IMAGINE BANGTAN WITH U

IMAGINE BANGTAN WITH U
Four : Yoongi


__ADS_3

"Hei, Yoona!" Yoongi mendorong pintu mobilnya terburu-buru. Melanjutkan langkah lebarnya ke dalam apartemen yang tengah Yoona kunci dari dalam.


"Yoona, Yoona!" Yoongi terus memanggil. Berteriak kesal karena Yoona tak kunjung membukakan pintu. Mata lelahnya berkilat bingung juga emosi. Jari pucatnya terulur mengetuk pintu berkali-kali.


Yoongi tidak mengerti. Saat dia sedang sibuk mengerjakan pekerjaannya di kantor, tiba-tiba Yoona datang. Wajah terkejutnya melihat Yoongi yang baru saja memakai kembali kemeja kerjanya sementara rekan kerjanya, Seona berdiri tak jauh darinya dengan tatanan sedikit acak-acakan. Begitu dia mendekat ingin membawa Yoona masuk, Yoona malah berlari ke lift, mengetukkan ujung kakinya di lobi kantor menarik perhatian karyawan lain.


Yoona terus berlari. Begitu juga Yoongi yang berusaha mengejarnya. Dengan tergesa Yoona menghentikan taksi yang sedang melaju cepat membuat Yoongi sesaat tersentak. Khawatir setengah mati.


"Ada apa sebenarnya? Kenapa kau datang ke kantor dan berlarian seperti itu?" Tanya Yoongi dengan oktaf meninggi. Kulit pucatnya memerah saking terkejutnya. Dia bahkan mengabaikan semua pekerjaannya dan melajukan mobilnya gila di jalanan yang padat. Kekhawatiran menggelapkan pikirannya.


Yoona-nya, sedang tidak baik-baik saja.


"Kau brengsek! Apa yang kau lakukan dengan wanita itu? Setiap hari kau selalu membuatku menunggu karena alasan lembur. Tapi nyatanya apa? Kau malah bersenang-senang!" Pekikan Yoona membungkam mulut Yoongi yang hendak bicara. Kerutan di dahinya semakin dalam. Peluh di leher dan tubuh tegapnya membuatnya terlihat menyedihkan.


Yoongi mengetuk pintu lagi. Memukulnya berusaha menyalurkan emosi. Kakinya ikut bergerak pintu bercat coklat di depannya.


"Bersenang-senang apa? Apa maksudmu? Jangan membuatku semakin bingung. Buka pintunya!" Yoongi terus teriak. Ketakutan juga pilu yang ia rasakan di sudut hatinya mendengar suara bergetar Yoona membuatnya semakin tidak sabar.


Dengan emosi tertahan Yoongi memukul keras pintu di depannya membuat Yoona terkejut. Isakannya sesaat berhenti dengan iris merahnya menatap pintu takut.


"Yoongi."


"Buka pintunya." Desisan tajam yang sampai di telinga Yoona itu meremangkan tubuhnya. Bahu Yoona bergetar gugup. Tekanan yang Yoongi berikan dalam perkataannya terlalu menyeramkan.


Sesenggukan, Yoona memutar kunci yang terus ia pegang daritadi. Menekan kenop dan menarik pintu ke dalam. Membiarkannya terbuka.


Mata Yoona membola. Penampilan suaminya terlihat mengenaskan. Rambut yang selalu tertata itu kini menjalar kemana-mana. Keringat yang melingkup tubuhnya menjiplak dibalik kemeja kerjanya.


Dengan tergesa, Yoongi melangkah masuk. Mendekat ke arah Yoona dengan iris mengilat marah. Refleks Yoona menunduk. Takut melihatnya.


Yoongi yang sedang marah, seakan bisa membunuhnya saat itu juga.


"Apa maksudmu?" Tekan Yoongi pelan. Berusaha meredam amarahnya. Dia sebenarnya tidak seperti ini. Selama empat tahun pernikahan mereka, ia jarang menatap Yoona setajam ini. Membuat istrinya meringkuk takut walau hanya sekedar menatapnya.


Menelan ludah gugup, Yoona memberanikan diri. Dengan pelan mengangkat wajah basahnya. Ia menatap Yoongi tidak jauh darinya.


"Apa... yang kau lakukan? Apa yang telah kau lakukan disana?" Tanya Yoona memelan. Ketakutan membuat emosinya lenyap seketika. Meski perasaannya tidak karuan, beribu amarah menumpuk ingin segera diluapkan begitu ia melihat Yoongi tadi, tatapan suaminya saat ini, berkali-kali lipat lebih mematikan.


"Memangnya apa yang kau pikirkan? Kau bahkan tidak mengabariku sama sekali. Berlari begitu saja di tengah jalan dan menahan taksi seperti itu? kau ingin membunuhku?" Rahangnya mengeras. Emosi yang berusaha keras ia tahan membuat wajah pucatnya semakin memerah. Melihat Yoona yang tidak berhenti menangis dan menunduk ketakutan hanya menambah kebingungannya.


