang beterbangan saat mobil lewat. Tersenyum tipis, aku menutup mata. Merasa tenang. Hal-hal seperti ini memang kusukai. Karena, cantik? Ah, apapun itu. Aku hanya menyukainya.
"Itu dia! Dia datang!" Pekikan Jimin membuatku tersentak dan refleks membuka mata. Dan, mulutku terbungkam.
Pemandangan yang indah tadi, benar-benar rusak saat seorang gadis dengan ransel birunya berjalan menunduk. Rambut hitam yang ia ikat setengah bergerak mengikuti arah langkahnya.
"Nah sekarang waktunya suit. Siap-siap! Harus pada nepatin janji ya!"
Aku menoleh. Sedikit tidak sadar saat menggerakkan tangan dan memulai suit dan kembali tersentak mendengar teriakan Jungkook.
"Taehyung kalah! Yeey! Beliin Jjajangmyeon lohh jangan lupa!"
"Ish bukan itu sekarang. Tae, kau harus kesana dan mengajaknya bicara. Cepat sana!"
__ADS_1
"Hah, aku? Kenapa aku?" Gagapku bingung. Ada apa sebenarnya? kenapa aku merasa tidak sadar sesaat? Aku bahkan langsung kalah tadi! Hah menyebalkan!
"Iyalah! Kau yang kalah. Sudah sana cepat!" Ujar Jimin semangat. Diikuti Jungkook yang mendorong punggungku ke arah gadis itu. Hah ... kenapa aku malah gugup? Tidak seperti biasanya.
Menoleh, aku melihat Jimin dan Jungkook yang heboh dan terkikik sendiri. Benar-benar menyebalkan.
Membuka kancing atasku saat tiba-tiba terasa gerah, aku melangkah. Mendekati gadis yang terus berjalan dengan kepala menunduk.
"Hei."
Dia tersentak. Membuatku yang tepat di sebelahnya ikut-ikutan tersentak kecil. Apa dia melamun?
"Apa?" Tanyanya datar. Aku mengumpat berkali-kali dalam hati. Kenapa coba? Kenapa dengan wajah melamun dan suara datar itu aku bisa merasa terpana? Bagaimana mungkin?
"Em, itu, kau jalan sendiri?"
Mengangguk kaku, gadis itu kembali melihatku. Ditambah kerutan kecil di dahinya.
"Ada apa? Kau ada urusan denganku?"
Suaranya lebih hidup sekarang. Aku kembali mengumpat melihat matanya. Dadaku berdetak keras.
"Tidak ada. Aku hanya ingin menyapamu. Selamat pagi."
Kerutan di dahinya semakin dalam. Aku mulai salah tingkah. Menoleh, aku melirik Jimin dan Jungkook yang bertingkah aneh berusaha mengatakan sesuatu.
"Apa?" Tanyaku tanpa suara.
"Elus rambutnya. Elus!" Jawab Jimin tak kalah heboh.
Hah... apa harus seperti itu? Itu agak canggung. Lagian kenapa aku segugup ini sih?
"Oh, Selamat pagi. Kalo begitu aku mau pergi." Gadis itu melangkah berusaha melewatiku. Dengan perasaan tidak karuan, tanpa sadar aku menahan bahunya. Menubruk iris gelapnya dan tersenyum.
"Aku lupa satu hal."
"Apa?"
Masih dengan senyum kotakku walau aku ingin sekali ke toilet sekarang. Aku mengangkat tanganku. Mengulurkannya, dan mengelus pucuk kepalanya beberapa kali.
Sial! Dia kenapa menatapku selugu itu sih? Hah! Aku tidak tahan.
Menyingkir dari hadapannya. Dengan senyumku, aku mengangguk. Membiarkannya pergi setelah mengatakan,
"Sampai bertemu lagi."
Sial-sial-sial! Ini memalukan! Aku merasa malu sekali sekarang.
Hah! Semua gara-gara Jimin!
__ADS_1
***