Imperfect Heaven

Imperfect Heaven
I. Retak


__ADS_3

Makan malam menjadi tegang tatkala nenek menanyakan sikapku yang tidak percaya padanya karena menyembunyikan fakta kontrak antara aku dan pendiri desa lewat Nona Kirana. Aku masih mencara jawaban padahal semuanya sudah jelas, tapi aku tidak mau mengakuinya.


"Nggak gitu nek, aku berencana ngasih tau nenek kok. Tapi duluan nenek tanya" kilahku tertunduk. "Nenek nggak masalah kamu mau kerja atau menghasilkan uang dari jalur apapun, nenek nggak akan minta kok. Asal kamu tau tanggung jawabmu buat menjaga Kaif" nenek ternyata mengatakan apa yang aku takutkan selama ini. "Tapi nek"


"Jangan sampai kamu beralasan kamu enggan karena dia cuma anak selingkuhan bapakmu yah Ayfa. Dia cuma punya kita disini. Kalau nenek tua ini sepanjang waktu menjaga bayi, Nenek akan cepat ketemu tuhan karena Kelelahan. Lagian kan bapakmu yang pesan untuk menjaga adikmu sementara waktu, nenek cuma diminta mengawasimu di desa. Nanti kalau mereka kembali kamu bisa kembali bebas" ujar nenek memotong ucapanku.


Mulutku terkatup rapat. Masih banyak bantahan di isi kepalaku ingin keluar dengan awalan kata "kenapa harus aku?". Tapi aku menahan diri untuk tidak melanjutkan debat. Kedepannya juga anak bayi ini akan terus berada di tanganku. Selepas makan malam aku masuk kamar membawa Kaif dan mengganti pakaiannya, membersihkan sisa makannya dan membiarkannya main di tempat tidurnya. Aku mengerjakan beberapa PR dan menyiapkan buku pelajaran yang akan di bawa besok.


Saat aku keluar dari kamar mandi, kulihat Kaif sudah tertidur di kasurnya. Terkadang aku merasa bersikap kejam pada anak tak berdosa ini. Kadang aku juga bertanya-tanya kenapa dia harus lahir sebagai bukti kebejatan bapakku. Tapi aku juga berfikir "Apa dia benar adikku? mungkin saja tante inarah berbohon pada bapak" berulang kali pertanyaan-pertanyaan itu tersetel otomatis dalam benakku.


...****************...


"Selamat pagi calon sultan" goda Axel yang menyapaku di lorong kelas. "Paan sih" jawabku muka kesal. "Nanti gaji pertama kita pakai buat apa? Kebetulan aku butuh Kanvas buat ngelukis, minta tolong cek outin dong" ujarnya bisik-bisik.


"Lah? Iya yah paketku belum pernah ku cek ke balai desa udah sampai apa belum?" Aku baru ingat itu sudah berminggu berlalu. "Ada makanan kah disana?" Axel jadi ikutan panik. "Ada sih, tapi mie instan sama Kripik buah kok. Selainnya barang-barang seperti kosmetik dan baju bayi" Jawabku lagi. "Yaudah nanti pulang sekolah kita ke Balai desa ambil paketmu" aku hanya mengangguk pelan mengiyakan.


Pelajaran berlangsung damai, kelas tenang terkadang membuatku mengantuk dan ingin tidur. Walaupun kualitas tidurku tidak buruk, tapi tetap saja juga tidak nyenyak yang akan membuat badanku bugar menghadapi sekolah.


Lambat laun kehidupan sekolahku berjalan flat. Aku sudah berusaha mengajak teman sekelas berbincang, tapi mereka memilih berdiam di pustaka daripada diajak ke kantin atau ke toilet bareng seperti pertemanan biasanya.

__ADS_1


"Pulang sekolah nanti ikut aku ke lapangan utama yok! Hari ini sekitar jam tigaan katanya sapi-sapi peternakan akan datang. Aku sekalian mau liat peternakan desa terbaru juga. Kemarin kan baru peternakan ayam dan kambing. Sekarang Sapi-sapi dipersiapkan dua jenis loh, peranakan untuk di sembelih dan sapi perah buat konsumsi warga juga. Minggu depan mulai beroperasi deh petugas pengantar susu segar, kece nggak tuh macam di film barat" Sorak Axel bersemangat.


"Boleh" jawabku singkat.


"Nggak seru ih, dah panjang lebar aku menjelaskan cuma dijawab satu kata" kesal Axel tidak terima.


"Iya Axel, nanti kita kesana, lima kata itu" ulangku. Axel cengengesan keluar kelas. Beberapa gadis mengikutinya dari belakang dan melihat padaku sekilas dengan tatapan sinis, aku lawan balik dengan menaikkan alis sebelah dan tatapan mengejek.


...****************...


Waktu pulang sekolah datang, Aku berjalan ke gedung Paud bersama Axel dengan santai. Kami berselisih jalan dengan Kepala Sekolah yang sedang meninjau Sarana Prasarana dengan beberapa guru. Terdengar ada beberapa kata familiar seperti Gudang dan Gedung olahraga. Tanpa pernah berekspektasi Kepala Sekolah menghentikan langkahnya dan menyapaku.


