
Aku tidak menyangka dalam sekejap duniaku diputar balikkan Tuhan sehancur-hancurnya. Kehidupanku awalnya berjalan baik. Ibu mengadu nasib menjadi Tenaga Kerja Wanita (TKW) ke Malaysia sudah masuk tahun ke lima. Kehidupan ekonomi kami membaik karena bapak juga menjadi tukang ojek sehari-hari. Aku sekarang duduk di bangku kelas satu SMAN di ibukota.
...“Afya, bisa tante titip dek Kaif sebentar yah. Tante mau ke pasar” ujar seorang ibu setengah baya yang memakai daster hijau yang biasa ku panggil tante Inarah, dia adalah tetangga sebelah rumah yang merupakan janda cerai anak dua. Dengan seenaknya menyerahkan bayi satu tahun yang sudah biasa bermain di rumahku beserta tas kecil berisi susu dan popok....
..."Tapi nte, aku mau belajar hari ini, anak tante kan ada kok di titipin aku terus sih” bantahku sedikit kesal. “Kamu macam nggak kenal anak tante ajah, dia masih di sekolah sebentar lagi pulang. Kan ada sekolah sore hari ini. Kalau dia pulang kamu bisa kasih ke dia. Yok mas antar aku” ujar wanita itu menarik jaket bapak. “Udah kamu nanti saja belajarnya, bapak antar tante Inarah ke pasar juga sekalian beli beras persediaan kita yang sudah habis, kan tante Inarah jago nawar” bapak menstarter motornya dan menghilang di balik gang sempit rumah....
Kupandangi wajah bayi kecil tak berdosa ini. Ada sedikit perasaan dongkol terbersit di hatiku karena berulangkali disuruh menjaganya.
... “Padahal kau bukan keluargaku, tapi ibumu yang muka tembok itu sampai hati saja memberikanmu padaku” ujarku sambil mengusap tisu ke cairan iler dari sudut bibirnya. Untungnya makhluk kecil ini tidak banyak tingkah, sehingga aku masih bisa duduk tenang membaca buku....
Sebenarnya aku sudah sering mendengar gosip miring dari orang sekitar mengenai kedekatan bapak dengan tante Inarah. Tapi sebagai anak, aku lebih percaya dengan bapakku daripada julid-an tetangga. Walau tante Inarah kadang-kadang mengesalkan, sesekali ketika aku sakit dia juga membantu bapak menjagaku, memasakkan makanan atau ikut mengompres kepalaku jadi fikiran jahat tidak pernah terlintas.
__ADS_1
Setengah jam berlalu terasa lambat karena Kaif tertidur dan aku was-was jika dia terbangun dan ternyata buang air. Aku mengecek hp dan menghubungi nomor Whatshaap ibu.
...“Ibu apa kabar? ibu kapan pulang?” tulisku namun hanya terlihat centang satu. “Ibu nggak aktif lagi” gumamku pilu. Sudah lewat tiga minggu nomor ibu tidak bisa dihubungi....
...“Buuk, aku pulang!” sayup, ku dengar suara dari rumah sebelah. Aku bangkit dari duduk berjalan menuju jendela samping dan membukanya “Kak, tante Inara ke pasar. Dek Kaif lagi di ruang tengah, tidur. Kak bawa balik lah yah, aku mau belajar” ujarku pada sosok perempuan pendek memakai baju sekolah berantakan sembari mengambil kunci rumah di bawah pot bunga....
...“Aku capek Ayfa, dia disana ajah. Aku mau tidur dulu” tanpa melihat padaku lagi dia membuka pintu rumahnya dengan paksa dan membanting pintu depan. Aku mencium bau tidak sedap keluar dari tubuhnya seperti bau telur busuk, banyak noda tanah menempel di baju putih gadis itu dan warna kekuningan dibagian belakang hijabnya yang tidak beraturan....
