Imperfect Heaven

Imperfect Heaven
D. Sekolah Luar biasa


__ADS_3


Hari prosesi pindah sekolah datang. Nenek memintaku menggunakan seragam sekolah yang lama saja karena nanti akan diberi seragam baru. Nenek tidak lupa membawa berkas yang sudah di urusnya kemarin. Aku fikir Kaif akan dititip ke Bude Naina sebagai teman bermain Salma, ternyata tidak. Dia juga ikut.


Antara rumah dengan sekolah paling ujung desa tidak terlalu jauh. Hanya sekita 350 meter. Jarak tempuh tersebut hanya memakan waktu 7-10 menit saja.


"Kamu sekalian menghafal jalan ya Ayfa, nenek tidak mungkin akan menjemputmu pulang Sekolah. Nenek akan kembali ke peternakan desa" ujar nenek seperti kesusahan membawa Kaif dan tas bayi.


"Memangnya nenek kerja apa?" Tanyaku sembari membantu membawakan berkas dan tas bayi Kaif.


"Akuntan di peternakan dan perkebunan desa" jawab nenek singkat. Aku terpaku sesaat, "kurasa nenek awet muda mungkin karena terus bekerja dan berfikir. Akuntan berarti kerjanya di bidang keuangan dan hitung-hitungan kan yah? Tapi bukannya angka itu malah bikin stress?"  Batinku terkikik. Atau memang nenek yang belum tua, toh bapak juga kisaran usia 32, berarti nenek usia 50-an kan yah.


"Kenapa kamu termenung seperti itu? Lagi mikirin apa?" Seledik nenek dengan mengerutkan alis.


"Nenek itu awet muda. Apa nenek nikah muda dulu?" Tanyaku heran.


"Iya memang. Dulu sekolah susah Ayfa. Nenek tamat SMP langsung bekerja dan setahun setelah itu menikah. Dulu pembangunan desa ini belum sehebat sekarang. Sekolah masih sampai SMP, jadi kalau mau melanjutkan harus keluar dan itu aksesnya sulit" terang nenek.


"Berapa usia nenek?" Tanyaku lagi.


"Nah kita sudah sampai, kamu ikut nenek mendaftarkan Kaif di PAUD dulu. Sekolah ini merangkap pendidikan penuh dari PAUD sampai SMA" nenek membawaku ke arah gedung paling tengah yang kata nenek adalah gedung PAUD dan tempat bermain.


"Selamat pagi ibu Rahmah, ada yang bisa kami bantu?" Seorang ibu muda berperawakan pendek dan memiliki tahi lalat di bawah dagunya menghampiri kami.

__ADS_1


"Saya ingin mendaftarkan cucu ke sekolahnya. Ini Cucu angkat saya atas nama Kaif Aryaputra. Berkas capilnya belum di kirim, tapi ini pernyataan penyerahannya jadi ibu kandungnya. Dan ini Cucu kandungku Ayfa Najmi Aryaputra dia akan aku daftarkan di SMA ini" nenek menjelaskan pada ibu tersebut.


"Oh baguslah ibu Rahmah, mengenai administrasi dan berkas diantarkan langsung ke gedung kantor. Ayo saya antarkan. Gedung kembar 3 ujung ini mempunyai 3 fungsi. Sisi tengahnya yang berwarna abu-abu merupakan Kantor utama pimpinan dan juga guru serta karyawan yayasan sekolah. Sisi kiri gedung merupakan asrama guru wanita dan sisi kanan gedung merupakan asrama guru Pria. Tenang saja, semua lini tenaga pendidik mempunyai etika dan norma khusus sehingga yang melenceng akan langsung di keluarkan dari instansi".


"Gedung tengah memang benar untuk tingkat PAUD dan Taman kanak-kanak. Gedung sisi pojok Kanan itu Gedung untuk SD, dan yang paling luas ini gabungan SMP dan SMA" ujar ibu yang name tagnya tertulis Alisa.


Kami mengekor saja di belakang dan menunggu di koridor kantor nenek masuk ke kantor bawah mendaftarkan kami. Setelah itu mengantarkan Kaif ke gedung tengah. Nenek juga mengantarkj sampai pintu ke gedung besar. Aku masuk di antarkan seorang guru besar berbadan tegap. Diantarkan aku pada sebuah kelas dan guru di dalam di panggil. Ketika perbincangan singkat selesai guru pria itu pergi. Aku dipersilahkan masuk ke kelas tersebut.