"Mau kemana?" kembali Pak Kepala Sekolah bertanya, kini aku yang bertanya-tanya dalam hati kenapa ramah gini?. "Jemput adik pak, permisi pak" kini aku melintir jalan singgah di gedung Paud.


Aku melihat Kaif dan guru pengasuh sedang bermain menyusun balok kayu. Ketika gurunya menyadari keberadaanku dari pintu masuk, dia mempersilahkan masuk dan mengajakku ikut bergabung, namun aku hanya menggeleng sembari duduk di ruang tunggu. Guru pengasuh akhirnya mengangkat Kaif dan menyerahkannya padaku. Ku kocek tisu basah di tasku dan menyapukannya di sepanjang tangan dan wajah Kaif. Ibu guru juga meminta sedikit waktu berbincang denganku sehingga aku menitipkan Kaif pada Axel untuk di ajak keluar jalan-jalan di tepi teras melihat bunga.


"Nona Ayfa bagaimana perkembangan dan sikap Kaif akhir-akhir ini selama di rumah?" tanya sang guru padaku sembari menautkan kedua tangannya di atas meja konsultasi. "Baik, ceria dan biasa saja" jawabku santai.


"Justru sebaliknya disini, Kaif makin kehilangan minat bermain dan makin menghindari kontak bersama teman-temannya. Dia juga tidak menangis ataupun tertawa. Hal apa saja yang sudah terjadi pada anak ini?" Kali ini wajah sang guru terlihat serius menatapku lurus.

__ADS_1


"Saya tidak tau buk, saya belum paham mengenai perkembangan anak dan semacamnya, mungkin kalau ini mengkhawatirkan ibu bisa memanggil nenek. Saya akan sampaikan ke nenek untuk datang esok" Reaksiku seperti sesuatu yang tidak terprediksi oleh bu guru, ada wajah kekecewaan disana dan seperti ketidak percayaan. Sebelum kami pergi bu guru kembali menambahkan "Tolong sempatkan berbincang dan ajak anak ini bermain, Picu respon motoriknya dan mungkin luangkan waktu seperti jalan-jalan agar dia makin bisa berkembang" nasehat guru itu yang ujung-ujungnya mengalah dan melepas kami menghilang meninggalkan pintu Paud.


Ketika aku kembali pada Kaif, dia sudah tertidur dalam gendongan Axel. Pemandangan seorang pemuda tampan gendong bayi itu aku ingin abadikan dalam frame, tapi aku tidak berani menunjukkan keisenganku pada Axel. Sampai kami di lapangan beberapa sapi sudah diturunkan truk besar dan merumput di lapangan. Kaif langsung terbangun mendengar suara sapi. Dan dia antusias sampai loncat-loncat dari gendongan Axel.


"Nah dek, itu sapi. Sa pi! Bunyinya mooo .. Coba ulang moo"


"ooou. Moo" Kaif mengulang perkataan Axel. Aku tersenyum lega ternyata kalau bersama Axel dia bisa lebih banyak berkembang daripada denganku. Walau tidak terlalu lama, akhirnya kami memutuskan pulang dulu dan berencana mengunjungi peternakan ketika waktu libur saja.


"Seru yah" ujar Axel ketika sampai di depan rumah serta memberikan Kaif padaku. "Iyah" jawabku singkat. "Aku pulang duluan yah" pamit Axel meninggalkan kami dengan senyum dipaksakan. Sebab sebelumnya kami berencana mau masuk ke peternakan main sebentar, tetapi aku memutuskan lebih baik di hari libur kita main kesana, jangan saat masih memakai seragam sekolah.


"Ayfa nenek titip Kaif dua hari akhir pekan ini yah, nenek ada kegiatan bersama pimpinan di luar kota" ujar nenek membuka pembicaraan kami saat makan malam. "Iya nek, tapi besok nenek bisa jemput Kaif nggak? ibu guru ada yang ingin di bincangkan dengan nenek tentang Kaif" jawabku. "Baiklah, besok saat makan siang nenek jemput Kaif. Sebab besok kami cuma setengah hari" mengingat jumat jam kerja sedikit di percepat karena persiapan dinas luar beberapa karyawan.


Balai kota tidak hanya tempat kerjanya orang-orang pemerintahan, sebab di lantai 2 dan 3 merupakan kantornya divisi Marketing, administrasi Perkebunan dan Peternakan. Dinas luar yang nenek maksud adalah Vocation berkedok meeting. Betapa baiknya pendiri desa memberikan waktu istirahat yang menyenangkan bagi para karyawan.


"Aku sehari-hari juga biasanya juga lebih sering jaga Kaif tanpa nenek" gerutuku sendiri. "Ya mau gimana lagi, toh dia adikmu sendiri" jawab nenek juga nada gerutu. Sekarang nenek sudah bisa ku ajak menggerutu atau mengeluh. Walau lebih banyaknya tidak di dengarkan sebenarnya.


"Nenek sudah menghubungi Pakde tapi dia tidak bisa menemanimu malam minggu itu karena istrinya belakangan ini sakit. Jadi nenek minta Aqela kakaknya Axel buat nemanimu. Katanya Axel juga ikutan mau nginap buat jagain Kalian, toh sama-sama ponakanya Tamir" ujar nenek padaku. Aku mengangguk ikut saja.


"Kak Aqela seperti apa ya?"

__ADS_1


^^^Bersambung^^^


__ADS_2