IMAGINE BANGTAN WITH U

IMAGINE BANGTAN WITH U
Nine : Hoseok


__ADS_3

"Apa masih lama acaranya?" Aku menggigit bibir. Ini telepon ke lima, baru aku bisa mendengar suaranya. Tentu saja. Dia sibuk, sedang menghadiri acara award yang membutuhkan waktu berjam-jam. Dia mungkin akan pulang tengah malam lagi.


Akhir tahun yang menyebalkan.


"Eh, tumben menelepon malam-malam. Kenapa, Sayang?" Suaranya manis. Berisik seperti biasa. Aku mencebikkan bibir kesal.


"Aku tanya, acaranya masih lama? Kau pulang kapan?" Melepas selimut yang daritadi menutupi tubuh pegalku, aku bangun. Mencari posisi nyaman kemudian bersandar di sandaran ranjang. Di apartemen luas ini, aku sendirian.


"Elga, ini baru jam sembilan malam. Acaranya bahkan baru mulai sejam lalu."


"Issh lalu kau pulang kapan??" Cebikanku berubah kesal. Aku mulai mengomel. Oktaf suaraku meninggi. Bisa kudengar langkah kaki Hoseok menjauh. Sepertinya dia tidak ingin ada yang mendengar omelanku.


Menyebalkan.


"Empat jam lagi. Ada apa sih, Sayang? Tumben merengek begini. Biasanya juga kau tidak suka ditelepon. Kau kesal karena sesuatu? Ada yang mengganggu pikiranmu?"


Tanggapan yang menenangkan. Aku sedikit lebih tenang dari sebelumnya. Tapi rasa gusar ini tidak bisa hilang.


"Iya. Kau penyebabnya."


"Loh? Kenapa aku? Sebelum aku pergi kita baik-baik saja. Aku tidak melakulan kesalahan. Apa aku lupa sesuatu? Ah! Apa handuk belum kumasukkan ke keranjang cucian?"


"Isssh Hoseok!" Menendang bantal hingga terpental dari kasur, semakin menjauhkan selimut dari tubuhku. Aku tambah berkeringat. Panas.


"Lalu apa, Sayang? Bisa kau katakan cepat? Aku harus siap-siap untuk perform setelah ini."


Apa dia bilang? Cepat? CEPAAT??!!


"Aku baru saja meneleponmu. Aku baru saja bisa mendengar suaramu setelah menelepon berkali-kali karena ulah asistenmu itu! Dan kau bilang apa? Kau menyuruhku bicara cepat karena ingin siap-siap?"


"Elga, bukan seperti itu maksudku--


"Lalu apa? Kau ingin bilang kalau kau terlalu sibuk hanya sekedar bicara dengan istrimu begitu? Kau lebih suka duduk santai disitu sambil melihat gadis-gadis sempurna itu? Iya?!" Nafasku terengah. Kepalaku panas. Tidak tahu alasannya apa, entah kenapa aku terus merasa gusar. Apalagi sempat kulihat acara itu di tv dan mendapati Hoseok duduk di antara gadis-gadis cantik, melihatnya menyapa mereka semua, aku benar-benar tidak tahan. Semua kekesalanku seakan bercampur dan menumpuk jadi satu.


"Astaga Elga! Kau kenapa? Kenapa marah-marah begini? Aku hanya menyapa mereka. Sama sekali tidak melirik atau berusaha mendekati mereka. Kau tau aku 'kan? Pikiranku hanya dipenuhimu. Yang kupikirkan sebelum pulang hanya kau. Jelas kau tau tahu bagaimana sifatku. Tapi kenapa begini?"


"Terserahlah! Kau menyuruhku cepat-cepat 'kan? Sudah. Sudah selesai! Pergi sana! Tidak usah menelepon atau memikirkanku lagi. Urus saja kesenanganmu disana. Aku tidak peduli!"


Tuuutt!!


Setelah mengatakan itu, dengan cepat aku memutuskan sambungan dan membanting ponsel pemberian Hoseok setahun lalu ke sisi kasur yang lain. Menatap kamarku yang sunyi dan mulai menangis. Terisak sampai hidungku tersumbat. Menarik selimut tebal itu menutupi seluruh tubuhku. Menutup mata lelah dan perlahan terlelap dengan perkataan yang sama terus memutar di kepalaku.