"Kau tidak menjawabnya."


"Hah?"


"Aku tanya apa yang kau lakukan tadi? Apa yang baru saja kau lakukan dengan Seona?" Pertanyaan yang Yoona utarakan membuat emosi yang tadi lenyap perlahan kembali. Yoona mengangkat wajah. Kini menatap suaminya geram.


Pengkhianatan, sangat Yoona benci.


Jangan pernah mencoba melakukan sekalipun pengkhianatan padanya.


"Astaga! Jadi itu yang kau pikirkan? Sampai kabur begitu?"


"Jawab pertanyaanku! Kenapa kau selalu mengalihkan perkataanku?" Berbanding terbalik, cicitan Yoona tadi semakin meninggi. Kilatan amarah terlihat memenuhi iris kelamnya.


Kesakitan yang ia rasakan disaat ia sedang tersenyum memikirkan suaminya benar-benar menamparnya telak.


"Aku sudah menjawabnya! Dari tadi aku menjawab pertanyaanmu. Kenapa kau berbalik memarahiku?" Tanya Yoongi balik. Kelelahan tersirat jelas di wajahnya. Tapi melihat muka Yoona yang terus bicara dan menatapnya hina, menyakiti ego Yoongi.

__ADS_1


"Jawab apa? Aku tanya apa yang sudah kau lakukan dengan Seona? Itu pertanyaanku! Aku tidak membutuhkan ocehan tidak pentingmu itu!" Emosi Yoona meluap. Kesakitan yang ia rasakan menjalar ke seluruh tubuhnya membuat ia tidak bisa berpikir.


Ia melawan Yoongi.


Dan dia tidak merasa salah dengan hal itu.


"Yoona! Jaga ucapanmu! Aku suamimu! Kau melawanku hanya karena hal ini? Masalah yang bahkan tidak kuketahui sebabnya apa!"


"Kenapa kau bodoh sekali? Bagaimana bisa kau mengatakan hal itu sementara kau baru saja melepas nafsumu dengan wanita lain! Hanya? Hanya kau bilang? Cuih!" Yoona terus bicara. Setiap kata yang Yoongi semakin menyulut amarahnya. Dia sudah tidak takut lagi menatap mata suaminya. Ia bahkan membentak dan memakinya seenaknya.


Tapi sepertinya dia salah.


Yoona, tidak seharusnya melakukan itu.


"Kau!" Yoongi meledak. Ia benar-benar diambang batas. Dengan cepat ia mendekat. Meremat lengan Yoona dan mendorongnya mengintimidasi.


Mata Yoona melebar. Tubuhnya dengan mudah terdorong dan terdesak begitu tekanan Yoongi tidak berhenti sementara punggungnya sudah bertubrukan di dinding.


Yoona meringis. Ini sakit. Yoongi tidak menahan rematannya. Dia benar-benar ingin meremukkan tubuhnya.


Yoona menggigit pipi dalamnya keras. Meski ketakutannya sudah memenuhi kepalanya, emosi dan pilu di sudut hatinya semakin terkuak lebar.


Yoongi, tidak pernah memperlakukannya sekasar ini.


Tentu saja. Yoona tidak tahu sejak kapan Yoongi melakukan itu. Pasti ia sama sekali tidak ada artinya baginya.


Yoona terkekeh. Mengepalkan tangannya kuat begitu bayangan Yoongi mencium Seona sepuasnya disaat ia kesepian di apartemen dan menunggunya tiap malam.


"Brengsek."


"Berhenti bicara." Yoongi mendesis. Kekehan Yoona menambah kekesalannya. Kurang ajar. Wanita ini terlalu tidak tahu diri.


"Dasar brengsek. Sialan. Keparat."


"Aku bilang berhenti bicara." Suruh Yoongi geram. Rematan di lengan Yoona terus menguat. Ia terus menutup mata. Tidak ingin menatap mata Yoona.


Yoongi, tidak ingin kehilangan kendali.


"Kenapa? Kau saja bisa sepuasnya bermain diluar sana. Berapa bayaran yang kau berikan ke wanita-wanita itu? Sepuluh? Dua? Heh." Yoona menyorot wajah Yoongi yang tidak berhenti memerah. Kekesalannya benar-benar membuatnya ingin menampar wajah pucat yang nyaris tidak memiliki jarak dari matanya. Hembusan napas terburu Yoongi mengenai pipi basahnya. Yoona mengalihkan pandangan. Mendecih lebih keras.


"Aku bahkan muak melihat wajahmu."


"Baguslah. Aku tidak perlu menghabiskan waktu berhargaku lagi hanya untuk pria ******** sepertimu. Aku bisa bebas sekarang."


"Berhenti."


"Aku benar-benar senang sekarang. Aku bisa menikmati hidupku sendiri. Bodohnya aku. Membuang-buang waktuku selama ini untuk pecundang yang hanya memikirkan berbagai macam ************-,


"YOONA!"


