IMAGINE BANGTAN WITH U

IMAGINE BANGTAN WITH U
Three : Taehyung


__ADS_3

"Jadi nanti malam, Na?" Salah satu kenalan baruku menelepon. Sore ini, aku memang sudah membuat janji untuk hangout nanti malam di club yang biasa kukunjungi. Sambil mengeringkan rambut, aku berdehem menjawab pertanyaan Neko.


"Iyalah jadi. Udah aku pesenin dress baru malah." Jawabku girang. Bisa kudengar kekehan Nekoo diujung sana. "Yaudah. Pake yang cantik ya. Kita senang-senang malam ini." Tutup Nekoo berbisik. Suara rendah yang sengaja ia ucapkan membuatku tersenyum miring. Seperti biasa, aku bisa dengan mudah mendapatkan perhatian pria manapun. Termasuk Nekoo yang menarik perhatianku sejak melihatnya di kampus beberapa minggu lalu. Ditambah lagi aku melihatnya di dalam club kemarin malam. Tentu saja aku tidak menyianyiakannya.


Tidak perlu ditanya. Dia langsung memusatkan perhatiannya padaku malam itu. Mengajakku ngobrol berjam-jam dengan pikiran mabuknya, dan berakhir mengantarku pulang. Walau sebenarnya dia sudah ingin menerkamku di mobil malam itu. Tapi bukan aku namanya jika tidak menarik ulur.


Menggumam asal, aku mulai membuka dan memakai beberapa skincare setelah mandi. Bersiap untuk malam nanti.


Yahh pasti akan menyenangkan.


***


"Kamu udah makan?" Pertanyaan sama. Begitu aku membuka pintu, Taehyung langsung menanyakan hal itu. Membuatku mendesis jengkel.


"Belum."


"Udah berapa kali aku bilangin sih? Jangan nunda-nunda makan terus. Kamu kan punya maag. Aku gak mau kamu sakit pas aku lagi gak bisa nemenin kamu." Omel Taehyung sambil melangkah masuk setelah menutup pintu. Aku hanya memutar bola mata bosan. Memilih kembali duduk di sofa dan menonton tv.


"Nih aku bawain makanan. Makan dulu gih. Aku bawa kesitu ya." Bisa kudengar krasak-krusuk di dapur apartemenku. Tak lama, Taehyung datang dan duduk di sebelahku dengan semangkuk toppoki di tangannya. Mengulurkan tangan dan menggeledah tas yang ia bawa.


"Gak ah. Lagi gak pengen. Kamu aja yang makan." Balasku dengan atensi fokus ke layar tv. Lenganku kugerakkan menolak mangkuk di genggaman Taehyung.


"Eh-eh!"


Aku mendesah malas. Apa lagi sih? Kenapa dia suka sekali mengganggu, Dengan kesal aku menoleh. Dan langsung memekik kaget saat sofa yang kududuki dan kotak dress yang baru datang kini sudah basah terlumuri kuah toppoki.


"Yaah! Taehyung! Kamu gimana sih? Paket aku jadi basah kan! Aduh." Ujarku semakin kesal. Dahiku sampai mengerut dengan tangan yang sibuk memindahkan paket itu. Berdiri, dan menatap tajam Taehyung yang menyorotku bersalah.


"Maaf, Ryuna."


"Aku gak mau tau. Pokoknya bersihin! Kamu belum apa-apa udah nyusahin. Hah!" Aku melangkah ke dapur. Membersihkan jariku yang juga terkena cipratan kuah berminyak itu. Aku semakin merenggut kesal. Melirik Taehyung yang sudah membersihkan semuanya dan mendekat ingin mencuci tangannya.


"Ash!" Pekikan kecilnya membuatku menoleh. Iris mataku sedikit membesar melihat lengannya melepuh di beberapa sisi. Ah iya. Taehyung memang selalu membawa makanan yang benar-benar baru jadi untukku. Aku saja merasa lenganku cukup panas. Bagaimana dia?


"Gak papa kok. Cuma panas biasa. Nanti juga sembuh." Melihatku yang memerhatikannya, ia menoleh. Menunjukkan senyum bayinya membuatku sesaat terkunci.


"Maaf ya, Ryun. Aku bakal lebih hati-hati lagi." Tambahnya dengan tangan yang meraih sabun. Meneteskannya ke mangkuk dan mulai membersihkannya.


"Ah!" Taehyung meringis lagi. Membuatku semakin tidak nyaman. Menghela napas kasar, aku mendorong punggung tegapnya pelan. Mengambil alih mangkuk dan mencucinya cepat.