Hoseok menyebalkan!


***


Ugh! Apa ini? Rasanya tidak nyaman. Kepalaku pusing, terlalu berat. Aku berbalik. Berusaha mencari posisi tidur yang nyaman. Mataku terbuka setengah dan menyadari sesuatu.


Hoseok tidak ada disini.


Jadi, dia benar-benar tidak pulang, ya?

__ADS_1


Bahkan setelah aku meneleponnya, dia tetap tidak pulang?


"Cih!" Aku mendesis. Terkekeh paksa setelah melihat jam dinding. Sudah pukul satu pagi dan dia belum datang. Padahal aku kesusahan begini menunggunya.


Ugh! Rasa aneh itu datang lagi. Mulutku terasa kebas. Perutku berputar perih. Aku tidak suka ini! Ada apa sebenarnya?


Berusaha bangun, pusingku semakin parah. Ditambah saat menenggak air putih, aku malah memuntahkannya di kasur.


Ashh menyebalkan! Dengan cepat aku berlari ke kamar mandi. Menuju wastafel, menyalakan keran dan memuntahkan seluruh isi perutku.


Sangat tidak nyaman!


Dan aku hanya sendiri disini. Hoseok dengan bersenang-senang disana.


Aku tidak terima ...


Pemikiran itu terus menghantuiku. Cemburu, kecewa, cemas, takut, dan sakit di tubuhku semakin menambah penderitaanku. Lagi-lagi aku menangis. Terisak sambil membersihkan mulutku. Aku mengangkat wajah. Menatap pantulan diriku di cermin.


Sial! Tampilanku buruk sekali  Rambut acak-acakan, piyama yang basah kuyup dan mata sembab. Apalagi bau bekas muntah ini semakin membuatku pusing.


Ding Dong!


Guratan di dahiku muncul. Aku berbalik, menatap bel apartemen yang berbunyi berkali-kali.


Ding Dong!


Siapa sih?Mengganggu saja. Untuk apa coba datang tengah malam begini? Mana aku juga pusing sekali disini.


Ding Dong!


Tertatih, dengan tenaga yang tersisa, aku meraih kenop. Menggenggamnya sambil menahan kepalaku di dinding, lalu menariknya masuk.


Mataku tertutup. Semuanya terlihat buyar. Tapi suara yang tidak asing itu masih saja terdengar menenangkan.


"Elga? Kau kenapa?!!"


Aroma Hoseok menguar begitu dekapannya membawaku ke kasur. Hembusan napasnya menerpa wajahku. Samar-samar bisa kulihat keringat menjeplak pakaiannya.


Pasti dia lelah sekali.


Tapi membuka mata saja rasanya terlalu berat bagiku. Hanya bayangan Hoseok yang sedang menelepon bisa kulihat sebelum kesadaranku sepenuhnya hilang.


***


"Enghh ... " Aku mengerjap. Menggerakkan tubuh reflek dan merasakan tangan Hoseok mengelus belakang kepalaku beberapa kali. Tarikan napasnya terdengar di atas kepalaku.


Membuka mata, kehangatan langsung menerpa wajahku. Melirik sekitar, aku baru menyadari kalau piyamaku sudah berganti dengan hoodie hangat Hoseok. Dia bahkan memakaikanku sarung tangan mang. Selimut putih itu dia lilitkan di atas tubuhku tidak bersisa.


Tatapanku berganti. Melirik Hoseok yang masih terlelap. Lengan kirinya menjadi bantalku. Entah dia sengaja atau aku yang menarik tangannya saat kehilangan bantal? Apapun itu, pasti lengannya pegal sekarang. Hah.. harusnya aku mengubah kebiasaanku yang satu itu.


Tunggu.

__ADS_1


Dia hanya memakai satu kaos dan training tanpa selimut, memangnya dia tidak kedinginan?


"Oh, sudah bangun?"


Sepertinya aku terlalu banyak bergerak. Tadi aku berusaha melepas lilitan selimut dari tubuhku dan ingin menyelimutinya. Tapi karena aku melakukannya tanpa mengubah posisi, tubuhnya jadi ikut terguncang.