Tubuh Yoona menegang. Teriakan Yoongi nyaris memecahkan gendang telinganya. Ia mendongak. Menatap suaminya terkejut.


"Aku bilang hentikan. Hentikan!" Mata Yoongi sangat merah sekarang. Efek begadang juga emosi yang terlampau tinggi membuat tubuhnya bergetar. Yoongi menyorot istrinya dalam. Dingin. Mencekam.


"Kau salah. Jangan membuatku kehilangan kendali hanya karena ini."


"Salah? Apa maksudmu? Aku bahkan melihatnya sendiri. Sekarang pun kau masih menggunakan kebodohanmu di depanku-,

__ADS_1


"DIAM! HARUS BERAPA KALI AKU MENYURUHMU DIAM? DIAM! HANYA ITU. Kumohon ... "


Yoona terus terkejut. Berbanding terbalik ketika Yoongi menempelkan dahi mereka dan berbisik lirih. Memohon dengan suara rendahnya. Suara lelah yang begitu kentara dari hembusan napasnya.


"Aku lelah. Diamlah Yoona."


Yoona tidak habis pikir. Setelah semua hal yang Yoongi lakukan padanya, pengkhianatan ini, kenapa hatinya berdetak lebih keras dan menjerit linu melihat suaminya sekarang.


Yoongi terlihat menderita.


Tidak-tidak-tidak. Yoona tidak ingin terbuai lagi. Ia tidak boleh terpedaya hanya karena pria ini.


Pengkhianatan tidak akan pernah termaafkan.


"Kau salah." Yoongi mengerut. Melepas cengkraman tangannya, beralih menarik tubuh Yoona mendekat. Mendekapnya erat.


Yoona melakukan perlawanan. Tapi Yoongi mendekapnya erat.


"Kau salah. Kumohon ... Kau salah paham."


Dahi Yoona terlipat bingung. Apa lagi yang pria ini ingin katakan? Kebodohan lagi?


Tapi sialnya, kenapa setiap perkataan Yoongi selalu mencubit hatinya berkali-kali? Membuatnya merasakan kesakitan berbeda.


Sakit yang tersalurkan begitu saja. Perasaan geram juga takut yang terhubung begitu saja. Tubuhnya meremang merasakannya.


Yoongi, sesakit itu?


Tapi disini dia yang terluka.


Kenapa ... rasa sakit yang ia rasakan beribu kali lebih menyesakkan saat tubuh panas Yoongi mendekapnya?


Sebenarnya apa yang terjadi?


"Apa... aku salah?" Gumam Yoona serak. Tubuhnya menegang. Perasaan bersalah melingkupi tubuhnya. Memaksa. Membuatnya merasa hina.


"Iya. Kau salah." Yoongi mengangguk. Mengeratkan pelukannya begitu Yoona ingin menarik diri. Ia terus menutup mata. Menghirup aroma istrinya berkali-kali.


Ia lelah.


Tapi ia terlalu takut Yoona pergi jika ia sampai kehilangan kesadaran.


"Jangan pergi." Pinta Yoongi lirih. Kepalanya benar-benar berat. Tubuhnya seakan berteriak memintanya istirahat tapi ia paksakan. Semua perkataan Yoona tadi sangat menakutkan. Kalau sampai Yoona pergi, ia tidak yakin masih bisa menahan diri?


Yoongi tidak perlu berpikir dua kali untuk membunuh dirinya sendiri jika alasannya bertahan selama ini telah pergi.


"Yoongi ... " Yoona meremang. Tubuhnya merinding mendengar lirihan suaminya. Tangannya terulur, ikut memerangkap tubuh Yoongi bersamanya. Membiarkan Yoongi bernafas di ceruk lehernya.


"Kumohon jangan tinggalkan aku. Aku tidak pernah mengkhianatimu. Justru aku yang tidak akan bisa melakukan apa-apa jika kau pergi. Jadi jangan pergi. Jangan pergi, Yoona."


"Maafkan aku. Maafkan aku!" Pekik Yoona sakit. Dia benar-benar salah. Harusnya dia tidak melakukan ini. Harusnya dia tidak pernah menyentuh sisi gelap Yoongi yang berhasil ia kubur setelah mereka bertemu. Depresi dan phobia sosial suaminya, kalau sampai itu terjadi lagi, Yoona benar-benar tidak akan memaafkan dirinya sendiri.


"Maafkan aku, Yoongi. Aku terlalu bodoh. Maafkan aku." Tangisan Yoona memenuhi apartemen malam itu. Ucapan maaf yang terus terucap meski ia tahu Yoongi telah terlelap di pangkuannya. Kemeja Yoongi semakin basah terkena air matanya. Dengan perasaan bersalah, Yoona berdiri. Membawa suaminya ke kamar dan membaringkannya. Menutupi tubuhnya dengan selimut tebal dan menunduk. Mendekatkan bibirnya. Mengecup bibir Yoongi dalam.


"Maafkan aku."


Yoona benar-benar tidak akan pernah melakukan kesalahan lagi.

__ADS_1


***


__ADS_2