"Udah. Kamu kesana aja. Obatin tuh luka kamu. Kamu pasti punya banyak tugas buat dikerjain 'kan?" Suruhku sambil menatapnya yang juga menyorotku lugu. Aku menggeram, cepat-cepat mengalihkan pandangan dan mengambil kapan juga antiseptik lalu berjalan melewatinya. Duduk, aku menarik kursi sebelahku dan memintanya duduk.


"Kamu gak marah?" Cicitnya menatapku yang mulai mengobati lukanya. Mengabaikan perkataannya, aku terus menunduk dan fokus ke lengannya.


"Kamu pasti kesel sama aku. Maaf. Aku gangguin kamu lagi hari ini."Desisnya pelan namun bisa kurasakan keseriusan dalam setiap tutur katanya. Aku merapatkan bibir. Diam-diam menggigit bibir agar tidak terbawa suasana.


Aku tidak boleh memedulikan Taehyung.


Tidak boleh.


Kenalan Papaku yang katanya ingin dia jodohkan denganku setelah tamat kuliah ini membuatku tidak bisa bersikap baik. Aku tidak ingin Taehyung merasa nyaman dan menerima perjodohan itu.


Itu sebabnya, aku selalu bersikap buruk dan menunjukkan ketidaksukaanku saat dia datang.


"Udah." Gumamku sambil mengambil bekas kapas yang baru kugunakan dan membuangnya. Aku berjalan kesana kemari. Membuka kulkas dan meminum susu yang belum sempat kuhabiskan.


Berusaha membunuh waktu agar Taehyung segera pergi.


"Kamu mau kemana malam nanti?"


"Eh?" Aku tersentak kaget. Saat menutup kulkas, tiba-tiba Taehyung sudah berdiri di depanku dengan tubuh tegapnya. Aroma tubuhnya sesaat membuatku menahan nafas.


Sial! Dia selalu tersenyum seperti bayi tapi aromanya sememabukkan ini.


Kendalikan dirimu, Ryuna!


Cepat-cepat aku mendongak. Memasang wajah datar dan memutar bola mata.


"Kenapa? Bukannya kau tau aku selalu keluar malam?" Tanyaku seketus mungkin saat tatapannya berubah intens. Taehyung kenapa sih? Hari ini aneh sekali. Aku mulai salah tingkah 'kan!


"Justru itu aku ingin mengajakmu keluar. Kita jarang sekali keluar bersama 'kan?"


"Untuk apa?" Balasku kembali lalu menunduk cepat. Mengalihkan pandangan dari sorotan dalamnya.

__ADS_1


Sial! Matanya tajam sekali! Dari sekian banyak pria yang pernah kutaklukkan, kenapa aku malah terlihat bodoh di depannya?


Dia hanya Taehyung yang cupu! Aku tidak perlu merasa terintimidasi begini. Kemana Ryuna yang selalu berhasil tidur dengan pria-pria tampan setiap harinya? Kenakalannya, jelas tidak bisa Taehyung kalahkan dengan senyum bayinya itu. Tentu saja!


"Aku hanya ingin menghabiskan waktu denganmu. Malam ini. Kau bisa?" Jawabnya pelan. Suaranya yang membuatku bungkam. Kenapa bisa serendah itu sih? Seksi sekali!


"Tidak. Untuk apa aku jalan denganmu? Akan lebih baik aku ke club dan minum bir. Kau tidak bisa minum bir 'kan? Cupu." Remehku sinis. Meski perasaanku sedikit berdetak aneh, aku terus menahan diri. Memasang wajah dingin seperti biasa.


Taehyung diam. Meliriknya yang tidak bicara lagi, aku terkekeh. Berjalan ke arah kamar sambil membawa dress merah favoritku senang. Menutup pintu, dan berujar agak keras.


"Pulang saja Taehyung. Aku sudah ada janji malam ini."


"Tidak. Aku akan menemanimu. Setelah menemui temanmu, kita bisa jalan 'kan?"


Berdecak kesal, aku kembali berteriak. "Jalan apa maksudmu? Makan? Aku tidak tertarik. Lebih seru menghabiskan waktu di club dan berdansa disana. Mungkin aku akan pulang pagi. Jadi jangan menungguku."


"Pagi? Terus kamu tidur dimana?"


Decakanku semakin keras. Banyak bicara sekali sih dia! Menyebalkan sekali.


"Entahlah! Aku tidak perlu memikirkan itu. Mungkin di hotel atau motel. Sudah pulang sana!"


"Hotel? Untuk apa? Kenapa tidak pulang saja? Apartemenmu 'kan dekat."


"Issshh apa sih yang kau inginkan? Kau mau aku mengatakan aku akan tidur dengan pria yang kuinginkan malam ini begitu? Berhenti bersikap cupu di depanku Taehyung! Pulang sana!"