"Aku membangunkanmu lagi. Maaf, tidur lagi saja sana." Menatapnya sesaat, lalu menarik-narik selimut sampai menutupi dadanya. Aku memindahkan lengan kirinya perlahan. Berusaha membuatnya nyaman.


"Hng? Kenapa, Jadikan bantalmu saja." Hoseok bergumam serak. Matanya berkedip, sementara tangannya kembali ke bawah kepalaku. Aku merenggut. Memilih menjauh dan baring di bantal putihku.


"Jangan jauh-jauh." Dengan lembut jarinya menarik pinggangku mendekat. Melingkarkan lengannya ke perutku dan memintaku berbalik.


"Kau tidak nyaman tidurnya kalau aku mengganggumu. Kau pasti lelah." Mendongak, aku menatap manik gelap Hoseok yang terbuka setengah. Bukannya menjawabku dan kembali tidur, dia malah mempererat pelukannya. Menarikku ke dalam dekapan hangatnya.


"Aku tidak pernah bilang begitu. Aku lebih suka menjadikanmu gulingku."


"Issh Hoseok! Perbaiki posisimu. Kau tidak bisa nyaman tidurnya kalau aku mengganggumu. Sudah lepas. Aku masih mau tidur."


"Yasudah ayo tidur. Begini saja. Aku suka. Lagipula kau tidak boleh banyak bergerak." Suara seraknya mengisi gendang telingaku. Napasku berderu tenang. Menatap wajahnya saja, aku bisa setenang ini.


"Huh? Tidak boleh bergerak bagaimana? Memangnya aku kenapa?" Meronta kecil, raut di  dahiku semakin dalam saat Hoseok hanya mengelus perutku halus.


"Issh jawab dong kalau aku tanya!"


"Jangan marah terus dong, Sayang. Kau harus menjaga emosimu biar Mang nyaman."


"Mang?"


"Iya. Mang disini." Hoseok kembali mengusap perutku. Aku semakin bingung. Rasa penasaranku terus bertambah.


"Hoseok, maksudnya ... " Aku menggumam. Menatap dalam Hosoek yang terus memberikan senyum kecilnya. Perasaanku semakin menghangat.


"Hoseok, aku ... hamil?"


"Hah.. pantas saja tadi malam kau marah-marah. Jadi karena ini. Aku sampai panik dan tidak fokus gara-gara kau. Padahal kau tidak pernah begitu." Hoseok menggumam sambil mengusap belakang leherku lembut. Aku mengernyit, sedikit tidak mengerti.


"Tadi malam? Tadi malam apa ... ASTAGA HOSEOK! Apa yang sudah kulakukan??" Dengan cepat aku bangkit. Duduk dan menatap Hoseok terkejut.


"Kenapa aku melakukan itu? Ahh bodoh sekali. Pasti kau terganggu. Astaga, dasar bodoh." Memukul kepalaku beberapa kali, aku menunduk. Merutuk dalam hati saat sekelebat bayangan tadi malam kembali bermunculan. Benar-benar aneh. Padahal selama ini aku tidak pernah bertingkah semanja itu. Apalagi pada Hoseok!


"Jangan memukul seperti itu.  Kau menyakiti dirimu, El." Menarik tanganku dan membawaku ke dekapannya kembali. Di kamar yang gelap ini, hanya disinari cahaya remang-remang. Berisi keterkejutanku dan dekapan hangat Hoseok yang terus menenangkanku, Hoseok bergumam. Berbisik lirih.


"Kau tau aku paling tidak bisa melihatmu sakit 'kan?"


"Sudah, tidur. Hari ini aku tidak akan kemana-mana. Maaf sudah meninggalkanmu kemarin malam."


"Hoseok, tapi aku tidak seharusnya--


"Sssst, aku tau. Tidak masalah. Aku suka sisimu yang berbeda. Sudah, tidur."


Meski masih banyak yang ingin aku katakan, aku memilih diam. Membiarkan Hoseok terus memelukku malam itu dan perlaha terlelap dalam kehangatannya.

__ADS_1


***


__ADS_2