
Tidak seperti yang kubayangkan, ternyata tutor yang kutau namanya Namjoon itu cukup mudah dalam menjelaskan materi rumit dalam beberapa jam. Yaa aku tau diri sepintar apa otakku dalam mencerna penjelasannya yang kuakui memang keren. Tetap saja aku sedikit merasa senang. Belum lagi, Kak Namjoon ternyata tidak seperti Yoongi maupun Kak Jin yang selalu membantah ocehanku atau malah mengabaikanku saat ingin bercerita panjang soal hariku yang cukup melelahkan. Dia justru selalu meluangkan waktunya mendengarkan keluh kesahku dan berakhir memberiku beberapa kalimat yang entah kenapa bisa menenangkanku. Membuatku semakin betah berlama-lama menghabiskan waktu dengannya.
Hari ini, sudah sekita empat bulan berlalu sejak aku mengikuti les Kak Namjoon. Dengan kening mengerut, aku menggerakkan pulpen di jariku. Menulis jawaban dari esay yang Kak Namjoon siapkan untuk les hari ini. Untung dia sudah menjelaskan semuanya tadi. Jadi aku bisa menyelesaikannya tanpa bertanya.
"Udah. Ahh akhirnya selesai juga!" Pekikku lelah. Menarik-narik tangan ke atas berusaha menghilangkan pegal, aku menatap Kak Namjoon lurus. Senyumku langsung terbit melihat wajah tenangnya menatapku kalem. Aku bisa melihat sudut bibirnya terangkat kecil saat aku baru sadar telah memekik di depannya. Aish benar benar tidak tau tempat.
"Upp, sorry Kak. Hehe.." Cengirku setelah menurunkan tanganku kembali. Memasukkan buku dan alat tulisku ke ransel lalu mulai menyeruput es coklatku yang belum sempat kucicipi daritadi.
Seperti biasa. Enak!
"Pelan-pelan minumnya. Nanti keselek terus coklatnya tumpah ke buku aku gimana?" Kekehnya sambil ikut merapikan peralatan yang selalu dia bawa. Maklum saja, empat tahun menghabiskan waktu nyaris setiap hari denganku, tentu dia sudah tau tabiatku yang memang selalu ceroboh.
"Uhuk-uhuk!" Baru saja dia mengatakannya, karena terlalu menggebu, aku malah lupa bernafas dan terus meminum segelas besar es coklatku. Tentu saja aku langsung tersedak dan terbatuk sesak. Meletakkan gelas ke meja, cepat-cepat aku menutup mulutku yang masih terbatuk pelan.
"Nah kan! Baru dibilangin. Jangan ditutup. Nanti tambah gak bisa napas." Mendekat, Namjoon melepas tanganku dan memberiku beberapa lembar tisu yang langsung kutempelkan ke daguku yang basah. Menunduk, aku menggeram dalam hati. Memalukan sekali! Lagian kenapa sih setiap aku tersedak harus saat Kak Namjoon ada di depanku? Apa yang harus kukatakan sekarang?
"Maaf Kak. Aku bersihin dulu." Cicitku sambil mengusap kerah seragamku yang juga terkena cipratan coklat. Sesekali aku melirik Namjoon yang menyesap kopinya tanpa mengalihkan pandangan dariku.
"Malu-maluin banget ya pasti aku? Kak Namjoon pasti males banget ngajarin aku tiap hari kayak gini. Iya 'kan?" Tanyaku tidak enak. Tanganku terulur, menjauhkan gelas besar di depanku yang masih terisi setengah. Aku menggeleng, melarang diriku sendiri agar tidak minum lagi.Tidak boleh! Setidaknya jangan di depan Kak Namjoon yang diam saja terlihat sangat pintar. Aku tidak ingin mempermalukannya. Apalagi di meja sebelah masih ada pengunjung lain. Memalukan!
"Aku jawab iya pun gak bakal bikin kamu berenti 'kan? Gak usah mikir gitu. Ngeliat kemajuan kamu tiap hari udah cukup buat aku. Soal ini, kamu gak perlu mikir banyak. Mending kamu minum aja. Lagian kamu masih belum terbiasa ya sama aku? Udah lama juga."
"Terbiasa gimana? Kalo terbiasa curhat sih iya. Tapi kalo keselek kayak gini mana bisa terbiasa? Duh Kak Namjoon, aku malu-maluin banget!"
Menghela napas, Namjoon mendorong es coklatku kembali ke depanku. Menyuruhku meminumnya dari ujung matanya. Senyum kecil ia terbitkan di pipinya membuatnya terlihat semakin tampan.