Hening cukup lama, aku berkedip. Apa dia sudah pulang? Mendengar derit pintu tertutup, aku mendesah lega. Akhirnya dia pergi juga. Saatnya pesta!


***


"Kau seksi sekali Ryuna." Nekoo langsung mengecup pipiku begitu aku mendudukkan tubuhku di jok sebelahnya. Tersenyum pede, aku mengangguk. Tentu saja. Kata seksi dan semacamnya sudah berkali-kali kudapatkan dari pria-pria yang menginginkanku. Apalagi dress yang kupakai malam ini memang lebih terbuka dari biasanya. Punggungku terbuka dengan belahan dada rendah. Bahu dan lengan putihku terbuka cantik. Aku menoleh, menampilkan senyum manisku membuat Nekoo menggeram tertahan.


"Kau cantik sekali. Jangan lepas dariku malam ini.Awas saja."


Tertawa, aku memiringkan kepala, menatapnya nakal. "Coba saja. Aku tidak janji. Bagaimana kalau ada pria yang lebih tampan darimu mengajakku berdansa lebih dulu? Aku tidak akan menolak."


"Kau menantangku? Baiklah. Kau tidak akan bisa tidur malam ini." Geram Nekoo sambil melajukan mobil hitamnya membelah jalanan yang cukup padat. Aku hanya tertawa pelan. Tidak terlalu peduli dengan ocehannya. Apapun itu. Yang penting aku sudah berhasil mendapatkannya. Ternyata pria satu ini semudah itu ditaklukkan.


Terlalu mudah bagiku.


***


"Emm, kau terlalu buru-buru. Pergi sana!" Kesalku saat salah satu pria di sebelahku sudah menempelkan tubuhnya dan berusaha menciumku.


Menyebalkan.


Memilih meninggalkan pria yang menurutku amatir dan terlalu biasa itu, aku melangkah ke dalam kerumunan orang. Tersenyum elegan membalas sapaan pria-pria yang terus memerhatikanku dan mengajakku berdansa. Aku menolaknya. Belum ingin lebih tepatnya. Aku ingin minum alkohol dulu. Lagipula ini baru jam sebelas malam. Aku ingin melayangkan pikiranku dulu.


Sejam berlalu. Beberapa botol bir sudah tergeletak di depanku. Pandanganku mulai berbayang. Kepala yang berdenyut menimbulkan sensasi panas yang begitu kusukai mulai memenuhi tubuhku. Berdiri, aku mendekat ke bagian tengah tempat semua orang berdansa dan menggerakkan tubuhnya bebas. Dentuman musik yang keras memekikkan telingaku tanpa sadar membuatku ikut menggerakkan tubuhku. Dan tentu saja, tak lama, sudah banyak pria yang berjalan ke arahku. Aku hanya tersenyum kecil saat salah satu dari mereka merangkul pinggangku dan ikut berdansa.


Meski sudah sedikit mabuk, kesadaranku tentu masih baik-baik saja. Aku cukup kuat walau sudah menghabiskan empat botol alkohol. Gerakan pria yang memelukku mulai bergerak lebih jauh. Bibirnya bergerak menyusuri leher telanjangku membuatku mendongak. Menutup mata, dan mendesah pelan.


Sial! Aku tidak ingin melakukannya dengan pria ini! Setidaknya aku ingin mengetahui siapa dia dan apa dia pantas mendapatkan tubuhku?


Karena itu, saat tangan pria ini mulai bergerak ingin meremas dadaku, aku mendorongnya. Berusah menjauhkan diri darinya.


"Lepas. Enyah sana." Suruhku agak oleng. Sepertinya pengaruh alkohol yang tadi kuminum mulai beraksi. Doronganku sama sekali tidak membuatku terlepas dari pria ini. Dengan santai dia meremas dadaku membuatku mendesah kecil.


"Aku tidak mau. Lepas." Pintaku lagi sambil mendorong dadanya. Aku tidak ingin terangsang olehnya. Tapi sepertinya pria ini tidak berminat melepaskanku sama sekali.


Aduh, bagaimana ini?


"Mmmh!" Aku menutup bibirku rapat saat ia mendekatkan bibirnya. Menoleh ke kanan kiri, aku berusaha menghindari serangannya.


"Kalau dia bilang tidak, lepaskan."


Aku langsung terhuyung saat dekapan pria itu terlepas begitu saja. Dengan mata setengah tertutup, aku nyaris jatuh ke depan jika pergelangan tangan pria lain menangkap tubuhku.


"Oh?" Gumamku bingung. Pria ini terlihat tidak asing? Tapi siapa ya? Ah, mungkin hanya salah satu pria yang kukenal.