"Anak-anak kita kedatangan teman baru, dia anak pindahan dari kota. Akan bergabung menjadi anggota kelas kalian. Silahkan perkenalkan dirimu" ibu guru yang susah payah kulihat name tagnya bernama Kayla


"Selamat pagi semua, saya Ayfa Najmi Aryaputra. Mohon bantuan untuk kedepannya" aku membukukkan badan sedikit kedepan.


"Karena bangku kosong cuma ada di bagian belakang. Kamu duduk dekat jendela belakang sendirian saja tidak apa-apa?". "Tidak apa-apa buk" jawabku singkat.


Pelajaran dari guru berjalan baik. Saat jam istirahat aku bingung mau ke kantin arah mana, Wc juga tidak tau. Sedang teman sekelas bukan tipe anak-anak yang suka tanya atau mudah di dekati. Wajah mereka seperti orang ambis juara 1 olimpiade.


"Kamu masuk kelas yang tidak asik. Kelasku noh di ujung Extrovert semua" Axel membawaku ke arah kelasnya. Aku menggeleng menolak masuk. "Kamu mau kemana?" Axel akhirnya mengurungkan niat dan melintir jalan menuju ke arah tangga.


"Bisa antar aku ke Wc dulu? Abis itu ke Kantin" aku memerah menahan malu, soalnya sudah kebelet.


Axel mempercepat langkahnya, sampai di WC perempuan dia membalik badan.


Selepas urusanku ke WC, aku dan Axel ke kantin mencari makanan. Ternyata ada pelayanan Snack gratis di sekolah ini dan menu hari ini adalah sup buah gratis dan sebuah roti berbentuk kucing. Aku dan Axel duduk di bangku yang masih kosong.

__ADS_1


"Nanti pulang sekolah bareng yok. Adikmu juga masuk Paud kan?" Tanya Axel sembari membuka plastik roti.


"Iyah" jawabku singkat.


"Kamu tau nggak sih kalau kelasmu itu adalah kumpulan manusia transparan" mulut yang setengah penuh itu masih dipaksakan berbicara oleh Axel.


"Maksudmu?"


"Kalau tidak ada keperluan, mereka akan hidup didunia sendiri tanpa saling berbincang. Sibuk belajar dan menghabiskan waktu di Perpustakaan"


Aku terdiam, ikut menikmati roti. Bagus juga untuk tidak berada di tempat yang bising terlalu lama. Karena bersama manusia dominan itu menghabiskan banyak energi.


...***...


Akhir jam terakhir, aku melewati kelas Axel yang bisingnya minta ampun. Dia masih bergurau dengan teman sebangkunya dengan wajah ceria. Aku bergegas ke bangunan tengah sekolah mengambil Kaif. Dan bocah itu sangat girang saat aku muncul di depan pintu. Dia berjalan sudah banyak bahkan lebih dari sepuluh langkah.


Kami pamit dengan guru pengasuh, lalu berjalan santai menuju gerbang. Tak lama Axel berteriak memanggil menyusul dengan berlari. Sepanjang jalan yang kami lewati, warga yang lewat selalu di sapa oleh Axel. Ibu warung, bapak yang di sawah, nenek yang sedang duduk di depan rumah juga termasuk anak-anak yang sedang mandi di sungai yang debit airnya sedikit dangkal. Anak Aneh!


Desa ini sangat indah. Udaranya juga bersih, pepohonan rindang sepanjang mata memandang, aku juga melihat kincir angin warna perak di perairan yang deras bergerak memutar dan air yang terangkat mengisi irigasi sawah yang dilewatinya.


"Nanti pas senggang ayo kita jalan-jalan. Aku akan membawamu keliling desa" ajak Axel dengan menaikkan alis sebelah.


"Ok" jawabku santai.

__ADS_1


Sampai rumah, aku makan siang. Bermain dengan Kaif dan menunggu nenek pulang. "Haah .. capek banget"


^^^Bersambung^^^


__ADS_2