...“Laah? Kaif kan adeknya kenapa harus aku pula nambah jam ngerawat ni bocah” sungutku kembali duduk di samping bayi kecil itu. berselang sepuluh menit Kaif bangun dan keadaan bagian bawahnya basah, dengan ogah-ogahan aku tetap mengganti popok anak itu dan menidurkannya kembali. Sesekali anak itu terbangun aku mengajaknya bermain dan membuatkannya susu....
...“Gimana ibukmu? Sudah bisa di hubungi?” tanya bapak di ruang tengah sambil menghisap rokok kreteknya. “Belum pak” jawabku yang sedang beberes piring kotor di meja makan. “Yasudah, piring kotornya besok saja di cuci. Kamu masuk kamar saja belajar” usir bapak padaku. “Tumben bapak seperti ini” sungutku masuk kamar dan merebahkan diri sembari bermain hp. Kembali ku cek pesan terakhirku pada ibu dan tidak ada perubahan. Aku akhirnya memilih tidur awal dan berencana belajar sebelum subuh saja....
__ADS_1
...***...
Keesokan harinya aku malah kesiangan. Tidak ada suara motor bapak terdengar di depan rumah. Biasanya juga bapak membangunkanku ke sekolah. Setelah bersiap ke sekolah aku menemukan sebuah amplop putih di atas meja ruang tengah. Isi amplop itu berukir tulisan tangan bapak
...“Afya, bapak minta maaf pergi dari rumah karena sudah lelah dengan keadaan kita. Ibukmu sudah tidak pernah akur dengan bapak dari dua tahun ini. Bapak sudah menyuruh nenekmu untuk menjagamu beberapa tahun dan kamu ikut balik ke desa. Bapak banyak dosa padamu karena pergi dengan Inara. Kami titip Kaif karena dia adikmu. Zoya tidak akan merawatnya, bapak pasti akan pulang menjemput kalian. Maaf permintaan bapak terlalu besar. Jaga diri kalian”...
Bagai disambar petir bertubi-tubi, tubuhku terduduk lemas di lantai meremukkan kertas itu dengan penuh emosi. Saking tidak tau berbuat apa air matapun rasanya tidak bisa keluar. Kepalaku rasanya berdenyut hebat secepat detak jantung yang tidak beraturan. Berbagai sumpah serapah ingin sekali ku teriakkan tapi lidahku dan tenagaku rasanya lenyap di bawa angin.
...“Berarti gosip najis yang terdengar itu benar. Bapak memang ada main serong dengan tante inarah. Dan karena itu tante Inarah ditinggal suaminya? Apa aku terlalu bodoh dan polos sampai hal seperti ini tidak kusadari sama sekali?” aku menghela nafas kasar dan dengan sisa kewarasan yang ada aku berjalan tergopoh ke dalam kamar bapak membongkar isi lemari dan melihat semua berkas penting hilang....
Termasuk di dalamnya kartu atm milik ibu dan sertifikat rumah. Untung buku tabungannya masih aku yang menyimpan. Aku paksakan kakiku berjalan ke bank terdekat dan menyampaikan pada pihaknya bahwa kartu atm ibuku hilang dicuri maling dan aku minta di blokir, dan dibuatkan kartu baru. Awalnya mereka bertanya kenapa aku yang memakai seragam sekolah malah ke bank mengurus kartu dan aku menjelaskan dengan setengah nada tinggi bahwa aku sedang dalam keadaan darurat. Mereka akhirnya melayaniku dan menuruti keinginanku. Sebagian isi tabungan itu aku ambil sebagai peganganku dengan tangan yang masih gemetar.
__ADS_1
“Jika bapak memang ingin hidup dengan wanita itu seharusnya tidak menggunakan uang yang berasal dari keringat ibuku” pada akhirnya aku tertawa dan menangis di dalam kamar. Aku tidak ke sekolah hari ini dan menghabiskan waktu di dalam kamar. Sampai sore hari, ada orang yang datang ke rumahku mengabarkan bahwa Kak Zoya ditemukan tidak bernyawa di kamarnya dan sebuah surat. Isinya …
^^^Bersambung^^^