Sepertinya tubuhku sudah terlalu lemah. Aku diam saja saat pria ini membawaku entah kemana.


Udara dingin langsung menusuk kulit terbukaku begitu aku keluar dari club. Dingin yang menyengat membuat mataku terbuka sepenuhnya.

__ADS_1


"Ah! Dingin!" Pekikku sambil menoleh ke pria yang merangkulku. Aku sedikit penasaran siapa yang membawaku keluar? Mau ke hotel heh?


"Ayo percepat. Aku kedinginan sekarang. Cepat buat tubuhku hangat." Gumamku kembali menutup mata dan mengulurkan tangan, memeluk pria di sebelahku.


Dia hanya diam. Terus mengiringku masuk ke mobil, menyamankan posisi dudukku, dan masuk di jok sebelah.


Dia menyalakan penghangat yang membuatku lebih mendingan. Setelah tiga puluh menit tidak sadar, aku membuka mata. Menyentuh jaket hitam yang menutup punggung telanjangku sepenuhnya.


Huh? Sebentar. Aroma jaket ini tidak asing.


Aku menarik nafas. Menghirup udara yang membuat aroma dari jaket yang kukenakan menguar.


Mataku langsung terbuka lebar. Astaga! Aku ingat! Ini-,


"Kau!" Secepat mungkin aku menoleh. Membentak Taehyung yang sedang fokus ke jalanan.


Tapi sayangnya, bentakanku kutelan kembali saat menatapnya.


Sial! Dia Taehyung 'kan? Kenapa dia bisa terlihat sangat berbeda?


Apa aku berhalusinasi?


Tapi aroma ini..


Tidak. Sadar Ryuna! Dia Taehyung. Dan dia baru saja menyeretmu keluar dari club begitu saja tanpa meminta persetujuanmu!


"Apa yang kau lakukan?! Kenapa kau membawaku pergi tanpa mengatakan apapun dulu?" Sentakku setelah mendapat kesadaranku kembali. Mataku menatap tajam, tidak terima akan sikapnya yang seenaknya.


Taehyung diam. Tidak membalas perkataanku. Juga tidak menoleh padaku.


"Taehyung! Kenapa? Jawab pertanyaanku! Siapa kau berani-beraninya membawaku keluar seperti ini? Aku tidak pernah mengizinkanmu mencampuri urusanku. Apalagi saat aku sedang diluar begini. Kau tidak sadar diri ya? Kau siapa memangnya? Sok peduli padaku. Kau pikir aku suka? Berhenti mengganggu hidupku, karena aku benar-benar membenci pria cupu seperti-,


Mataku melebar selebar-lebarnya. Tubuhku menegang kaku saat Taehyung bergerak dengan cepat memepetku dan menempelkan bibirnya begitu saja.


Apa-apaan?!


"Kau-,


Ucapanku terpotong lagi karena Taehyung kembali membungkam mulutku dengan kuat. Mengecupnya begitu dalam hingga aku tidak bisa bernafas.


Bagaimana bisa..


Bagaimana bisa pria cupu ini membuatku semabuk ini hanya karena sebuah ciuman?


"Hah..hah.." Menarik napas sebanyak-banyaknya, aku mendorong dada Taehyung yang kembali menjauh. Aku menyandarkan tubuhku ke pintu mobil. Terengah-engah dengan mata yang menatapnya tidak percaya.


"Siapa kau seenak-,


"Siapkan dirimu."


Aku mengerutkan kening. Apa-apaan dia itu? Sok sekali memotong perkataanku.


"Kau-,


"Dua hari lagi, kia akan meninggalkan Korea dan melangsungkan pernikahan disana."


"A-apa?!"


Taehyung menoleh. Menatapku dalam dengan iris tajamnya. Bibirnya memerah dengan rambut yang sedikit acak-acakan.


Seksi sekali!!!


"Apa yang kau bicarakan, Taehyung? Kau gila?!"


"Siapkan dirimu. Karena setelah kita meninggalkan Korea, kau tidak akan pernah menemukan dunia malammu lagi."


Taehyung terkekeh. Tatapan tajam yang entah kenapa langsung membuatku merinding. Aku menelan ludah gugup saat ia mendekatkan wajahnya lagi. Nafasku langsung tertahan sekaligus.


"Kau, tidak akan pernah bisa menemukan lelaki lain yang bisa menyentuhmu walau sedikit saja."


"Siapkan dirimu, Ryuna."


"Taehyung! Aku-,

__ADS_1


Ucapanku terus terpotong. Tapi setelah ini, aku tidak berniat protes lagi. Karena kecupan memabukkan di bibirku ini, sudah menghilangkan seluruh pikiranku.


Kau gila Taehyung!


__ADS_2