"Kamu tuh. Udah minum! Udah malem juga. Nanti kamu dicariin lagi kalo telat pulang."
Meski masih kepikiran, aku mengangguk. Menurut dan kembali menenggak es coklatku hingga habis lebih pelan. Bisa kurasakan elusan jari Kak Namjoon di pucuk kepalaku membuatku mendongak menatapnya.
Senyum kalemnya langsung menerpaku yang masih minum dengan lambat. Aku hanya menatapnya biasa, lalu kembali mengedipkan dua mataku. Setelah habis, elusan di kepalaku juga terlepas. Kak Namjoon kembali duduk. Bersandar memerhatikanku yang sedang membuka ponsel.
Kak Jin : Kakak gak bisa jemput sekarang, Yoon. Minta antar Namjoon aja ya. Dia tau kok alamatnya.
Eh? Maksudnya?
Aku harus meminta Kak Namjoon mengantarku pulang begitu? Iya sih aku tau jarak cafe ini cukup jauh dari apartemen. Tapi 'kan aku tidak perlu meminta Kak Namjoon juga. Berpikir sesaat, aku kembali mengetikkan balasan ke Kak Jin.
-Gak usahlah Kak. Aku sama Yoongi aja. Nanti aku telepon dia. Aku gak terlalu deket sama Kak Namjoon buat minta dianterin pulang segala.
__ADS_1
"Kenapa?" Suara Namjoon menginterupsiku. Aku mendongak, tersenyum kecil melihat wajahnya yang selalu menatapku hangat. Sambil menunggu balasan Kak Jin, aku menjawabnya.
"Ini, Kak Jin gak bisa jemput katanya. Dia ada urusan."
"Yaudah bareng aku aja. Apartemen kamu masih sama 'kan?" Tanyanya peduli. Aku menggeleng kecil, bersiap menolaknya. "Gak papa kok. Nanti aku pulang bareng Yoongi aja."
Karena Kak Namjoon diam, aku kembali membuka ponsel. Membuka konta Yoongi dan mengiriminya pesan.
-Aku udah selesai. Bisa antar pulang?
"Ngapain? Dia pasti ada urusan juga. Daripada kamu ganggu, mending langsung pulang. Iya 'kan?" Sarannya yang membuatku menatapnya lagi. Masih kekeh, aku kembali menggeleng. "Enggak kok. Yoongi gak bakal marah kalo aku minta jemput. Dia malah bakal ngomel panjang kalo sampe aku gak ngabarin dia. Apalagi udah malem."
"Justru karena udah malem, harusnya kamu gak ganggu dia. Dia pasti capek abis latihan. Cafe ini juga lumayan jauh kan? Udahlah yuk. Pulang." Ajaknya sambil bangkit dan menyampirkan ranselnya ke bahu. Kak Namjoon menunduk, mengulurkan tangan ke depan wajahku.
"Ayo."
Aku bergeming. Masih berpikir keras. Aku tidak ingin diantar pulang. Apalagi dia hanya tutor yang mengajariku. Bukankah aneh kalau aku membiarkannya menghabiskan waktu lebih lama saat malam semakin gelap? Apalagi, ada satu orang yang galaknya minta ampun selalu menantiku. Aku tidak ingin Yoongi jadi salah paham.
"Kepikiran lagi. Aku bilang jangan mikir terlalu keras. Nanti kepala kamu sakit." Jari Kak Namjoon terulur menepuk kepalaku lagi. Karena uluran tangannya tidak kuambil, tanpa berpikir panjang dia menarik tanganku dan menyalipnya ke jari besarnya membuatku terkejut.
"Eh?" Aku tersentak. Refleks ingin menarik kembali tanganku tapi Namjoon menahannya. Saat aku mendongak dengan dahi berkerut, dia hanya tersenyum dan menarikku keluar cafe.
"Emang dia bakal dateng?Belum tentu 'kan? Kalo dia gak dateng gimana? Makanya kita pulang aja."
"Enggak. Dia bakal dateng. Kak Namjoon duluan aja." Jawabku diam-diam menarik tanganku dari genggamannya tapi dia malah menarikku keluar cafe.
"Kak, Kak Namjoon! Kayaknya gak perlu deh megang-,
"Yoona?"
Aku membulatkan mata. Terkejut melihat Yoongi dengan jaket coklatnya menatapku tajam. Aku mulai gemetar ketakutan.
"Itu Yoon, aku, Kak Jin yang suruh-,
"Lepasin." Desisan Yoongi langsung membuatku bungkam. Dadaku berdekat sangat cepat melihat iris Yoongi yang berkilat marah. Tubuhku meremang hanya dengan melihat tatapannya.
Yoongi, jangan sekarang. Kumohon.
Aku terus menatap Kak Namjoon yang masih tidak ingin melepaskan tanganku. Aku berbisik, memintanya melepaskan genggamannya yang malah semakin menguat. Tanpa sadar aku memekik saat genggamannya berubah menjadi rematan.
__ADS_1
"Ah! Kak!"
Mata Yoongi membesar. Dengan geraman tertahan dia mendekat. Masih dengan tatapan yang terus mengarah ke padaku, dia menarik pergelangan tanganku. Melepasnya kasar dan menarik tubuhku mendekat ke arahnya.
Aku nyaris terhuyung jika saja Yoongi tidak menahan tubuhku. Masih dengan perasaan berkecamuk, bisa kurasakan genggaman Yoongi di pergelangan tanganku mengerat kuat.
"Perasaan gak ada peraturan kalo tutor harus sedekat ini sama siswinya? Apalagi aturan pegangan tangan!" Tekanan di setiap kata yang Yoongi suakan membuatku semakin meringkuk ketakukan. Aku terus menatapnya gugup.
Yoongi benar benar marah sekarang.
"Bicara apa sih? Aku hanya ingin mengantarnya pulang. Itu pun setelah Jin yang memintanya sendiri. Kau berlebihan sekali." Namjoon terkekeh. Kekehan yang tidak seharusnya ia keluarkan saat sedang bicara dengan Yoongi. Aku meremat telapak tangan Yoongi. Berusaha menahannya yang terlihat semakin emosi.
"Yoon."
"Siapa yang kau bilang berlebihan? Orang bodoh yang mengaku dirinya tutor tapi memegang tangan siswinya saat dia tau kalau seharusnya dia tidak melakukan itu. Siapa yang kau maksud?"
"Jaga ucapanmu! Tidak seharusnya kau menyebut kata bodoh di depan mataku. Sepertinya kau lupa masih kelas berapa sekarang. Dengan mudanya mengatakan kata bodoh yang lebih pantas disematkan di belakang namamu yang terlalu possesif itu-,
Bugh!
Mataku membesar. Yoongi benar-benar tidak menahan amarahnya. Pukulan yang ia layangkan memukul telak ke pipi kiri Kak Namjoon. Dia sampai terhuyung ke belakang dengan jari yang menyentuh pipi kebasnya.
"Apa-apaan kau?!"
"Persetan dengan ocehan sok pintarmu itu. Aku ingatkan. Berhenti mengambil kesempatan saat kau sedang bersama dia. Karena kalau sampai aku melihatmu lagi menyentuhnya, aku tidak akan menahan diri lagi!" Bentakan Yoongi terus mengagetkanku. Tubuhku benar-benar gemetar sekarang. Aku hanya mengikuti langkah Yoongi yang berjalan ke arah motornya. Aku bahkan diam saja saat Yoongi memasangkanku helm dan menyuruhku naik. Yang kuperhatikan hanya gerak-geriknya yang terlihat sangat menahan emosi.
Menaiki motor setelah aku naik, dalam diam Yoongi segera melajukan motornya meninggalkan cafe. Kecepatan yang sanggup membuatku kaget itu ia lampiaskan ke jalan malam yang cukup lengang. Aku terus menatap punggungnya lurus. Jaket coklatnya yang selalu ia pakai saat keluar malam dan aroma tubuhnya yang menguar terterpa angin membuatku menutup mata.
Aku menghela napas. Menutup mata, dan menarik napas beberapa kali. Perasaanku masih berdetak keras. Ketakutan dan keterkejutan tadi masih melekat kuat di pikiranku.
Meski begitu, aku kembali membuka mata. Mendekat dan mengulurkan tangan. Melingkarkan tanganku ke perut Yoongi dan menyandarkan pipiku ke punggung tegapnya. Tubuh dinginnya langsung menyengatku. Dia pasti kedinginan saat dalam perjalanan kesini. Jaket coklatnya tentu tidak bisa menutupi kulit pucatnya dari angin malam.
Tersenyum kecil, aku menggerakkan wajahku. Menyamankan diri setelah memeluk perutnya lebih erat. Menyalurkan kehangatan yang bisa kuberikan.
Aku terkekeh merasakan debaran jantung Yoongi. Mengangkat kepala, aku mendekatkan bibirku ke daun telinganya. Menghela napas, dan berbisik tenang.
"Aku mencintaimu,
"Min Yoongi."
__ADS_1
***